Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku
Pulih
Hasan menatap surat yang dilipat rapi di tangannya. Kertas itu tampak lusuh, ujungnya agak sobek, namun tulisannya masih tegas. Tulisan tangan Deni.
Dia menyimpan surat itu di saku kemejanya. Tak lupa berpesan pada Deni agar semangat pulih demi Lea.
"6 tahun itu sebentar. Saling menjaga lah meski berjauhan. Anggap saja sedang LDM, long distance married," kekeh Hasan, menepuk punggung tangan Deni sebelum bangun.
Deni hanya mengangguk, sorot matanya masih sayu tapi terbersit semangat di sana.
Qale tak banyak bicara. Dia hanya tersenyum dan mengepalkan tangannya di depan Deni. Seolah menguatkan dengan isyarat.
Tak lama, keduanya pamit keluar ruang perawatan ditemani sipir.
Selama perjalanan pulang, ayah dan anak itu tak saling bicara. Hasan sibuk dengan rencananya yang akan menjadi jembatan bagi Lea dan Deni.
Sementara Qalesya ingin memberikan dukungan dan perhatian pada sang ayah tanpa membuat Wafa cemburu. Akhir-akhir ini, Wafa lebih protektif dari biasanya.
Hasan terlihat sehat tapi dalam hatinya pasti merasakan kesepian dan Qale tahu itu.
Keesokan pagi.
Qalesya mengantar sang ayah sampai depan lapas sebelum berangkat kuliah. Dia menitipkan roti tawar, onbitjkoek untuk Lea melalui Hasan. Terserah dimakan atau tidak, yang penting dia sudah berusaha.
Hasan menghela napas panjang sebelum melangkah ke ruang kunjungan lapas. Ada hal yang tak mudah dilakukan seorang ayah: membawa kabar yang bisa menyelamatkan, sekaligus menghancurkan.
“Lea,” sapanya lirih saat perempuan itu muncul, mengenakan seragam tahanan warna krem pucat.
Lea mengangkat kepala. Matanya bengkak, wajahnya jauh lebih tirus. “Ada apa?”
Hasan menyodorkan surat itu tanpa banyak bicara. “Bacalah.”
Lea duduk,.membuka perlahan. Suasana hening. Hanya suara jam dinding dan desir langkah sipir di kejauhan.
Huruf demi huruf membuat matanya bergetar.
["Lea, aku masih hidup. Aku tau ini salah, tapi aku ingin sembuh. Jangan membenciku, ya."]
["Sayang.”] Tulisan Deni terpotong. ["Sekarang, aku yang akan menunggumu… sampai akhir.”]
— Deni.
Lea menggenggam surat itu erat-erat, sampai jarinya memucat. Bibirnya bergetar. “Dia... dia nunggu aku?”
Hasan menatap putrinya iba. “Dia masih hidup, dan dia menunggumu. Bukan karena kamu sempurna, tapi karena dia pengen kita semua berhenti menyakiti diri sendiri.”
"Anggaplah kalian sedang hubungan jarak jauh. Ayah yang akan jadi penghubung kalian, gimana?" tawar Hasan semringah.
Lea tersenyum tipis, tapi segera menunduk. Enggan diketahui keinginannya. Dirinya merasa malu.
Karena saling diam, Hasan pamit. Dia bilang akan kembali ke sini dua hari lagi. Oleh-oleh titipan Qale disodorkannya, entah diterima atau tidak, Hasan melengos, tak ingin kecewa melihat penolakan Lea.
Lea terdiam lama. Memandangi parcel kue yang dia tahu itu dari Qale.
Setelah Hasan pergi, Lea kembali ke sel dan duduk di sudut. Tangannya masih memegang kertas itu seperti harta terakhir di dunia.
Pelan-pelan ia berbisik, “Tolong sembuhkan dia… aku janji, nggak akan sakiti siapa pun lagi.”
Sipir yang lewat bahkan bisa mendengar bisikan itu—lirih tapi nyata, seperti doa yang menembus dinding batu.
Sore itu, di blok lain, Danisha memperhatikan Lea dari jauh.
Dia tak lagi memerintah atau berteriak seperti dulu. Wajahnya lebih tenang, tapi sorot matanya menyimpan sorot penyesalan.
Danisha menarik napas panjang. “Jadi dia benar-benar cinta, ya,” gumamnya pelan. Ada nada getir di suaranya—antara lega dan iri.
Dia melanjutkan langkah ke deretan ruang para penjaga. Niatnya ingin meminta izin pada sipir untuk bertemu admin lapas.
“Maaf, Bu. Saya ingin tanya... di sini ada kegiatan untuk napi wanita?”
