Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku
Kelemahan Lea
Malam turun dengan lembut, menyelimuti rumah dalam kehangatan yang menenangkan. Dari kamar di lantai dua, samar-samar terdengar suara notifikasi ponsel dan tawa kecil Qale.
Ia rebahan menyamping di tempat tidur, rambut basahnya terurai di bantal, jari-jarinya sibuk mengetik di layar ponsel. Di sebelahnya, Wafa duduk bersandar pada sandaran tempat tidur, satu tangannya mengusap pelan perut istrinya, gerakannya lembut seolah takut mengusik kesenangan Qale.
“Ria kirim konsep baru buat toko, Kak. Katanya kalau warna dasarnya diganti ke krem tua, tampilannya lebih hangat,” ucap Qale tanpa menoleh, masih fokus membaca chat.
Wafa tersenyum kecil. “Hmm … aku setuju, asal kamu senang. Semua yang kamu pilih selalu keliatan bagus di mataku.”
Qale menoleh, tertawa pelan. “Kak, itu terdengar seperti modus.”
“Ya biarin.” Wafa terkekeh, menurunkan wajahnya sedikit dan mencium pelipis istrinya. “Aku udah nggak bisa bedain mana pujian, mana rasa sayang.”
Qale pura-pura merengut, lalu melanjutkan chat-nya dengan Nadia. “Nadia minta referensi caption buat konten reels minggu depan. Katanya tone-nya harus lebih playful.”
“Playful?” Wafa mengulang pelan. “Kayak aku pas ngegodain kamu gini?” ujarnya, jemari Wafa menelusup lembut ke perut Qale sambil terkekeh kecil.
“Kak, ish geli ... bercanda mulu…” Qale menahan tawa, pipinya bersemu. Ia berusaha menahan supaya wajahnya tidak terlihat terlalu bahagia, tapi sulit — Wafa selalu tahu cara membuatnya meleleh dengan satu kalimat sederhana.
Lalu, nada pesan masuk.
Qale melirik layar. Ia membuka cepat dan mulai mengetik :
“Wa alaikumussalaam. Gimana kabar Ayah? Semoga makin sehat ya. Salam buat semuanya di sana.”
Pesan terkirim. Qale menatapnya sejenak, lalu tersenyum. Ada kedamaian aneh di dadanya. Setelah semua gejolak dan badai, kini ia bisa menulis pesan seperti itu dengan tenang.
Wafa memperhatikan dari atas, jemarinya masih bergerak di perut Qale, membuat lingkaran-lingkaran kecil. “Ayah bilang apa?” tanyanya pelan.
Qale telentang, menatap suaminya. “Sekadar nanya kabar.”
“Main ke sana yuk,” ujar Wafa lirih. “Kamu nggak harus menjaga jarak. Aku cuma pengin kamu aman. Bahagia. Di sini.”
Ucapan itu sederhana, tapi hangatnya menembus dalam. Qale berhenti mengetik. Ia menatap wajah Wafa yang sedang menunduk—mata lelaki itu tampak tenang, tapi ada sesuatu di balik tatapan itu, kejujuran.
Wafa meraih ponsel dari tangan Qale, menaruhnya di meja nakas, lalu membungkuk perlahan. Ia menatap Qale lama, jarak di antara mereka nyaris tak tersisa.
“Love you, Sayang,” bisik Wafa, suaranya berat tapi tulus.
Untuk pertama kalinya, kalimat itu keluar tanpa tekanan, tanpa drama. Qale membeku sesaat, lalu tatapannya bergetar. “K-aakk,” ucapnya nyaris berbisik.
Wafa menunduk lagi, mencium bibir istrinya lembut, tidak terburu-buru, tidak menuntut.
Ciuman itu terasa seperti penebusan tenang, dalam, dan penuh arti.
Detak jantung Wafa berpacu cepat, terasa jelas di dada Qale saat tubuh mereka saling bersentuhan. Qale tak berusaha menepis, ia hanya menatap mata suaminya, dan untuk pertama kalinya, ia percaya, bahwa dirinya benar-benar dicintai.
Wafa memeluknya erat, wajahnya masih menempel di pipi Qale.
“Love you, Qalesya Namari Hasna,” bisiknya dengan nada lembut tapi menegaskan.
“Jangan pergi lagi.”
Qale tersenyum, matanya mengembun sedikit. Dia menyembunyikan wajah di dada Wafa, berusaha menutupi rona merah di pipinya. “Aku nggak ke mana-mana.”
Tawa kecil keluar dari dada Wafa. Ia membelai rambut Qale yang harum sampo, lalu menarik selimut menutupi tubuh mungil istrinya.
“Baumu enak banget, Sayang, selalu bikin pengen,” gumamnya.
“Apaan sih,” bisik Qale, tapi matanya sudah mulai terpejam.
Wafa menatap wajahnya lama, lalu mengecup kening Qale pelan. Dalam dekapan itu, dunia serasa berhenti berputar. Semua luka, semua kekhawatiran, seolah larut dalam satu napas yang tenang.
Sebelum matanya ikut terpejam, Wafa berbisik lirih, hampir tak terdengar. “Bulan depan … aku nggak sabar.”
