Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku
Apakah Mbak Mun?
Satu jam setelah rekaman itu, Qale masih duduk diam di ruang terapi. Tangisnya telah reda, tapi tubuhnya terasa kosong. Bibirnya kering, matanya sembap. Seolah semua suara dan rasa sudah tumpah, menyisakan sunyi di dada.
Konselor menyodorkan selembar kertas kosong dan sekotak pensil warna. "Coba gambar suasana hatimu," katanya pelan.
Qale menatap kertas itu lama. Tangannya bergerak pelan, menggambar garis-garis tak tentu arah. Mirip bayangan. Mirip benang kusut. Dan di sudut kanan, tanpa sadar, dia menulis sesuatu — namanya.
Dia berhenti. Jantungnya berdegup pelan tapi tajam.
"Kenapa aku mesti lupa, Dok?" Suaranya lirih. Tatapannya kosong, seperti menembus kabut.
Konselor tidak langsung menjawab. Dia hanya membuka slide tablet di pangkuannya — menampilkan dokumentasi konseling lama. Ada foto-foto, coretan, bahkan catatan tulisan tangan Qale kecil. Semua terasa asing sekaligus familiar.
"Apa ... ibu yang nyuruh?" Qale bertanya lagi, kali ini nada suaranya meninggi. "Siapa yang minta kalian lakuin ini semua ke aku?"
Namun, konselor memandangnya lembut. "Apa kamu merasa disakiti sekarang, Lesa?"
Iris mata Qale melebar, tatapannya menajam. "Nama aku Qale, bukan Lesa!" potongnya sengit. "Ibuku aja manggil Sya! Dokter nggak tahu, kan, rasanya hidup tapi kayak isi kepala hilang setengah! Kayak orang bego!"
Dia menunjuk dadanya. “Ini ... di sini. Sakit. Tapi aku nggak tahu kenapa.”
Konselor tersenyum tipis. "Kadang, yang kita benci justru bisa jadi penyelamat, Lesa."
"Jangan panggil aku gitu. Siapa sih yang nyuruh?!"
Lagi-lagi konselor menatapnya dalam, dan Qale tak suka. Nadanya pelan, pandangannya melembut saat menjawab, "Dia yang memanggilmu dengan nama itu ... adalah orang yang paling berjuang untukmu."
Qale menggeleng, kebingungan. “Aku bahkan nggak tahu nama kecilku siapa aja…”
Lesa. Kata itu mendadak membuat muak sebab Qale makin merasa asing dengan dirinya sendiri.
Konselor bergeser mendekat, menepuk bahu Qale. “Pelan-pelan. Yang penting sekarang, maafkan dulu dirimu ... diterima dulu, biar semua kembali utuh.”
***
Petang menjelang saat Qale tiba kembali ke rumah. Dia mencari Mbak Mun. Tapi tak ada sesiapa. Rumah Hasan Sasmita seperti sunyi mendadak.
Sesuatu dalam dirinya mendesak terus melangkah. Dia masuk ke kamar, membuka laci lemari lama, mencari crayon atau pensil warna. Tapi yang dia temukan justru foto. Kusam. Hampir robek. Wajahnya kecil, berdiri di tepi kolam bersama sang ibu.
Qale tertegun, fokus pada sesuatu yang digenggamnya.
Ini ... foto yang sama seperti yang dikirim lewat DM akun anonim. Tapi ini salinan aslinya.
"Kalau ini ada di sini..." pikirannya memburu.
Nafas Qale tercekat. Jarinya gemetar.
"Berarti yang ngirim ... salah satu dari mereka?"
Tubuhnya seketika dingin. Tangannya mencengkeram foto itu erat, lalu berdiri. Langkahnya terburu-buru hendak menuju dapur, tak melihat jika Lea sedang melintas pelan di depan kamarnya.
Bruk!
Keduanya jatuh. Foto terlepas, melayang di lantai.
