Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku
Overthinking Ria
Matahari sudah condong, sinarnya menembus jendela toko Anak Lipat dan jatuh di meja kasir, membuat debu-debu kecil menari di udara.
Rini masih di dapur, mencuci peralatan tersisa. Sementara Nadia, sedang salat di kamar belakang, satu-satunya ruangan multifungsi di toko.
Ria menata rak terakhir, lalu menepuk tangannya pelan. “Sudah, deh. Beres semua,” gumamnya.
Jelang petang. Bakar sudah berdiri di ambang pintu, memegang helm di tangan.
“Rajin banget, Mbak Kasir teladan,” ujarnya pelan, nada suaranya ringan tapi matanya menyimpan sesuatu yang lain.
Ria menoleh, tersenyum kecil. “Biasalah, Pak. Kalau toko rapi, hati juga hepi.”
Bakar diam sejenak. “Kamu yakin?”
Ria mengerutkan dahi. “Yakin apa?”
“Kalau hatimu udah hepi.”
Pertanyaan itu meluncur begitu saja, tapi Ria langsung kehilangan kata. Suasana toko menjelang tutup mendadak senyap. Hanya suara detik jam yang terdengar dari dinding.
“Maksudnya? jangan bercanda, Pak—”
“Aku nggak bercanda,” potongnya lembut. Ia menatap Ria tanpa tergesa. “Aku suka kamu.”
Ria mematung. Kata itu jatuh seperti hujan pertama setelah kemarau panjang—tak keras, tapi meninggalkan jejak.
“Aku nggak tahu kamu siap atau enggak,” lanjut Bakar pelan, “aku juga nggak mau kamu merasa terburu-buru. Aku cuma pengin kamu tahu, setiap kali aku ke toko ini, rasanya nyaman seperti rumah.”
Ria menunduk. Napasnya berat, tangan memegang ujung meja untuk menahan gemetar.
“Pak, aku ... belum tahu harus jawab apa.”
“Gak apa-apa,” jawabnya cepat. “Aku nggak nuntut. Kalau kamu mau jalan bareng, ayo. Kalau kamu masih ragu, aku nunggu. Kita jalani aja apa adanya.”
Ria menatapnya lama, kemudian tersenyum samar. “Aku nggak janji bisa suka balik. Hatiku belum kembali percaya,” cicitnya pelan.
Bakar mengangguk, seolah sudah menduga. “Aku juga.”
Mereka diam beberapa saat, saling menatap dalam tenang di petang yang mulai merayap pergi berganti gulita.
Dari dalam toko, suara Rini memanggil, “Kak Ria! Ini kunci lemari aroma terapi disimpen mana?”
Ria menjawab cepat, "Di kamar saja." Lalu menoleh lagi ke Bakar. “Kalau nanti berubah pikiran, Pak?”
“Ya, berarti kamu sudah berani memutuskan,” jawabnya, tersenyum kecil.
Ria menahan senyum, menatap lelaki itu yang kini terlihat lebih tenang daripada biasanya. “Pak Bakar ... romantisnya gak niat tapi ngena.”
“Ya karena niatnya bukan bikin kamu klepek-klepek,” ujarnya santai. “Niatnya cuma bikin kamu percaya.”
Ria terkekeh kecil.
Sore itu, tak ada pelukan, tak ada genggaman. Hanya dua orang yang kini memilih duduk di teras toko, berbagi semburat jingga, dan perasaan yang tumbuh diam-diam.
Esok harinya
Ria menutup toko seperti biasa. Langit sudah gelap, udara terasa lembap setelah hujan sore tadi.
Saat menoleh ke arah parkiran, dia tertegun—Bakar sudah menunggu di sana, duduk di atas motornya sambil memainkan helm.
“Pak Bakar?” serunya pelan.
“Pulang bareng?” tanyanya.
“Jauh, lho.”
“Motor nggak ngeluh, kok.”
Ria tersenyum, lalu berjalan mendekat. “Bapak nggak capek?”
“Capek. Tapi lebih capek kalau tahu kamu jalan sendiri.”
Ria pura-pura mendengus, tapi senyumnya gagal disembunyikan. Ia mengenakan helm, lalu naik ke motor pelan-pelan.
Sepanjang jalan, mereka tak banyak bicara. Hanya percakapan kecil soal lampu jalan yang mati, anak-anak yang berlarian pulang, atau suara klakson mobil yang meminta mereka minggir. Tapi dari tiap kalimat sederhana itu, ada kehangatan yang tumbuh tanpa perlu diucap.
