PESANTREN ANGKER

24. Kunjungan Baru

Tiga hari berlalu sejak serangan di dimensi gaib. Zahra menghabiskan waktu dengan istirahat total seperti perintah Kyai Taufiq. Setiap pagi, Gus Azka melakukan ruqyah ringan untuk memastikan tidak ada energi gelap yang menempel. Bu Le menemaninya berdzikir berjam-jam. Dan setiap malam, Zahra tidur dengan tenang—tidak ada gangguan lagi.

 

Tubuh spiritualnya pulih perlahan. Zahra bisa merasakan energinya kembali, bahkan lebih kuat dari sebelumnya.

 

Pagi itu, saat Zahra sedang duduk di teras belakang pesantren sambil membaca Al-Quran, Bu Le datang dengan wajah yang sulit dibaca—antara senang dan khawatir.

 

"Nak," panggil Bu Le pelan. "Ada yang datang menemuimu."

 

Zahra mengangkat kepala. "Siapa, Bu Le?"

 

"Ibumu," jawab Bu Le. "Ibu Khadijah datang."

 

Jantung Zahra langsung berdebar kencang. Ibunya? Kenapa tiba-tiba datang?

 

Zahra berdiri dengan tergesa-gesa, hampir menjatuhkan Al-Quran di pangkuannya. Dia berlari ke ruang tamu—dan berhenti di ambang pintu.

 

Di sana, duduk seorang wanita berkerudung coklat tua dengan wajah lelah dan mata sembab. Khadijah. Ibunya.

 

"Ibu!" Zahra berlari, memeluk ibunya erat.

 

Khadijah langsung menangis. Memeluk putrinya dengan erat seolah tidak mau melepaskan. "Zahra... anakku..."

 

Mereka berdua menangis dalam pelukan. Bu Le yang berdiri di pintu ikut menghapus air matanya.

 

"Kenapa Ibu datang? Kenapa tidak kabari dulu?" tanya Zahra di sela tangisnya.

 

"Ibu... Ibu dengar dari Aisyah," Khadijah menarik napas tersendat. "Dia bilang kamu ke sini untuk belajar ruqyah. Ibu tidak percaya. Lalu Ibu telpon Kyai Taufiq. Dan beliau... beliau bilang yang sebenarnya."

 

Khadijah melepaskan pelukan, menatap wajah Zahra dengan mata penuh air mata. "Kamu mau ke Pesantren Al-Falah? Kamu mau menyelamatkan ayahmu?"

 

Zahra mengangguk pelan. "Iya, Bu. Saya harus—"

 

"TIDAK!" Khadijah menggeleng keras. Air matanya mengalir deras. "Tidak, Zahra! Ibu tidak akan membiarkan kamu pergi ke sana! Tempat itu berbahaya! Ibu sudah kehilangan ayahmu, Ibu tidak mau kehilangan kamu juga!"

 

"Tapi, Bu—"

 

"Ayahmu sudah hilang dua puluh satu tahun!" Khadijah berteriak dengan suara pecah. "Dia mungkin sudah... sudah tidak ada lagi, Zahra! Ibu tidak mau kamu mempertaruhkan nyawamu untuk sesuatu yang tidak pasti!"

 

Zahra merasakan dadanya sesak. Tapi dia tidak bisa menyerah.

 

"Ayah masih hidup, Bu," ucap Zahra dengan suara bergetar tapi tegas. "Saya tahu. Saya merasakannya. Ayah terkurung di sana. Menderita. Dan hanya saya yang bisa menyelamatkannya."

 

"Zahra, dengarkan Ibu—"

 

"Ibu yang dengarkan saya," potong Zahra dengan nada lebih keras. "Selama ini Ibu hidup dalam rasa bersalah. Merasa Ibu yang menyebabkan ayah pergi. Tapi ini bukan salah Ibu. Ini takdir."

 

Khadijah terdiam. Air matanya terus mengalir.

 

"Dan sekarang," lanjut Zahra sambil menggenggam tangan ibunya erat, "Ibu punya kesempatan untuk membebaskan ayah. Lewat saya. Tolong... izinkan saya pergi."

 

Khadijah menggeleng. "Ibu takut, Nak. Ibu sangat takut."

