Pesantren, Jalan Petualangan

Diterima di Pesantren Kafila

BAB 4. Diterima di Pesanten Kafila Pilihanmu

"Serahkan saja kepada Allah SWT. Allah SWT Maha Mengetahui segala yang terbaik untuk manusia"

 

Semester terakhir di kelas enam sudah mulai berjalan. Ahsan masih bingung, mana yang mau dipilih dari ketiga pesantren tersebut. Di Sabtu pagi, Ahsan sedang melihat acara TV bersama ayah. Ica dan ibu asyik bermain bulu tangkis di belakang.

“Ayah, aku masih bingung mau mendaftar pesantren yang mana?” galau Ahsan.

Ayah kelihatan tenang, hanya senyum yang ditampakkan.

“Aduh! Ayah, ditanya malah jawabannya senyum aja.” sewot Ahsan.

“Mantapkan hati dengan salat Istikharah.” perintah ayah.

Malam hari sebelum tidur, Ahsan mulai melaksanakan salat Istikharah sebanyak dua raka’at. Doa Istikharah dengan membaca buku catatan. Maklum, belum bisa hafal. Kebiasaan itu berlanjut selama tujuh hari, sebelum pendaftaran di dua pesantren.

“Sudah mantap pilihannya, Kak?” Ibu pingin tahu isi hati Ahsan.

“Insya Allah, sudah, Bu.” jawab Ahsan tegas.

Ahsan terdiam menunduk. Ibu memperhatikan terus wajah Ahsan. “Kenapa kamu, Nak?” Tangan ibu membelai pundak Ahsan.

“Tapi Ahsan masih takut tidur gelap, Bu.” Ibu tersenyum mendengar keluhan Ahsan. “Kak, kebiasaan tidur dengan posisi lampu di matikan bisa dilatih mulai sekarang. Insya Allah kamu bisa.” Ibu memberikan motivasi terus tanpa henti.

“Baik, Bu. Mulai nanti malam Ahsan akan mencoba dulu.” Balas Ahsan.

“Sip, berjuang terus,” jawab ibu sembari mengacungkan jempol tangan kanan.

Ahsan tersenyum menandakan sudah teratasi keluhan masalahnya.

“Kira-kira mau yang mana?” Ibu mengetes pilihan Ahsan. Mulut Ahsan masih tertutup rapat, kedua matanya menerawang ke satu titik. Ibu, menunggu jawaban beberapa menit.

“Pilihan pertama, pesantren Kafila. Pilihan kedua, pesantren Darul Quran Mulia.” tutur Ahsan. Ibu tersenyum sambil mengacungkan jempol tangan kanan.

“Alhamdulillah, Sip, Nak. Enak sekali didengar di telinga Ibu.”

Ibu bahagia mendengar pernyataan Ahsan. Ahsan sudah mulai membayangkan hidup di pesantren.

“Banyak teman menghafal, punya banyak ustadz, kayaknya asyik. Tapi, harus meninggalkan rumah dan keluarga. Aku harus bisa untuk mengejar impian dan ilmu agama. Aku ingin membahagikan kedua orang tuaku, memberi mahkota di surga.” Ahsan masih terus berangan dengan kehidupan di pesantren.

Di sekolah, teman-teman Ahsan banyak yang memilih melanjutkan sekolah ke SMP Negeri. Namun Ahsan sudah bulat dengan pilihannya. Teman sebangku Ahsan yang bernama Adam, memilih melanjutkan ke MTs terdekat.

“Aku belum bisa pisah dengan orang tua, Ahsan.” Adam menyatakan alasannya.

“Iya, gak papa. Yang penting kamu betah di sana nantinya.” Ahsan menguatkan Adam.



“Dah siap, Kak?” Ayah mengecek persiapan Ahsan.

“Bentar lagi, Yah.” Jawab Ahsan. Waktu untuk mendaftar ke pesantren Kafila dan pesantren Darul Qur’an Mulia, sudah tiba. Ada tes wawancara antar orang tua dengan ustadz. Beban tanggunan ibu satu, yaitu Ica. Ibu tidak mungkin meninggalkan Ica sendirian di rumah, Ica tetap harus ikut. Alhamdulillah, hari pendaftaran tepat denga hari Sabtu. Ahsan dan Ica untuk hari Sabtu libur. Setelah semua siap, mereka sekeluarga berangkat menuju Pesantren Kafila.

“Kak, sudah mantap dengan pesantren?” Ica kecil mengetes kakaknya.

“Sudah, dong….” Jawab Ahsan dengan meledek adiknya.

“Iya, Kakak,” ucap Ica menunjukkan dia tidak apa-apa diledek terus.

Sesampainya di salah pesanten betapa terkejutnya Ahsan, ternyata yang mendaftar begitu banyak.

“Wauw! Banyak sekali peminatnya!” seru Ahsan.

