Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku

Siapa yang kamu ingat?

Wafa belum pergi, menemani dalam diam.

“Sya,” katanya perlahan, “istirahat dulu, ya?”

Qale tak menjawab. Tapi pelukannya pada boneka itu mengendur sedikit.

Wafa memanggil ART nya agar membantu Qale masuk ke kamar. Wanita paruh baya itu datang tergopoh, siap memapah si nona muda untuk bangkit.

“Aku takut tidur,” katanya pelan, nyaris tak terdengar.

Wafa menghela napas. Dia mendorong kursi rodanya mendekat. Tangannya terulur mengusap pucuk kepala Qale, merapikan anak rambutnya yang basah kena air mata bercampur keringat. 

Ujung jari Wafa mengusap sisa air mata di pangkal mata Qale. Mengusap pipinya dengan punggung tangan, lembut sambil tersenyum hangat.

Dia lalu menatap Qale dalam. “Kalau semua ini mimpi, biar aku jadi orang pertama yang kamu temui saat bangun,” ucapnya lirih.

Qale menoleh, matanya masih sembab. Tapi ada sesuatu yang bergetar di dalamnya. Sebuah pelindung yang pelan-pelan runtuh.

“Aku nggak pengen sendiri lagi, Kak…” katanya, membalas pandangan Wafa akhirnya.

Wafa mengangguk, menepuk pipi Qale lembut lalu memintanya bangkit dibantu oleh ART nya. Dia mengikuti mereka ke dalam kamar, diam di sisi tempat tidur sampai Qale terlelap.

Rumah itu kembali sunyi. Lampu-lampu menyala lembut, tapi tak mengusir keremangan di hati keduanya.

Keesokan harinya, Qale terbangun karena suara ketukan pelan di pintu kamarnya. Pagi yang redup. Hujan turun rintik-rintik membasahi kaca jendela.

Dia bangkit. Tubuhnya masih lemas, tapi lebih ringan dari semalam. Di ambang pintu, ART paruh baya yang memanggilnya "Non Lesa" berdiri dengan nampan kecil.

“Maaf Non, ini sarapan. Den Wafa belum pulang dari bada subuh,” ucapnya saat masuk ke dalam.

“Kemana?” dahi Qale berkerut.

ART itu menoleh. “Katanya ada urusan. Tapi nitip pesan : Non jangan kemana-mana dulu.”

Qale menarik napas. Ada kekosongan yang menghantam seketika. Tapi juga rasa hangat, seseorang mengkhawatirkannya.

Dia makan perlahan. Lalu duduk di ruang tengah, menatap boneka yang kini tergeletak di sofa. Ingatannya dibawa melayang jauh.

Ponselnya bergetar lagi. Sebuah DM baru masuk.

["Bukan siapa yang ingin kamu lupa. Tapi kenapa kamu harus mengingat lagi."]

["Yang kamu percaya adalah yang paling menyakiti."]

Qale menatap layar itu lama. Menarik napas dan meletakkan ponselnya di meja, lalu berdiri. Dia berjalan ke arah depan, ingin menikmati sinar mentari pagi.

Namun, saat melintas di depan kamar Wafa, Qale berhenti. 

Satu-satunya ruangan yang belum pernah dia masuki selama tinggal di rumah ini : kamar Wafa.

Pintu kayu itu tidak tertutup rapat. Bahkan tidak dikunci. Dia celingukan, memastikan ruangan sepi. Dengan tangan gemetar, Qale mendorongnya perlahan.

Udara sejuk menyambutnya. Bau sereh bercampur lemon memendar seisi ruangan. Tirai tipis pun berayun pelan tertiup angin dari jendela yang terbuka. 

Kamarnya sangat rapi, tidak banyak barang. Di sisi tempat tidur, Qale melihat tumpukan map dengan label : "Lesa".

Tangannya terulur. Perlahan ia menarik salah satu map. Di dalamnya ada salinan rekam medis, catatan psikiater, dan ... potongan artikel berita lama.

[“Tragedi peternakan milik Hasan Sasmita : Satu korban jiwa ditemukan.”]

Wajah Qale memucat. Artikel itu disertai foto rumah lama mereka—kolam yang diberi garis polisi. Lalu di bawahnya :

["Korban diduga perempuan paruh baya, belum teridentifikasi secara resmi, namun diduga kuat adalah Rahayu—istri pemilik peternakan."]

Ibunya.

Qale jatuh terduduk di sisi ranjang. Tangan-tangannya gemetar. Jantungnya berdetak keras.

Dia gegas keluar dari kamar Wafa, saat mendengar suara mobil berhenti. Qale melangkah terburu ke arah depan.

Tatapan mereka bertemu sejenak. Tak ada percakapan, hanya diam dan napas yang berat.

"Sekarang?" tanyanya pelan saat Wafa terus menatapnya.

"Ayo," jawab Wafa, belum sempat masuk ke rumah, Qale sudah mengajaknya pergi lagi.