Kepala lapas yang kebetulan belum pulang, menatapnya heran. “Ada. Tapi tidak semua mau ikut. Kenapa?”
“Saya ingin bantu menyusun kegiatan. Saya bisa hal-hal dasar... mode, tata krama, cara jalan, cara duduk, etika di meja makan. Saya cuma ingin waktu saya di sini berarti,” ujar Danisha, suaranya pelan tapi tegas.
“Dibayar?” tanya kepala lapas.
Danisha tersenyum samar. “Nggak juga gak apa. Tapi... kalau bisa, tolong tambahkan sebagai catatan kelakuan baik saya saja dan didokumentasikan.”
Kepala lapas mengangguk. “Boleh. Susun dulu rancangan kegiatannya.”
Senyum Danisha terbit. Dia mengangguk bersemangat dan gegas kembali ke sel.
Danisha menulis di kertas bekas, mencatat ide satu per satu. Sesekali menatap Lea di kejauhan, yang sedang menulis entah apa isinya.
Danisha tersenyum samar. “Mungkin ini caraku menebus dosa... sama seperti dia menebus cintanya.”
Danisha memejamkan mata sejenak, mengingat ucapan ibunya beberapa waktu lalu.
[“Jadikan ilmumu bermanfaat di manapun kamu berada, meski itu tempat yang paling kamu benci.”]
Ketika membuka mata, Danisha menatap kosong ke langit-langit sel. “Aku dengan versi yang baru... dimulai,” bisiknya.
Sementara itu, ditempat lainnya.
Kabar tentang surat Lea sampai ke telinga Qale dan Wafa lewat Hasan.
Wafa menatap Qale yang sedang membaca pesan di ponselnya, lalu tersenyum.
“Berarti masih ada yang bisa diselamatkan,” kata Wafa pelan.
Qale mengangguk. “Danisha pun mulai berubah. Kadang ... orang cuma butuh kesempatan untuk belajar jadi baik lagi.” Dia bersandar di bahu Wafa. “Semoga mereka berdua benar-benar taubat. Aku nggak mau dendam lagi.”
Wafa mengusap lembut kepala istrinya. Tapi tatapannya beralih pada kalender di meja. Ia memberi lingkaran kecil di tanggal yang sama setiap malam — hari yang hanya ia tahu maknanya.
Senyum Wafa tumbuh, lembut seperti cahaya sore.
Sedang asik bercengkrama dengan Wafa. Tiba-tiba Bakar datang membawa map tebal ke hadapan mereka di ruang keluarga.
“Semua udah beres, Bos,” katanya bangga. "Maaf, Nyah. Saya harus bicara jujur pada Bos," ujarnya beralih melihat Qale.
Qalesya menghela napas, mau tak mau memang Wafa harus tahu. Dan dia tak bisa mengelak lagi.
"Iya." Qale menjawab cepat. "Maaf, Kak," cicitnya tapi malah dihadiahi kecupan kecil di pipinya oleh Wafa.
"Aku sudah tahu, Sayang."
Bakar menaruh laptop di meja, menampilkan hasil laporan, video, dan pengakuan semua pelaku penyebar gosip.
Wafa menatap layar, matanya teduh tapi tegas.
“Cukup,” katanya akhirnya. “Jangan usik mereka lagi. Kita cuma pengen damai.”
Bakar mengangguk. Tapi, seperti biasa, mulutnya gatal untuk bercanda.
“Damai boleh, tapi jangan sering bercocok tanam, Bos. Lagi kemarau.”
"Lahanku subur, lagian bibit unggul disiram dari mata air perjaka," jawab Wafa datar membuat Qale malu.
"Lagakmu, perjaka," cibir Bakar bangkit. Merasa disentil status dudanya.
Malamnya, setelah hari panjang itu, Qale berbaring di pangkuan Wafa.
Sementara Wafa mengusap lembut perut Qale, seolah menyapa kehidupan kecil yang sedang ditunggunya.
“Sayang...” bisik Wafa, matanya lembut menatap wajah istrinya.
Qale menggumam pelan, “Hmm?”
“Love you,” katanya, tulus dan tenang.
Qale menatap mata suaminya, lalu membalas senyum itu. Wafa menunduk, mencium bibir Qale dengan lembut.
“Love you too, Kak."
Di luar, malam begitu hening. Qale menatap kalender di nakas, di mana Wafa memberi tanda lingkaran merah. Ia bertanya pelan, “Nunggu siapa, Kak?”
Wafa membelai rambutnya, lalu berbisik dengan senyum yang nyaris seperti doa. "Nunggu sebentar lagi ... hadiah terbesar dalam hidupku bakal datang.”
.
.