Qale yang setengah tertidur hanya menggeliat kecil, menggumam tanpa membuka mata.
“Ada apa bulan depan?”
“Rahasia,” jawab Wafa sambil mendekap lebih erat, menyembunyikan wajah di leher Qale.
***
Langit siang itu tampak tenang, tapi hati Qale sedikit was-was. Ia datang bersama Dewi ke rumah ayahnya.
Hasan menyambut dengan senyum hangat di teras rumah. “Kamu datang sendiri?” tanyanya.
“Kak Wafa nanti nyusul, Yah. Aku cuma mau ngobrol sama ayah,” jawab Qale tersenyum manis.
Hasan semringah. "Masuk, Lesa," ajaknya semangat.
Singkong, pisang, kukus dan kacang rebus, masih mengepulkan asap ketika dihidangkan ke hadapan mereka dengan secangkir teh hangat.
Sorot mata Qale berbinar melihat suguhan ayahnya. Dia rindu makanan kampung seperti ini. Qale pun langsung menikmatinya sambil bertanya soal Lea.
Hasan menghela napas panjang. “Lea... ya. Anak itu keras kepala. Sejak dulu hatinya mudah terbakar kalau merasa kalah.”
“Aku tahu, Yah. Tapi... ada cara nggak buat menyadarkannya?” tanya Qale, lirih.
Hasan memandangi secangkir teh di tangannya, lalu berkata pelan, “Kadang bukan kita yang bisa membuat seseorang sadar. Tapi luka yang ia terima sendiri.”
Ia menatap Qale dengan sorot mata lembut. “Tapi, ayah sudah coba, bahkan mendatangi Danisha kemarin.”
Qale spontan menoleh. “Danisha? Ayah temui dia?”
“Ya. Ayah bilang padanya untuk menjauhi Lea. Masih ada sisi baik di dirinya. Tapi Lea...” Hasan menggeleng pelan. “Dia terlalu terobsesi. Ayah nggak yakin Lea masih bisa membedakan cinta dengan dendam.”
Qale diam, mencerna tiap kata. “Kalau Deni, Yah... ayah udah pernah nemuin dia?”
Hasan lagi-lagi menghela napas panjang. “Belum, itu langkah berikutnya.”
Satu jam mengobrol, akhirnya mereka sepakat berangkat bersama sore itu, menuju rumah ibu Deni.
Ibu Deni menyambut dengan wajah lelah. Hasan menunduk sopan ketika bertanya, “Kami cuma ingin tahu kabar Deni.”
Air mata langsung menggenang di mata perempuan tua itu. “Deni sakit keras, Pak. Katanya stres berat di lapas ... dicekoki narkoba sama napi lain. Saya udah minta dipindah, tapi belum ada keputusan.”
Keduanya terkejut, saling pandang. Hasan memang sama sekali belum pernah menjenguk menantunya itu. Ada rasa bersalah menyelinap hatinya.
“Kami akan jenguk dia," balas Hasan.
“Silakan. Tapi kondisinya sudah jauh menurun. Ini semua gara-gara putrimu ini," ucapnya sedikit benci melihat Qale.
Hasan langsung pamit, menghindari pertikaian panjang dengan Qalesya.
Malam itu juga, Hasan meminta Qale pulang. Dia akan menemui Lea sendiri. Awalnya Qale menolak tapi Hasan mengatakan bahwa ini bagian tanggung jawabnya sebagai ayah.
Hasan mengantar putrinya pulang, lalu meminta izin pada Wafa untuk menginap setelah dari lapas nanti.
Lea masih menatapnya dingin saat Hasan menyodorkan kabar buruk itu.
“Lea,” ucapnya dengan nada berat, “kamu tau kabar suamimu?"
"Disuruh dia kan? Ayah jadi jongos Qale, huh?" cibir Lea.
Hasan tak terpengaruh. "Kalau kamu benar-benar cinta Deni, selamatkan dia. Bukan terus menyakiti orang lain.”
“Buat apa sih, Ayah ngomong begini!”
“Deni kecanduan nar-ko-ba. Dia butuh kamu.”
Lea menggertakkan gigi, matanya memerah. “Jangan bohong! Aku tahu kalian manfaatin dia mati supaya aku berhenti!”
Hasan menatapnya lama. “Kalau kamu nggak percaya, cari tahu sendiri. Tapi satu hal, jangan tukar cinta dengan kebencian.”
Brak! Lea menggebrak meja.
"Ayaaahhh!" sentaknya.
Hasan pergi meninggalkan Lea yang menjerit histeris di ruang penjengukan.
Malam itu, kata-kata ayahnya menggema terus di kepalanya. Antara marah dan takut.
Akhirnya ia menemui seseorang.
“Aku mau kamu cari tahu kabar Deni. Di lapas mana dia sekarang, dan siapa yang nyiksa dia. Aku bayar berapa pun.”
Tangannya gemetar saat menyodorkan uang. Dia lalu kembali ke sel tepat saat bel berbunyi, tapi matanya kosong.
Tak lama kemudian, suara seseorang terdengar. “Punya sisi lemah rupanya,” katanya dengan nada datar.
Lea menatap balik dengan mata basah. “Diam, kau.”
.
.