"Liat-liat dong!" omel Lea, dia langsung mengambil kacamata hitam yang jatuh.
Qale buru-buru memungut foto, lalu membantu Lea bangun. “Maaf, Kak…” suaranya pelan, barusan dia melihat sesuatu yang janggal menurutnya.
Lea mendelik, menepis kasar pegangan Qale di lengannya, laku berkata, “Instingku tajam. Buta bukan berarti nggak tahu arah jatuh kacamata.”
Qale menatapnya lama, sendu. “Maaf, Kak. Bukan gitu maksudnya.”
“Matamu cuma sipit sebelah, kan. Aku buta. Dan kamu masih curiga kalau kondisiku palsu. Kocak!” kata Lea tersenyum sinis, sebelum berbalik badan.
Qale terdiam. Tangannya reflek meraba mata kanannya sendiri. Lalu melangkah pergi, menunduk tanpa berkata apapun.
Dia menuju kamar Mbak Mun. Tapi tetap kosong. Dia akhirnya duduk di teras, memandangi langit yang mulai gelap.
Tangannya menggambar asal dengan pulpen di buku kecil. Garisnya makin tebal. Makin dalam karena Qale menekan kuat pulpennya.
Suara dalam kepalanya kini sering muncul. Membuat Qale kian berisik sendirian. ["Maafkan dirimu, Lesa. Ada aku."]
Qale celingukan, "Kak Wafa?"
Lalu suara ayahnya tiba-tiba terdengar dari dalam, melangkah mendekatinya.
"Ngapain ke tempat gituan?"
Qale membeku. Suara itu semakin dekat. Dia mencengkram bukunya sampai tertekuk.
Hasan melihat putrinya hanya diam. "Kalau kamu mulai ingat ... Ayah harap kamu siap." Dia menghela napas panjang, menengadahkan pandangan ke halaman. "Sebab semua ini terlalu berat buat anak seumur kamu, waktu itu," ucapnya lirih, seolah menyesal.
Deg.
Qale berdiri pelan. “Kalau bukan aku ... lalu siapa, Yah?” gumamnya, menatap ayahnya yang berdiri di ambang pintu.
Hasan tak menjawab. Dia balik badan dan masuk begitu saja.
Qale terdiam lama, lalu mendongak—rasanya benar-benar sendirian.
Tak lama, sosok yang ia tunggu akhirnya muncul dari arah belakang rumah. Mbak Mun.
Sorot matanya berbinar. "Mbak!" seru Qale, langsung berdiri.
Tapi Mbak Mun panik, dan mempercepat langkah. “Saya nggak tahu apa-apa, Non!” ujarnya, hendak lari ke kamarnya.
Qale mengejar, berhasil menahan pintu. “Mbak Mun, tunggu! Aku cuma mau tanya…”
"Nggak tahu, Non." Suaranya mulai bergetar sambil geleng kepala.
Terjadi dorong-dorongan. Tapi tenaga Qale lebih kuat. Akhirnya pintu kamar terbuka. Mbak Mun terdorong ke dalam.
Dan Qale membelalak.
Di atas kasur, tergeletak—boneka kecil berwarna coklat. Sebelah matanya hilang. Persis seperti boneka di foto.
Di sampingnya, ada kertas yang sudah kusut dan dikepal. Qale mencurigai itu sebagai sampah yang diamankan.
Dia menunjuknya. Napasnya tercekat. “Mbak Mun … itu apa?”
Tidak ada jawaban.
Mbak Mun menunduk. Tangisnya tertahan. Bibirnya gemetar. Dia mundur satu langkah, seolah ingin bicara. Tapi sebelum dia sempat menjawab, dari arah depan, terdengar suara langkah kaki berat...
"Jadi Mbak Mun yang—" Qale berkata ragu-ragu.
BRAK.
Seseorang membanting pintu belakang. Dan suara berat ayahnya terdengar...
"Cukup sampai di situ, Qale.”
.
.