PESANTREN ANGKER
32. Jebakan Dimensi
Cahaya putih keemasan perlahan memudar. Zahra masih memeluk ayahnya yang gemetar dalam pelukannya. Kyai Rizwan menangis—air mata pertama setelah dua puluh satu tahun terkurung dalam kegelapan.
"Ayah pikir... ayah tidak akan pernah melihatmu," bisik Rizwan dengan suara serak. "Tapi kamu datang... kamu benar-benar datang..."
"Maaf, Ayah," Zahra menangis. "Maaf baru sekarang datang."
"Jangan minta maaf," Rizwan mengusap wajah Zahra dengan tangan yang kurus gemetar. "Kamu sudah menyelamatkan ayah. Kamu sudah—"
RAARRGGHHH!
Tiba-tiba, teriakan menggelegar memotong pembicaraan mereka.
Malik Azhraq—meski tubuhnya terbakar di beberapa bagian—masih berdiri. Matanya menyala lebih merah. Wajahnya penuh amarah.
"KAU PIKIR INI SUDAH SELESAI?!" teriak Malik Azhraq dengan suara penuh kebencian. "KAU PIKIR MEMBEBASKAN AYAHMU BERARTI KEMENANGAN?!"
Dia mengangkat kedua tangannya ke langit.
"INI DIMENSIKU! INI WILAYAHKU! KALIAN SEMUA AKAN MATI DI SINI!"
Tanah mulai bergetar hebat. Bangunan-bangunan pesantren yang sudah runtuh sebagian mulai bergerak—menyusun diri kembali. Tapi bukan menjadi bangunan normal. Melainkan menjadi bentuk-bentuk yang aneh, menyeramkan.
Dinding-dinding berubah menjadi daging yang berdenyut. Jendela-jendela menjadi mata yang menatap. Pintu-pintu menjadi mulut dengan gigi runcing.
"Ya Allah," bisik Bu Le dengan wajah pucat. "Dia mengubah seluruh dimensi menjadi makhluk hidup."
"Kita harus keluar!" teriak Gus Azka sambil membantu Rizwan berdiri. "Sekarang!"
Tapi saat mereka menoleh ke arah tembok yang runtuh—jalan keluar mereka—tembok itu sudah berubah menjadi dinding daging tebal yang tidak bisa ditembus.
"Tidak ada jalan keluar," Malik Azhraq tertawa mengerikan. "Kalian terkurung. Sama seperti Rizwan terkurung dua puluh satu tahun. Bedanya... kalian tidak akan bertahan selama itu. Kalian akan mati dalam hitungan jam."
Dimensi di sekeliling mereka mulai berubah total. Langit merah darah menjadi semakin gelap. Tanah di bawah kaki mereka berubah menjadi lengket seperti daging mentah.
"Kita harus membuka portal keluar," Rizwan berkata dengan napas terengah-engah. Tubuhnya sangat lemah—dua puluh satu tahun tanpa makanan fisik membuat ototnya hampir lenyap. "Tapi aku... aku tidak punya kekuatan lagi."
"Ayah istirahat saja," Zahra menopang tubuh ayahnya. "Biar kami yang—"
WUUSSHH!
Tiba-tiba, tentakel hitam besar muncul dari tanah—menyerang ke arah mereka.
"AWAS!" teriak Azka sambil mendorong Zahra dan Rizwan menjauh.
Tentakel itu menghantam tanah di mana mereka berdiri—menciptakan kawah besar.
"LARI!" Bu Le berteriak sambil menarik tangan Zahra.
Mereka berlari—tapi ke mana? Seluruh dimensi sudah berubah menjadi labirin daging yang hidup.
Tentakel-tentakel terus bermunculan dari segala arah. Menyerang. Mengejar.
Gus Azka yang berlari sambil menopang Rizwan membaca Ayat Kursi dengan suara keras:
"ALLAHU LAA ILAAHA ILLAA HUW, AL-HAYYUL-QAYYUUM!"
Cahaya putih memancar dari tubuhnya—membakar tentakel yang mendekat.
Tapi tentakel itu terlalu banyak. Satu terbakar, dua tumbuh lagi.
