PESANTREN ANGKER
21. Penguasaan Diri
Pagi itu, Zahra terbangun lebih awal dari biasanya. Tubuhnya masih terasa pegal setelah berhasil mengusir utusan Malik Azhraq semalam. Tapi ada sesuatu yang berbeda dalam dirinya—sebuah keyakinan yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.
Dia bangkit dari tempat tidur, melihat Bu Le yang masih tertidur di atas tikar. Wajah Bu Le terlihat lelah. Wanita paruh baya itu tidak pernah mengeluh meski harus menjaga Zahra setiap malam, siap siaga menghadapi serangan gaib kapan pun.
Zahra mengambil wudhu dengan pelan, tidak ingin membangunkan Bu Le. Setelah itu, dia shalat Subuh sendirian di kamar. Saat sujud, dia berbisik panjang dalam doanya.
"Ya Allah, kuatkan hamba-Mu. Bimbing langkah hamba untuk menyelamatkan ayah. Lindungi mereka yang menemani hamba. Jangan biarkan hamba menjadi beban bagi mereka."
Selesai shalat, Zahra duduk bersimpuh di atas sajadah. Tangannya memegang tasbih ayahnya, memutar butir demi butir sambil berdzikir. Matanya menatap cahaya fajar yang mulai masuk dari jendela.
Tiba-tiba, dia merasakan sesuatu. Sebuah kehangatan aneh di dadanya. Seperti ada energi yang mengalir perlahan, menyebar ke seluruh tubuhnya.
Zahra menutup mata. Tanpa sadar, dia mulai membuka mata batinnya.
Dan dia melihatnya.
Cahaya-cahaya putih keemasan melayang di sekitarnya. Bukan cahaya biasa seperti yang dilihatnya selama ini. Cahaya ini berbeda—lebih terang, lebih hangat, lebih... hidup.
Di sudut kamar, berdiri sosok bercahaya. Tinggi, berjubah putih, wajahnya tidak terlihat jelas tapi auranya sangat damai. Sangat menenangkan.
Zahra tidak takut. Entah kenapa, dia tahu sosok ini bukan ancaman.
"Assalamualaikum," bisik Zahra pelan.
Sosok itu mengangguk—gerakan yang halus tapi penuh penghormatan. Lalu perlahan memudar, menghilang seperti kabut pagi yang tertiup angin.
Zahra membuka mata. Napasnya tercekat. Dia baru saja melihat... malaikat?
"Subhanallah," bisiknya sambil menghapus air mata yang entah kapan mengalir di pipinya.
Di belakangnya, Bu Le sudah bangun. Wanita itu duduk di atas tikar, menatap Zahra dengan senyum lembut.
"Kamu melihatnya, kan?" tanya Bu Le pelan.
Zahra menoleh dengan terkejut. "Bu Le... tadi itu—"
"Malaikat penjaga," Bu Le mengangguk. "Bu Le juga melihatnya. Dia datang karena doamu tulus. Karena hatimu bersih. Itu pertanda baik, Nak. Pertanda Allah meridhai niatmu."
Zahra merasakan dadanya sesak—sesak karena terharu. "Alhamdulillah," bisiknya.
Bu Le berdiri, menghampiri Zahra, lalu memeluknya dengan hangat. "Kamu sudah berkembang sangat pesat, Nak. Bu Le bangga padamu."
"Ini semua berkat bimbingan Bu Le dan Gus Azka," jawab Zahra sambil membalas pelukan itu.
"Tidak," Bu Le menggeleng sambil melepaskan pelukan. "Ini karena kamu punya hati yang kuat. Punya iman yang tulus. Ilmu dan bimbingan hanya alat. Tapi kekuatan sejatimu datang dari sini." Bu Le menunjuk dada Zahra. "Dari hatimu yang ikhlas."
***
Setelah sarapan sederhana—bubur kacang hijau hangat dengan kelapa parut—Zahra, Bu Le, dan Gus Azka berkumpul di ruang latihan seperti biasa.
