Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku
Gempar
Hari itu, Qalesya bangun dengan satu keyakinan mutlak.
Ia ingin makan.
Bukan sekadar lapar. Bukan juga ngidam biasa yang masih bisa ditawar. Ini jenis keinginan yang muncul bersama air liur berlebih, tenggorokan menelan sendiri, dan tatapan kosong ke langit-langit kamar.
“Mas,” panggilnya lirih.
Wafa yang baru saja duduk di tepi ranjang menoleh. “Kenapa, Sayang?”
“Aku pengen seafood saus Padang,” jawab Qalesya, cepat. “Isinya kepiting, kerang, scallops. Banyak. Pedes.”
Wafa mengangguk refleks. “Oke.”
Belum sampai ia berdiri—
“Sama nasi bebek Madura,” tambah Qale.
Wafa berhenti.
“Sekarang?” tanyanya memastikan.
“Sekarang,” jawab Qale mantap.
Di ruang tengah, Hasan yang sedang membaca koran menurunkan kacamatanya. Wafa seperti tergesa mencari Bakar.
Winda yang baru duduk hanya menghela napas panjang—napas orang yang sudah tahu hari ini tidak akan sederhana.
“Damkar,” panggil Wafa
“Iya, Bos?” sahut Bakar dari dapur.
“Ikut aku. Beli yang diminta.”
"Beli apa?" tanya Hasan penasaran.
Bakar muncul dengan wajah waspada. “Dua tempat berbeda, Bos?”
“Faaa, mandi dulu,” seru Winda. Wafa masih terlihat kacau. Curiga pasti Qale mulai meminta sesuatu yang aneh.
Bakar menelan ludah.
Perjalanan mereka terasa seperti misi kenegaraan.
Ketika semua akhirnya tiba di meja makan—kepiting terbelah dua dengan saus Padang masih mengepul. Bebek Madura dan sambal hitam mengilap—Qalesya menatapnya lama.
Terlalu lama.
Ia mengangkat satu capit kepiting dengan dua jari. Matanya berair.
“Mas…” suaranya bergetar.
Wafa yang sedari tadi sibuk membuka ponsel menoleh. “Kenapa?”
“Dia… harus mati ya?” tanya Qalesya lirih.
Ruangan mendadak sunyi.
Winda refleks mendekat. “Nak, itu—”
Qalesya menatap kepiting itu seperti makhluk hidup. “Sakit gak ya pas dibelah?”
Hasan menutup koran. Menghela napas panjang, lalu menggeleng pelan. Drama ibu hamil dimulai.
Wafa… malah tersenyum.
Dan tanpa rasa bersalah, menekan tombol rekam.
“Sayang,” katanya sambil cengengesan, “kamu tadi minta sendiri.”
Qalesya mulai menangis.
Bukan meraung. Tangis senyap, air mata jatuh satu-satu ke meja makan.
“Bebeknya juga,” katanya sambil menunjuk piring sebelah. “Itu disembelih… sadar gak sih?”
Winda sibuk mengusap punggung menantunya, menjelaskan panjang lebar soal makanan, siklus hidup, dan doa sebelum penyembelihan.
Hasan berdiri, berjalan ke dapur, cari aman. “Aku gak ikutan,” gumamnya.
Wafa tetap merekam.
Sampai akhirnya Qalesya mengusap hidung, menarik napas.
“Mas,” katanya pelan tapi tegas.
“Hmm?”
“Aku pengen es serut.”
Wafa berhenti merekam. “Es serut?”
“Iya. Tapi—” Qalesya mengangkat jari. “Harus dipres halus. Sirupnya gula merah. Gak boleh direbus. Harus diuleg, terus dikasih air panas dikit aja.”
Ruangan kembali sunyi.
Hasan muncul dari dapur, mendengar setengah kalimat terakhir, lalu tertawa keras.
“Wafa,” katanya sambil menepuk bahu menantunya. “Kamu kena batunya."
Wafa pucat.
“Tunggu… gula gak boleh direbus?” tanyanya pelan.
Qalesya mengangguk polos.
Proses pembuatan es serut itu lebih dramatis dari skripsi.
Wafa mengulek gula dengan wajah frustrasi. Bakar membantu memegang ulekan, salah posisi, hampir kena tangan sendiri.
Winda mengawasi seperti wasit. Hasan tertawa tiap lima menit.
Ketika es serut itu akhirnya jadi—disajikan dengan penuh harap—Qalesya menatapnya.
Lalu menggeleng.
“Aku kenyang,” katanya tiba-tiba.
Wafa menatapnya kosong.
“Terus ini?” tanyanya menunjuk hasil kerja kerasnya.
Qalesya menunduk. “Aku… pengen buah.”
Semua menoleh ke arah Bakar.
“Buah?” ulang Hasan.
Qale mengangguk lemah. “Aku liat ada buah tadi ... kayak beli di Indoapril. Tapi… diumpetin.”
