Pesantren, Jalan Petualangan

Sang Juara

Berbakti kepada kedua orang tua, adalah sebuah kewajiban bagi anak. Rida Allah adalah rida kedua orang tua. Jadikan mereka sebagai bintangmu. Panjat doa terus untuk mereka. Merekalah yang mengasuh kita dari kecil. Tanggung jawab orang tua sangatlah besar di sisi Allah. Maka, jadilah anak-anak yang saleh, birrulwaalidain.

Sang Juara

“Awas, hati-hati!” teriak ayah dari pinggir kolam renang.

Hari minggu penuh dengan keceriaan. Ahsan kembali melaksanakan aktivitas olah raga kegemarannya, yaitu renang. Setelah satu minggu, Ahsan dirawat di rumah sakit akibat penyakit gejala nafas. Oleh guru les renang, mas Affandi, Ahsan disuruh mulai mencoba berenang di kedalaman satu meter. Ahsan memberanikan diri. Kondisi Ahsan masih belum berani dengan gaya renang yang sudah dikuasainya. Mas Affandi mendekat ke Ahsan.

“Jangan takut. Ayo, semangat!”

Ahsan sedikit agak canggung dengan keadaannya. Sampai air kolam terminum lumayan banyak. Mas Affandi memegang badan Ahsan dengan kuat.

“Dah tenang?”

Ahsan masih terdiam, menyeimbangkan keadaan tubuhnya.

Pagi begitu menarik, banyak burung-burung kecil bermain di halaman depan kolam renang Sabun. Mereka bergerak dengan sangat lincah dan menyiulkan suara merdu. Anak-anak kecil terhibur dengan banyaknya jumlah burung. Seorang anak kecil asyik berburu burung-burung sampai menangis karena tidak bisa menangkap satu ekor pun. Ramai suasana kolam renang. Mas Affandi masih bersama dengan Ahsan.

“Ayo, kita ke daratan!”

Ahsan hanya menganggukan kepala, tanda setuju. Mas Affandi memandu Ahsan dengan sabar sampai ke atas. Berlanjut, mereka berdua duduk di kursi kosong depan sebuah kantin.

“Gimana rasanya, dah enak di badan?” Mas Affandi merisaukan keadaan Ahsan.

“Dah, Mas,” jawab Ahsan dengan nada pelan.

Ayah segera menghampiri Ahsan dengan langkah cepat. Ayah Ingin segera mengetahui keadaan Ahsan. Dengan spontan ayah memeluk anak laki-laki kesayangannya.

“Tadi Ayah gemetar mendengar kamu kondisinya masuk ke dalam air yang dalam dan minum banyak air,” Ayah mengelus rambut Ahsan untuk menenangkannya.

“Dah baikan, Yah!” ucap Ahsan.

Ahsan masih memeluk ayah dengan penuh kehangatan. Dia merasa damai di dalam pelukan ayah. Ayah yang selalu dijadikan teladan bagi dirinya sebagai ayah hebat.

“Mau pesan makanan hangat?” tanya ayah.

Ahsan menganggukan kepala. Ayah segera melangkah ke kantin bakso.

“Bang, pesan dua porsi bakso sama teh hangatnya.” pesan ayah ke petugas kantin.

“Iya, Pak.” jawab petugas kantin.

Ayah bersama Ahsan masih menunggu bakso tersedia. HP ayah berdering.

“Siapa yang telphon, Yah?” Ahsan ingin mengetahui orang yang menelphon ayah.

“Ibu.” balas ayah sambil membuka tombol on pada HPnya.

Ayah berbincang dengan ibu.

“Gimana perkembangan Ahsan, Yah?” tanya ibu.

“Ya, Ahsan sudah biasa lagi dengan berenang. Tadi ada kejadian kecil, alhamdulillah terselesaikan.” Informasi ayah.

“Kejadian kecil bagaimana, Yah?” Rasa penasaran ibu pingin tahu kejadian sebenarnya tentang Ahsan.

“Ibu, gak perlu was-was. Ada Ayahkan?” Ayah kembali menenangkan hati ibu.

“Ya, Yah.” Mendengar jawaban dari ayah, rasa khawatir ibu mulai menurun.

Ahsan adalah anak penurut, segala perintah orang tua selalu dilaksanakan. Ibu masih khawatir terhadap Ahsan, mengingat keadaannya baru pulih dari sakit pernafasan.

Sesampainya di rumah, ibu memeluk Ahsan dengan dekapan kasih sayang.

“Anakku, yang sehat, ya?” doa ibu.

“Amin, semoga Bu.” Ahsan mengaminkan doa ibu.

