Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku

Kekacauan

Pesanan datang bertubi-tubi. Sejak awal minggu, toko Anak Lipat nyaris tak punya waktu jeda.

Mereka merasa harus bertanggung jawab atas pesanan yang masuk. Keduanya memikirkan betapa perjalanan Qale membangun toko ini penuh peluh dan air mata.

Ria yang menemani Qalesya sejak awal tahu betul impian si pemilik toko ini. Dia tidak rela jika nama Anak Lipat kembali jadi sorotan. Maka dari itu, Ria berusaha memenuhi pesanan sesuai kemampuan mereka.

Ada Rini yang gesit kerja tanpa banyak bicara. Ada Nadia yang bisa merangkap sebagai kasir. Misi akibat kesalahan Qale harus bisa mereka sukseskan.

Kotak-kotak pesanan berjejer di lantai, printer nota berbunyi nyaring, dan aroma kertas pembungkus bercampur dengan wangi mentega dari dapur belakang.

Ria mengusap kening, menatap layar laptop dengan mata lelah.

“Nad, itu stok bahan dasar masih ada?”

“Sisa dua karung. Udah aku hubungi supplier, tapi katanya pengiriman baru bisa lusa,” sahut Nadia dengan napas terengah, sambil meladeni pembeli dan membungkus pesanannya.

Mereka bertiga sudah lembur tiga malam berturut-turut.

Jari-jari Nadia gemetar ketika mengetik pesan balasan untuk pelanggan yang mengeluh karena pesanan belum sampai.

Tapi belum sempat ia tekan kirim, notifikasi baru masuk, sebuah Tag baru di media sosial.

Seseorang mengunggah foto croissant gosong dengan caption menyindir.

[“Toko favoritku berubah banget. Dulu manis, sekarang pahit. Servisnya juga makin lambat.”]

Nadia terpaku. Wajahnya memecat.

Ia membuka profil akun itu, lalu mendesah pelan. “Ya Tuhan…” gumamnya, matanya berkaca.

Ria mendekat, menatap layar. “Udah, Kak. Kita klarifikasi aja. Jangan dipikirin.”

Tapi Nadia justru menutup laptopnya. “Nggak usah. Aku urus dulu yang ini.”

Malam makin larut, tapi lampu toko masih menyala. Akun fake, sengaja menjatuhkan. Heran, ada saja ulah orang-orang gabut, pikir Nadia.

Saat suasana mulai lengang, Rini juga kelelahan. Nadia mengetik pesan balasan. Tidak mengeluh dan menyerang balik, hanya meminta maaf karena menunggu dan mengonfirmasikan bahwa cita rasa croissant Anak Lipat tidak berubah walau servicenya melambat.

Suara pintu depan tiba-tiba berderit.

Ria menoleh cepat, hampir menjatuhkan gunting di tangannya.

“Masih buka?” suara berat itu terdengar pelan.

Bakar berdiri di ambang pintu, jaketnya basah oleh embun malam.

Ia menatap ruangan yang berantakan. Tepung di lantai, tumpukan kotak belum dilipat rapi, dan melihat mereka yang duduk di kursi dengan wajah letih.

“Pak Bakar?” Ria tergagap. “Kok tumben malam-malam?”

Bakar hanya mengangkat bahu, lalu berjalan masuk tanpa banyak bicara. Dia menurunkan ransel kecil dari punggungnya, lalu membuka lengan bajunya.

“Mana yang belum selesai?” tanyanya datar.

Ria hendak menolak, tapi Nadia menatapnya dan berbisik, “Biarin aja, Ria. Daripada kita tumbang.”

Bakar membantu. Tangannya cekatan, memindah loyang panas, memotong kertas pembungkus, menempel label.

Tak ada banyak percakapan malam itu. Hanya suara alat pres dan jam dinding yang berdetak pelan. Tapi diam-diam, dada Ria terasa hangat. Ada sesuatu yang aneh tapi tenang di sana.

Pagi harinya, email masuk ke Anak Lipat. Isinya laporan komplain dari pelanggan yang juga men-tag akun resmi supplier bahan pokok croissant.

Email toko tersemat di laptop Wafa juga untuk memantau aktivitas elektronik mereka.

Wafa sedang di ruang kerja ketika membaca itu. Alisnya berkerut. Ia tak langsung marah, tapi gelisah. 

Tangannya mengetik cepat, mengirim pesan ke Ria.

[“Ada kekacauan apa? Aku baru tahu dari email toko. Kenapa kamu nggak cerita, Ria?”]