“Tetap berjuang, Ahsan. Jangan patah semangat.” Ayah memberikan dorongan semangat kepada Ahsan.

“Terimakassih, Yah,’ ucap Ahsan.

Setelah mendaftar, Ahsan dipanggil untuk diuji di dalam sebuah ruangan. Berikutnya wawancara dengan orang tua.

“Orang tua Ahsan!” Panggil petugas.

Ayah dan Ibu masuk ke dalam ruang wawancara. Ica bersama Ahsan duduk di depan ruang wawancara.

“Tunggu Ayah dan Ibu, ya.” Ahsan memberi penjelasan kepada Ica. Ica mengangguk. Wawancara orang tua dibatasi waktunya, lima belas menit. Satu petugas bertanya ke ayah, satu petugas lainnya bertanya ke ibu.

“Ayah Ibu, dah keluar!” sorak Ica.

Ahsan segera bangkit dari kursi belakang, pindah ke depan memposisikan diri seperti awal. “Gimana pertanyaannya, Yah?” Ahsan penasaran.

“Ayah dan Ibu bisa menjawab. Semoga berhasil.” doa ayah mewakili ibu.

“Amin.” Ahsan dan Ica serentak mengamini.



Sabtu pekan berikutnya, keluarga Ahsan sudah bersiap-siap berangkat ke Tangerang untuk pendaftaran Pesantren. Mereka menyiapkan semua, dari bekal dan materi wawancara.

“Ahsan sudah siap, Yah.” Ahsan memberi ayah tentang kesiapannya.

“Bagus. Ica dimana?” tanya ayah.

“Ica di mobil, Yah!” teriak Ica dari dalam mobil. Mereka berangkat pukul lima lebih sehabis subuh. Ayah mulai menyetir mobil dengan kecepatan santai.

“Wah, asyik, tiap minggu diajak Kakak jalan terus.” celutuk Ica.

Ahsan tersenyum, melihat adiknya menikmati perjalanan. Ayah selalu menyetel murottal di mobil. Ahsan kadang-kadang membarengi bacaan murottal, Ica hanya mendengar karena belum banyak hafalan juznya. Terlihat sekali, keindahan hubungan antara anak dan orang tua, dekat dan akrab.

“Ayah, itu di depan apa? Yuk, kita bantu dulu.” ajak Ahsan.

“O... itu! Seorang kakek bersepeda terjatuh. Mungkin kelelahan.” jelas ayah sambil menepikan mobil.

Ayah dan Ahsan turun dari mobil. Mereka segera menghampiri kakek tersebut. “Kakek, kenapa?” tanya ayah sembari memegangi kakek.

Kakek pelan-pelan berdiri.

“Terimakasih.” ucap kakek. “Duduk sebelah sini, Kek.”

Ayah menunjukkan tempat yang aman untuk kakek. Kakek mengikuti arahan ayah. Ahsan memegang sepeda yang digunakan kakek dan menyenderkan sepeda ke sebuah pohon lumayan besar, di pinggir jalan. Sepeda tidak ada luka, cuman agak kotor sedikit.

“Gak ada yang sakit, Kek?” tanya Ahsan.

“Gak ada, cuma kaget.”

Kakek meyakinkan ayah dan Ahsan.

“Rumah kakek yang mana?” Ahsan tidak tega melihat kakek yang sudah tua itu.

“Itu di belakang.” Kakek mununjuk arah belakang.

“Saya mohon maaf, tidak bisa menunggu kakek lama, karena anak saya mau tes. Saya mau meneruskan perjalan” Ayah berpamitan.

“Ahsan ikut pamit, Kek.”

“Makasih semuanya.” Ayah dan Ahsan masuk kembali ke dalam mobil, melanjutkan perjalanan. “Sebentar lagi nyampai.” Ucap ayah.

Ayah mempercepat laju mobilnya. Sampai di lokasi pesantren, mereka langung bersiap untuk tes awal.



Satu bulan sudah berjalan. Hari ini saatnya waktu pengumuman lolos pendaftaran pesantren. Ayah sibuk menengok hasil tes di WA grup.

“Alhamdulillah, dua-duanya diterims.” Bapak gembira sekali.

“Benarkah, Yah?” tanya Ahsan. Ayah memperlihatkan hasil pengumuman penerimaan santri baru dari dua pesantren.

“Ini yang Pesantren Kafila. Ini yang Pesantren Darul Qur’an.” jelas ayah.

Ahsan membaca nama satu persatu, sampai menemukan nama dirinya.

“Oh iya, alhamdulillah.” tutur Ahsan. Aura wajah Ahsan gembira sekali, ternyata doa keluarga dikabulkan Allah. Keinginan diri Ahsan juga satu cita-cita dengan ayah dan ibu.

“Alhamdulillah, kamu diterima.” ucap ibu. Ahsan mendekati ayah dan ibu.

“Terimakasih, Ayah dan Ibu.” Ahsan memeluk bergantian ayah dan ibu.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!