Ahsan berniat mau masuk ke dalam kamar, ibu menarik tangan kanannya.

“Nak, duduk sebentar.” Ahsan mengikuti perintah ibu.

Dia duduk tepat di samping ibu.

“Tadi kejadiannya di kolam renang, bagaimana? Ibu ingin mendengar jelas dari Ahsan.”

“O..., yang tadi? Posisiku mau terus lanjut, tapi di depan Ahsan ada anak kecil, jadi aku menabraknya dan aku minum air kolam renang, Bu.” Ahsan memberi penjelasan kepada ibu dengan lengkap.

“Alhamdulillah, Ibu memikirkan kamu terus.” ucap ibu dengan hati bersukur.

Ibu membelai rambut Ahsan dengan kasih sayang yang tulus. Ahsan terdiam, menikmati kasih sayang ibu. Suasana rumah yang begitu hening, menambah hubungan antar ibu dan anak semakin dekat. Setelah beberapa menit, ayah baru masuk ke dalam ruang tamu. “Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikum salam, Ayah.”

Ibu langsung mengambil tas yang dibawa oleh ayah.

“Sini tasnya, Yah,” kata ibu.

Ayah tanpa bersuara langsung memberikan tasnya kepada ibu. Ayah menuju ruang tengah. Ahsan mengikuti ayah dari belakang. Lalu, mereka mendekati Ica, adik Ahsan. Ica masih bersekolah di TK.

“Ica, Kakak dan Ayah sudah pulang.” sapa Ahsan.

Ica memberi senyuman kepada kakak dan ayahnya.

“Ica pingin bisa renang seperti Kakak.”

“Iya, kapan-kapan kita berenang bersama, ya.” ucap Ahsan.

   

Hari-hari libur sekolah Ahsan, selalu diisi dengan kegiatan berenang. Renang bagi Ahsan adalah olah raga yang menyenangkan dan menyehatkan. Karena Ahsan memiliki satu penyakit nafas. Dengan renang, alhamdulillah bisa menyeimbangkan kesehatan pernafasannya walaupun sementara.

Di malam hari yang sunyi, pintu kamar Ahsan terbuka lebar. Dia tidur sendiri di kamar depan. Adiknya masih tidur satu kamar dengan orang tuanya. Malam itu, nafas Ahsan terasa sesak lagi. Ahsan bangun dari tempat tidurnya. Dia berjalan menuju kamar ibu.

“Ibu, aku sesak nafas,” seru Ahsan dari depan pintu kamar ibu.

Ibu terbangun mendengar suara Ahsan.

“Iya, Kak.”

Ibu bergegas ke tempat obat. Obat Ahsan selalu ibu simpan di dalam kotak obat. Tempat obat dekat dengan pintu kamar ibu. Ibu mengambil segelas air minum.

“Nak, sini duduk.” Ajak ibu.

Mereka berdua duduk di lantai depan tempat obat.

“Jangan lupa untuk berdoa.”

Selesai berdoa, Ahsan meminum obat. Obat dari dokter spesialis paru-paru.

“Dah dibawa istirahat lagi di kamar.” Ibu menemani Ahsan ke kamarnya.

Ibu sadar, penyakit yang diderita Ahsan lumayan penanganannya. Harus dengan kesabaran merawat Ahsan. Beberapa saat sehabis Ahsan meminum obat sesaknya, keadaan nafasnya mulai berimbang. Ibu masih setia menemani Ahsan di kamarnya. Selang beberapa menit ibu menoleh ke Ahsan, Ahsan ternyata sudah tidur kembali.

“Moga Allah, segera menyembuhkan penyakitmu, Nak.” Ibu memandangi terus raut muka Ahsan.

“Yang kuat, ya, Nak.”

Harapan-harapan ibu, selalu ibu serukan, tanpa patah semangat. Prinsip ibu Ahsan, Allah Maha Menyembuhkan semua penyakit.



Di awal kelas lima, ada perlombaan olah raga di tingkat Kabupaten Bekasi. Sekolah menyeleksi siswa-siswa yang akan mengikuti lomba. Seleksi perlombaan renang di SDIT Bekasi telah selesai. Pak Ali akan mengumumkan hasilnya hari ini. Anak-anak SDIT berkumpul di lapangan sekolah. Masing-masing wali kelas mendampingi anak-anaknya.

“Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakaatuh , anak-anak yang dicintai Allah.” Salam dari pak Ali.

“Wa’alaikum salam warahmatullahi wa barakatuh!” jawab anak-anak serentak.

