Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku
Rapuh
Suara sandal menyeret di koridor sel memecah keheningan hari itu. Langkah itu pelan tapi mantap. Ia berhenti di depan sel Lea, mengetuk teralis besi dengan ujung jarinya.
"Punya sisi lemah rupanya,” kata Danisha datar.
Lea menoleh sekilas, matanya kosong.
Ia duduk di pojok, rambutnya berantakan tapi masih memancarkan wibawa, seperti ratu yang jatuh dari tahta, tapi masih enggan menyerah pada kenyataan.
“Kau masih berkeliaran? Nggak kapok dikunci petugas karena belum balik sel?” gumam Lea, sinis.
Danisha menatap tanpa gentar. “Aku kepo soal sisi lemahmu itu,” kekehnya sambil lalu sebab sipir sudah menggiringnya pergi.
Lea tidak bereaksi, tapi jemarinya yang bertaut, bergetar. Danisha baru saja menyentuh titik rapuh itu.
Keesokan hari saat makan siang. Danisha mendekati Lea. “Apa dia satu-satunya orang yang berharga dalam hidupmu?”
Lea diam.
Danisha melanjutkan lagi. “Cuma dia yang ngerti kamu dan tidak pernah menyalahkanmu?”
Tak ada jawaban.
Hanya suara embusan napas pelan dan bunyi tegukan air yang diminum Lea.
“Bener, ya?” Danisha tersenyum tipis. “Karena kalau bukan itu alasannya, gak ada yang bisa jelaskan kenapa perempuan secerdas kau mau bantu aku dengan cara sepicik itu.”
Lea masih diam.
Tatapannya menembus dinding, seolah mencari sosok Deni di udara yang pengap itu.
Danisha duduk lebih dekat, menurunkan suaranya. “Kalau cinta, perempuan suka melakukan hal bodoh. Aku pun sama ... kukira dengan menjatuhkan Qale, aku bisa memeluknya lagi. Tapi malah membuatnya menjauh.”
Nada itu membuat Lea mengalihkan pandangannya, sekilas saja, tapi cukup membuat Danisha tahu, ada sebuah kecewa mendalam di balik dinginnya Lea.
“Kau punya Dia,” lanjut Danisha lirih. “Pelihara saja rasa itu. Gunakan otakmu untuk bisa tetap hidup, biar bisa dengar kabar dia. Jangan jadi bodoh.”
Kali ini Lea menatap tajam. Pelan-pelan ia melepas kacamatanya dan meletakkannya di meja.
Glek!
Danisha membeku. Baru kali ini ia melihat manik mata Lea tanpa penghalang. Gelap, kelam, seperti menyimpan seluruh kebencian dan cintanya berbaur menjadi satu. Bulu kuduk Danisha meremang tanpa alasan.
“Jangan ikut campur,” suara Lea serak, rendah tapi penuh ancaman. “Kalau kau mau aman, pergi sana. Bukankah ayah dan adikku sudah bilang aku gila?”
Danisha belum sempat menjawab ketika Lea berdiri, gerakannya lebih cepat dari yang ia perkirakan.
Tangan Lea terulur, mendorong Danisha, suaranya pun meninggi.
“Sana. Pergi!”
Danisha bangun. Bukan karena takut, tapi karena sadar — perempuan di depannya bukan cuma kehilangan cinta, tapi juga dirinya sendiri.
Ia menatap Lea beberapa detik lagi sebelum akhirnya berbalik, meninggalkan ruangan itu tanpa kata. Namun di kepalanya, suara Lea masih terngiang.
[“Bukankah mereka bilang aku gila?”]
Danisha menutup mata sesaat di depan pintu sel, menarik napas panjang. Dalam hatinya, entah kenapa, ia merasa iba. Sebab di balik kegilaan itu, ada cinta yang begitu dalam… yang tak tahu harus ke mana harus diungkapkan.
Malamnya, dari blok sayap timur, terdengar suara jerit yang memecah kesunyian.
Bukan tangisan biasa, tapi seperti raungan yang lahir karena kehilangan.
“Sayang! Aku rindu…!”
Lea menabrakkan dirinya ke dinding sel, menghantam jeruji dengan kedua tangan gemetar. Napasnya memburu, rambutnya berantakan, dan matanya sembab.
Penghuni sel lain menatap dengan campuran risih dan takut. Ada yang menutup telinga, ada pula yang memalingkan wajah.
“Kukira kau bisa menjaga dirimu sendiri, Sayang…”
“Katamu, kau baik-baik saja… ternyata aku yang bodoh! Aku!”
Suara itu menggema, menggulung udara lembab yang berbau besi dan karbol.
