Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku
Gelagat Deni
Pagi belum benar-benar datang. Lampu gantung toko masih menyala, sinarnya hangat dan tenang.
Tapi di dalam dada Qale, ada badai yang baru saja reda—dan meninggalkan serpihan-serpihan tajam.
Dia masih duduk di kasur lantai, bersandar di kaki kursi roda Wafa yang setia menemani dari tadi. Napasnya mulai teratur, tapi matanya ... belum benar-benar bisa melepaskan bayangan semalam.
"Aku inget semuanya, Kak," ulangnya lirih.
Wafa masih menggenggam tangannya. Tak menekan. Tak menyela. Hanya menunggu.
"Aku inget suara anak-anak itu. Aku inget... aku disuruh sembunyi, biar dapet permen dari 'Om'." Suara Qale serak, sedikit bergetar. "Dan ... aku inget Ibu nyari-nyari aku malam itu. Berkali-kali..."
Wafa mengangguk pelan. Tatapannya dalam, teduh. “Teruskan, Sya. Aku di sini, jangan takut.”
Qale menggigit bibir. “Ada yang narik aku dari belakang. Orang dewasa. Suaranya dingin. Katanya ... aku bakal mati kalau bersuara.”
Tangan Wafa refleks mempererat genggaman. Qale menoleh sekilas, lalu melanjutkan dengan suara gemetar.
"Dan aku denger suara ... kayak orang diceburin. Kayak ... kayak ada yang minta tolong, terus tenggelam."
Ia menunduk. “Lalu aku liat … tubuh itu, diangkat dari kolam. Itu Ibu, Kak ... itu Ibu...”
Air matanya menetes lagi. Tapi kali ini, tak sesak. Hanya pedih yang menyeruak dari luka lama yang akhirnya terkuak jelas.
“Ada satu hal lagi,” ucap Qale lirih. “Pergelangan tangan yang narik aku malam itu ... ada semacam gambar.”
Wafa terdiam sesaat, lalu menatap Qale lurus-lurus. "Gambar kayak tato?” gumamnya. “Tadi malam ... waktu kamu senggol Deni, apa yang kamu rasakan, Sya?”
Qale menoleh cepat, matanya membesar. Suara tenggorokannya tercekat. “Kayaknya aku lihat sesuatu ... di tangan Deni.”
Diam panjang menggantung. Hanya suara jam dinding yang berdetak, menyayat keheningan.
“Bisa jadi, dia bukan Deni,” ucap Wafa pelan. “Dan mungkin ... dia tahu kamu dulu saksi mata yang ‘hilang ingatan’.”
Qale membeku. Dunia seakan menyempit.
"Aku baru ketemu dia kemarin, Kak... baru pertama. Tapi entah kenapa, aku merasa nggak asing. Suaranya, senyumnya. Bahkan ... matanya."
“Boleh aku minta satu hal?” tanya Wafa akhirnya.
“Apa?”
“Apapun yang kamu ingat, kita simpan berdua dulu. Biar aku yang cari bukti, Sya. Kamu fokus jaga diri dan toko.”
Qale mengangguk, meski menggigit bibirnya. Wafa lalu memintanya tidur lagi. Kali ini, dia berusaha turun ... Susah payah duduk di sisi Qale agar istrinya bisa pulas.
Wafa pergi setelah sarapan dan toko mulai buka.
Menjelang siang, telepon toko berbunyi. Qale yang mengangkat.
“Anak Lipat Bakery, selamat siang,” sapanya ramah.
Suara di seberang lembut dan berwibawa. “Selamat siang. Kami ingin memesan croissant ... Aku mencicipinya saat pesta semalam. Dan rasanya buttery sekali,” ujarnya.
“Oh ... baik, terima kasih, Bu. Silakan pesanannya? Agar bisa kami siapkan," balas Qale dengan nada lembut.
“Empat lusin. Akan dijadikan suguhan keluarga besar sore ini, bisa?" Katanya lagi sembari menyebutkan alamat rumahnya.
Qale mencatat, “Baik. Diantar pukul empat, ya Bu?”
Qale merunut pesanan beliau lalu menyebutkan nomer rekening sebagai sarana pembayaran.
