Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku
Wafa dituduh
Qale masuk ke kamarnya nyaris tengah malam, setelah selesai menjemur pakaian.
Setelah salat Subuh. Boneka usang itu dia ambil dari lemari dan diletakkan di pangkuannya. Jemarinya mengusap kepala boneka itu perlahan, seperti mencoba menyambung kembali cerita yang hilang.
"Aku nggak tahu kalau malam itu bakal merubah segalanya..."
Tangannya bergetar. Bayangan malam gelap, suara pelan yang mengajak bermain, dan janji tentang boneka yang akan dikembalikan—semuanya kembali mengendap di benaknya. Qale menunduk dan memeluk boneka itu kuat-kuat.
Siang itu, Qale kembali ke toko. Dia bekerja seperti biasa, menyapa pelanggan, menyusun croissant di etalase. Tak banyak bicara, tapi kali ini hatinya lebih ringan.
Wafa mengantarnya. Dan sebelum pergi tadi, dia sempat berkata pada suaminya itu.
"Petang nanti jemput aku, ya. Aku mau ... pulang," pintanya pelan, menunduk sambil memainkan kerikil di ujung sepatunya.
Ujung poninya tertiup angin membuat wajahnya terlihat cerah tanpa rambut yang menghalangi. Jemari kecil itu saling bertaut, memainkan buku jarinya.
Wafa hanya mengangguk. "Apalagi?" jawabnya setelah beberapa detik.
Dia sedang asik mengamati sikap istrinya yang kini mulai berani meminta. Wafa gemas sendiri dengan gestur Qale, persis waktu kecil dulu bila meminta sesuatu dari Wafa.
"Hmm, udah." Qale diam-diam ingin mencuri pandang sebelum Wafa pergi, tapi dia keduluan. "Eh!"
Intens diliatin Wafa, Qale jadi salah tingkah. Dia gugup sendiri sampai nyaris jatuh kesandung trotoar saat balik badan, membuat Wafa tertawa pertama kalinya. Tawa keduanya sebelum saling kikuk dan diam lalu pergi.
Kini, waktu menunjukkan pukul tujuh malam. Dia sudah bersiap. Mengenakan kemeja biru langit, celana hitam, dan sepatu putih. Saat menunggu di depan toko, matanya membulat kecil. Wafa memakai baju yang sama.
"Kek pasangan beneran, ya?" godanya, ketika Qale terkejut melihatnya.
Qale cemberut. "Aku duluan yang pake ini."
Wafa terkekeh. Dia mendekat, meminta Qale sedikit membungkuk dan merapikan poni Qale yang menutupi mata sipitnya.
Wajah mereka sangat dekat, Qale bahkan menahan napasnya saat Wafa menahan bahunya agar tetap condong padanya.
"Jangan ... jelek," elak Qale malu.
"Tetep manis. Kan istriku," ucap Wafa ringan, membuat Qale terbatuk pelan, salah tingkah. Wafa pura-pura tak melihat, dia langsung pergi menuju mobil. Tapi senyum geli sempat muncul di sudut bibirnya.
***
Dalam perjalanan ke sana, Qale menyandarkan kepalanya di headband mobil. Memejam sambil bersedekap.
Wafa hanya duduk diam di sebelahnya, dia juga sedang bertarung dengan pikirannya sendiri. Ingatan Qale kembali lebih cepat dari dugaannya.
Setiba di rumah lama, Qale berlari kecil meninggalkan Wafa. Dia langsung masuk dan memanggil keras, "Mbak Mun!"
"Mbaaak!" Qale tak sabar, terus berteriak memanggil ART lamanya.
Suara keras Qale bergema ke dalam rumah, mengganggu Lea yang sedang latihan piano.
"Heh, Tarzan!" sentak Lea sambil menekan tuts pianonya.
Brang! Suaranya mengalahkan teriakan Qale.
"Kenapa sih sikap liarmu sulit hilang?" Lea bangun, berbalik badan menghadap dengan wajah kesal. Meskipun dia tidak bisa melihat tapi nalurinya terasah.
