Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku
Isi CD
Qale tak tahu bagaimana caranya menghadapi tuduhan itu. Bukan hanya oleh Lea, bukan hanya Mbak Mun, tapi juga oleh hatinya sendiri.
"K-ka-k?" ucapnya serak terbata, masih mencoba menolak fakta.
"Sya, aku jelasin," elak Wafa sambil menangkupkan telapak tangannya.
"Ternyata kamu!" ucap Hasan Sasmita. Dia bergerak cepat ingin menyerang Wafa tapi Mbak Mun buru-buru menangkup kaki majikannya itu.
Dengan tangis meraung, Mbak Mun berujar, "Jangan, Pak. Jangan!" teriaknya panik. "Den lari, Den! Bawa Non Qale!"
Wafa langsung menarik tangan Qale yang menggantung. Istrinya shock, tampak bingung tapi Qale tidak memberontak. Dia mengikuti Wafa keluar dari sana.
"Mun lepas, kurang ajar!" kata Hasan menggoyang-goyangkan kakinya yang masih dipeluk Mbak Mun. "Sialan!"
Tubuh senja itu menerima tendangan Hasan sampai terjungkal. Tapi Mbak Mun tak menyerah, dia merangkak menahan satu kaki Hasan agar tak mengejar Qale.
"MUN!" sentak Hasan, kembali menendang Mbak Mun tapi susah karena goyah.
"Aawwhh!" jerit Mbak Mun, rambutnya ditarik seseorang. Lea mencengkram kuat sehingga Mun melepas cekalannya sambil mengaduh. "Sakit, Non!" keluhnya di sela tangis.
"Goblok!" maki Lea, setelah Mbak Mun terjengkang. Dia melepas cekalannya sambil berdiri dan berjalan pelan menuju depan.
Hasan mengejar anak dan menantunya tapi dia terlambat. Mobil Wafa sudah mundur cepat keluar halaman rumahnya.
Dia berteriak layaknya orang gila. "Qale! Balik sini! Anak durhaka!" umpatnya sambil mengacungkan waist bag yang belum sempat dia simpan.
Qale melihat ayahnya berdiri berkacak pinggang dengan wajah memerah. Napas Hasan memburu, bahunya naik turun kentara meski mobil perlahan menjauh.
Setelah semua drama tadi, sepanjang jalan, meraka tak berkata apa-apa. Mata Qale basah tapi tak menangis. Wajahnya pucat, dan kosong.
Di rumah, Wafa menyuruhnya beristirahat. Tapi Qale menolak, hanya terduduk menatap boneka di pangkuannya.
“Sya?” Wafa duduk di kursi seberangnya.
Qale diam.
“Qalesya." Wafa memanggilnya pelan, “aku nggak akan maksa kamu percaya sekarang. Tapi aku juga nggak akan mundur.”
Qale menggigit bibirnya. Jemarinya mencengkeram boneka itu erat-erat.
“Besok ikut aku ke konselor,” ajak Wafa.
Qale menoleh cepat. “Untuk apa?”
“Ada sesuatu yang harus kamu tahu."
Qale terdiam lama. Tapi akhirnya mengangguk pelan.
***
Keesokan harinya...
Ruangan konselor itu masih sama. Aroma lavender tipis menyambut mereka. Tapi kali ini, bukan hanya kursi yang mengingatkan Qale pada masa lalu—melainkan seluruh suasana.
Konselor perempuan paruh baya itu duduk menyambut mereka dengan senyum hangat. Di meja sudah tersedia satu map dan satu CD.
“Ini rekaman kedua,” kata konselor itu. “Kami menyimpannya karena ... seseorang memintanya jangan diputar sampai Qale siap.”
Wafa menggenggam tangan istrinya erat-erat. Qale diminta duduk di kursi panjang.
Rekaman itu mulai diputar.
Terdengar suara perempuan—ibu Qale.
[“Kalau suatu hari aku nggak ada, titip dia…”]
Kemudian, terdengar tawa kecil Qale, disusul ucapan :
[“Tata….”]
Netra Qale membola seketika. Dia menoleh pada Wafa yang sedang menunduk menahan emosi.
“Jadi yang aku panggil Tata waktu kecil?” Qale memeluk bonekanya.
