PESANTREN ANGKER
27. Desa yang Terlupakan
Bus antarkota itu melaju perlahan di jalan berlubang. Sudah hampir dua jam sejak mereka turun dari pelabuhan Bakauheni. Pemandangan di luar jendela berubah—dari kota ramai menjadi perkebunan sawit yang luas, lalu hutan lebat, hingga akhirnya desa-desa kecil yang berjauhan.
Zahra menatap keluar jendela dengan gelisah. Semakin jauh mereka masuk ke pedalaman, semakin sedikit tanda-tanda kehidupan. Rumah-rumah terlihat tua dan tidak terawat. Jalan semakin sepi.
"Gus," panggil Zahra pelan, "kenapa rasanya... aneh ya?"
Gus Azka yang duduk di depan menoleh. "Aneh bagaimana?"
"Sepi. Terlalu sepi," jawab Zahra sambil menatap desa yang mereka lewati. "Tidak ada anak-anak bermain. Tidak ada orang di jalan. Seperti... desa hantu."
Bu Le yang duduk di samping Zahra ikut menatap keluar. "Bu Le juga merasakan hal yang sama. Ada yang tidak beres di sini."
Gus Azka melirik sopir bus—seorang lelaki paruh baya dengan wajah lelah. "Pak, maaf. Apa memang daerah sini sepi seperti ini?"
Sopir itu melirik lewat kaca spion. "Oh, Mas baru pertama kali ke sini ya? Iya, daerah sini memang sepi. Penduduknya banyak yang pindah."
"Pindah? Kenapa?" tanya Azka.
Sopir itu terdiam sejenak. Seperti ragu menjawab. "Banyak yang sakit. Banyak yang... meninggal. Terutama di desa dekat bekas pesantren tua itu."
Zahra dan Bu Le saling berpandangan.
"Pesantren Al-Falah?" tanya Zahra dengan hati-hati.
Sopir itu mengangguk pelan. Wajahnya terlihat ketakutan. "Jangan sebut namanya sembarangan, Mbak. Tempat itu... tidak baik. Sudah dua puluh tahun lebih ditutup. Tapi masih saja ada kejadian aneh. Orang yang nekat masuk, tidak ada yang kembali."
"Tidak ada yang kembali sama sekali?" Bu Le bertanya.
"Ada sih," jawab sopir dengan nada rendah. "Tapi pulangnya... gila. Atau sakit parah. Kadang cuma bertahan beberapa hari, terus meninggal."
Hening mencekam.
"Kalau boleh tahu," Azka bertanya lagi, "Mas-mas tadi mau ke mana? Kalau mau ke desa dekat situ, saya sarankan jangan. Bahaya."
"Kami harus ke sana," jawab Azka mantap. "Ada urusan penting."
Sopir menatap Azka lewat kaca spion dengan tatapan prihatin. "Kalau begitu, saya doakan selamat ya, Mas. Semoga Tuhan melindungi."
***
Bus berhenti di sebuah pertigaan jalan tanah. Tidak ada halte. Tidak ada papan nama. Hanya jalan setapak yang menuju ke dalam hutan.
"Ini dia," ucap sopir sambil membuka pintu. "Jalan ini nanti akan sampai ke Desa Sukamakmur. Di sana ada rumah Pak Haji Usman—orang yang paling tua di desa itu. Beliau yang paling tahu tentang pesantren tua itu."
Zahra, Azka, dan Bu Le turun dari bus dengan tas masing-masing.
"Terima kasih, Pak," ucap Azka sambil membayar ongkos.
Sopir menerima uang itu, lalu menatap mereka bertiga dengan tatapan serius. "Saya pesan sekali lagi—hati-hati. Jangan keluar rumah kalau sudah magrib. Jangan dekati pesantren tua itu kalau tidak terpaksa."
"Insya Allah, Pak. Terima kasih," jawab Bu Le.
Bus itu melaju pergi, meninggalkan mereka bertiga di tengah jalan sunyi.
Zahra menatap jalan setapak yang gelap meski matahari masih tinggi—karena tertutup oleh kanopi pohon yang rapat.
"Ayo," Azka memimpin. "Kita jalan kaki dari sini."