Kali ini, Kyai Taufiq juga ada di sana. Wajah kyai tua itu terlihat serius.
"Duduk, Nduk," ucap Kyai Taufiq sambil menepuk tikar di hadapannya.
Zahra duduk bersila dengan perasaan gugup. Bu Le dan Gus Azka duduk di sampingnya.
Kyai Taufiq menatap Zahra lama. Matanya yang dalam seolah membaca sesuatu yang tidak terlihat.
"Semalam kamu berhasil mengusir utusan Malik Azhraq," ucap Kyai Taufiq pelan. "Itu bukan pencapaian kecil. Bahkan ustadz ruqyah berpengalaman pun bisa kewalahan menghadapi jin sekuat itu."
Zahra menunduk. "Itu karena bantuan doa Bu Le dan Gus Azka, Kyai."
"Tidak," Kyai Taufiq menggeleng. "Mereka membantumu, tapi yang mengusir jin itu adalah kamu sendiri. Dengan keyakinanmu. Dengan Ayat Kursi yang kamu baca dari lubuk hati terdalam."
Kyai Taufiq terdiam sejenak.
"Tapi ada yang harus kamu pahami, Nduk," lanjutnya dengan nada lebih serius. "Malik Azhraq tidak akan diam. Dia akan terus mengirim gangguan. Semakin dekat kamu dengan saat memasuki Pesantren Al-Falah, semakin kuat serangan yang akan kamu hadapi."
Zahra merasakan bulu kuduknya berdiri.
"Karena itu," Kyai Taufiq melanjutkan, "mulai hari ini, latihan akan lebih berat. Kamu harus belajar tidak hanya bertahan, tapi juga menyerang. Tidak hanya mengusir, tapi juga melindungi."
"Menyerang?" Zahra mengerutkan dahi.
Gus Azka yang duduk di seberang berbicara. "Ruqyah tidak hanya untuk mengusir jin, Mbak. Tapi juga untuk melawan. Untuk memaksa mereka tunduk pada kekuasaan Allah."
"Kamu harus belajar ruqyah tingkat lanjut," Kyai Taufiq menjelaskan. "Ruqyah yang bisa melumpuhkan jin. Ruqyah yang bisa membebaskan orang dari kerasukan. Dan yang paling penting—ruqyah yang bisa membuka segel dimensi gaib."
Zahra menelan ludah. "Segel dimensi gaib?"
"Ayahmu terkurung di dimensi gaib yang disegel oleh Malik Azhraq," jawab Kyai Taufiq. "Segel itu sangat kuat. Kalau kamu tidak bisa membukanya, kamu tidak akan bisa membebaskan ayahmu."
Hening sejenak.
"Tapi aku akan mengajarimu," lanjut Kyai Taufiq dengan nada lebih lembut. "Pelan-pelan. Bertahap. Sampai kamu benar-benar siap."
Zahra mengangguk mantap. "Saya siap, Kyai."
"Bagus," Kyai Taufiq tersenyum tipis. "Azka, mulai ajari dia teknik meditasi spiritual. Bu Le, dampingi seperti biasa."
Gus Azka mengangguk. "Baik, Mbah."
Kyai Taufiq berdiri dengan bantuan tongkat kayunya. "Aku akan kembali ke kamar. Kalau butuh apa-apa, panggil saja." Dia berjalan keluar dengan langkah pelan.
Setelah Kyai Taufiq pergi, Gus Azka menatap Zahra dengan serius.
"Meditasi spiritual berbeda dengan meditasi biasa," jelasnya. "Ini bukan sekadar menenangkan pikiran. Tapi membuka jalan untuk jiwamu memasuki alam lain—alam gaib—tanpa harus tidur."
"Kenapa harus tanpa tidur?" tanya Zahra.
"Karena saat kamu tidur, kamu tidak bisa mengontrol ke mana jiwamu pergi," Bu Le yang menjawab. "Kamu bisa tersesat. Bisa terperangkap. Tapi kalau kamu sadar penuh saat memasuki alam gaib, kamu bisa mengendalikan diri. Bisa kembali kapan pun kamu mau."
