PESANTREN ANGKER

29. Mimpi Buruk Kolektif

Malam itu, Haji Usman menyiapkan ritual persiapan seperti yang dijanjikan. Di kamar mandi belakang rumah, dia sudah memanaskan air dalam ember-ember besar. Air itu sudah dibacakan Ayat Kursi, Surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas masing-masing seratus kali.

 

"Air ini untuk mandi keramas," ucap Haji Usman sambil menyerahkan ember pertama pada Bu Le. "Niatkan untuk membersihkan diri lahir dan batin. Setelah mandi, pakai pakaian putih bersih. Jangan pakai wangi-wangian apapun."

 

Bu Le menerima ember itu dengan hati-hati. "Baik, Pak Haji. Terima kasih."

 

Setelah mandi bergantian dengan air yang dingin meski sudah dipanaskan—seolah ada sesuatu yang menyerap kehangatannya—mereka berkumpul di ruang tengah rumah Haji Usman.

 

Zahra mengenakan gamis putih polos. Rambutnya yang basah ditutupi kerudung putih. Di tangannya, tergenggam dua tasbih—milik ayahnya dan milik ibunya.

 

Gus Azka mengenakan jubah putih panjang yang diberikan Kyai Taufiq. Wajahnya terlihat serius tapi tenang.

 

Bu Le juga berpakaian serba putih. Di tangannya, tasbih kayu gaharu pemberian Kyai Taufiq terus berputar.

 

"Sekarang," Haji Usman duduk bersila di tengah ruangan, "kita akan membaca wirid bersama. Seribu kali Shalawat Nabi. Kalian ikuti saya."

 

Mereka duduk melingkar. Haji Usman memimpin bacaan dengan suara yang rendah tapi jelas.

 

"Allahumma shalli 'ala sayyidina Muhammad wa 'ala aali sayyidina Muhammad..."

 

Zahra, Azka, dan Bu Le mengikuti. Suara mereka berpadu, bergema lembut di ruangan sederhana itu.

 

Seratus kali.

 

Dua ratus kali.

 

Lima ratus kali.

 

Zahra merasakan tubuhnya semakin ringan. Ada kehangatan yang menyebar dari dadanya ke seluruh tubuh. Seolah ada cahaya yang tumbuh dari dalam.

 

Seribu kali.

 

"Alhamdulillah," Haji Usman membuka mata. "Selesai. Sekarang, kalian tidur. Besok adalah hari yang berat. Kalian butuh istirahat."

 

"Tapi Pak Haji," Zahra berbicara pelan, "kami puasa kan? Bagaimana dengan sahur?"

 

"Tidak perlu sahur," jawab Haji Usman. "Puasa kalian adalah puasa mutlak—tanpa makan minum dari sekarang sampai besok selesai misi. Ini puasa khusus untuk perlindungan spiritual."

 

Gus Azka mengangguk paham. "Seperti puasa Daud?"

 

"Lebih dari itu," Haji Usman menjawab. "Ini puasa pertempuran. Puasa untuk menghadapi musuh yang tidak kasat mata."

 

Mereka berpencar ke kamar masing-masing. Zahra dan Bu Le sekamar. Gus Azka di kamar sebelah.

 

Di kamar yang gelap—hanya diterangi lampu minyak redup—Zahra berbaring di kasur tipis. Bu Le berbaring di sampingnya di atas tikar.

 

"Bu Le," bisik Zahra, "apa Bu Le takut?"

 

Bu Le diam sejenak. "Takut, Nak. Sangat takut. Tapi Bu Le lebih takut kalau membiarkanmu pergi sendirian."

 

Zahra menggenggam tangan Bu Le. "Terima kasih, Bu Le. Untuk semuanya."

 

"Sama-sama, Nak," Bu Le menggenggam balik. "Sekarang coba tidur. Kita butuh tenaga untuk besok."

 

Zahra menutup mata. Berusaha tidur.

 

Tapi beberapa saat kemudian...

 

***

 

Zahra membuka mata—tapi bukan di kamarnya.

 

Dia berdiri di koridor gelap. Koridor yang sangat familiar. Koridor Pesantren Al-Falah.

 

"Tidak," bisiknya. "Bukan sekarang."

 

Dia melirik ke kanan-kiri. Dinding bata merah kusam. Lampu minyak berkedip. Tanah becek di bawah kakinya.

 

"Ini mimpi," ucap Zahra pada diri sendiri. "Ini hanya mimpi."

 

Tapi terasa sangat nyata.

 

Dia berjalan menyusuri koridor, mencari jalan keluar. Tapi koridor itu seperti tidak ada ujungnya.