 

"Saya juga takut, Bu," Zahra tersenyum tipis meski air matanya jatuh. "Tapi saya tidak sendirian. Gus Azka akan menemani saya. Bu Le juga. Dan yang paling penting... Allah bersama saya."

 

Bu Le yang berdiri di pintu melangkah masuk. Dia duduk di samping Khadijah, menggenggam tangannya.

 

"Khadijah," panggil Bu Le lembut. "Bu Le tahu kamu sangat khawatir. Tapi percayalah, Zahra sudah sangat kuat. Dia bukan lagi anak kecil yang dulu. Dia sudah belajar banyak. Dan Bu Le janji, Bu Le akan menjaganya dengan nyawa Bu Le."

 

Khadijah menatap Bu Le dengan mata berkaca-kaca. "Tapi Halimah... kamu tahu sendiri betapa bahayanya Malik Azhraq. Bahkan Rizwan yang sangat kuat pun tidak bisa mengalahkannya."

 

"Karena itu Zahra harus pergi," jawab Bu Le. "Rizwan gagal karena dia sendirian. Tapi Zahra tidak sendirian. Dia punya kita semua."

 

Hening sejenak.

 

Khadijah menutup wajahnya dengan kedua tangan. Menangis tersedu-sedu.

 

Zahra memeluk ibunya lagi. "Ibu, tolong percaya pada saya. Saya janji akan kembali. Saya janji akan membawa ayah pulang."

 

Khadijah mengangkat wajahnya. Menatap mata Zahra lama. Sangat lama.

 

Lalu perlahan, dia mengangguk. "Baiklah," bisiknya dengan suara hampir tidak terdengar. "Pergilah. Tapi kamu harus janji pada Ibu."

 

"Janji apa, Bu?"

 

"Kamu harus kembali," Khadijah menggenggam wajah Zahra dengan kedua tangannya. "Hidup atau mati, kamu harus kembali. Ibu tidak sanggup menunggu dua puluh tahun lagi seperti menunggu ayahmu."

 

Zahra mengangguk dengan air mata mengalir. "Saya janji, Bu. Insya Allah, saya akan kembali."

 

Khadijah menarik napas dalam. Lalu mengeluarkan sesuatu dari tas kain yang dibawanya.

 

Sebuah gelang tasbih kayu gaharu dengan butiran yang lebih kecil dari tasbih Kyai Rizwan. Warnanya coklat tua kehitaman, mengkilap halus karena sering dipegang.

 

"Ini," Khadijah menyerahkan gelang itu pada Zahra, "gelang tasbih milik Ibu. Ayahmu yang memberikan saat kami menikah. Dia bilang, tasbih ini dan tasbih miliknya adalah sepasang."

 

Zahra menerima gelang itu dengan tangan gemetar. Gelang itu terasa hangat di tangannya.

 

"Ayahmu dulu bilang," lanjut Khadijah dengan suara bergetar, "kalau kedua tasbih ini disatukan, akan ada kekuatan pelindung yang sangat besar. Karena keduanya dibacakan ayat yang sama oleh guru ayahmu—Kyai Taufiq."

 

Bu Le yang mendengar itu langsung paham. "Kedua tasbih itu... adalah kunci."

 

"Kunci?" Zahra menatap Bu Le bingung.

 

"Kunci untuk membuka segel dimensi gaib," Bu Le menjelaskan. "Ayahmu pasti sudah merencanakan ini sejak dulu. Dia tahu suatu saat Zahra akan membutuhkannya."

 

Zahra menatap dua tasbih di tangannya—tasbih ayahnya yang berbentuk untaian panjang, dan tasbih ibunya yang berbentuk gelang. Saat kedua tasbih itu berdekatan, mereka bersinar putih samar.

 

"Subhanallah," bisik Zahra.

 

Khadijah menggenggam tangan Zahra erat. "Zahra, Ibu tidak bisa ikut bersamamu. Tapi doa Ibu akan selalu menyertaimu. Dan tasbih ini... anggap sebagai pelukan Ibu yang selalu melindungimu."

 

Zahra memeluk ibunya menangis. "Terima kasih, Bu. Terima kasih sudah memberikan restu."

 

Mereka berdua menangis dalam pelukan. Bu Le ikut menangis sambil membaca doa dalam hati.