“Saya akan mengumumkan peserta lomba olah raga dalam rangka menyambut Dirgahayu Rebuplik Indonesia. Ada enam macam perlombaan yang dibuka, yaitu lari pesertanya Amar dan Putri, lompat jauh pesertanya Riko, lompat tinggi pesertanya Agus, silat persertanya Sigit, dan renang pesertanya Ahsan.” Informasi dari pak Ali.

Riuh tepuk tangan anak-anak semuanya, mengisi udara yang ada di lapangan sekolah. Begitu kagetnya Ahsan, mendengar pengumuman dari pak Ali. Padahal saingan di SDIT begitu ketat. “Para juara satu akan mewakili ditingkat Kabupaten Bekasi.” Tambah pak Ali.

Wajah Ahsan gembira sekali.

“Alhamdulillah, insya Allah aku akan mengharumkan nama sekolah dan orang tua.” Ahsan merasa senang mengemban tugas berat ini.

“Silakan dipersiapkan dengan matang bagi peserta yang saya sebutkan tadi. Selamat berjuang, mudah-mudahan kalian bisa mengharumkan nama sekolah, amin.”

Pak Ali memberikan motivasi.  Sesampainya di rumah, Ahsan menceritakan semua kepada ibu dengan penuh gembira.

“Bu, Ahsan ditugasi sekolah untuk lomba renang di tingkat Kabupaten.” ujar Ahsan.

Ibu gembira mendengar hal tersebut, anak-anak dapat berguna untuk sekolah.

“Alhamdulillah, semoga bisa juara.” Ibu selalu memberikan semangat dan dorongan yang besar kepada Ahsan. Apa lagi saat momen seperti ini ibu selalu mengingatkan kepada Ahsan supaya tidak sombong dengan anugerah Allah berupa prestasi.

“Amin,” jawab Ahsan.

“Ayo, ganti baju dulu. Ibu menyiapkan makan dulu, ya,” ijin ibu ke Ahsan.

“Iya, Ibu.” Ibu pergi ke dapur bersama Ica. Ica selalu mengikuti apa yang ibu kerjakan.

“Ica mau makan?” tanya ibu. “Iya, Bu,” balas Ica.

Ibu mempersiapkan dua piring makan, dengan porsi yang berbeda. Satu porsi untuk Ahsan, satu porsi lainnya untuk Ica.

“Ayo, kita makan bersama,” ajak ibu ke kedua anaknya.

Ahsan mendekati ibu di ruang makan. Ahsan dan Ica mulai menikmati makan siang bersama ibu. “Masakan Ibu, selalu top makanannya,” puji Ahsan.

“Terimakasih, anakku.” Ibu membalas sambil tersenyum.

Hati ibu senang sekali, bisa membuat masakan yang lezat bagi anak-anaknya. Malam hari sekitar jam tujuh, ayah baru sampai di rumah. Ayah masih di parkiran mobil. Ahsan segera menghampiri ayah.

“Ayah, Ahsan ditunjuk menjadi peserta lomba renang.” Ahsan memberi informasi ke ayah dengan riang.

“Waw! Keren..,” takjub ayah.

Ayah bangga dengan Ahsan. Tas gendong yang tadinya di bahu ayah, diturunkan kembali. Mereka asyik berbincang-bincang di parkiran mobil. Waktu istimewa itu, ayah gunakan supaya lebih dekat dengan anaknya.

“Yah, aku pingin mengharumkan nama Ayah dan Ibu.” Ungkap Ahsan. Dengan semangat begitu tinggi, Ahsan bercerita.

“Sip, Nak. Semoga semua cita-citamu dimudahkan oleh Allah, amin.”

“Semoga, Yah.” Doa dari Ahsan selalu terucap.



Minggu ini adalah persiapan terakhir latihan renang Ahsan. Didampingi oleh pelatih renang, mas Affandi. Mas Affandi adalah pelatih yang handal. Ahsan tipe anak senang bertanya, apabila mengetahui sesuatu yang belum bisa.

“Gimana untuk persiapannya, Kak?” tanya mas Affandi.

Mas Affandi terbiasa menyebut Ahsan dengan sebutan kakak. Karena sapaan untuk Ahsan yang sering didengar dari keluarganya.

“Dari gaya renang, mana yang masih kesulitan?” tanya mas Affandi.

“Insya Allah, ndak ada, Mas.” ucap Ahsan dengan pendek.

“Coba praktikkan semua gaya renang. Saya akan amati juga waktunya.” Perintah mas Affandi. Ahsan mulai mengerjakan semua perintah dari mas Affandi. Mas Affandi mengamati gerakan Ahsan dan waktu tempuhnya.