 

Tiba-tiba, dia mendengar suara.

 

Suara tangisan.

 

Tangisan anak kecil.

 

Zahra berhenti. Menoleh ke belakang—tidak ada siapa-siapa.

 

Tapi tangisan itu semakin keras. Semakin jelas.

 

"Tolong... tolong aku..."

 

Zahra merasakan bulu kuduknya berdiri. Tapi dia tidak bisa membiarkan anak kecil menangis sendirian.

 

Dia berjalan mengikuti suara tangisan itu. Sampai di sebuah pintu kayu tua. Dari balik pintu, tangisan itu terdengar sangat jelas.

 

Dengan tangan gemetar, Zahra membuka pintu itu.

 

Di dalam ruangan gelap, duduk seorang anak perempuan kecil. Rambutnya panjang menutupi wajah. Bajunya compang-camping. Tubuhnya kurus kering.

 

"Hei," panggil Zahra pelan. "Kamu tidak apa-apa?"

 

Anak itu mengangkat kepalanya perlahan.

 

Dan Zahra tercekat.

 

Wajah anak itu... adalah wajahnya sendiri. Wajah Zahra saat masih kecil.

 

"Kenapa kamu datang?" anak itu berbisik dengan suara yang sama persis dengan suara Zahra. "Kenapa kamu tidak mendengarkan pesan ayah?"

 

"Siapa kamu?" Zahra mundur selangkah.

 

"Aku adalah kamu," jawab anak itu sambil berdiri. "Aku adalah bagian dirimu yang takut. Yang ingin lari. Yang tidak ingin mati di sini."

 

Anak itu melangkah mendekat. "Pulanglah. Sebelum terlambat. Malik Azhraq akan membunuhmu. Ayah tidak bisa diselamatkan. Dia sudah mati."

 

"TIDAK!" Zahra berteriak. "Ayah masih hidup! Aku merasakannya!"

 

"Itu hanya harapan kosong," anak itu tersenyum—senyum yang mengerikan. "Kamu akan mati sia-sia. Seperti ayahmu."

 

Tiba-tiba, wajah anak itu berubah. Menjadi wajah mengerikan. Mata merah menyala. Mulut terbuka lebar dengan gigi runcing.

 

"KAMU AKAN MATI DI SINI!"

 

Zahra terbangun dengan tersentak.

 

Napasnya terengah-engah. Keringat membasahi seluruh tubuhnya.

 

Di sampingnya, Bu Le juga terbangun dengan wajah pucat. "Zahra... Nak... kamu juga bermimpi buruk?"

 

Zahra mengangguk. "Bu Le bermimpi apa?"

 

"Bu Le bermimpi..." Bu Le menghapus keringatnya dengan tangan gemetar. "Bu Le melihat kamu mati. Tubuhmu tergeletak di sumur. Darahmu mengalir. Dan Bu Le tidak bisa berbuat apa-apa."

 

Zahra memeluk Bu Le. Mereka berdua gemetar.

 

Tiba-tiba, pintu kamar terbuka. Gus Azka masuk dengan wajah pucat. "Maaf Bu Le, Mbak Zahra... aku juga bermimpi buruk. Mimpi tenggelam di sumur tanpa dasar. Terus ditarik ke bawah oleh tangan-tangan hitam."

 

"Ini bukan mimpi biasa," Bu Le berkata dengan nada serius. "Ini serangan."

 

Haji Usman muncul di pintu dengan membawa lampu minyak. Wajahnya juga pucat. "Kalian semua bermimpi buruk?"

 

Mereka mengangguk.

 

"Saya juga," Haji Usman duduk di tepi kasur. "Saya bermimpi Kyai Rizwan... dia berteriak meminta tolong. Tapi saya tidak bisa menolongnya."

 

Hening mencekam.

 

"Malik Azhraq menyerang kita dalam tidur," Gus Azka berkata dengan nada tegang. "Dia mencoba menakut-nakuti kita. Mencoba membuat kita menyerah sebelum benar-benar masuk."

 

"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Zahra.

 

Haji Usman berdiri. "Kita shalat malam. Bersama-sama. Sampai Subuh. Jangan tidur lagi. Malik Azhraq hanya bisa menyerang saat kita tidur."

 

Mereka semua keluar dari kamar, berkumpul di ruang tengah. Menyalakan lampu-lampu minyak. Lalu shalat Tahajud bersama.

 

Setelah shalat, mereka duduk melingkar. Membaca Al-Quran bergantian. Membaca dzikir bersama. Membaca Yasin.