Setelah menutup telepon, Qale melihat jam ditangannya. Lalu gegas meminta si karyawan barunya itu membantu membuat adonan pesanan.
Pukul tiga, dus-dus croissant sudah tersusun rapi di dekat meja kasir. Qale sedang menunggu ojol car untuk mengantar pesanan.
Alamat itu terletak di pinggir kota, di area perumahan lama yang masih tenang dan rindang. Qale turun dengan dua tenteng kardus, lalu mengetuk pintu.
Yang membuka adalah wanita paruh baya, dia tersenyum hangat.
Qale membola. "Nyo-nyaa," sapanya sedikit membungkuk sebagai tanda hormat. Pemesannya ternyata ibu Deni.
“Aih, kamu adiknya Lea, kan? ... Kerja di toko croissant?" tanyanya dengan pandangan dan senyum keki. "Masuk, ayo."
Qale tersenyum dan melangkah masuk. Dia tidak dipersilakan duduk sehingga tetap berdiri setelah meletakkan pesanan di atas meja.
"Kerja di situ gajinya besar?" kekehnya meremehkan.
"Lumayan, Bu. Bisa buat kuliah dan nyicil beli ruko," jawab Qale semringah. "Sudah mau lunas pula." Senyumnya kian merekah membuat sang nyonya terdiam.
"Eh? Gede dong ya? ... nggak malu, kerja gituan?" sambungnya lagi, melihat penampilan Qale dari atas hingga bawah. Sebab semalam, Qale sangat cantik dan stylish dan kini terlihat sedikit kumal.
Lagi-lagi Qale hanya tersenyum, dia masih berdiri sebab tidak di persilakan duduk.
Tiba-tiba, terdengar suara beep beep!
Alarm mobil menyala di luar. Qale menoleh ke jendela.
Seorang pria—Deni—berjalan santai dari arah garasi. Di tangannya tergenggam kunci mobil. Ia menekan tombol, dan alarm berhenti.
Langkahnya mantap. Dia tidak menabrak apapun. Tidak meraba-raba. Bahkan … tahu dimana posisi mobilnya.
Qale menahan napas.
Buta? Tapi...
Wajahnya jelas menunjukkan tanya, dan itu tak luput dari pandangan sang nyonya.
“Oh … kamu heran liat Deni, ya?”
Qale buru-buru menunduk, takut ketahuan terlalu memperhatikan.
“Deni sedang jalani tahap akhir pengobatan mata. Memang ... sudah mulai bisa samar-samar melihat. Tapi belum full pulih,” jelas sang ibu tenang.
“Wah … syukurlah. Maaf, Bu, bukan bermaksud—”
“Tak apa. Banyak yang kaget, kok. Tapi kami syukuri saja. Semoga saat menikah nanti, penglihatannya pulih total.”
Qale mengangguk. Tapi di dadanya... masih ada yang mengganjal.
Karena sorot mata Deni … barusan, ketika melihat ke arah jendela … terasa terlalu tajam.
Terlalu sadar.
Terlalu... tahu.
Qalesya pamit ketika ponselnya berbunyi. Dia harus segera tiba sebab ada pelanggan yang ingin bertemu dengannya.
"Siapa? Ok, aku pulang sekarang ... tolong catat semua pesanan hari ini, ya," beber Qale melihat ke arah sang nyonya sambil merundukkan badannya.
"Eh, kamu? ... bukan karyawan toko?"
Qale menutup ponselnya, sambil jalan ke teras utama. "Kuli dobel job," ucapnya tersenyum tipis.
Dia lalu menyapa Deni yang berdiri di depan mobilnya. "Bang, pamit, ya!" kata Qale.
Deni langsung menoleh, melambaikan tangan seolah sedang menatap matanya. "Hati-hati ya!"
Deni senyum tipis, dan matanya menatap lurus Qale. Tapi dia buru-buru menarik lengannya turun seolah sedang menyembunyikan sesuatu.
Deg!
Qale melihat sesuatu di pergelangan tangan Deni, kali ini jelas sebab dia tidak memakai jam tangan dan hanya mengenakan kaos lengan pendek.
.
.