“Gerakannya sudah bagus,” sanjung Mas Affandi sembari mengacung jempol tangan kanan. Mas Affandi masih berdiri menunggu Ahsan selesai berputar satu putaran.

“Sip, lebih cepat ternyata. Semoga ini bisa dipertahankan untuk perlombaan renang di Kabupaten.” Mas Affandi memberi dorongan terus.

“Oke, Mas. Makasih.” Ahsan gembira sekali dengan penilaian dan motivasi dari mas Affandi. Semangat terus membara dalam diri Ahsan.



Di kelas VA, Ahsan mohon ijin ke wali kelas bahwa dia mau minta doa teman-teman supaya Allah memudahkan perjuangannya. Pak Tofik menyilakan Ahsan.

“Teman-teman, mohon doanya untuk saya. Semoga Allah memudahkan perjuanganku, amin,” pinta Ahsan.

“Amin, semoga Ahsan menang!” doa teman-teman serentak.

Ahsan merasa lega, karena teman-teman ikut mendoakannya. Dengan ucapan terimakasih kepada teman-teman. Hari Sabtu, Ahsan bersiap-siap gasik. Ayah kebetulan hari libur kerja, alhamdulillah bisa menemani Ahsan. Di dalam mobil, Ayah memberi beberapa wejangan . Wejangan ayah mengena sekali bagi diri Ahsan.

“Makasih, Yah. Ayah adalah panutanku,” ucap Ahsan.

“Sama-sama. Tugas seorang ayah memang seperti itu.” Ahsan, bangga punya ayah yang selalu bisa menjadi teladan.

“Ayahku adalah imamku, aku harus bisa meniru ayah.”

Selang beberapa menit, mereka sampai di parkiran kolam renang. Ayah dan Ahsan mengambil tas dan makanan yang ibu siapkan. Dengan semangatnya, Ahsan membawa semuanya.

“Sini! Ayah bantu.” ucap ayah.

“Ayah bawakan tasnya, makanannya biar aku yang bawa.” Kedewasaan sudah terdidik pada diri Ahsan. Kemandirian sudah terbentuk.

“Ayah di sini aja, sambil duduk dan melihat Ahsan. Mohon doanya, Yah.” Ahsan menjulurkan tangan kanannya sambil mencium tangan kanan ayah.

“Pasti Ayah doakan.”

Detik-detik babak penyisihan sudah dimulai. Alhamdulillah, Ahsan lolos. Ayah dengan hati berdebar melihat pertandingan Ahsan.

“Semoga anakku bisa juara,” doa Ayah.

Kelihatan dari posisi ayah duduk, Ahsan semangatnya benar-benar membara. Peserta terakhir untuk babak penyisihan sudah selesai. Babak selanjutnya dari dua puluh peserta yang ikut, akan diambil lima orang terbaik.

“Kami panggil lima orang peserta dengan nilai unggul. Ahsan, Ansor, Dino, Tata, dan Rio. Untuk penentuan terakhir kita mengutamakan waktu. Jadi siapa yang bisa menempuh finish dengan waktu singkat dan sesuai dengan aturan perlombaan, dialah Sang Juara.” Panitia memberi penjelasan. Ahsan, Ansor, Dino, Tata, dan Rio mengambil posisi di tempat yang telah disediakan. Mereka bersiap sedia di masing-masing posisi.

“Satu, Dua, Tiga...!” Panitia memberi aba-aba.

Semua peserta kelihatan bersemangat sekali. Dengan sekuat tenaga, mereka mengambil waktu sesingkat-singkatnya.

“Masih kita lihat, Ahsan dan Rio sudah mangambil posisi paling depan. Kita tunggu siapakan di antara mereka yang akan menjadi juara. Mereka terus berjuang. Kita lihat sebentar lagi. Sang Juara adalah….Kak Ahsan dari SDIT Bekasi!”

Riuh tepuk tangan para penonton untuk Ahsan “Sang Juara”.

“Alhamdulillah, Ahsan yang terbaik. Ayah bangga padamu.”

Ahsan melambaikan tangan ke ayahnya.

“Ayah, aku juara,” seru Ahsan.

Senyum gembira Ahsan dan ayah terpancar. Mereka senang bisa mengangkat nama sekolah. “Penyematan juara akan di wakilkan oleh Wakil Bupati Bekasi.”

Bapak Wakil Bupati memberikan hadiah kepada ketiga terbaik, juara satu Ahsan, juara dua Rio, dan juara tiga Tata. Mereka bertiga, kelihatan gembira.  

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!