Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku
Harapan baru
"Kak... kok akhir-akhir ini aneh.”
Qale menyandarkan tubuhnya di dada. Matanya menatap kalender yang dilihat Wafa sejak tadi.
Suaminya kadang menulis sesuatu di sana, lalu tersenyum-senyum sendiri.
“Aneh kenapa?” sahut Wafa tanpa menoleh, tetap fokus pada tanggal-tanggal yang ia lingkari.
“Ya itu… senyum-senyum terus dari tadi, kayak orang lagi nunggu kabar gembira. Emang ada yang ulang tahun?”
Wafa hanya mengangkat bahu, masih menulis sesuatu. “Ada yang aku tunggu, iya.”
Qale mengernyit. “Maksudnya? Nunggu siapa? Anniversary masih lama, Kak. Baru juga lima bulan pernikahan kita," balas Qale pelan.
Kali ini Wafa menoleh, senyum tipis terbit di sudut bibirnya. “Pokoknya aku berharap.”
“Berharap apa?” Qale makin penasaran, sambil mencondongkan badan, mencoba mengintip catatan suaminya itu. “Wisuda aku juga masih satu tahun lagi, kan. Ulang tahun toko juga sama kayak anniversary, cuma beda bulan. Jadi Tata nunggu apa, sih?”
Wafa menutup buku catatannya cepat-cepat. “Rahasia.”
Ia berbalik, lalu menatap Qale lama-lama dengan tatapan lembut.
“Kenapa liatnya gitu?” tanya Qale curiga.
“Kamu gemukan, Sayang,” ujar Wafa tiba-tiba.
“Ha?!” Qale spontan memegangi perut dan pipinya, wajahnya cemberut. “Gak suka?”
“Bukan,” jawab Wafa sambil terkekeh pelan. “Suka banget malah. Semuanya makin berisi.”
Nada suara Wafa merendah, menggoda. Tangannya bergerak nakal, meremas dada Qale dengan gemas. “Tuh, pas banget sekarang.”
“Kaaaaakkkk!” Qale menjerit kecil, berontak sambil menutup dada dengan tangan. “Ih, suka gitu tuh yaa!”
Wafa tertawa keras, renyah. “Sini.” Ia menarik tubuh Qale, mendekapnya erat dari belakang, menciumi pipi dan leher Qale yang langsung memerah.
“Kaaakk! Kaaakk!” seru Qale, pipinya basah oleh ciuman bertubi-tubi. “Ish! Geli tau!”
Wafa malah makin gemas sendiri. “Ganti panggilan coba, Sya.”
Qale mendongak dengan wajah separuh sebal separuh malu. “Apa?” tanyanya, matanya berkedip cepat, tampak lucu.
“Ya masa aku juga yang mikir,” jawab Wafa sambil nyengir, mengecup bibir Qale sekilas.
“Punya panggilan beda tuh biar makin mesra.”
Qale mengerjap-ngerjap, berpura-pura berpikir keras. “Hmm… kalau KaFan gimana?”
"Kafan?"
"Iya ... Kak Wafa tamvan," ucap Qale cengengesan.
Wafa tertawa hingga suaranya menggema di kamar.
“Dasar Lele! Kenapa kudu kafan sih, SaFa kan bisa," ujarnya menowel pipi istrinya.
"Safa Marwa? Kek lagi umroh," Qale tergelak.
"Yeee, Sayang Wafa, itu artinya," balas Wafa kali ini dia menggigit pipi Qale.
“Aaahh,” rengek Qale pipinya jadi merah. "Bob aja Bob ... minion lucu gemas, plesetan Beb or Bub," tutur Qale cepat.
Wafa menariknya lagi ke pelukan, mencium keningnya lama.
"Mas aja, gimana?" cicitnya melirik Wafa.
"Deal."
Di antara tawa dan kehangatan itu, Wafa menatap kalender di meja sekali lagi. Tanggal itu ia lingkari dengan tinta merah muda, di bawahnya tertulis kecil, “Doaku."
***
Sudah lama Hasan tidak menginjakkan kaki di ruang kunjungan itu. Setidaknya tidak sesering dulu.
Suasana lapas perempuan itu seperti biasa—tenang, tapi menyimpan ratusan cerita yang tak pernah bisa ditebak ujungnya.
Hasan duduk, menunggu.
Ketika Lea datang dengan langkah pelan, mata lelaki paruh baya itu nyaris tak mengenali putrinya sendiri. Pipinya tirus, matanya sayu, dan bibirnya pucat. Seakan semua cahaya di wajah gadis itu sudah direnggut oleh waktu dan penyesalan.
“Lea…” panggilnya lirih.
Lea menunduk, mencoba menyembunyikan kegugupan. “Aku kira Ayah bohong. Nggak akan datang lagi.”
Hasan menghela napas panjang. “Mana ada orang tua begitu,” ujarnya pelan. “Semata karena tanggung jawab yang belum selesai.”
