PESANTREN ANGKER

34. Penjaga Terakhir

Ambulans tiba dua puluh menit kemudian—waktu yang terasa seperti berabad-abad bagi Zahra. Sepanjang waktu itu, dia duduk di samping ayahnya yang terbaring lemah, memegang tangannya yang dingin, terus berbisik doa.

 

"Ya Allah, jangan ambil ayah dariku. Tidak sekarang. Kumohon..."

 

Bu Le dan Gus Azka bergantian membacakan Ayat Kursi dan Surat Yasin. Haji Usman membasuh wajah Rizwan dengan air zam-zam, mencoba memberikan sedikit kekuatan.

 

Saat paramedis turun dari ambulans, mereka terperanjat melihat kondisi Rizwan—sangat kurus, kulit pucat kehitaman, dehidrasi parah, napas sangat lemah.

 

"Ya Tuhan," bisik salah satu paramedis sambil langsung memasang infus. "Berapa lama dia tidak makan?"

 

"Lama," jawab Haji Usman singkat. "Sangat lama."

 

Mereka mengangkat Rizwan ke tandu, memasukkannya ke dalam ambulans.

 

"Hanya satu orang yang boleh ikut," ucap paramedis.

 

"Saya," Zahra langsung naik tanpa ragu.

 

Bu Le mengangguk. "Bu Le dan Azka menyusul dengan mobil Pak Haji."

 

Ambulans melaju kencang—sirine meraung memecah kesunyian siang. Zahra duduk di samping tandu ayahnya, menggenggam tangannya yang terpasang infus.

 

Paramedis yang merawat terus memeriksa tanda vital dengan wajah khawatir.

 

"Tekanan darah sangat rendah. Detak jantung tidak stabil. Saturasi oksigen turun—"

 

"Tolong selamatkan dia," bisik Zahra dengan suara bergetar. "Kumohon. Dia ayah saya. Dia baru saja... baru saja bebas."

 

Paramedis itu menatap Zahra dengan tatapan simpati. "Kami akan lakukan yang terbaik, Mbak."

 

Tapi Zahra melihat keraguan di matanya.

 

Di tengah perjalanan, Rizwan tiba-tiba membuka matanya. Menatap Zahra dengan tatapan sayu.

 

"Ayah!" Zahra langsung mendekat. "Ayah sadar?"

 

Rizwan tersenyum tipis. Bibirnya bergerak—mencoba bicara tapi tidak ada suara yang keluar.

 

"Jangan bicara dulu, Ayah," Zahra mengusap dahi ayahnya dengan lembut. "Simpan tenaga. Kita hampir sampai rumah sakit."

 

Tapi Rizwan menggeleng pelan. Tangannya yang lemah terangkat—menyentuh pipi Zahra.

 

Lalu bibirnya bergerak lagi. Kali ini, suara sangat pelan terdengar:

 

"Ibu... bagaimana... kabarnya?"

 

Zahra menangis. "Ibu baik, Ayah. Ibu menunggu Ayah. Ibu kangen Ayah."

 

"Dan... Kyai Syamsul?"

 

"Dia masih koma, Ayah. Tapi dokter bilang kondisinya stabil."

 

Rizwan mengangguk lemah. Matanya berkaca-kaca. "Maafkan... ayah..."

 

"Tidak ada yang perlu dimaafkan," Zahra menggeleng sambil menangis. "Ayah sudah berkorban untuk semua orang. Ayah pahlawan."

 

"Bukan... pahlawan," Rizwan tersenyum pahit. "Ayah... egois. Meninggalkan... istri dan anak... demi... misi yang tidak pasti."

 

"Ayah menyelamatkan tujuh santri," Zahra memotong tegas. "Ayah menutup Gerbang Kegelapan. Ayah melindungi dunia dari Malik Azhraq. Ayah adalah pahlawan."

 

Rizwan menatap putrinya lama. Air matanya jatuh.

 

"Terima kasih... anakku..."

 

Lalu matanya menutup lagi.

 

"Ayah? AYAH!" Zahra mengguncang tangannya.

 

Paramedis langsung memeriksa monitor. "Detak jantungnya turun drastis! Kita harus cepat!"

 

Ambulans semakin menambah kecepatan.

 

***

 

Rumah Sakit Umum Lampung Timur.

 

Zahra duduk di kursi ruang tunggu IGD dengan wajah kosong. Tangannya masih gemetar. Jubah putihnya kotor tanah dan darah.

 

Bu Le dan Gus Azka tiba setengah jam kemudian—langsung memeluk Zahra.

