Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku

Mungkinkah Lea juga?

Qale kembali ke toko dan langsung bertemu calon pemesan lainnya. 

Menjelang malam. Udara di luar toko mulai dingin, tapi hati Qale belum juga tenang. Suaminya datang pun nyaris tak dia sadari sebab melamun.

"Kak," tegur karyawannya tepat saat akan pulang.

Qale mengangkat wajah, mengangguk ke arahnya, "He em, hati-hati ya Ria," katanya seperti biasa bila si karyawan akan pulang, lalu menunduk lagi.

Ria menepuk pelan meja kasir, "Bukan," bisiknya sambil melirik ke arah kiri. 

Qale mengintip dari sisi tubuh Ria, lalu senyumnya muncul ketika melihat Wafa baru masuk ke tokonya.

Di pangkuannya tampak tas laptop juga sebuah buku catatan. Senyum Qale disambut hangat olehnya. 

“Gimana tadi ngantar pesanan?” tanyanya.

Qale mengernyit, dia tidak bilang soal pesanan. Darimana Wafa tahu, pikirnya. Dia melambai ke arah Ria yang pamit pulang lalu menghampiri Wafa dan duduk di hadapannya.

“Tahu dari?" 

"Dari dia," balas Wafa menunjuk dengan jempolnya ke arah Ria yang sudah di parkiran. "Tadi aku ke sini bentar," imbuhnya.

"Oh ... tau nggak, Kak? Siapa yang pesan?"

Wafa melihat ke dalam manik mata Qale, sorot mata istrinya berbinar. "Siapa?" 

“Ibu Deni.” Qale membulatkan bola matanya. Masih dengan tatapan antusias dia melanjutkan, "dan aku ngerasa ada yang aneh," jelasnya.

"Aneh? Seperti?" 

Qale menghela napas, memejam sesaat lalu melanjutkan. Nadanya terdengar serius, dia berkata, “Aku liat Deni, Kak ... dia neken remote alarm mobil, kek tau bener letak mobilnya dimana lalu jalan mantap banget. Gak kayak orang buta.”

Wafa menyernyit. “Kamu yakin?”

“Aku liat sendiri,” gumam Qale. “Tapi ibunya bilang, Deni lagi tahap akhir pengobatan. Udah bisa ‘samar-samar’ lihat. Nanti pas nikah, katanya semoga udah bisa liat full.”

“Hmm,” Wafa mengusap dagunya, berpikir.

Qale memajukan tubuhnya lalu berbisik, "Kak, mungkinkah?" 

Wafa masih diam, lalu menjelaskan pelan..“Secara medis, pengobatan untuk kebutaan tergantung penyebabnya. Kalau karena katarak, bisa. Kalau retina rusak, atau saraf optik ... kecil kemungkinan. Tapi teknologi sekarang memang berkembang. Bisa jadi dia pakai terapi optogenetik atau implan retina.”

Qale terdiam, berpikir sambil memandang Wafa. “Gitu ya..." gumamnya. "kalau Deni bisa lihat ... Lea tahu nggak, ya? Apa jangan-jangan sudah tahu?” sambungnya sambil menyandarkan punggung.

Wafa tak langsung menjawab. Dia ikut menopang bahu, mengamati wajah Qale yang kaya ekspresi. “Kamu curiga, dia punya motif?”

Qale menunduk, memainkan kedua tangannya. “Entah kenapa ... aku ngerasa aneh. Lea kan punya warisan, dapat hak nempatin rumah besar. Dan Deni kayak tahu banget cara ngambil hati semua orang.”

Wafa mengangguk pelan, lalu bertanya pelan. “Aku ngerti. Kamu takut Lea dimanfaatkan ... tanya aja, kalau mau," ujarnya datar.

“Iya. Nanya gitu nggak apa emang?” ucap Qale mantap. “Sekalian mau tanya ... kenapa dia nggak pernah mau mencoba pengobatan. Padahal seingatku dulu, lukanya tidak parah.”

Wafa mengerutkan keningnya. Ada apa dengan hubungan keduanya di masa lalu. Ingin bertanya tapi dia segan. Satu-satu dulu dibereskan.

Qale akhirnya meminta izin untuk pulang ke rumah sebentar. Rasa penasarannya membuncah dan Wafa meminta supirnya untuk mengantar. Kepalanya penat dan butuh kafein makanya ke toko anak lipat.

