Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku

Risoles Mayo

Pagi itu toko Anak Lipat terasa berbeda.

Ria datang lebih awal, bahkan sebelum lampu toko dinyalakan. Ia membawa sekotak jajanan pasar dan menaruhnya di meja kasir, lalu melirik jam dinding yang masih menunjuk pukul tujuh kurang.

Bakar muncul dari arah belakang dengan mug kopi di tangan.

“Rajin amat hari ini,” ujarnya, nada suaranya setengah masih serak, setengah bercanda.

“Lagi pengin aja, Pak. Biar semangat.” Ria tersenyum kecil, tapi cepat menunduk, pura-pura sibuk membuka bungkus kue.

Bakar mengangguk, duduk di bangku tinggi dekat jendela. “Aku pikir, kamu masih mager karena aku ‘ceramahin’ soal hujan kemarin.”

Ria melirik, lalu terkekeh, “Aku malah jadi mikir, Pak. Kadang, kita emang butuh alasan buat berhenti lari, ya?”

“Hmm,” Bakar menatapnya, “dan kalau udah berhenti, tinggal nentuin mau duduk sama siapa.”

Ria spontan menatapnya lama. “Pak Bakar … menggodaku, ya?”

Bakar menaikkan alis. “Tergantung kamu dengernya sebagai apa.”

Ria mendengus, menahan senyum. “Kalau gini terus, aku bisa salah paham, tahu.”

“Biar aja,” jawabnya santai, “selama kamu nggak salah orang.”

Hening sebentar.

Ria akhirnya tertawa kecil. “Kalau punya podcast, kayaknya laku. Topiknya bisa ‘Filsafat di Balik Croissant’.”

“Kalau kamu yang jadi co-host, mungkin iya,” balas Bakar cepat.

Ria terdiam sejenak, jantungnya entah kenapa berdetak lebih cepat. Tapi sebelum suasana berubah terlalu dalam, Wafa muncul dari arah pintu.

“Wah, wah, wah … pagi-pagi udah kayak film romantis Perancis!” serunya sambil pura-pura batuk. “Masih di sini, Damkar?”

Ria langsung berdiri, wajahnya memerah. “Pak Wafa! Saya cuma—”

Bakar meneguk kopinya pelan, menahan tawa. “Cuma ngobrol soal podcast.”

“Podcast?” Wafa menaikkan alis. “Oh, yang temanya ‘Duduk Sama Siapa’ itu, ya?”

Ria menepuk dahinya. “Ya ampun.…"

Bakar tak enak hati, dia gegas ke belakang menaruh cangkir lalu kembali ke depan. Hari ini dirinya mulai kerja.

Ria masih tak percaya, dia sesekali melirik Wafa. Suami bosnya ini ternyata bisa jalan, pasti Qale bahagia punya suami yang sempurna meski matanya buta satu. Dia membatin.

Andai, ada seseorang yang mau menemani hidupnya, mungkin hidup Ria takkan terasa hampa setelah kehilangan ibunya tiga tahun lalu. Nasibnya sama seperti Nadia, hanya saja Ria tak memiliki adik.

Siangnya.

Qalesya datang membawa cemilan buatan Winda.

Dari balik rak kaca, dia melihat Ria menata Croissant. Menyalakan lilin aromaterapi. Tak ada yang berubah dengan ekspresi Ria, pikir Qale.

Saat jam makan siang. Wafa datang ke toko dengan Bakar.

Bakar menyodorkan barang, Ria selalu berkata, “Makasih, Pak,” lalu Bakar membalas dengan kalimat yang entah kenapa selalu terdengar punya makna lain.

“Pelan-pelan aja, nanti jatuh.”

“Atau biar aku yang pegang.”

“Kalau capek, bilang, ya.”

Qalesya berbisik, “Itu flirting versi bapak-bapak banget, Masyaallah…”

Wafa nyengir. “Tapi efektif.”

Mereka berdua hampir tertawa keras kalau saja Ria tak tiba-tiba menoleh. Qale buru-buru memalingkan wajah, pura-pura menulis resep. Wafa menunduk, sibuk main HP.

Begitu Ria kembali fokus, Qale berbisik lagi. “Tapi ya, si Daniel bener juga … Aku takut Ria cuma jadi pelampiasan.”

Wafa menatapnya lembut. “Mungkin. Tapi aku liat cara Bakar liat dia … itu bukan pelampiasan. Kayak seseorang yang mulai jatuh cinta lagi.”

Qalesya terdiam lama, menatap Bakar yang tersenyum kecil pada Ria. Untuk sesaat, ia tak melihat dua pegawai di tokonya—tapi dua jiwa yang sedang belajar percaya lagi pada kehidupan.