"Kita tidak bisa terus berlari seperti ini!" teriak Bu Le sambil terus membaca dzikir. "Kita harus menemukan cara keluar!"
Zahra melirik sekeliling dengan panik. Mata batinnya terbuka—mencari celah. Mencari portal. Mencari apapun yang bisa menjadi jalan keluar.
Dan dia melihatnya.
Di kejauhan, di tengah kekacauan dimensi yang berubah, ada satu titik yang tidak berubah. Satu titik yang masih stabil.
Sumur.
Sumur tua itu tetap berwujud sama. Tidak berubah menjadi daging. Tidak berubah menjadi monster.
"Sumur!" teriak Zahra. "Kita harus ke sumur!"
"Tapi sumur itu adalah portal masuknya!" Azka berteriak balik. "Bukan portal keluar!"
"Percaya padaku!" Zahra menarik tangan Bu Le. "Sumur itu adalah titik lemah dimensi! Di situ kita bisa membuat portal keluar!"
Rizwan yang mendengar itu mengangguk lemah. "Zahra... benar. Sumur adalah... nexus. Titik temu semua dimensi."
"Kalau begitu, ke sana!" Bu Le memutuskan.
Mereka mengubah arah—berlari menuju sumur yang berada sekitar seratus meter dari posisi mereka.
Tapi Malik Azhraq tidak akan membiarkan mereka.
"KAU PIKIR AKU BODOH?!" teriaknya sambil mengangkat tangan.
Dari tanah di depan mereka, muncul dinding daging raksasa—menghalangi jalan.
"BACA SURAT AL-IKHLAS!" teriak Rizwan meski suaranya lemah. "BACA BERSAMA-SAMA!"
Mereka semua—Zahra, Azka, Bu Le, bahkan Rizwan yang lemah—membaca bersama:
"QUL HUWALLAAHU AHAD! ALLAAHUS-SHAMAD! LAM YALID WA LAM YUULAD! WA LAM YAKUL-LAHUU KUFUWAN AHAD!"
Cahaya putih meledak dari mereka berempat—menyatu menjadi satu berkas cahaya besar yang menerjang dinding daging.
DUARRR!
Dinding itu meledak. Jalan terbuka.
Mereka berlari melewati ledakan—terus menuju sumur.
Tujuh puluh meter.
Lima puluh meter.
Tentakel-tentakel terus menyerang dari segala arah. Azka menebas dengan pisau besinya. Bu Le membakar dengan ayat-ayat ruqyah. Zahra melindungi ayahnya dengan tameng spiritual dari dua tasbih yang bersinar.
Tiga puluh meter.
Malik Azhraq meraung marah. Dia terbang—ya, terbang—mengejar mereka dengan kecepatan luar biasa.
"KALIAN TIDAK AKAN SAMPAI KE SUMUR!" teriaknya sambil menembakkan bola-bola energi hitam.
BOOM! BOOM! BOOM!
Ledakan di kanan-kiri mereka. Tanah meledak. Api hitam menyala.
"TERUS LARI!" teriak Azka. "JANGAN BERHENTI!"
Sepuluh meter.
Lima meter.
Mereka sampai di bibir sumur—tapi Malik Azhraq sudah di depan mereka. Menghalangi.
"Permainan berakhir," ucapnya dengan senyum mengerikan. Tubuhnya yang besar menghalangi seluruh pandangan mereka.
Zahra menatap Malik Azhraq dengan napas terengah-engah. Tangannya gemetar. Tapi matanya penuh tekad.
"Kamu benar," ucap Zahra dengan suara bergetar. "Permainan berakhir."
Dia mengangkat dua tasbih yang disatukan—cahaya biru terang memancar.
"Tapi yang kalah bukan kami."
Malik Azhraq tertawa. "Kau pikir tasbih kecil itu bisa mengalahkanku?! AKU ADALAH IFRIT TERTUA! AKU—"
"Aku tahu siapa kamu," potong Zahra dengan suara lebih mantap. "Tapi aku juga tahu siapa yang melindungiku. Dan Dia... jauh lebih kuat darimu."
Zahra menutup mata. Menggenggam dua tasbih dengan kedua tangan di depan dada.