Lea mengangkat wajahnya perlahan. “Kenapa setelah Ayah menjauh baru datang lagi? Apa karena kasihan?”
Hasan menggeleng pelan. “Bukan kasihan. Ayah cuma ingin kamu bahagia, Lea. Bahagia yang benar-benar bahagia… sampai tak ada celah lagi untuk membenci siapa pun.”
Lea menatap ayahnya tanpa berkedip. Dadanya sesak, matanya basah.
“Yang beneran bahagia itu … antara harapanmu dan Deni,” lanjut Hasan lembut. “Ayah cuma ingin memastikan kamu masih bisa tersenyum karena sesuatu yang kamu cintai.”
Lea mengetuk meja di antara mereka, mencoba mengalihkan gemuruh dalam dadanya. Tatapannya beralih pada kotak hantaran di sisi Hasan.
“Itu dari Qale?” tanyanya curiga.
“Bukan,” jawab Hasan cepat. “Deni yang memintanya.”
Lea tertegun. “Deni?”
Padahal Hasan belum berkunjung lagi ke lapas tempat Deni. Ini adalah inisiatifnya untuk menjadi jembatan agar hubungan mereka hangat lagi. Dia menatap putrinya dengan ketenangan yang sulit dijelaskan.
Mata Lea perlahan berbinar. Ada secercah hangat yang lama hilang. Ia langsung menarik kotak itu, membukanya dengan hati-hati, seolah memegang sesuatu yang amat berharga.
“Boleh kuminta sesuatu?" pintanya malu-malu.
Hasan mengangguk.
"Tolong bawakan buah dan makanan seperti ini juga untuk Deni?” sambung Lea lembut. “Biar dia tahu aku mulai memperhatikannya lagi.”
Hasan kembali mengangguk. Kali ini senyumnya merekah. Ia tahu, kebahagiaan Lea yang rapuh itu bertaut di antara kenangan tentang Deni.
Saat Lea menyerahkan surat kecil yang dilipat rapi, Hasan menerimanya tanpa banyak tanya.
Dalam hati, ia bergumam lirih,
Kalau ini bisa bikin kamu hidup lagi, Ayah rela jadi perantaranya, Nak.
Waktu besuk pun usai. Senyum Lea menjadi booster semangat bagi Hasan hari itu.
Usai Lea kembali ke selnya, Hasan tidak langsung pulang. Langkahnya berbelok ke ruang administrasi, meminta izin bertemu dengan seorang tahanan lain.
Butuh waktu beberapa menit sampai Danisha datang. Saat matanya bertemu dengan Hasan, perempuan itu justru tersenyum kecil.
“Terima kasih sudah jenguk aku juga, Pak,” ucapnya sopan.
Hasan hanya mengangguk, menatap sosok itu dengan mata tua yang lelah tapi lembut. “Kamu kelihatan lebih baik, Nak.”
Danisha menautkan jari-jari di pangkuannya. “Saya mulai aktif, Pak. Bantu napi-napi lain belajar hal sederhana. Cara duduk, jalan, bahkan sopan santun di meja makan. Kepala lapas bilang, saya bisa bantu mereka menata diri. Rasanya… kayak ada gunanya lagi hidup.”
Hasan mengulum senyum. “Bagus. Kamu pintar. Gunakan apa yang kamu bisa buat bangkit, dan bantu orang lain ikut sembuh.”
Hasan lalu menyodorkan sebuah tas dari kain tebal. “Ini ada sedikit buat kamu.”
Danisha menatap tas itu ragu, lalu membukanya perlahan. Di dalamnya ada buku catatan, beberapa meter kain polos, dan satu set alat tulis dan printilan perlengkapan jahit baru.
Air mata Danisha langsung menggenang. “Terima kasih, Pak … Saya—saya nggak tahu harus bilang apa.”
“Maafkan Lea atau Qalesya jika tak sengaja melukai hatimu,” ujar Hasan pelan. “Tapi kamu sekarang punya kesempatan buat memperbaiki semuanya. Bantulah wanita di sini untuk bisa mandiri. Bangkit, sembuh lahir batin. Biar nanti saat keluar, mereka bisa jadi orang yang bermanfaat.”
Danisha menunduk dalam, menahan isak yang hampir tumpah. “Saya akan berusaha, Pak. Terima kasih.”
Hasan manggut-manggut. Tersenyum tipis, lalu berdiri. “Itu aja yang mau kulihat. Kamu masih punya harapan, Nak. Jangan padamkan lagi.”
Ia berbalik dan melangkah pergi.
Danisha hanya berdiri terpaku, memandangi punggung lelaki itu menjauh. Air matanya menetes, membasahi kain di tangannya. Ada haru, ada malu, tapi juga ada secercah tekad baru.
Hari itu, di antara tembok dingin penjara, dua anak manusia yang pernah tersesat mulai menemukan jalannya masing-masing, dengan seorang ayah yang akhirnya tahu, cinta tidak selalu datang dari pengampunan, tapi dari keberanian untuk tetap berharap.
.
.