 

"Bagaimana Kyai Rizwan?" tanya Bu Le dengan cemas.

 

"Masih di dalam," jawab Zahra dengan suara serak. "Dokter bilang kondisinya kritis. Mereka melakukan resusitasi. Jantungnya sempat berhenti di perjalanan tapi paramedis berhasil menghidupkan lagi."

 

Bu Le menutup mulutnya dengan tangan. "Ya Allah..."

 

Gus Azka duduk di samping Zahra. "Kita berdoa, Mbak. Itu yang bisa kita lakukan sekarang."

 

Mereka duduk dalam hening. Berdoa dalam hati masing-masing.

 

Satu jam berlalu.

 

Dua jam.

 

Tiga jam.

 

Akhirnya, pintu ruang operasi terbuka. Seorang dokter paruh baya keluar dengan wajah lelah.

 

Zahra langsung berdiri. "Dokter? Ayah saya?"

 

Dokter itu melepas maskernya. Menatap Zahra dengan tatapan yang sulit dibaca.

 

"Kami sudah melakukan semua yang kami bisa," ucapnya pelan. "Kondisi pasien sangat kritis. Malnutrisi ekstrem, dehidrasi berat, organ-organ tubuh mulai mengalami kegagalan fungsi. Secara medis... ini keajaiban dia masih bertahan sampai sekarang."

 

Zahra merasakan lututnya lemas. "Tapi... tapi dia selamat, kan?"

 

Dokter menghela napas panjang. "Untuk sekarang, dia stabil. Kami sudah memasukkannya ke ICU. Tapi kondisinya masih sangat lemah. Dua puluh empat jam ke depan sangat krusial. Kalau dia bisa melewati dua puluh empat jam ini... ada harapan."

 

"Boleh saya melihatnya?" tanya Zahra dengan suara bergetar.

 

"Sebentar saja. Dan hanya satu orang."

 

Zahra mengikuti dokter ke ICU. Ruangan steril dengan berbagai mesin medis yang berbunyi. Di tengah ruangan, di atas tempat tidur putih, terbaring Kyai Rizwan.

 

Wajahnya sangat pucat. Tubuhnya yang sudah kurus sekarang terlihat semakin kecil di bawah selimut putih. Di hidungnya terpasang selang oksigen. Di tangannya, berbagai selang infus.

 

Zahra mendekat perlahan. Air matanya jatuh.

 

"Ayah..." bisiknya sambil menyentuh tangan ayahnya yang dingin.

 

Monitor jantung berbunyi pelan tapi teratur. Tanda bahwa ayahnya masih hidup. Masih bertahan.

 

"Ayah sudah keluar dari dimensi gaib," bisik Zahra sambil menggenggam tangan ayahnya. "Sekarang Ayah harus keluar dari sini juga. Ibu menunggu. Aku menunggu. Keluarga kita menunggu."

 

Rizwan tidak bergerak. Tidak membuka mata. Tapi Zahra merasakan jari-jarinya bergerak sedikit—seolah merespons.

 

"Dua puluh empat jam, Ayah," lanjut Zahra dengan suara lebih mantap. "Bertahanlah dua puluh empat jam. Ayah sudah bertahan dua puluh satu tahun. Dua puluh empat jam tidak ada apa-apanya."

 

Zahra menutup matanya. Berdoa panjang.

 

Suster menyentuh bahunya dengan lembut. "Maaf, Mbak. Waktunya sudah habis."

 

Zahra mengangguk. Mengecup dahi ayahnya dengan lembut.

 

"Sampai bertemu lagi, Ayah. Insya Allah."

 

***

 

Malam itu, Zahra, Bu Le, dan Gus Azka menginap di rumah Haji Usman lagi. Tapi tidak ada yang bisa tidur.

 

Mereka duduk di ruang tengah, membaca Al-Quran bergantian. Membaca Yasin untuk kesembuhan Kyai Rizwan.

 

Pukul 02.00 dini hari, ponsel Zahra berdering.

 

Nomor rumah sakit.

 

Jantung Zahra langsung berdebar kencang. Tangannya gemetar saat mengangkat telepon.

 

"Halo?"

 

"Assalamualaikum. Ini dengan Saudara Zahra Kamilah?"

 

"Iya. Ada apa?"

 

"Ini dari RS Lampung Timur. Kondisi ayah Anda—"

 

Zahra merasakan dunia berputar. Napasnya tercekat.