Dan dia mulai membaca—bukan dengan suara keras. Tapi dengan hati. Dengan jiwa. Dengan seluruh keberadaannya.
"Bismillahirrahmanirrahim..."
Cahaya putih mulai muncul dari tubuhnya. Cahaya yang berbeda dari sebelumnya. Lebih murni. Lebih suci.
"Alhamdulillahi Rabbil 'alamin, Arrahmanirrahim, Maliki yaumiddin..."
Cahaya semakin terang. Semakin kuat.
Malik Azhraq mundur selangkah. Wajahnya berubah—dari percaya diri menjadi... takut.
"Tidak... ini tidak mungkin... kamu hanya manusia biasa..."
"Iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in, Ihdinash-shirathal mustaqim..."
Zahra membuka matanya—matanya bersinar putih terang.
"Shirathal-ladzina an'amta 'alaihim ghairil-maghdubi 'alaihim wa ladh-dhallin."
FLASH!
Cahaya putih meledak dari tubuh Zahra—menyebar ke segala arah. Memenuhi seluruh dimensi.
Malik Azhraq meraung kesakitan. Tubuhnya terbakar oleh cahaya. Kulitnya meleleh. Tanduknya patah.
"TIDAAAAKKK! AKU TIDAK BISA KALAH DARI MANUSIA! AKU—"
Tapi cahaya itu tidak berhenti. Terus membakar. Terus membersihkan.
Dimensi daging di sekeliling mereka mulai hancur. Berubah kembali menjadi bangunan pesantren normal. Lalu berubah lagi menjadi reruntuhan.
Dinding-dinding ilusi runtuh. Langit merah kembali menjadi biru. Tanah daging kembali menjadi tanah biasa.
Dan Malik Azhraq—jin yang sudah hidup ratusan tahun, yang pernah mengalahkan puluhan ustadz, yang mengurung Kyai Rizwan dua puluh satu tahun—perlahan memudar.
Tubuhnya menjadi asap hitam. Asap itu terhisap ke dalam sumur.
"Aku... akan... kembali..." suaranya bergema semakin lemah. "Aku... akan..."
Lalu hening.
Malik Azhraq lenyap sepenuhnya.
Zahra jatuh berlutut—tubuhnya kehabisan tenaga. Cahaya putih di tubuhnya padam.
Bu Le langsung menghampiri, menopang tubuh Zahra. "Nak! Zahra!"
"Aku... baik-baik saja, Bu Le," bisik Zahra lemah. "Cuma... lelah."
Gus Azka menatap sekeliling dengan wajah tidak percaya. "Dia... dia berhasil. Mbak Zahra berhasil mengalahkan Malik Azhraq."
Rizwan yang duduk lemah di tanah menatap putrinya dengan mata berkaca-kaca. Bangga. Terharu. Takjub.
"Seperti ibumu," bisiknya. "Kuat. Pemberani. Penuh iman."
Tapi mereka belum sepenuhnya aman.
Dimensi gaib masih belum hilang sepenuhnya. Mereka masih terjebak.
"Kita harus keluar," Azka berkata. "Dimensi ini akan runtuh total dalam waktu dekat. Kalau kita tidak keluar sebelum itu, kita akan terjebak selamanya."
Rizwan mengangguk. "Gunakan sumur. Loncat ke dalam sumur. Itu satu-satunya jalan keluar."
"Loncat ke sumur?!" Bu Le terperanjat. "Tapi di dalamnya gelap gulita!"
"Percaya padaku," Rizwan tersenyum lemah. "Sumur ini adalah portal. Kalau kita loncat dengan niat keluar, kita akan keluar ke dunia nyata."
Zahra menatap sumur yang dalam dan gelap. Menelan ludah.
"Baik," ucapnya dengan suara bergetar. "Kita loncat bersama-sama."
Mereka berempat berdiri di bibir sumur—bergandengan tangan.
Zahra, Bu Le, Azka, dan Rizwan.
"Bismillah," ucap Rizwan.
"Bismillah," mereka mengikuti.
Dan mereka melompat.
Jatuh ke dalam kegelapan sumur yang tidak berdasar.