Ria membacanya sambil menunduk.

Napasnya berat, tapi ia menjawab pelan, “Aku nggak mau ganggu istirahat Kak Qale, Pak. Kupikir bisa kami atasi.”

Wafa membalas cepat. [“Ria, kerjaanmu nggak sampai di titik buat ngurusin semua ini. Qalesya partner kamu, harusnya bilang. Apa ada kesalahan yang diperbuat istriku? Sehingga kalian menanggungnya?”]

Pesan itu terasa mencecar, tapi nadanya menenangkan. Untuk pertama kalinya, Ria merasa dipahami, bukan disalahkan.

Mungkin karena inilah, dia betah kerja di Anak Lipat. Mereka bukan pemilik yang kaku, tapi seseorang yang belajar mendengar.

"Maaf, Pak. Kami salah." Tulis Ria.

Sore itu, Ria sedang membereskan meja ketika menemukan secarik catatan kecil jatuh dari bawah rak.

Tulisan tangan itu mirip dengan kemarin.

[“Kadang aku datang bukan buat beli, tapi buat lihat kalau kamu masih kuat.”]

Ria menelan ludah, membaca ulang kata demi kata.

Di balik kertas itu, ada coretan kecil, sketsa sederhana bergambar croissant yang digambar dengan pensil tumpul.

Nadia datang tiba-tiba, memergoki. “Eh, hayoooo! Itu dari siapa tuh?”

Ria buru-buru menutup catatan itu. “Nggak, cuma coretan pelanggan.”

Nadia menyipitkan mata, menggoda, “Pelanggan? Yang tiap malam bantuin ngangkat loyang?”

Ria mendesah kesal. “Dia tuh cuma pelanggan, Nad.” Tapi malah nadanya terdengar terlalu cepat, terlalu bergetar.

Nadia terkekeh. Perhatian mereka lalu teralihkan oleh kedatangan seorang pria yang mengaku dari supplier bahan baku kue. Dia bilang, bahwa brand mereka bisa jadi alternatif jika pasokan utama tersendat, dan mengutarakan harapan kerjasama jangka panjang.

Ria berkata, "Akan aku sampaikan ke Kak Qalesya. Terim kasih." Dia menandatangani lembaran itu.

Ketiganya lega. Wafa membantu mereka, mungkin karena laporan Bakar semalam.

Beberapa hari berlalu.

Bakar tidak muncul lagi.

Ria menatap pintu toko setiap malam, berharap mendengar bunyi bel pintu itu berdering. Tapi tak terjadi.

Sampai suatu hari, distributor tempo hari mengabari via telepon.

[“Mas Bakar belum bisa ambil pesanan, Mbak. Katanya lagi istirahat. Cuti.”]

“Perawatan?” ulang Ria. “Sakit?”

[“Kurang tahu pasti. Tapi katanya lama.”]

Setelah telepon ditutup, Ria menatap catatan kecil di tangannya.

“Kenapa aku kepikiran dia terus ya?” bisiknya, nyaris tanpa suara.

Malam ini, Ria masih menginap di toko menemani Nadia. Dia menopang dagu, di meja kasir, menatap langit dari jendela toko yang masih terbuka.

"Aku salah sih emang. Dia bicara apa saja ya ke Pak Wafa? Sampai sat set begini? Kerjaan jadi ringan," gumam Ria.

Nadia menarik kursi di sebelahnya, ikut menopang dagu. Sementara Rini duduk di sofa, meluruskan kaki.

"Kira-kira kita dipecat gak ya?" kata Rini lemah.

Nadia menoleh malas. Mereka baru santai sebab loyang terakhir sudah dikeluarkan dari oven.

"Entah. Otakku lelah berpikir," balas Nadia lesu. Lalu menempelkan kepalanya di atas meja. "Pasrah aja, Ria," pungkasnya.

Rini menghela napas panjang, lalu merebahkan diri di sofa. Dia mengantuk berat. Dan Ria, mulai menutup tirai, mengunci pintu lalu ikut rebahan di sofa. 

Dan di satu tempat lain, Bakar sedang menulis di buku catatannya. 

[“Aku takut mulai lagi. Takut kalau orang baik itu jatuh cinta padaku, dan aku tak bisa menjaganya.”]

Halaman itu ia lipat, diselipkan, menjadi catatan pembatas buku bersampul hitam itu.

Malam ini terasa panjang untuk mereka.

satu kota tapi terlalu banyak hal yang disembunyikan oleh waktu.

"Risya, bagaimana ini?" gumam Bakar.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!