Beberapa saat kemudian, Qale berdiri di teras rumah keluarga besar. Dedaunan bergetar pelan tertiup angin senja. Dia mengetuk pintu, dan ART yang membukakan.

“Masuk, Non.” 

Qale masuk dan mendengar Lea sedang latihan piano. Seperti biasa, kakaknya sangat peka dengan kehadirannya. Dia menghampiri Lea dan bersandar di sisi piano.

"Mo ngapain?" tanya Lea tajam, tapi tetap sopan.

“Bisa ngobrol sebentar, Kak?"

Lea mendecih pelan, lalu mempersilakan Qale duduk di sofa tengah. Qale mengulurkan tangan berniat membantunya tapi ditepis Lea.

Plak.

Hanya desah panjang yang bisa Qale hembuskan, dia mengikuti langkah Lea, daripada salah lagi. 

Setelah duduk, Qale bilang, “Aku tadi ke rumah Deni. Antar pesanan. Dan aku lihat dia seperti mau belajar nyetir ... Ibunya bilang, Deni udah mulai bisa lihat samar-samar. Kakak ... tahu?” beber Qale pelan.

Lea diam. Matanya bergerak cepat meski tatapannya kosong.

Hening.

Qale melanjutkan ucapannya, “Kakak tahu soal pengobatan mata? Kalau Deni berhasil ... Ayo kita coba, ma—”

“Aku tahu,” potong Lea, dingin.

Qale terdiam.

“Tapi aku nggak minat. Dan aku nggak buta karena kecelakaan. Aku buta karena kamu. Jadi ... kamu mau bayar pake retinamu atau apa?”

Glek.

“Bu-kan gitu, Kak...”

Tatapan Lea menajam, bibirnya tersungging sinis, “Atau kamu takut aku nikah sama Deni karena dimanfaatkan? ... Kamu sirik kan sama aku?” cecar Lea, duduknya pun kini maju.

“Nggak! Aku cuma—” Qale terbata, maksud baiknya dinilai lain.

“Cuma pengen aku tetap buta biar nggak punya suami tampan dan mapan?” suara Lea meninggi. “Aku harus punya suami cacat juga? Biar ‘seimbang’ sama kamu? Begitu?”

Qale terpaku. Kata-kata itu menghantam dadanya seperti palu.

“Aku akan usahakan biaya pengobatan kakak,” ucap Qale akhirnya, dengan suara berat. “Karena aku ingin kakak melihat dunia. Supaya bisa membedakan siapa yang tulus ... dan siapa yang cuma pakai topeng.”

Ia membungkuk, lalu melangkah pergi. Namun, saat di ambang pintu. Qale berkata, "Aku nggak iri sama sekali ... dan soal itu, bukan salahku semata," jawabnya lirih tapi tegas.

***

Langit sudah gelap saat Qale kembali ke toko. Tapi lampunya masih menyala, dan Wafa sudah duduk menunggu, menatap pintu.

“Lama banget, Sya,” gumam Wafa. “Aku nyaris bikin kopi sendiri.”

Qale melepas jaketnya. “Maaf,” jawabnya singkat.

Wafa hanya mengangguk. Lalu setelah jeda : “Dia ... Ngomong apa?”

Qale terdiam.

“Aku tanya, Sya?”

Qale hanya menunduk.

“Dia nyakitin kamu lagi?” Wafa terus membujuk Qale agar mau membuka suara.

Qale mendongak, matanya menyipit. “Kakak pernah suka sama dia?”

Wafa tertawa kecil. Matanya menyipit lalu sambil tersenyum dia berkata, “Dulu pernah. Karena dia main piano dengan tenang. Tapi pas tahu dia galak, gak jadi.”

Qale cemberut. “Tapi dia cantik, ya.”

“Ya secara umum iya,” kekeh Wafa.

Qale tak tertawa. “Tapi dia bilang, gak suka pria cacat.”

Wafa menoleh. Senyumnya berubah serius. “Kalau kamu, suka?"

Qale terdiam lama. Mencerna kalimat itu. Di benaknya, wajah Lea muncul. Ia mengingat cara Lea bicara. Cara dia jalan. Cara dia merasa.

Sesuatu masih mengganjal.

“Kak, mungkinkah Lea juga seperti De-?" lirih Qale.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!