PESANTREN ANGKER

23. Ujian Pertama

Tiga hari telah berlalu sejak Zahra membaca catatan ayahnya. Setiap hari, latihannya semakin berat. Gus Azka mengajarkan teknik ruqyah tingkat lanjut—bacaan-bacaan khusus untuk melumpuhkan jin kuat, cara membentuk tameng spiritual, dan teknik serangan menggunakan energi cahaya.

 

Bu Le melatih kekuatan mental Zahra dengan puasa sunnah Senin-Kamis dan wirid ribuan kali setiap hari. Kyai Taufiq mengajarkan cara membaca "jejak gaib"—melihat bekas keberadaan jin meski jin itu sudah pergi.

 

Zahra menyerap semua ilmu itu seperti spons. Kemampuannya berkembang pesat—terlalu pesat, bahkan.

 

"Mbak Zahra belajar terlalu cepat," Gus Azka berbisik pada Bu Le suatu sore setelah latihan. "Ini... tidak normal."

 

Bu Le menatap Zahra yang sedang berwudhu di kejauhan. "Kemampuannya memang luar biasa sejak lahir. Cuma ditutup selama ini. Sekarang pintu itu terbuka, semuanya mengalir keluar."

 

"Tapi aku khawatir," Azka menggeleng. "Kekuatan sebesar ini tanpa kontrol yang sempurna bisa berbahaya. Bisa melukai dirinya sendiri."

 

"Kita awasi terus," Bu Le mengangguk. "Jangan sampai dia memaksakan diri."

 

Tapi kekhawatiran mereka terbukti terlambat.

 

***

 

Malam itu, Zahra terbangun dalam gelap.

 

Bukan terbangun karena suara atau sentuhan. Tapi karena... perasaan.

 

Perasaan aneh bahwa ada sesuatu yang salah.

 

Dia duduk di tempat tidur. Melirik ke samping—Bu Le tidak ada. Tikar tempat Bu Le biasa tidur kosong.

 

"Bu Le?" panggil Zahra pelan.

 

Tidak ada jawaban.

 

Zahra turun dari tempat tidur. Kakinya menginjak lantai—tapi yang dirasakannya bukan keramik dingin. Melainkan... tanah?

 

Dia menatap ke bawah.

 

Lantai kamarnya berubah menjadi tanah becek kehitaman. Seperti lumpur.

 

Jantung Zahra langsung berdebar kencang. Dia mengangkat kepala—dan tercekat.

 

Ini bukan kamarnya lagi.

 

Dia berdiri di koridor gelap. Koridor panjang dengan dinding bata merah kusam. Lampu-lampu minyak tua tergantung di dinding, nyalanya redup berkedip-kedip. Udara dingin dan lembab. Bau tanah basah dan sesuatu yang membusuk menyeruak ke hidungnya.

 

"Di mana ini?" bisik Zahra dengan suara bergetar.

 

Dia mencoba mengingat-ingat. Tadi dia tidur di kamar. Bu Le ada di sampingnya. Lalu...

 

Tiba-tiba dia paham.

 

*Ini dimensi gaib. Aku ditarik masuk saat tidur.*

 

Zahra menarik napas dalam. Berusaha tenang. Dia ingat ajaran Gus Azka: *"Kalau terjebak di dimensi gaib, jangan panik. Tenangkan diri. Baca doa perlindungan. Cari jalan keluar."*

 

Zahra mengangkat tangannya—mencari tasbih ayahnya yang biasanya dia pegang saat tidur.

 

Tidak ada.

 

Tasbih itu tidak ikut. Hanya tubuh spiritualnya yang masuk ke dimensi ini.

 

"Ya Allah," bisik Zahra sambil menutup mata. "Lindungi hamba-Mu. Tunjukkan jalan keluar."

 

Dia membuka mata—dan melihat cahaya redup di ujung koridor.

 

Tanpa pilihan lain, Zahra melangkah menyusuri koridor. Setiap langkahnya berbunyi lengket di tanah becek. Jantungnya berdetak keras. Napasnya tercekat.

 

Di dinding kanan-kiri, ada pintu-pintu kayu tua. Semua tertutup. Tapi dari balik pintu-pintu itu, terdengar suara-suara.

 

Tangisan.

 

Jeritan.

 

Tawa mengerikan.

 

Zahra mempercepat langkahnya. Tangannya terkepal. Bibirnya bergetar membaca Ayat Kursi dalam hati.

 

Tiba-tiba—

 

BRAK!