Hari itu, mereka menempuh perjalanan sekitar satu jam menuju rumah lama yang pernah ditinggali keluarga Qale. Perkampungan itu tak banyak berubah. Udara masih lembab, rimbun pepohonan di sana sini, aroma kandang pun masih menusuk.

Rumah itu kini sudah milik orang lain. Seorang peternak sapi, ramah dan menyambut mereka dengan senyum.

Kolam yang dulu menjadi pusat segalanya—pusat tawa, pusat luka, pusat kehilangan—sudah nyaris rata. Sebagian tertimbun tanah, menyisakan cekungan setengah lingkaran seperti luka yang enggan sembuh. Pohon besar itu hanya meninggalkan batang patah, dan jejak kandang tua kini menjadi bangunan baru.

Tapi Qale tahu. Dia ingat. Bahkan terlalu ingat.

Setelah berbincang sebentar dengan pemilik rumah, Wafa meminta izin untuk masuk dan melihat-lihat halaman belakang. Pemiliknya mengangguk, lalu berlalu memberi ruang.

Wafa dan Qale melangkah beriringan.

Qale lalu membungkuk. Menyentuh rumput basah di sisi kolam. Ia memejamkan mata. Sesuatu di otaknya melintas cepat bagai cuplikan film. Dadanya menghangat, lalu perih, dan meledak.

Tangisnya pelan. Tapi menggetarkan.

“Ibu…,” bisiknya, nyaris tak bernapas.

Tangannya menggenggam tanah. Tubuhnya perlahan merunduk, mencium jejak basah di pinggir kolam.

“Maafin aku … maafin aku … bonekaku hilang malam itu. Aku nggak tahu ke mana…” suaranya mulai naik, tercekat, serak. “Katanya aku anak nakal. Kalau mau bonekaku balik, harus ke sini nyari sendiri...”

Wafa menahan napas, berdiri beberapa meter dari Qale. Ia tak mendekat. Tak ingin mengganggu pertemuan Qale dengan luka lamanya.

“Aku nyari … bonekaku ...!” Tangan Qale perlahan terangkat, menunjuk cekungan kolam yang tertinggal. "Di situ."

Tangisnya kian sesenggukan. 

Qale memukuli dadanya sendiri, seperti hendak mencabik perasaan yang menyesak di dalam dada. 

“Sya!” ucap Wafa, mendorong kursi rodanya mendekat. Tapi ia tahu, ini luka yang tak bisa ditolong siapa pun. Harus dikeluarkan, dibiarkan mengalir.

Qale tiba-tiba memegangi kepalanya.

“Saki ... Tata … Sakit!” Ia meracau, memeluk tubuhnya sendiri. Suaranya bergetar meski matanya memejam. “Aku disuruh main petak umpet. Katanya Ibu juga ikutan main … aku harus sembunyi...”

Qale masih menangis. Bahunya berguncang. Kini, tubuhnya membungkuk lebih dalam, seolah ingin menyatu dengan tanah.

Wafa makin mendekat. Dia tak tahan lagi. Ada rasa sakit yang sama melihat istrinya begitu.

“Sya … pelan, ya. Pelan.” Suaranya gemetar.

Qale menggeleng, masih menangis. “Aku disuruh … aku disuruh.…”

“Siapa, Sya?”

Suara Qale lirih, menunjuk ke arah pangkal pohon yang tumbang. “Kata Mbak ... di sana tempat sembunyinya...”

Wafa terpaku, dia terkejut dengan penuturan Qale. Dia bertanya, “Mbak Mun? ... Sya?”

Qale tidak menjawab.

Wajahnya membeku. Napasnya memburu. Tubuhnya menegang lalu…

“Sya!”

Tubuh Qale lunglai, tergolek ke samping tak sadarkan diri.

Wafa panik. “Sya?!”

Dia berteriak memanggil sopirnya. Lelaki itu berlari mendekat bersama pemilik rumah, mereka mengangkat tubuh Qale perlahan.

"Ke aku. Ke aku!" Wafa meminta mereka meletakkan tubuh Qale di pangkuannya. Lalu kedua pria itu mendorong kursi rodanya menuju mobil.

Wafa mendekap tubuh istrinya erat-erat, mencoba meredakan gemetar yang menjalari dirinya juga. 

“Aku di sini, Sayang … ada aku. Aku di sini.”

Perjalanan ke klinik hanya sepuluh menit, tapi terasa sangat panjang.

Lamat-lamat Qale mulai membuka matanya. Dia mendengar suara lembut yang sangat ia kenal, seperti gema dari masa kecilnya.

“Tata…?” gumamnya.

Wafa tersenyum. Dikecupnya dahi Qale dengan lembut. “Bobok, ya. Aku di sini. Seperti dulu.”

Tangannya menggenggam erat tangan Qale.

"Tata?" Igaunya membuat Wafa kian mendekap erat tubuh mungil Qale. 

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!