Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku

Ikhlas

Mobil Wafa sudah melaju ketika pintu Anak Lipat kembali terbuka.

Mama Danisha masuk sendirian.

Ria yang sedang menyusun kue di etalase menoleh. Senyumnya muncul sekadarnya—senyum profesional, tidak lebih.

“Siang,” sapa Dia singkat.

“Siang,” jawab Mama Danisha.

Mama Danisha mendekat ke etalase Onbitjkoek. Matanya berhenti cukup lama pada satu loyang.

“Tadi itu…” katanya pelan, seolah baru memastikan. “Qalesya?”

“Iya, Nyonya,” jawab Ria. Tetap sopan.

“Sudah hamil berapa bulan?”

“Nyaris lima,” jawab Ria, tanpa tambahan apa pun.

Mama Danisha mengangguk. “Kelihatannya baik-baik saja.”

“Alhamdulillah,” balas Ria.

Tidak ada pujian. Tidak ada cerita. Tidak ada basa-basi lanjutan.

Mama Danisha mengambil satu kotak Onbitjkoek. “Yang ini. Dulu Qale pernah bawain. Danisha suka.”

Ria mengangguk, membungkus pesanan tanpa komentar.

Mama Danisha melanjutkan sambil menunggu, “aku mau ke lapas. Sekalian mampir.”

Ria hanya berkata, “Totalnya segini, Nyonya.” 

Saat hendak ke kasir, Mama Danisha melihat ke arah meja samping toko. Nadia sedang menatap laptop, fokus bekerja.

“Kamu Nadia, kan,” panggilnya.

Nadia menoleh. Terdiam sejenak. Lalu melangkah mendekat.

“Kamu beruntung,” kata Mama Danisha pelan. “Masih bisa bekerja di sini.”

Nadia tersenyum tipis. Bukan senyum senang. Lebih seperti sadar posisi.

“Iya,” jawabnya tenang, “aku tahu balas budi harus ditujukan ke siapa.”

Mama Danisha terdiam. Menatap Nadia beberapa detik lalu ia mengangguk kecil.

Pembayaran selesai. Ria menyerahkan kotak kue tanpa banyak kata.

“Terima kasih,” ucap Ria.

“Sama-sama,” jawab beliau singkat.

Mama Danisha melangkah ke pintu. Sebelum keluar, ia berhenti sejenak. Suaranya sangat pelan—lebih seperti gumaman untuk dirinya sendiri.

“Danisha juga akan bangkit lagi…”

Pintu tertutup.

Ria berdiri di balik kasir, menatap etalase yang kini kembali rapi.

Tidak ada yang perlu dibalas. Semua sudah kembali ke posisi masing-masing.

***

Gerbang lapas menutup di belakang Mama Danisha dengan bunyi logam yang berat, tapi langkahnya justru terasa lebih pelan dari biasanya.

Ia menggenggam kotak Onbitjkoek itu erat—seolah benda sederhana itu satu-satunya cara membawa dunia luar masuk ke tempat ini.

Di aula kecil yang difungsikan sebagai ruang kegiatan, ia melihat Danisha dari kejauhan.

Bukan duduk diam. Bukan termenung.

Putrinya berdiri di antara beberapa warga binaan perempuan, membungkuk sedikit, menjelaskan sesuatu sambil memegang pensil. Tangannya sabar menuntun garis—pola sederhana di atas kertas cokelat. Di sudut lain, beberapa orang belajar menjahit lurus. Danisha berpindah, mengoreksi jahitan, tersenyum kecil

Sesekali, suaranya terdengar menyanyi pelan—lagu lama yang tidak Mama Danisha kenali, tapi nadanya hangat.

Ia berhenti melangkah. Ada sesuatu yang mencengkeram dadanya. Bukan sedih. Bukan marah.

Terharu yang damai. Mulai ikhlas.

Danisha terlihat… matang. Tenang. Tidak tergesa membuktikan apa pun.

Ketika sesi berakhir dan waktu kunjungan dimulai, Danisha menoleh. Matanya menangkap sosok ibunya di antara penjaga.

Sekejap ia ragu, lalu berjalan mendekat. “Mama,” katanya.

Mama Danisha tidak menjawab. Ia hanya membuka tangan—dan Danisha masuk ke dalam pelukan itu. Pelukan yang lama. Lebih lama dari yang biasa diizinkan, sampai petugas berdehem halus.

“Terima kasih,” ucap Mama Danisha akhirnya, suaranya pecah. “Karena… hidup dengan baik di sini.”

Danisha tersenyum kecil di bahu ibunya. “Aku juga gak nyangka bisa,” katanya jujur. “Bukan betah, Ma. Cuma… menerima. Sampai waktunya selesai.”

Mereka duduk berhadapan. Mama Danisha menggeser kotak kue ke tengah meja. “Mama bawain ini. Onbitjkoek.”

Mata Danisha melunak. “Dari Anak Lipat?”