 

Suara bacaan mereka bergema di rumah sederhana itu—seperti benteng spiritual yang melindungi mereka dari serangan gaib.

 

Zahra merasakan ketenangan perlahan kembali. Ketakutan dari mimpi buruk tadi mulai memudar.

 

"Allahumma inni a'udzu bika min 'adzaabil-qabr, wa a'udzu bika min fitnatil-masihid-dajjal, wa a'udzu bika min fitnatil-mahya wal-mamat..."

 

Bu Le membaca doa dengan suara lembut tapi penuh keyakinan.

 

Gus Azka membaca Ayat Kursi dengan tartil yang sempurna.

 

Haji Usman membaca Surat Ar-Rahman—suara tuanya bergetar tapi penuh keikhlasan.

 

Dan perlahan, malam berlalu.

 

Suara adzan Subuh terdengar dari masjid kecil di desa.

 

Mereka semua berdiri, mengambil wudhu, lalu shalat Subuh berjamaah di ruang tengah.

 

Setelah shalat, Haji Usman menatap mereka bertiga dengan serius.

 

"Hari ini," ucapnya dengan nada berat, "kalian akan masuk ke Pesantren Al-Falah. Ini mungkin hari terakhir kita bertemu."

 

"Jangan bilang begitu, Pak Haji," Bu Le menggeleng. "Insya Allah kami akan kembali."

 

"Amin," Haji Usman tersenyum sedih. "Tapi kalau memang kalian tidak kembali... saya akan ceritakan pada dunia. Tentang keberanian kalian. Tentang pengorbanan kalian."

 

Zahra berdiri, menghadap Haji Usman dengan tatapan penuh tekad.

 

"Pak Haji," ucapnya mantap, "tolong jangan ceritakan tentang kami. Tolong ceritakan tentang ayah saya. Tentang Kyai Rizwan yang berkorban menyelamatkan tujuh santri. Tentang seorang ayah yang rela terkurung dua puluh satu tahun demi melindungi dunia dari kegelapan."

 

Haji Usman terharu. Air matanya jatuh. "Baik, Nak. Saya janji."

 

Pagi itu, setelah matahari terbit, mereka bersiap.

 

Zahra mengenakan jubah putih berlambang kaligrafi pelindung. Di lehernya, tergantung dua tasbih yang disatukan. Di pinggangnya, tas kecil berisi air zam-zam dan minyak zaitun yang sudah diruqyah.

 

Gus Azka mengenakan jubah putihnya juga. Di tangannya, Al-Quran saku dan pisau besi yang sudah dibacakan ayat.

 

Bu Le membawa tas berisi perbekalan tambahan—kain kafan putih (berjaga-jaga untuk yang terburuk), dan botol air zam-zam cadangan.

 

"Sudah siap?" tanya Haji Usman dengan suara bergetar.

 

Zahra mengangguk. "Insya Allah."

 

Mereka berjalan keluar rumah. Matahari pagi menyinari desa yang sepi. Angin pagi bertiup lembut—tapi terasa dingin.

 

Haji Usman mengantarkan mereka sampai ke jalan setapak menuju Pesantren Al-Falah.

 

"Sampai di sini saja saya antar," ucapnya. "Selebihnya, kalian harus berjalan sendiri. Saya sudah tua. Tidak sanggup lagi menghadapi kekuatan gaib sekuat itu."

 

"Terima kasih, Pak Haji," Zahra mencium tangan Haji Usman. "Untuk semuanya."

 

Haji Usman memeluk Zahra dengan erat. "Selamat jalan, Nak. Semoga Allah melindungimu. Semoga kamu berhasil membawa ayahmu pulang."

 

Gus Azka dan Bu Le juga berpamitan.

 

Lalu mereka bertiga berjalan menyusuri jalan setapak—menuju Pesantren Al-Falah yang berdiri menakutkan di kejauhan.

 

Haji Usman berdiri di tempatnya, menatap punggung mereka yang semakin menjauh.

 

Air matanya mengalir deras.

 

"Ya Allah," bisiknya sambil mengangkat tangan berdoa, "lindungilah mereka. Kuatkanlah mereka. Dan kembalikanlah mereka dengan selamat. Amin ya Rabbal 'alamin."

 

Di kejauhan, Pesantren Al-Falah seolah menunggu dengan sabar.

 

Gerbang setengah terbuka.

 

Kabut hitam bergerak-gerak perlahan.

 

Dan di dalam dimensi gaib, Malik Azhraq tersenyum lebar.

 

"Selamat datang," bisiknya. "Akhirnya... kamu datang juga, anak Rizwan."

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!