Pesantren, Jalan Petualangan
Diterima di Pesantren Kafila
BAB 4. Diterima di Pesanten Kafila Pilihanmu
"Serahkan saja kepada Allah SWT. Allah SWT Maha Mengetahui segala yang terbaik untuk manusia"
“Ayah, aku masih bingung mau mendaftar pesantren yang mana?” galau Ahsan.
Ayah kelihatan tenang, hanya senyum yang ditampakkan.
“Aduh! Ayah, ditanya malah jawabannya senyum aja.” sewot Ahsan.
“Mantapkan hati dengan salat Istikharah.” perintah ayah.
“Sudah mantap pilihannya, Kak?” Ibu pingin tahu isi hati Ahsan.
“Insya Allah, sudah, Bu.” jawab Ahsan tegas.
“Baik, Bu. Mulai nanti malam Ahsan akan mencoba dulu.” Balas Ahsan.
“Sip, berjuang terus,” jawab ibu sembari mengacungkan jempol tangan kanan.
Ahsan tersenyum menandakan sudah teratasi keluhan masalahnya.
“Alhamdulillah, Sip, Nak. Enak sekali didengar di telinga Ibu.”
Ibu bahagia mendengar pernyataan Ahsan. Ahsan sudah mulai membayangkan hidup di pesantren.
“Aku belum bisa pisah dengan orang tua, Ahsan.” Adam menyatakan alasannya.
“Iya, gak papa. Yang penting kamu betah di sana nantinya.” Ahsan menguatkan Adam.
“Dah siap, Kak?” Ayah mengecek persiapan Ahsan.
“Kak, sudah mantap dengan pesantren?” Ica kecil mengetes kakaknya.
“Sudah, dong….” Jawab Ahsan dengan meledek adiknya.
“Iya, Kakak,” ucap Ica menunjukkan dia tidak apa-apa diledek terus.
Sesampainya di salah pesanten betapa terkejutnya Ahsan, ternyata yang mendaftar begitu banyak.
“Wauw! Banyak sekali peminatnya!” seru Ahsan.
“Tetap berjuang, Ahsan. Jangan patah semangat.” Ayah memberikan dorongan semangat kepada Ahsan.
“Terimakassih, Yah,’ ucap Ahsan.
“Orang tua Ahsan!” Panggil petugas.
Ayah dan Ibu masuk ke dalam ruang wawancara. Ica bersama Ahsan duduk di depan ruang wawancara.
“Ayah Ibu, dah keluar!” sorak Ica.
“Ayah dan Ibu bisa menjawab. Semoga berhasil.” doa ayah mewakili ibu.
“Amin.” Ahsan dan Ica serentak mengamini.
“Ahsan sudah siap, Yah.” Ahsan memberi ayah tentang kesiapannya.
“Bagus. Ica dimana?” tanya ayah.
“Wah, asyik, tiap minggu diajak Kakak jalan terus.” celutuk Ica.
“Ayah, itu di depan apa? Yuk, kita bantu dulu.” ajak Ahsan.
“O... itu! Seorang kakek bersepeda terjatuh. Mungkin kelelahan.” jelas ayah sambil menepikan mobil.
“Terimakasih.” ucap kakek. “Duduk sebelah sini, Kek.”
“Gak ada yang sakit, Kek?” tanya Ahsan.
Kakek meyakinkan ayah dan Ahsan.
“Rumah kakek yang mana?” Ahsan tidak tega melihat kakek yang sudah tua itu.
“Itu di belakang.” Kakek mununjuk arah belakang.
Ayah mempercepat laju mobilnya. Sampai di lokasi pesantren, mereka langung bersiap untuk tes awal.
“Alhamdulillah, dua-duanya diterims.” Bapak gembira sekali.
“Ini yang Pesantren Kafila. Ini yang Pesantren Darul Qur’an.” jelas ayah.
Ahsan membaca nama satu persatu, sampai menemukan nama dirinya.
“Alhamdulillah, kamu diterima.” ucap ibu. Ahsan mendekati ayah dan ibu.
“Terimakasih, Ayah dan Ibu.” Ahsan memeluk bergantian ayah dan ibu.