Ria tertawa kecil, dan Bakar menatapnya seperti seseorang yang akhirnya menemukan kehangatan di tengah musim hujan.

“Lihat, kan?” kata Wafa pelan.

“Ya…” jawab Qale, suaranya menurun.

Wafa menoleh. “Apa?”

Qale tersenyum samar. “Semoga cocok.”

Tiba-tiba Daniel datang membawa dua bungkus plastik berisi risoles, wajahnya sumringah.

“Eh, aku bawa camilan buat tim rajin!” serunya sambil mengangkat plastik seperti piala.

"Eh, dilarang bawa makanan dari luar!" seru Qalesya menunjuk Daniel.

"Masukin tagihan aja, Nyah," kekehnya sambil menyodorkan jinjingannya pada Ria.

Ria menyambutnya dengan senyum lebar. “Wah, makasih, Mas Daniel! Ini favorit saya banget—risoles mayo!”

Bakar yang dari tadi diam, langsung menoleh cepat. “Risoles mayo?” ulangnya pelan, ada nada samar yang aneh dalam suaranya.

Daniel yang baru duduk di depan Wafa ikut terdiam. Refleks, dia menoleh ke Bakar—dan langsung nyeletuk.

“Iya … risoles mayo. Kayak dulu Ris—”

Belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya, Ria menatap penasaran.

“Ris siapa, Mas?”

Daniel terbatuk cepat, pura-pura sibuk mencari piring ke belakang. “Eh … risol… risol buatan Risma, tetanggaku dulu. Enak banget pokoknya.”

Nada suaranya memaksa ceria, tapi matanya melirik ke arah Bakar—yang wajahnya kini kaku.

Ria tidak terlalu memikirkan. Ia malah sibuk menyiapkan piring dan tisu. Tapi Bakar kian diam. Tangannya menggenggam sendok terlalu erat sampai buku jarinya memutih.

Wafa menunduk, menggeleng pelan. Suasana yang tadinya ringan mendadak menegang.

Ria masih tak paham, hanya heran kenapa Bakar tidak seperti biasanya.

Sedangkan Bakar, diam-diam menatap risoles di piring itu seperti menatap kenangan yang tidak mau dia jamah lagi.

“Pak Bakar?” panggil Ria pelan.

Bakar tersadar, buru-buru tersenyum. “Iya, maaf. Aku ke belakang dulu, ya.”

Qalesya menatap punggungnya yang menjauh, lalu menghembus napas panjang. “Duh,” gumamnya melirik Wafa.

Beberapa jam kemudian

Kantor Logistik Ambrasta.

Ruangan Wafa harum musk, membaur dengan dinginnya AC.

Bakar berdiri di depan meja Wafa, wajahnya masih menyimpan sisa kesal yang tak berhasil ia sembunyikan.

"Damkar ... Ada yang ingin aku sampaikan?” ujar Wafa, nada suaranya hati-hati tapi tegas.

“Silakan, Bos,” jawab Bakar pendek.

Wafa menatapnya lama, lalu menyandarkan tubuh. “Kar, aku nggak akan ngatur urusan pribadimu. Tapi aku minta satu hal. Jangan dekati Ria kalau kamu belum yakin udah ikhlasin Risya.”

Bakar mendengus pelan, matanya menatap lurus. “Bos, sekarang urusan pribadi pun harus ikut diaudit?”

“Ini bukan ngatur,” suara Wafa meninggi sedikit, “aku cuma nggak mau kamu ngerusak seseorang yang nggak salah apa-apa!”

Keheningan menekan suasana ruang itu.

Bakar mengepalkan tangan, menatap Wafa tajam. “Anda pikir aku nggak tahu apa yang aku rasain?”

Wafa berdiri. “Aku pikir kamu belum selesai, Kar. Kamu masih nyebut namanya. Masih nyimpan foto Risya di dompetmu. Bahkan—”

“Cukup!” potong Bakar, suaranya bergetar. “Aku nggak perlu dihakimi cuma karena aku belum siap buang masa lalu. Aku cuma belajar berdiri lagi, Fa.”

Wafa terdiam.

Nada itu—penuh luka yang ditahan.

Bakar melanjutkan pelan, tapi tegas, “Aku nggak mau ngerusak siapapun. Kalau aku suka sama seseorang, itu urusan hatiku. Bukan laporan kerja.”

Ia berbalik, melangkah keluar sebelum Wafa sempat menjawab.

Di koridor panjang, langkah Bakar terdengar berat. Ia berhenti sejenak di depan kaca besar, melihat pantulan dirinya sendiri.

"Huft! Lucu," pikirnya, kenangan masa lalu hadir lagi lewat sepotong risoles" 

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!