 

***

 

Siang itu, setelah shalat Dzuhur, Khadijah duduk di taman belakang pesantren bersama Bu Le. Mereka berdua diam lama, menatap santri-santri yang bermain di kejauhan.

 

"Halimah," panggil Khadijah pelan. "Apa Zahra benar-benar bisa menyelamatkan Rizwan?"

 

Bu Le terdiam sejenak. "Wallahu a'lam, Khadijah. Tapi Bu Le percaya, kalau Allah menghendaki, tidak ada yang mustahil."

 

"Aku takut kehilangan mereka berdua," bisik Khadijah. "Aku tidak tahu harus bagaimana kalau Zahra tidak kembali."

 

Bu Le menggenggam tangan Khadijah. "Zahra akan kembali. Bu Le yakin. Dia anak yang sangat kuat. Lebih kuat dari kita berdua."

 

Khadijah tersenyum tipis meski air matanya jatuh. "Dia seperti ayahnya. Keras kepala. Tapi penuh kasih sayang."

 

"Betul," Bu Le mengangguk. "Dan seperti ayahnya, dia rela berkorban untuk orang yang dicintainya."

 

Mereka berdua terdiam lagi.

 

Di kejauhan, Zahra berjalan bersama Gus Azka. Mereka berbicara tentang sesuatu—mungkin tentang rencana perjalanan ke Pesantren Al-Falah.

 

"Halimah," Khadijah menatap Bu Le serius, "tolong jaga anakku. Jangan biarkan dia sendirian."

 

"Insya Allah," jawab Bu Le mantap. "Bu Le akan menjaga Zahra seperti anak sendiri. Bahkan kalau harus mengorbankan nyawa, Bu Le akan melindunginya."

 

Khadijah mengangguk. Air matanya jatuh lagi.

 

***

 

Sore itu, saat matahari mulai condong ke barat, Khadijah bersiap pulang. Zahra mengantarnya sampai ke halaman depan pesantren.

 

"Ibu harus pergi sekarang," ucap Khadijah sambil memeluk Zahra untuk terakhir kalinya. "Kyai Syamsul masih di rumah sakit. Ibu harus menjaganya."

 

"Bagaimana keadaan Ayah Syamsul, Bu?" tanya Zahra.

 

"Masih koma," jawab Khadijah dengan sedih. "Tapi dokter bilang kondisinya stabil. Mereka berharap dia bisa sadar dalam waktu dekat."

 

"Insya Allah, kalau saya berhasil menyelamatkan ayah kandung, Ayah Syamsul juga akan pulih," ucap Zahra penuh keyakinan.

 

Khadijah menatap putrinya dengan mata berkaca-kaca. "Ibu percaya padamu, Nak. Ibu doakan kamu selalu."

 

Mereka berpelukan lama. Sangat lama.

 

Lalu Khadijah naik ke mobil travel yang sudah menunggu. Saat mobil mulai berjalan, Khadijah melambaikan tangan dari jendela.

 

Zahra membalas lambaian itu. Air matanya mengalir.

 

Bu Le berdiri di sampingnya, merangkul bahunya dengan lembut. "Ibu yang hebat," bisik Bu Le. "Dia merelakan anaknya pergi ke tempat berbahaya demi menyelamatkan orang yang dicintainya."

 

Zahra mengangguk. "Saya tidak boleh mengecewakan Ibu. Saya harus berhasil."

 

"Kamu akan berhasil, Nak," Bu Le menggenggam tangan Zahra. "Bu Le yakin."

 

Mereka berdua berdiri di sana sampai mobil menghilang di tikungan jalan.

 

Dan saat malam tiba, Zahra duduk sendirian di kamarnya. Dia memegang dua tasbih—milik ayahnya dan milik ibunya.

 

Saat kedua tasbih itu disatukan, cahaya putih lembut memancar. Hangat. Menenangkan.

 

"Ayah, Ibu," bisik Zahra. "Terima kasih sudah memberikan kekuatan pada saya. Saya tidak akan menyia-nyiakannya."

 

Dia menutup mata. Berdoa panjang.

 

Dan di luar jendela, bulan purnama bersinar terang.

 

Waktu semakin dekat.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!