Setibanya di depan rumah Ria, Bakar berhenti. “Udah sampai,” katanya pelan.
“Terima kasih ya, Pak.”
Bakar mengangguk, tapi tak langsung menyalakan motor.
“Besok jam segini lagi?” tanyanya setengah bercanda.
Ria menatapnya, lalu menjawab lirih, “Kalau Bapak gak bosen.”
“Selama kamu senyum kayak tadi, gak akan.”
Ria tertawa pelan, melangkah masuk. Begitu pintu tertutup, Bakar menatap rumah itu sebentar, lalu tersenyum sendiri.
Dan entah kenapa, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Bakar merasa punya semangat hidup lebih lama.
***
Sudah beberapa hari ini Qalesya memperhatikan Bakar dengan tatapan heran.
Biasanya pria itu kalau pulang kerja langsung duduk di belakang rumah.
Ngobrol dengan mbak atau ibu mertuanya. Tapi sekarang, setiap sore, setelah mengantar Wafa pulang, Bakar hilang.
Pulangnya selalu setelah isya, itu pun kadang bersenandung pelan lagu-lagu lama sambil mainin kunci motor. Kadang diselingi gumaman tak jelas, tapi senyum di wajahnya sulit disembunyikan.
“Pak Bakar makin aneh ya, Mas?” gumam Qale suatu malam sambil menyeruput teh.
Wafa hanya tersenyum, pura-pura tak tahu.
“Mungkin lagi seneng aja. Udah lama gak liat dia sehepi tu.”
Qale penasaran tapi menahan diri. Suaminya pasti tahu sesuatu. Dia memilih ikut apa kata Wafa saja.
Beberapa pekan kemudian, perubahan itu makin terlihat.
Ria dan Bakar makin akrab di toko. Tidak ada yang tahu pasti kapan kedekatan itu mulai tumbuh, tapi semua orang bisa merasakannya.
Bakar yang biasanya cuek, kini sering mampir ke toko hanya untuk memeriksa stok yang sebenarnya bukan bagiannya.
Sore itu juga, Daniel datang untuk pamit pulang ke negara asalnya. Ia melihat Bakar duduk ngopi di depan toko, menatap langit sore yang mulai temaram.
“Sudah move on dari Risya?” tanya Daniel, suaranya pelan tapi cukup jelas untuk didengar dari dalam karena pintu terbuka lebar.
“Kalau gitu aku tenang ninggalin Lo, Kar.”
Ria yang baru saja membereskan meja spontan menoleh.
Nama itu … Ris .. Risya, kah? Bukan Risma? Ia pernah mendengar samar waktu Bakar menyodorkan risoles mayo pada Daniel beberapa minggu lalu. Daniel sempat keceplosan waktu itu. Sekarang, ia mendengarnya lagi. Lebih jelas.
“Risya?” Ria memberanikan diri bertanya, berdiri di tengah pintu membawa baki.
Bakar menoleh. Sempat diam beberapa detik, lalu hanya menjawab pendek, “Bukan siapa-siapa.” Nada suaranya datar, tapi ada sesuatu yang dia tahan.
Ria menunduk. Ada yang mengganjal di dadanya. Ia tahu perasaannya mulai tumbuh—perlahan, tenang, tapi nyata.
Namun, dua kali mendengar nama samar itu, seolah ada dinding tipis yang membuatnya berhenti melangkah.
“Bagaimana kalau aku hanya pengganti?” bisiknya dalam hati, saat melangkah ke dapur.
Dia tidak ingin menjadi orang yang merebut tempat seseorang di masa lalu Bakar. Ia ingin dicintai karena dirinya, bukan karena kekosongan yang ingin diisi.
Interaksi Bakar dan Daniel tidak seperti dengan Wafa. Mereka terlihat lebih dekat. Ria ingin bertanya pada Daniel tapi pria itu akan kembali ke negaranya.
Tatapan Daniel pada Ria siang tadi seolah menyiratkan sesuatu, ada harapan juga misteri. Siapa Risya? Batin Ria.
Malamnya, di kamarnya yang remang, Ria menatap layar ponselnya lama sekali. Pesan Bakar belum dibalas.
Ia tahu, hatinya kini meragu. Bagaimana jika yang ditunggu sebenarnya tak pernah benar-benar pergi dari hati Bakar?
.
.