 

Salah satu pintu terbuka.

 

Dari dalam, keluar sosok berjubah hitam lusuh. Tinggi. Kurus kering. Kepala tertunduk. Rambutnya panjang kusut menutupi wajah.

 

Sosok itu berhenti tepat di hadapan Zahra.

 

Lalu perlahan mengangkat kepalanya.

 

Zahra ingin berteriak—tapi suaranya hilang.

 

Wajah sosok itu... tidak ada. Hanya kulit pucat mulus tanpa mata, tanpa hidung, tanpa mulut. Kosong.

 

Tapi tiba-tiba, kulit wajah itu robek dari dalam. Mulut terbentuk—mulut lebar dengan gigi-gigi hitam runcing.

 

"Anak Rizwan..." suara serak keluar dari mulut tanpa bibir itu.

 

Zahra mundur selangkah. Tangannya gemetar.

 

"Kamu... tidak... akan... keluar..." sosok itu berbisik dengan suara yang membuat bulu kuduk berdiri.

 

Lalu sosok itu melompat ke arah Zahra.

 

"ALLAHU AKBAR!" Zahra berteriak dengan seluruh jiwa.

 

Cahaya putih meledak dari tubuhnya—sosok itu terlempar ke belakang, menabrak dinding, lalu meledak menjadi asap hitam.

 

Zahra tidak menunggu. Dia langsung berlari.

 

Berlari sekuat tenaga menuju cahaya di ujung koridor.

 

Tapi koridor itu tidak ada ujungnya. Semakin dia berlari, semakin panjang koridor itu.

 

Dan dari pintu-pintu di kanan-kiri, sosok-sosok hitam mulai keluar. Puluhan. Ratusan. Semuanya sama—berjubah hitam, wajah tanpa rupa.

 

Mereka berjalan mendekat. Perlahan. Tapi pasti.

 

Zahra berhenti. Napasnya terengah-engah. Dia terkepung.

 

"Ya Allah..." bisiknya. "Tolong hamba-Mu..."

 

Sosok-sosok itu semakin dekat. Tangan-tangan panjang kurus mereka terangkat. Jari-jari lancip seperti cakar.

 

Zahra menutup mata. Mengingat semua yang diajarkan padanya.

 

*Kekuatanmu bukan dari dirimu sendiri. Tapi dari Allah. Yakin pada-Nya. Dan kamu akan dilindungi.*

 

Zahra membuka mata. Matanya bersinar putih samar.

 

Dia mengangkat kedua tangannya. Membaca dengan suara keras dan penuh keyakinan:

 

"BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM! ALLAHU LAA ILAAHA ILLAA HUW, AL-HAYYUL-QAYYUUM!"

 

Cahaya putih meledak dari tubuhnya. Menyebar ke segala arah. Seperti gelombang.

 

Sosok-sosok hitam itu meraung kesakitan. Tubuh mereka terbakar oleh cahaya. Satu per satu meledak menjadi asap.

 

"LAA TA'KHUZUHUU SINATUW WA LAA NAWM! LAHUU MAA FIS-SAMAAWAATI WA MAA FIL ARDH!"

 

Cahaya semakin terang. Semakin kuat.

 

Koridor mulai retak. Dinding-dinding runtuh. Langit-langit pecah.

 

"MAN DZAL-LADZII YASYFA'U 'INDAHUU ILLAA BI-IDZNIH!"

 

Seluruh dimensi gaib itu mulai hancur.

 

Dan tiba-tiba—

 

***

 

Zahra terbangun dengan tersentak. Tubuhnya basah kuyup oleh keringat. Napasnya terengah-engah hebat.

 

Dia menatap sekeliling—kamarnya. Kamar di Pesantren Al-Hikmah. Nyata.

 

Di sampingnya, Bu Le langsung bangun dengan wajah panik. "Zahra! Nak!"

 

Bu Le langsung memeluk Zahra erat. "Ya Allah, alhamdulillah kamu sadar. Kamu sudah tidak sadarkan diri hampir sejam!"

 

"S-sejam?" Zahra tercekat.

 

Pintu kamar terbuka. Gus Azka dan Kyai Taufiq masuk dengan tergesa-gesa.

 

"Mbak Zahra!" Azka menghampiri dengan wajah cemas. "Alhamdulillah..."

 

Kyai Taufiq duduk di samping tempat tidur. Tangannya yang kurus menyentuh dahi Zahra. Merasakan.