Wafa menoleh tajam. “Damkar,” titahnya dingin.
"Kok tau aku punya buah," gerutu Bakar. Berjalan ke arah kulkas mengambil semangka potong yang dia beli tadi pagi.
“Bos, aku gak tau apa-apa,” bela Bakar cepat sambil menyodorkan buah itu ke Qalesya.
“Sebagai hukuman,” kata Qalesya santai, “Pak Bakar habiskan itu semua.”
Bakar menatap meja. Kepiting. Bebek. Es serut.
“Bos—”
“Silakan.” Wafa tergelak.
Bakar makan dengan wajah menderita. Lima menit kemudian, wajahnya pucat.
Qalesya yang melihat itu justru menangis lagi. “Jangan dimuntahin. Kasian bebeknya udah dikunyah malah dilepeh…” katanya terisak.
Bakar berhenti, mual, lalu berlari ke belakang.
Suara muntah terdengar.
Wafa tertawa sampai harus menutup mulut.
Hari itu, Qalesya berhasil membuat seisi rumah repot.
Dan ketika malam datang, ia meringkuk di sofa kamar, memakan buah potong dengan lahap.
“Enak,” katanya puas. Tak lama, Qale pindah ke ranjang.
Meringkuk sambil memeluk bantal. Wafa masih berdiri di dekat lemari, melepas jam tangan, wajahnya lelah tapi senyumnya belum benar-benar hilang.
“Mas,” panggil Qalesya pelan.
“Hmm?” Wafa menoleh.
Qalesya memiringkan tubuh, menatap suaminya dengan mata besar yang mulai berat tapi masih menyimpan sisa drama.
“Mas sayang aku gak?”
Wafa terdiam.
Bukan karena ragu. Tapi karena sedang berpikir jawaban mana yang aman setelah seharian ini.
Dua detik. Tiga detik.
“Mas!” Qale langsung bangun setengah duduk. Bibirnya manyun. “Mas gak sayang aku? Cuma gegara aku minta beli ini itu?”
“Bukan gitu—” Wafa baru mau membuka mulut.
Qalesya sudah turun dari ranjang.
“Adek,” katanya dengan suara dibuat-buat dramatis, “ayah buang kita.”
Wafa melongo.
Qalesya berjalan ke pintu kamar sambil menyeret daster yang baru dilipat, benar-benar diseret, seperti tokoh sinetron jam tujuh malam.
“Adek, kita pergi,” lanjutnya. “Ayah jahat.”
“Sayang—” Wafa panik, melangkah cepat.
Pintu kamar terbuka. Qale menuruni tangga.
Winda yang kebetulan lewat langsung berhenti. “Lho, Qale? Kenapa, Nak?”
Qalesya menoleh cepat. Matanya berkaca-kaca.
“Mama juga kan?” tanyanya lirih tapi menusuk. “Kesal sama aku?”
Winda bengong.
“Eh… Mama—”
Wafa buru-buru memeluk dari belakang, menahan langkah istrinya. “Enggak! Mama enggak! Ayah juga enggak!”
Hasan yang menginap sejak kemarin, duduk santai di sofa ruang tengah hanya mengangkat cangkir teh, pura-pura sibuk menyesap. Tidak ikut campur. Sudah hafal pola ngidam ibu hamil.
Qalesya menunjuk ke arah dapur sambil tetap setengah ditahan Wafa. Dia melihat Bakar.
“Pak Bakar,” serunya lantang, “beliin aku sosis matang. Aku lapar. Mas gak ngasih aku makan sejak siang.”
Bakar yang baru muncul refleks berhenti. “Iya, Nyah,” jawabnya cepat.
Lalu… langsung kabur ke luar rumah.
Wafa menutup wajahnya dengan satu tangan.
Qalesya akhirnya berhenti meronta. Menoleh ke Wafa, suaranya mendadak turun, polos.
“Mas… aku ngantuk.”
Wafa menurunkan tangan, menatapnya tak percaya. “Hah?”
“Ngantuk,” ulang Qalesya. “Kaburnya besok lagi aja ya.”
Wafa tertawa. Bukan yang keras. Tapi yang kalah.
Ia merangkul istrinya menaiki tangga, kembali ke kamar, mendudukkannya di ranjang. “Sayang banget,” katanya sambil mengelus pipi Qalesya. “Tapi kamu tuh… bahaya kalau lagi ngidam.”
Qalesya tersenyum kecil, matanya sudah setengah terpejam. “Mas tetep sayang aku kan?”
Wafa mengecup keningnya lama. “Banget. Bahkan pas kamu bikin satu rumah panik.”
Qalesya sudah tak menjawab. Napasnya teratur.
Wafa mematikan lampu, berbaring di sampingnya, masih tersenyum sendiri.
Hari itu, ia benar-benar lelah.
Tapi juga—entah kenapa—merasa sangat dicintai.
Dan gemas.
"Lah, langsung tidur," kekeh Wafa saat melihat istrinya pulas.
.
.