"Bukan urusanmu," balas Qale dingin. Ia terus melangkah ke belakang mencari Mbak Mun, tapi tak ketemu.
Lea menggeram. "Qale!"
Wafa baru masuk ruang tamu kala Hasan muncul di ambang pintu, membawa tas kecil hitam, mungkin berisi uang penjualan sapi.
"Berisik!" hardik Hasan, dengan wajah memerah melihat putrinya kalap. "Kamu pikir rumah ini apa?" bentaknya, berulang.
Wafa muncul di belakang Qale. Dengan suara tenang, ia berkata sambil menatap mertuanya. "Istriku mencari kebenaran. Tidak seperti Anda yang memilih menutupi kematian istri sendiri."
Hasan menoleh cepat ke arah menantunya. Dia terdiam. Wajahnya menegang.
Lea tak tinggal diam, telunjuknya tertuju ke arah Wafa. "Orang luar nggak usah ikut campur!"
"Aku suami Qalesya," sahut Wafa. Tatapannya tak goyah.
Mbak Mun baru datang dari pasar. Qale langsung menyeretnya masuk ke ruang tengah.
Wanita paruh baya itu pucat pasi, wajahnya nampak panik disertai ucapan memohon pada Qale.
"Non, mau diapain, Noon," ucapnya berusaha menahan Qale.
Seperti orang kerasukan, Qale mendorong Mbak Mun ke tengah ruangan. "Mbak, malam itu ... waktu aku disuruh main petak umpet... siapa yang nyuruh?"
Mbak Mun makin terkejut. Tubuhnya kini gemetar. "Saya ... saya juga disuruh, Non... Saya takut," jawabnya pelan, iris matanya ke sana-sini, dia ketakutan.
Qale mengeluarkan boneka dari tas kecilnya. Bukan hanya Mbak Mun yang terperangah. Hasan pun ikut melotot. "Dari mana kamu dapat itu?" tanya sang ayah.
"Mbak Mun ... tahu boneka ini, kan?"
Mbak Mun menangis, jatuh duduk. Lengannya menopang tubuhnya agar tak lunglai.
"Ampun, Non ... Saya nggak berani..."
"Bilang!" sentak Wafa.
Mendengar keributan, Lea ikut bicara, "Drama lagi? Setelah ibu, sekarang apa? Mau rusak pernikahanku juga?"
"Aku nanya sama Mbak Mun, bukan Kakak. Ini bukan tentang pernikahanmu."
Lea makin gusar. Dia ikut berteriak, "Semuanya kena imbas! Karena kamu, Ayah dipanggil polisi lagi! ... Aku ditolak lima gedung! Semua karena berita ini muncul lagi!"
Qale tak peduli. Ia memandang Mbak Mun dalam-dalam.
"Kalau bukan Ayah ... siapa? Siapa yang suruh aku ke kolam malam itu?"
Hasan akhirnya berkata lirih. "Qale!"
"Siapa?!" jerit Qale. Wajahnya basah oleh air mata. "Jangan-jangan ... semua orang malam itu tahu, tapi pura-pura diam."
Wafa mengepalkan tangannya. Pandangannya tertuju ke satu titik.
Dengan bibir bergetar, Mbak Mun berbisik lirih, "Saya ... saya nggak sendiri malam itu. Dia ... dia juga ada."
"Siapa?" Qale mengguncang lengan Mbak Mun sampai untaian rambutnya nyaris lepas.
"Pria muda, Non." Mbak Mun menangis, tapi tatapannya mengarah ke Wafa. Napasnya terengah. “Pernah dekat sama Non Qale ....”
Tatapan tajam Hasan beralih ke menantunya itu. Sedangkan Qale, dia terpaku, perlahan-lahan menoleh ke arah suaminya.
"K-kaak...?" Air matanya jatuh, tak percaya. Benar sudah isyarat DM itu. Yang paling dipercaya malah paling menyakiti.
Wafa menelan ludah, bahunya menegang. Satu tangannya mengepal di atas lutut. Tapi dia tak menyangkal malah mundur satu langkah. “S-ya."
.
.