 

"Dia diserang dalam tidur," ucap Kyai Taufiq dengan nada serius. "Jiwanya ditarik paksa ke dimensi gaib. Ini... ujian dari Malik Azhraq."

 

"Ujian?" Bu Le menatap Kyai Taufiq dengan khawatir.

 

"Malik Azhraq ingin mengukur seberapa kuat Zahra," Kyai Taufiq menjelaskan. "Dia mengirim puluhan jin rendahan untuk menyerang. Kalau Zahra kalah... jiwanya akan terkurung di dimensi itu selamanya. Tubuhnya di dunia nyata akan mati perlahan."

 

Zahra merasakan tubuhnya menggigil mendengar penjelasan itu.

 

"Tapi," Kyai Taufiq tersenyum tipis sambil menatap Zahra dengan bangga, "kamu berhasil keluar. Kamu mengalahkan mereka semua. Sendiri."

 

"Tapi saya ketakutan, Kyai," Zahra berbisik. "Saya hampir menyerah."

 

"Ketakutan itu wajar," Kyai Taufiq mengelus kepala Zahra dengan lembut. "Yang penting, kamu tidak menyerah. Kamu tetap bertahan. Tetap yakin pada Allah. Dan itu yang membuatmu menang."

 

Bu Le memeluk Zahra lebih erat. Air matanya jatuh. "Bu Le sangat takut kehilangan kamu, Nak."

 

"Maaf membuat Bu Le khawatir," bisik Zahra.

 

Gus Azka duduk di sisi lain tempat tidur. Wajahnya tegang. "Mbah, ini artinya Malik Azhraq sudah bergerak aktif. Dia tidak akan menunggu lama lagi."

 

Kyai Taufiq mengangguk. "Betul. Kita harus mempercepat persiapan."

 

Dia menatap Zahra dengan serius. "Nduk, kamu terluka spiritual. Butuh waktu untuk pulih. Tiga hari ke depan, kamu harus istirahat total. Banyak dzikir. Banyak doa. Jangan dipaksakan latihan dulu."

 

"Tapi Kyai—"

 

"Ini bukan permintaan," potong Kyai Taufiq tegas. "Tubuh spiritualmu perlu penyembuhan. Kalau dipaksakan, kamu bisa rusak permanen. Tidak bisa menggunakan kemampuanmu lagi."

 

Zahra terdiam. Lalu mengangguk patuh. "Baik, Kyai."

 

"Bagus," Kyai Taufiq berdiri dengan bantuan tongkatnya. "Azka, besok pagi kamu ruqyah Zahra. Pastikan tidak ada jejak energi gelap yang menempel. Bu Le, jaga dia terus. Jangan biarkan dia sendirian sedetik pun."

 

"Siap, Mbah," Azka mengangguk.

 

"Insya Allah, Bu Le jaga," Bu Le mengusap air matanya.

 

Setelah Kyai Taufiq dan Gus Azka keluar, Bu Le membaringkan Zahra dengan hati-hati. Menarik selimut sampai ke dagu Zahra.

 

"Sekarang tidur lagi, Nak," bisik Bu Le lembut. "Bu Le ada di sini. Tidak akan ke mana-mana. Bu Le akan jaga kamu."

 

"Bu Le," Zahra menatap Bu Le dengan mata berkaca-kaca, "tadi saya hampir tidak bisa kembali. Saya pikir... saya akan mati."

 

Bu Le menggenggam tangan Zahra erat. "Tapi kamu kembali. Allah melindungimu. Dan Bu Le yakin, Allah akan terus melindungimu sampai kamu menyelamatkan ayahmu."

 

Zahra tersenyum tipis. "Terima kasih, Bu Le."

 

"Sama-sama, Nak. Sekarang tidur. Bu Le bacakan Yasin biar kamu tenang."

 

Bu Le membuka Al-Quran kecil yang selalu dibawanya. Lalu membaca Surat Yasin dengan tartil yang merdu.

 

Zahra menutup mata, mendengarkan bacaan itu. Perlahan, tubuhnya rileks. Napasnya teratur.

 

Dan malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Zahra tidur tanpa mimpi buruk.

 

Tapi di luar jendela, di balik pepohonan gelap, sepasang mata merah menyala lebih terang.

 

Malik Azhraq tersenyum lebar.

 

"Bagus, anak Rizwan..." bisiknya dengan suara yang bergema di alam gaib. "Kamu lulus ujian pertama. Tapi ujian selanjutnya... akan jauh lebih berat. Aku sudah tidak sabar... melihatmu datang padaku..."

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!