Mereka berjalan menyusuri jalan setapak. Suara langkah kaki mereka di tanah berdebu terdengar keras di tengah kesunyian. Tidak ada suara burung. Tidak ada suara serangga. Hanya angin yang sesekali bertiup, menggerakkan daun-daun kering.
Setelah berjalan sekitar dua puluh menit, mereka sampai di sebuah desa kecil.
Desa Sukamakmur.
Tapi tidak ada yang "makmur" dari desa ini.
Rumah-rumah kayu yang sebagian sudah runtuh. Cat tembok yang mengelupas. Halaman berumput liar tinggi. Di sana-sini, ada rumah yang pintunya terbuka lebar—kosong, tidak berpenghuni.
"Ya Allah," bisik Bu Le sambil menatap sekeliling. "Desa ini seperti baru ditinggalkan."
Mereka berjalan melewati rumah-rumah kosong itu. Sesekali, Zahra melihat wajah-wajah dari balik jendela—penduduk desa yang menatap mereka dengan tatapan curiga dan takut. Tapi begitu Zahra menatap balik, mereka langsung menutup jendela.
"Mereka takut," bisik Azka. "Takut pada pendatang. Atau mungkin... takut kita membawa masalah."
Di ujung desa, mereka menemukan sebuah rumah yang lebih besar dari rumah lainnya. Rumah kayu dua lantai dengan teras luas. Di halaman depan, ada papan nama kecil: "Kediaman Haji Usman bin Ahmad."
Gus Azka mengetuk pintu dengan hati-hati.
Tidak ada jawaban.
Dia mengetuk lagi. "Assalamualaikum. Pak Haji Usman?"
Masih tidak ada jawaban.
Tapi tiba-tiba, pintu terbuka sedikit. Dari celah pintu, muncul wajah lelaki tua berjenggot putih panjang. Matanya tajam, menatap mereka dengan waspada.
"Siapa kalian?" tanyanya dengan suara serak.
"Assalamualaikum, Pak Haji," Azka menjawab dengan sopan. "Kami dikirim oleh Kyai Taufiq dari Pesantren Al-Hikmah. Beliau bilang kami bisa menginap di rumah Bapak."
Mata lelaki tua itu melebar. "Kyai Taufiq? Taufiq bin Abdullah?"
"Betul, Pak Haji," jawab Azka sambil mengeluarkan surat dari Kyai Taufiq.
Haji Usman membuka pintu lebih lebar, mengambil surat itu dengan tangan gemetar. Dia membacanya dengan seksama. Lalu menatap mereka bertiga dengan tatapan yang berubah—dari curiga menjadi terharu.
"Subhanallah," bisiknya. "Taufiq masih ingat saya."
Dia membuka pintu lebar-lebar. "Masuk. Silakan masuk."
Mereka masuk ke dalam rumah yang sederhana tapi bersih. Ada kursi kayu tua di ruang tamu, Al-Quran besar di atas meja, dan bau kemenyan samar di udara.
"Duduk, duduk," Haji Usman mempersilakan mereka dengan ramah. "Maaf rumahnya sederhana. Sudah lama tidak ada tamu."
"Terima kasih, Pak Haji," Bu Le tersenyum. "Kami tidak keberatan."
Haji Usman duduk di kursi kayunya, menatap mereka bertiga dengan tatapan ingin tahu. "Kenapa Kyai Taufiq mengirim kalian ke sini? Tempat ini... bukan tempat yang baik untuk dikunjungi."
Gus Azka menarik napas dalam. "Pak Haji, kami datang untuk... Pesantren Al-Falah."
Wajah Haji Usman langsung berubah. Pucat. Ketakutan. "Al-Falah? Kenapa? Kenapa kalian mau ke sana?"
Zahra maju selangkah. "Pak Haji, ayah saya... Kyai Rizwan bin Ahmad... dia menghilang di pesantren itu dua puluh satu tahun lalu. Saya datang untuk menyelamatkannya."
Haji Usman tercekat. Tangannya gemetar. "Rizwan? Kyai Rizwan yang... yang membantu santri-santri kesurupan waktu itu?"
Zahra mengangguk. "Bapak kenal ayah saya?"