"Dan yang paling penting," Azka melanjutkan, "kamu bisa membawa sesuatu dari alam gaib ke dunia nyata. Atau sebaliknya."
Zahra merasakan kepalanya berputar mencerna semua informasi ini.
"Tenang," Bu Le menggenggam tangan Zahra dengan hangat. "Kamu tidak sendirian. Bu Le dan Azka akan membimbingmu. Pelan-pelan. Kamu pasti bisa."
Zahra menarik napas dalam. "Baik. Saya akan mencoba."
"Sekarang," Azka berkata, "tutup matamu. Tarik napas dalam-dalam. Hembuskan perlahan. Kosongkan pikiranmu dari segala hal."
Zahra menutup mata. Menarik napas dalam melalui hidung, menghembuskan perlahan melalui mulut. Berulang kali.
"Bayangkan kamu berdiri di tengah cahaya putih," Azka memandu dengan suara tenang. "Cahaya yang hangat. Yang melindungimu. Yang berasal dari Allah."
Zahra membayangkan. Dan perlahan, dia merasakan sesuatu. Tubuhnya terasa ringan. Seperti melayang.
"Sekarang, baca dalam hatimu: Subhanallah. Alhamdulillah. Allahu Akbar. Terus-menerus."
Zahra membaca dalam hati. Berulang-ulang. Dzikir yang sudah sangat familiar di telinganya.
Dan tiba-tiba—
Zahra merasakan dirinya jatuh.
Jatuh ke dalam kehampaan yang gelap tapi tidak menakutkan.
Lalu cahaya putih muncul. Semakin terang. Semakin jelas.
Zahra membuka mata—tapi bukan mata fisiknya.
Dia sekarang berdiri di tempat yang berbeda. Sebuah padang luas bercahaya putih. Langit di atasnya berwarna ungu kebiruan yang indah. Tidak ada bangunan. Tidak ada pohon. Hanya cahaya dan ketenangan.
"Di mana ini?" bisik Zahra.
Suara Gus Azka terdengar seperti gema jauh. "Itu alam spiritual tingkat pertama. Alam yang aman. Tempat latihanmu."
Zahra menatap tangannya sendiri—tangannya bercahaya putih samar. Tubuhnya terasa berbeda. Lebih ringan. Lebih bebas.
"Luar biasa," bisiknya kagum.
"Sekarang, coba berjalan," suara Bu Le terdengar lembut. "Rasakan tempatmu berpijak."
Zahra melangkah. Kakinya tidak menyentuh tanah—dia melayang beberapa senti di atas permukaan cahaya.
Dia tertawa—tertawa bahagia seperti anak kecil.
"Kamu berhasil, Nak!" Bu Le terdengar bangga.
Tapi tiba-tiba, cahaya di sekitarnya berkedip. Zahra merasakan sesuatu yang aneh. Sebuah bayangan gelap muncul di kejauhan.
"Gus, ada yang datang," bisik Zahra dengan nada khawatir.
"Tenang," suara Azka tetap tenang. "Tutup mata spiritualmu. Kembali ke tubuhmu. Sekarang."
Zahra menutup mata. Membayangkan dirinya kembali ke tubuh fisiknya.
FLASH!
Dia tersentak—membuka mata di dunia nyata. Napasnya terengah-engah. Keringat membasahi dahinya.
Bu Le langsung memeluknya. "Kamu baik-baik saja, Nak?"
Zahra mengangguk pelan. "Iya, Bu Le. Tadi... tadi saya benar-benar ke sana, kan?"
Azka tersenyum. "Ya. Kamu baru saja melakukan perjalanan spiritual pertamamu. Alhamdulillah, berhasil."
Zahra merasakan air matanya jatuh. Bukan karena takut. Tapi karena terharu.
Dia semakin dekat untuk menyelamatkan ayahnya.