Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku

Tata, kan?

Qale belum sadarkan diri saat sampai di klinik, wajahnya masih pucat, napasnya pun pendek-pendek. Wafa tak melepaskan genggamannya sepanjang perjalanan. Tangannya terus mengusap bahu Qale, seperti menenangkan anak kecil yang habis mimpi buruk.

Saat dokter memintanya Qale istirahat, Wafa mengangguk. Namun begitu Qale sadar, ia tetap memaksa bangun. Air mata masih menetes satu-satu. Tak ada kata yang keluar, hanya tubuh gemetar yang tak bisa dikendalikan.

“Aku masih di sini,” bisik Wafa, pelan, “tenang dulu, ya?”

Qale tak menjawab. Tapi genggamannya pada ujung lengan kemeja Wafa mengendur sedikit. Wafa lalu mengajak Qale pulang.

Sesampainya di rumah, dia memanggil ART-nya agar membantu Qale masuk ke kamar. Wanita paruh baya itu datang tergopoh, siap memapah nona mudanya. Tapi saat akan disentuh, Qale berkata lirih :

“Kak?"

Wafa menghela napas. Dia mendorong kursi rodanya mendekat. "Aku temani," katanya tersenyum tipis.

Kursi rodanya menempel di sisi ranjang Qale. Tangannya terulur mengusap pucuk kepala istrinya, menyisir anak rambut yang basah menutupi dahi hingga matanya.

"Setelah semua selesai, kita obati ini," kata Wafa, membelai lembut ujung pangkal mata kanan Qale yang menyipit.

Qale hanya diam, dia biasanya enggan dikasihani, tapi entah mengapa dengan Wafa justru merasa tidak sedang diejek.

Usapan di kepalanya membuat mata Qale berat dan perlahan napasnya teratur.

"Bobok, Sayang." Wafa berbisik, tatapannya penuh kasih. "Terima kasih, sudah kuat, ya."

Wafa keluar kamar setelah beberapa menit melihat istrinya pulas. Senyum manis tersungging di wajahnya, seolah sedang melihat gadis tangguh tapi rapuh.

"Qalesya Namari Hasna ... Pahit tapi manis." Wafa menghela napas sambil mendorong kursi rodanya keluar. "Ingat perjanjiannya, Fa ... Jangan jatuh cinta," suaranya lirih seperti isi hatinya.

Menjelang maghrib, Qale terbangun. Matanya mencari Wafa yang sudah tidak di kamar. Tubuhnya masih terasa lemah, tapi ada hal yang ingin segera ditanyakan.

Dia melangkah ke ruang tengah dan mendapati Wafa duduk mengenakan sarung dan koko putih. Cahaya dari lampu dinding jatuh lembut ke mushaf yang tengah dipangkunya. Wafa sedang membaca pelan, bersuara rendah, seolah berdialog sendiri dengan langit.

Qale diam di ambang pintu. Pipinya menghangat sendiri. Malu-malu melihat suaminya sangat rapi dan ... teduh. Kian menambah aura tenang Wafa. Sementara dia belum mandi, hanya sempat cuci muka saat salat asar pun hampir habis waktunya.

Wafa menoleh, tersenyum pada Qale yang terlihat canggung. “Minum dulu, haus kan?” Ia menunjuk cangkir teh hangat miliknya, di meja kecil dekat sofa.

Qale mendekat, duduk menurut. Tapi matanya mencuri pandang. Wafa tampak sangat tenang, bersahaja … tapi juga terasa jauh.

Hening.

Azan maghrib terdengar sayup dari surau dekat rumah.

“Kak,” Qale membuka suara, “abis ini, kita ke konselor ya.”

Wafa menutup mushafnya, memutar tubuh, tapi tidak langsung menjawab. Dia hanya melihat Qale sekilas dan masuk ke kamar dengan diam.

Qale cemberut. “Ganteng-ganteng kulkas…” gumamnya kesal. “Manis, tapi dingin. Kek es krim. Bikin flu.”

Dia bangkit, menghentakkan kaki saat masuk ke kamarnya lagi. Setelah salat maghrib, Wafa mengajak Qale makan.

Qale menggeleng. “Nggak lapar.”

“Kamu butuh tenaga.”

“Tenagaku masih tersisa ... kalau cuma buat ke konselor.”

Wafa menarik napas pelan, lalu meminta ARTnya menyiapkan menu untuk Qale. Dia mengambil sendok dan menyuapi Qale tanpa bertanya.

Qale menaikkan alis, saat sendok berisi lauk itu menggantung di depan mulutnya. "Harus?"

“Iya,” sahut Wafa singkat, tetap tenang.

Qale diam. Tapi akhirnya membuka mulut. Satu suapan. Dua suapan. Lalu lambat-lambat habis.

Ada sesuatu yang muncul dari ingatannya. Dulu… ia juga pernah begini. Tapi bukan ibunya yang menyuapi. Ada seseorang…

“Tata?” bisik Qale tanpa sadar. Ia menatap wajah Wafa dengan gamang, seperti bertanya—benarkah kamu?

Wafa hanya tersenyum. Menyeka sisa nasi di sudut bibir istrinya. “Ayo ganti baju. Habis ini kita ke tempat konselor.”

Hujan masih menyisakan embun dan tetes-tetes air di daun. Wafa dan Qale duduk di ruangan konselor tanpa suara.

“Kak,” Qale membuka suara, “waktu itu... kamu nyimpan semua karena takut aku hancur, atau karena kamu tahu siapa yang nyakitin aku?”

Wafa tak langsung menjawab. Tangannya bergerak perlahan, menggenggam jemari Qale yang dingin. Dia lalu meminta sang konselor membuka file lama Qale.

"Aku nggak janji kamu nggak bakal sakit, Sya.”

Qale menatap lurus ke depan. Lalu mengangguk sekali. "Aku juga nggak janji bakal kuat,” jawab Qale

Wafa menoleh cepat. Tapi tak menyangkal, menunduk lalu mengangguk.

"Aku temani." Genggamannya menguat.

Setelah dari konselor, Qale mulai menerima semua ingatannya lagi. Tidak ada tangis berarti di sana. Semuanya sinkron dan dia harus memastikan satu hal esok pagi ke seseorang.

Sebelum larut malam, Qale membawa tumpukan cucian ke belakang. Saat hendak berjongkok di depan mesin cuci, dia terkejut dengan kehadiran ART Wafa.

“Maaf, Non…”

Qale menoleh. "Ya?"

Si ART malah ikut berjongkok di samping Qale. Dia celingukan. "Saya nggak ngerti ada apa. Tapi baiknya Non Lesa tanya ke Mbak Mun. Dia pernah ke sini ngobrol panjang dengan beliau," bebernya berbisik ke telinga Qale.

Jantung Qale mencelos. “Apa? Mbak Mun?”

Ada yang mengalir di dadanya—campur marah, takut, dan penasaran yang menyatu. Ia tahu, babak baru akan dibuka. Dan ia tak akan bisa mundur.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!