 

"—stabil. Tanda vitalnya mulai membaik. Kesadarannya mulai naik. Dokter bilang krisis sudah terlewati."

 

Zahra menutup mulutnya dengan tangan. Air matanya meledak.

 

"Benarkah? Ayah saya... ayah saya selamat?"

 

"Belum bisa dipastikan sepenuhnya, tapi prognosisnya jauh lebih baik dari kemarin. Anda bisa datang besok pagi untuk melihatnya."

 

"Terima kasih! Terima kasih, Dok!"

 

Zahra menutup telepon—lalu langsung menangis sejadi-jadinya.

 

Bu Le dan Azka langsung memeluknya.

 

"Ada apa, Nak? Kabar buruk?" tanya Bu Le dengan khawatir.

 

Zahra menggeleng sambil tertawa di sela tangisnya. "Kabar baik, Bu Le. Ayah melewati krisis. Ayah selamat."

 

"Alhamdulillah!" Bu Le ikut menangis. "Alhamdulillah!"

 

Gus Azka tersenyum lebar. "Mbah Kyai Rizwan kuat. Beliau pasti tidak akan menyerah."

 

Mereka bertiga duduk melingkar. Mengangkat tangan berdoa bersama.

 

"Ya Allah," Zahra memimpin doa dengan suara bergetar, "terima kasih telah menyelamatkan ayah kami. Terima kasih telah memberikan kesempatan kedua. Kami mohon, sempurnakan kesembuhannya. Kuatkan tubuhnya. Pulihkan kesehatannya."

 

"Amin," mereka mengamini bersama.

 

Malam itu, untuk pertama kalinya sejak berangkat, Zahra tidur dengan nyenyak.

 

Tanpa mimpi buruk. Tanpa ketakutan.

 

Hanya kedamaian.

 

***

 

Keesokan paginya, mereka bertiga datang ke rumah sakit. Zahra diizinkan masuk ke ICU—kali ini lebih lama.

 

Kyai Rizwan sudah membuka mata. Masih lemah, tapi sadar.

 

Saat melihat Zahra masuk, dia tersenyum—senyum pertama yang tulus setelah dua puluh satu tahun.

 

"Zahra..." suaranya masih serak, tapi lebih jelas dari kemarin.

 

"Ayah!" Zahra langsung menghampiri, menggenggam tangannya. "Alhamdulillah, Ayah sadar."

 

"Ayah... bermimpi," bisik Rizwan. "Bermimpi bertemu ibumu. Dia bilang... belum waktunya ayah pergi. Masih ada yang harus ayah lakukan."

 

Zahra tersenyum sambil menangis. "Ibu benar, Ayah. Ayah harus pulih. Ayah harus bertemu ibu. Ayah harus lihat aku menikah nanti. Ayah harus jadi kakek untuk cucu-cucu kami."

 

Rizwan tertawa pelan—tertawa yang berubah jadi batuk.

 

"Pelan-pelan, Ayah," Zahra mengelus punggung ayahnya.

 

Setelah batuknya reda, Rizwan menatap Zahra dengan serius.

 

"Malik Azhraq... dia benar-benar lenyap?"

 

Zahra mengangguk. "Dia lenyap, Ayah. Gerbang Kegelapan tertutup. Semuanya sudah selesai."

 

Rizwan menghela napas lega. "Alhamdulillah."

 

Dia menatap putrinya dengan tatapan penuh kasih sayang. "Kamu... kamu jauh lebih kuat dari ayah, Zahra. Ayah tidak bisa mengalahkan Malik Azhraq sendirian. Tapi kamu... kamu berhasil."

 

"Bukan sendirian, Ayah," Zahra menggeleng. "Bu Le, Gus Azka, Pak Haji Usman, Kyai Taufiq—mereka semua membantu. Dan yang paling penting... Allah melindungi kami."

 

Rizwan tersenyum. "Bersyukurlah kamu punya orang-orang baik di sekitarmu."

 

"Termasuk Ayah," Zahra menggenggam tangan ayahnya erat. "Sekarang Ayah istirahat. Fokus untuk sembuh. Kami akan menunggu sampai Ayah benar-benar pulih."

 

Rizwan mengangguk. Matanya perlahan menutup—kali ini bukan karena sekarat, tapi karena tidur yang tenang.

 

Zahra duduk di sampingnya, memegang tangannya, tersenyum.

 

Perjuangan belum sepenuhnya selesai.

 

Tapi yang tersulit sudah terlewati.

 

Ayahnya bebas.

 

Ayahnya selamat.

 

Dan itu lebih dari cukup.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!