Haji Usman menutup wajahnya dengan tangan. Air matanya jatuh. "Kenal. Tentu saja kenal. Dia adalah pahlawan desa ini. Dia yang menyelamatkan tujuh santri dari kesurupan massal. Dia yang mengusir jin jahat dari pesantren itu."
Dia mengangkat wajahnya, menatap Zahra dengan tatapan penuh penyesalan. "Tapi dia tidak pernah keluar dari sana. Kami mencarinya berhari-hari. Tapi tidak ada jejak. Seolah dia... lenyap begitu saja."
"Dia tidak lenyap, Pak Haji," Zahra berkata dengan suara bergetar. "Dia terkurung. Di dimensi gaib."
Haji Usman menatap Zahra dengan terkejut. "Kamu... kamu tahu?"
"Saya tahu," jawab Zahra mantap. "Dan saya akan menyelamatkannya."
Haji Usman menggeleng pelan. "Nak, kamu tidak tahu betapa bahayanya tempat itu. Sudah banyak yang mencoba masuk. Ustadz-ustadz dari berbagai pesantren. Paranormal. Bahkan polisi. Tidak ada yang berhasil."
"Saya harus mencoba," Zahra bersikeras.
Haji Usman menatap Zahra lama. Lalu dia tersenyum sedih. "Kamu seperti ayahmu. Keras kepala. Tapi penuh keberanian."
Dia berdiri dengan susah payah, berjalan ke lemari tua di sudut ruangan. Membuka laci, lalu mengeluarkan sebuah buku catatan kecil bersampul coklat.
"Ini," ucapnya sambil menyerahkan buku itu pada Zahra, "catatan ayahmu. Dia meninggalkannya di sini sebelum masuk ke pesantren. Dia bilang, kalau dia tidak kembali, buku ini harus diberikan pada keluarganya."
Zahra menerima buku itu dengan tangan gemetar. Membuka halaman pertama—tulisan tangan ayahnya. Sama seperti buku catatan yang diberikan Kyai Taufiq.
Tapi halaman-halaman berikutnya berisi sketsa detail Pesantren Al-Falah. Denah bangunan. Lokasi sumur. Jalur masuk. Dan yang paling penting—cara membuka segel dimensi gaib.
"Ya Allah," bisik Zahra. "Ini... ini yang kami butuhkan."
Bu Le mengintip dari samping. "Ayahmu sudah menyiapkan semuanya, Nak. Dia tahu kamu akan datang."
Gus Azka membaca catatan itu dengan serius. "Ini sangat detail. Dengan ini, kita bisa masuk dengan lebih aman."
Haji Usman duduk kembali dengan wajah lelah. "Kalau kalian memang harus pergi, pergilah besok siang. Jangan malam. Apalagi saat bulan purnama."
"Bulan purnama kapan, Pak Haji?" tanya Azka.
"Dua hari lagi," jawab Haji Usman dengan nada berat. "Dan percayalah, kalian tidak ingin berada di dekat pesantren itu saat bulan purnama. Itulah saat mereka... paling kuat."
Zahra, Azka, dan Bu Le saling berpandangan.
Dua hari. Mereka hanya punya waktu dua hari.
"Pak Haji," Zahra bertanya pelan, "apa yang sebenarnya terjadi di pesantren itu? Kenapa begitu berbahaya?"
Haji Usman menatap Zahra dengan tatapan gelap. "Karena itu bukan sekadar pesantren, Nak. Itu adalah penjara. Penjara untuk sesuatu yang seharusnya tidak pernah dilepaskan."
Dia menghela napas panjang. "Dan ayahmu... dia menjadi kunci penjara itu. Dengan tubuhnya sendiri."
Zahra merasakan dadanya sesak.
"Sekarang," Haji Usman berdiri, "kalian pasti lelah. Istirahat dulu. Nanti malam kita bicara lagi. Saya akan ceritakan semua yang saya tahu tentang Pesantren Al-Falah."
Malam itu, Zahra tidak bisa tidur.
Dari jendela kamarnya, dia bisa melihat siluet gelap di kejauhan—atap-atap runtuh Pesantren Al-Falah yang berdiri menakutkan di bawah cahaya rembulan.
*Ayah ada di sana. Menunggu. Menderita.*
Zahra menggenggam dua tasbih di tangannya.
*Aku datang, Ayah. Bertahanlah sedikit lagi.*