Wafa mendongak, wajahnya datar seolah sedang menahan ketakutan dengan reaksi Qale selanjutnya.
“Kenapa diem aja, Kak?”
“Biar kamu sendiri yang ingat," ucap Wafa serak, masih memandangi istrinya.
Konselor mengangguk. Dan membenarkan bahwa Wafa yang membawa Qale konseling di sini.
Qale menangis di kursi yang sama saat dia dulu ditenangkan. Tapi kali ini dia bahagia karena ingatannya utuh lagi.
Konselor meletakkan foto lama di meja—gambar Qale kecil bersama seorang anak laki-laki dan ibunya. Wafa memejamkan mata.
“Sudah semua, Dok?” lirih Wafa, seolah cemas saat melihat ke arah konselor.
Wanita itu mengangguk pelan. Dia mengatakan Qalesya butuh terapi ringan saja setelah ini.
Qale mengangguk pelan. Entah keberanian darimana, kini dia yang menggenggam tangan Wafa, erat. Berterima kasih.
Menjelang sore, di rumah...
Qale duduk di tepi ranjang. Map, CD, foto, dan boneka ia letakkan satu-satu di hadapannya. Ia menyentuh semuanya perlahan, seperti ingin memastikan bahwa semua ini nyata.
Dari dalam kamar, Wafa membawa sesuatu. CD seperti miliknya. Dia lalu meminta Qale duduk mendekat sebelum memutarnya.
Tak lama terdengar suara.
["Den Wafa, maaf menahan kepulangannya. Ibu pesan pada saya ... Bila terjadi apa-apa sama ibu, non Qale dititipkan di sini sementara. Ajari main piano seperti Den Wafa biar lupa sedihnya."]
["Tolong jaga sampai Non Qale bisa ceria lagi."]
Lalu, terdengar suara lain.
["Tata, lagu ibu bagaimana? Pencet mana dulu?"]
Suara piano pun mengalun, diikuti suara Wafa yang terdengar seperti di CD sebelumnya. CD yang berisi rekaman suara keduanya menyanyikan lagu ibu. Diikuti penyesalan Qale soal "Jangan marah, ibu". (Bab berapa hayo)
Qale menutup mulutnya, tak ingin menangis tapi hatinya tersayat. Begitupun Wafa, matanya sembab. Semuanya kian jelas bagi Qale kini. (Entah yang baca, xixixi)
Jeda beberapa menit.
["Maafin Lesa, Tata. Tata nggak marah juga kan sama Lesa?"]
["Nggak, Sayang. Lesa anak baik."] Suara Wafa. ["Jangan nangis ya, kan mau bisa main piano, nanti kita nyanyi depan ibu."]
Qale menoleh ke arah Wafa. Lanjutan suara ini tidak ada di CD miliknya. Dia menunggu lagi, apakah masih ada lanjutannya atau tidak. Dan ternyata habis sampai di percakapan tadi.
Dia memejam, mencoba mengingat semua. Beberapa menit dalam hening, tangannya terulur. "Di situ, pianonya ... Lesa, karena namaku susah, Tata manggil aku ... Lesa."
["Lesa saja, ya. Biar inget."] Qale membuka mata, melihat ke arah Wafa sambil berkaca-kaca.
"A-aku ingat ... K-kaak!"
Wafa tersenyum tipis, mengusap pucuk kepala istrinya lembut.
"Lesa saja, ya. Biar ingat ... Gitu bukan?" tanya Wafa, diangguki cepat oleh Qale.
Ternyata ini isi percakapan yang dimaksud oleh ART Wafa soal Mbak Mun yang datang ke rumah ini. Qale menunduk, tersenyum getir, semua masuk akal.
Wafa lalu menarik napas panjang. "Se-telah itu ... Aku ke makam ibu Rahayu, dan mengambil bonekamu, sudah rusak, karena alat bukti yang disembunyikan Mbak Mun," kata Wafa seperti ikut terluka.
Qale memotong ucapan Wafa. Dia pun bertanya dengan sorot mata mengilat, "Kak, jadi ... Yang ngirim DM dan semua benda itu ... Ka-kak?"
Wafa hanya menatapnya, tak menjawab. Tapi, matanya tak pernah setenang itu.
.
.