Petugas datang tergesa, mencoba menenangkan. Tapi Lea terus menangis, berulang kali menyebut nama Deni di antara sesenggukannya.
Malam itu, semua orang tahu, perempuan bernama Lea, yang biasanya dingin dan menakutkan sedang rapuh.
***
Keesokan harinya, kabar itu sampai ke telinga Danisha. Ia mendengarnya dari sipir, dengan nada santai seperti biasa.
“Lea ngamuk semalaman. Menyebut nama Deni dan rindu.”
Danisha terdiam. Kata “Deni” bergema di kepalanya, memunculkan bayangan mata Lea yang kelam semalam.
Siangnya, ibu Danisha datang menjenguk.
Wanita itu masih tampak rapi seperti biasanya. Memakai scarf lembut, aroma bedak bunga yang khas, dan senyum yang tampak sendu.
“Nisha…” suara ibunya lembut tapi tegas. “Sudahi semua ini ... bagaimana bila fokus saja pada kehidupan di sini. Bantu orang, bagikan ilmu. Biar hidupmu tetap berarti meski di balik tembok begini.”
Danisha menunduk.
Tangan ibunya menggenggam jemarinya erat, hangat, tapi penuh getir.
“Mama cuma punya kamu, Sayang. Buatlah mama bangga lagi, meski kamu di tempat terpuruk.”
Ibu Danisha tersenyum tipis melihat putrinya. “Kamu keren, berbakat. Gak ada yang bisa redupkan kamu, bahkan dinding ini pun enggak.”
Danisha mendongak, menggigit bibirnya, menahan air mata yang mendesak keluar.
Kata-kata itu seperti sayatan pisau tapi lembut, menenangkan, pun menyayat rasa bersalah.
Wajah Hasan, bayangan Lea yang menangis, dan siluet Wafa yang menjauh berkelindan dalam pikirannya.
Semuanya menumpuk jadi satu rasa, hancur, putus asa.
Danisha melepas genggaman sang mama. Dengan suara pelan dia berkata, “Maaf, Ma…”
Hanya itu yang sempat ia ucapkan sebelum berdiri dan melangkah pergi, meninggalkan ibunya yang belum selesai bicara.
Ibunya pasrah, menatap punggung itu lama sebelum hilang di balik dinding. Ada luka yang hanya bisa disembuhkan oleh waktu.
***
Hari berikutnya, di ruang perawatan rumah sakit lapas, Deni terbaring lemah. Tetes infus menggantung di atasnya. Wajahnya pucat, tapi matanya masih ada harapan.
Wafa, Qale, dan Hasan berdiri di sisi ranjang.
Qale memegang tangan suaminya, sementara Hasan, dengan sabar, membantu menyuapi bubur yang sudah hampir dingin.
“Sedikit lagi, Den. Biar kuat ya,” ucap Hasan pelan.
Deni menatapnya dan mencoba tersenyum, tapi bibirnya hanya bergetar. Dalam diam, ia menahan sesuatu di tenggorokannya, bukan sakit, tapi ingin menyampaikan sesuatu.
Hasan menatap Qale sekilas, lalu berkata pelan saat putrinya mengangguk.
“Tadi Lea kirim pesan. Katanya… dia rindu.”
Deg! Deni tertegun.
Matanya langsung berbinar, seperti lampu yang tiba-tiba menyala di ruang gelap. Ia lantas berusaha duduk, meski tubuhnya lemah.
“Lea…” suaranya bergetar penuh harap. “Ingat aku…?”
Mata Deni pun mengembun. Qale yang melihat itu terkejut, lalu menunduk tak tega.
Deni masih menatap Hasan, menunggu mertuanya mengatakan sesuatu yang membuatnya senang. Senyumnya tipis sekaligus getir.
“Kukira dia lupa sama aku…” gumamnya lagi.
Hasan menepuk bahunya lembut. Ia tahu, ini bukan sekadar rindu. Ini cinta yang tak pernah tersampaikan dengan benar, cinta yang menua dalam penyesalan.
Hasan lalu meminta Deni menulis surat yang akan Hasan bawa ketika menjenguk Lea.
Deni langsung bersemangat duduk. Matanya sembab, tapi senyum samar terukir di bibirnya. Di tangannya, secarik kertas kecil dari Qale tertulis pesan bahwa dirinya masih hidup, meski lemah.
["Sayang.” Tulisnya. ["Sekarang, aku yang akan menunggumu… sampai akhir.”]
Air mata jatuh, tanpa suara, membawa satu lagi kisah yang tak pernah tersampaikan utuh.
.
.