Mama Danisha mengangguk. “Iya. Qale dulu pernah bawain. Kamu suka. Dia juga sudah ha_”

Danisha menghela napas pendek. Lalu, pelan tapi tegas, ia mengangkat tangan. “Ma… jangan.”

Mama Danisha terdiam.

“Aku tahu Mama mau cerita,” lanjut Danisha, suaranya tetap tenang. “Soal Qale. Soal Wafa. Tapi tolong… jangan buka itu lagi.”

Ia menatap ibunya lurus. “Aku mau fokus berkarya. Di sini.”

Ada keheningan yang jujur di antara mereka. Mama Danisha mengangguk pelan. “Baik."

Danisha lalu meraih map tipis dari tas kainnya. Ditaruhnya di meja, digeser ke arah ibunya. “Ini desain-desain yang kepikiran selama di sini. Pola sederhana. Bisa dijahit siapa saja.”

Mama Danisha membuka lembarannya. Garis-garisnya bersih. Tenang. Design kalem seperti biasanya.

“Nanti,” kata Danisha, “kalau aku sudah keluar… aku mau launching ini. Untuk amal.”

Mama Danisha mengangguk, tersenyum sambil menutup map itu dengan hati-hati, seperti menyimpan sesuatu yang rapuh tapi berharga. “Mama simpan,” katanya. “Mama jaga.”

Waktu kunjungan habis terlalu cepat.

Saat Mama Danisha melangkah keluar, ia menahan diri untuk tidak menoleh lagi. Di lorong dekat pintu, ia berpapasan dengan seseorang.

Hasan. Lelaki yang pernah menjadi sekutu karena ulah anaknya itu membawa beberapa tas—terlihat berat, isinya banyak.

Pandangan mereka bertemu. Senyum Mama Danisha muncul—kaku, singkat.

Hasan mengangguk sopan, tak berkata apa-apa.

Langkah mereka berlawanan arah.

Di benak Mama Danisha, satu pikiran terlintas begitu saja, Apakah Lea juga mulai taubat?

Ia tidak tahu jawabannya. Dan kali ini, ia tidak ingin memaksa mencari tahu lagi.

Kotak Onbitjkoek yang kosong terasa ringan di tangannya. Yang berat—justru harapan. Dan untuk pertama kalinya, ia membiarkannya tumbuh pelan.

Di dalam mobil, Mama Danisha tidak langsung menyalakan radio. Ia membiarkan kabin sunyi.

Kotak Onbitjkoek di kursi sebelag tinggal bungkusnya. Tangan kirinya menggenggam setir, tangan kanannya sesekali mengusap mata.

Tangisnya tidak kencang.

Lebih sering datang diam-diam, lalu tiba-tiba air mata menetes.

Hidup sendirian ternyata begini rasanya.

Rumah terlalu besar. Waktu terasa lebih panjang. Dan malam selalu datang membawa sepi tanpa bisa ditawar.

Ia teringat wajah Danisha di lapas tadi—tenang, sabar, bahkan tersenyum saat mengajari orang lain menggambar pola. Ada sesuatu yang matang di sana.

Dan itu membuatnya bangga. Sekaligus perih.

Lampu merah membuat mobil berhenti. Mama Danisha melirik kalender kecil di dashboard.

Enam tahun lagi.

Angka itu tidak bergerak. Tidak peduli pada siapa pun pelakunya.

“Lama sekali,” gumamnya.

Enam tahun bukan hanya tentang hukuman Danisha. Itu juga tentang dirinya.

Tentang usia yang terus berjalan, tentang tubuh yang mulai sering lelah, tentang malam-malam yang terlalu sunyi.

Apakah umurnya cukup panjang?

Apakah ia masih ada saat Danisha akhirnya benar-benar bebas?

Pikirannya berkelindan. Dadanya terasa sempit.

Di persimpangan berikutnya, ia tidak berbelok ke arah rumah.

Setirnya justru mengarah ke jalur lain. Ke lapas Elan.

Ia ingin melihat satu orang. Seorang kawan putrinya—yang dulu begitu pandai berbicara, begitu lihai membujuk, dan pada akhirnya… memperalat Danisha.

Ada kemarahan yang belum selesai.

Bukan kemarahan yang meledak, tapi yang mengendap, menunggu waktu.

Mama Danisha ingin tahu.

Apakah hidup orang itu bermakna setelah masuk lapas?

Apakah ia berubah?

Atau justru tetap sama, hanya berganti ruang?

Mobil melaju lebih pelan.

Di dadanya, perasaan campur aduk, cemas, marah, dan penasaran yang tak tahu arah.

Jika Danisha belajar menerima keadaan…

Maka ia—sebagai ibu—masih harus belajar menerima kesendirian.

Dan mungkin, belajar memaafkan. Atau setidaknya, belajar meletakkan kemarahan itu di tempat yang benar.

Mobil berhenti di depan gerbang. Mama Danisha menarik napas panjang sebelum turun. Langkahnya mantap. Tapi hatinya—masih sesak.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!