Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku

Deni tidak buta?

Hasan mematung di ambang pintu kamarnya. Napasnya masih tersengal, dada sesak oleh tudingan Qale yang terlalu tajam dan tepat. Dengan langkah lunglai, ia masuk, lalu membuka sebuah laci tua di samping tempat tidur.

Di sana, bertumpuk surat-surat lama. Surat visum Rahayu. Surat warisan. Surat wali anak. Semua tersimpan rapi—seperti luka lama yang tak pernah dibuka, hanya disimpan agar tak menetes.

Tangannya bergetar saat membuka amplop berisi rekam medis Lea. Ia membaca perlahan. Ada diagnosis lama yang tertulis di sana : trauma visual, indikasi kerusakan retina, dan kemungkinan pemulihan.

Air mata Hasan jatuh di antara lembaran kertas. “Maafin Ayah, Lesa,” gumamnya dengan suara patah. “Maafin aku, Rahayu … Aku emosi saat itu. Kehilanganmu membutakan aku. Tapi aku juga salah … hingga Lea…”

Bahunya berguncang, tubuhnya membungkuk seperti ditarik oleh penyesalan. Tapi semua terlanjur terjadi.

***

Keesokan harinya, Hasan muncul di toko Anak Lipat.

Bau kopi, mentega, dan selai menyeruak dari dapur berkonsep terbuka. Hangat. Ramah. Seperti dunia kecil yang Qale bangun dengan tangannya sendiri.

Dia duduk di salah satu meja kayu dekat jendela, matanya menelusuri dinding, pajangan milik putrinya. Etalase tertata rapi dan apik. Hasan diam-diam terkesan. Ia bangga, walau tak pernah bisa berkata langsung.

Tak lama, Qale datang membawa nampan.

“Americano, croissant ori ... favorite di sini,” katanya lembut sambil meletakkan pesanan di depan ayahnya.

Hasan mengamati wajah Qale, lalu menahan tangannya saat gadis itu hendak pergi. “Duduk.”

Qale terkejut tapi menuruti beliau. Hasan lalu menyodorkan dua lembar contoh undangan. Cokelat-emas dan hijau-emas.

“Pilih yang mana untuk undangan Lea?” katanya datar.

Qale mengernyit. Dia menerima lalu buka lembaran itu. Pandangannya tertumbuk pada tanggal pernikahan Lea. Ada rasa getir menyusup. Bukan iri, hanya sepi yang diam-diam mengeram.

Dulu, dia tak sempat menerka, apalagi meminta padahal hari itu adalah pernikahannya. 

Dia diam menimbang. “Hijau emerald aja, Yah,” ucap Qale akhirnya. “Warna kesukaan ibu, dan ... hmm ... mamanya Kakak suka emas, kan?”

Hasan mengangguk. “Iya. Oke.”

Qale bersiap berdiri, tapi Hasan menahannya lagi.

“Fitting baju buat keluarga lusa. Datang ke butik. Sekalian fitting kebaya buat foto pernikahan kalian juga nanti.”

Qale menelan ludah, memaksa tersenyum. “Ok ... Tapi untuk foto pernikahan, nggak usah, nggak apa-apa. Terima kasih. Foto waktu di hotel, cukup.”

Padahal, tak ada satu pun dari foto itu yang ia cetak. Tak ada yang layak diabadikan, pikirnya.

Hasan tidak memaksa. Ia melepas lengan putrinya lalu menikmati sajian di depannya, sementara Qale kembali sibuk melayani pembeli yang datang tak henti.

***

Seminggu kemudian.

Di butik, Qale mencoba kebaya warna hijau tua dengan aksen emas di dada. Wafa datang terlambat. Tapi saat melihat istrinya dalam balutan kebaya itu, matanya langsung berbinar.

“Cantik, Sya,” puji Wafa lirih, senyum manis pun tersemat di wajah tampannya.

Qale menoleh sedikit. “Punya Kakak mau coba di sini atau gimana?” katanya, menunjuk gantungan beskap milik Wafa.

“Nanti aja. Maunya ... bareng kamu, di rumah.”

Qale menunduk, malu. Penjahit lalu mengukur ulang, dan Qale kembali membelakangi Wafa. Memandangi cermin.

Tak jauh dari situ, Lea sedang mencoba kebaya untuk akad nikahnya. Deni pun berdiri di sisinya, Lea tampak begitu manis dan lembut. Tangannya membenahi dasi Deni yang agak miring.

“Gak sabar lihat kamu make ini nanti,” ucap Deni pelan.

“Kamu juga tampan,” balas Lea, jemarinya merapikan dasi calon suaminya. Terampil.

Qale membatin, apakah Lea juga belajar menyimpul dasi? Matanya lalu beralih menatap lurus Wafa, memberi kode dengan sorot mata. Dia melihat semua itu dari pantulan kaca.

“Kok Lea tahu dasinya miring,” bisik Qale dalam hati. Satu petunjuk lagi yang makin mengukuhkan dugaannya.

“Jangan diet lagi, ini udah pas, nggak longgar,” celetuk Deni. Dia sadar betul bentuk tubuh Lea.

Wafa menoleh. Senyumnya menyungging. “Sudah bisa lihat jelas ya, Bro? Sampai detail begitu.”

Semua diam.

Lea membeku. Deni menegang. Namun Hasan, malah membuang muka. Tak ada suara. Tapi keheningan itu cukup menjawab segalanya.

Tak lama, mereka pulang berpisah arah. Qale membawa beskap Wafa untuk dicoba di rumah. Sudah lama keduanya tak pulang ke sana. 

Dalam perjalanan, mereka saling pandang. "Apakah dugaan kita sama?" ucapnya serempak.

Qale menunduk, tersenyum getir. "Kak, kalau aku bongkar semuanya sekarang, apakah aku jahat?" 

Wafa menoleh. Menatap tajam manik mata Qale. "Sanggup?"

Qale diam. Di dalam dadanya, pelan-pelan, segalanya mulai menyala : takut, pedih, rindu, dan ketakutan jadi satu. 

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!