PESANTREN ANGKER

Bab 14: Pernikahan

Beberapa Hari Kemudian…

 

Khadijah sudah sadar. Kondisinya sedikit membaik setelah ruqyah singkat dari Kyai Taufiq dan Rizwan. Tapi dia masih lemah. Masih sering mendengar bisikan-bisikan di telinganya.

 

Sore itu, di ruang tamu kecil Kyai Taufiq, Khadijah duduk dengan wajah pucat. Di hadapannya, Rizwan duduk dengan tenang.

 

"Mbak Khadijah," Rizwan berkata dengan lembut, "Kyai sudah menjelaskan semuanya pada Mbak, kan?"

 

Khadijah mengangguk pelan. "Ya. Tentang jin di tubuh saya. Dan tentang pernikahan."

 

"Aku tahu ini berat," Rizwan melanjutkan. "Tapi ini satu-satunya cara untuk mengusir jin itu sepenuhnya. Setelah dia keluar, kalau Mbak mau, kita bisa cerai. Aku tidak akan memaksa Mbak untuk tetap bersamaku."

 

Khadijah mengangkat wajahnya. Menatap Rizwan. Mata pemuda itu begitu tulus. Begitu penuh kebaikan.

 

"Mas Rizwan…" suara Khadijah bergetar, "kenapa Mas mau melakukan semua ini untuk saya? Kita bahkan baru kenal."

 

Rizwan tersenyum tipis. "Karena Allah memerintahkan kita untuk menolong sesama. Apalagi, orang yang sedang dalam kesulitan."

 

Dia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada lebih pelan. "Dan entah kenapa, saat pertama kali aku melihat Mbak, aku merasa Allah sudah menakdirkan aku untuk menolong Mbak."

 

Khadijah merasakan hatinya bergetar. Air matanya mulai mengalir.

 

"Aku tidak tahu harus bilang apa," bisiknya.

 

"Mbak tidak perlu bilang apa-apa," jawab Rizwan lembut. "Yang penting, Mbak percaya padaku. Percaya pada Allah. Kita akan melewati ini bersama."

 

Khadijah mengangguk pelan.

 

Dua Hari Kemudian, pernikahan digelar. 

 

Khadijah dan Rizwan menikah dengan sangat sederhana. Hanya di ruang tamu Kyai Taufiq. Hanya ada ayah dan ibu Khadijah, Kyai Taufiq sebagai saksi, dan beberapa santri senior.

 

Rizwan mengucapkan ijab dengan suara tenang tapi penuh keteguhan.

 

"Saya terima nikahnya Khadijah binti Wahid dengan mas kawin seperangkat alat shalat, dan cincin emas 10 gram, dibayar tunai."

 

"Sah," ucap Kyai Taufiq.

 

Khadijah menunduk. Air matanya jatuh. Bukan karena sedih. Tapi karena ada perasaan aneh di dadanya. Perasaan hangat yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.

 

Setelah akad selesai, Rizwan menatap Khadijah dengan lembut.

 

"Insya Allah, setelah ini, Mbak akan sembuh," ucapnya pelan.

 

Khadijah mengangguk. Mempercayainya sepenuh hati.

 

Malam hari - Pertarungan kembali dimulai. 

 

Khadijah dan Rizwan berada di sebuah kamar kecil di pesantren. Kamar yang sudah disiapkan khusus untuk ruqyah intensif. Dindingnya ditempel ayat-ayat Al-Quran. Lantainya ditaburi garam dan air zam-zam.

 

Khadijah duduk di tengah ruangan. Rizwan duduk di hadapannya, dengan kitab Al-Quran di pangkuannya.

 

"Siap?" tanya Rizwan lembut.

 

Khadijah mengangguk. Meski ketakutan, tapi dia percaya pada suaminya.

 

Rizwan mulai membaca.

 

"A'udzu billahi minasy syaithanir rajim. Bismillahirrahmanirrahim…"

 

Suasana masih tenang.

 

Rizwan melanjutkan dengan Surat Al-Fatihah. Lalu Surat Al-Baqarah. Ayat demi ayat dia baca dengan tartil, dengan penuh penghayatan.

 

Satu jam berlalu. Tidak ada reaksi.

 

Dua jam. Masih tenang.

 

Tapi saat Rizwan sampai ke Ayat Kursi—

 

Khadijah mulai bergetar.

 

Tangannya mencengkeram lututnya. Napasnya mulai memburu.

 

"Allahu laa ilaaha illaa Huw, Al-Hayyul-Qayyuum…"

 

"Berhenti…" bisik Khadijah.

 

Tapi Rizwan terus membaca.

 

"Laa ta'khuzuhuu sinatuw wa laa nawm…"

 

"BERHENTI!" Khadijah berteriak.

 

Suaranya berubah. Berat. Mengerikan.

 

Rizwan tidak berhenti. Dia terus membaca. Semakin keras.

 

Tiba-tiba, tubuh Khadijah terangkat ke udara.

 

Dia melayang. Satu meter di atas lantai.

 

Rizwan berdiri. Tangannya terangkat menunjuk ke arah Khadijah. Dia terus membaca dengan suara menggelegar.

 

"LAA ILAAHA ILLALLAH! KELUAR! KELUAR DARI TUBUH HAMBA ALLAH INI!"

 

Khadijah—atau jin di dalam tubuhnya—meraung. Suara yang memekakkan telinga.

 

"AKU TIDAK AKAN KELUAR! DIA MILIKKU! MILIKKU!"

 

"Dia bukan milikmu!" teriak Rizwan. "Dia milik Allah! Dan aku, sebagai suaminya, memerintahkanmu keluar! Dengan nama Allah Yang Maha Kuasa, KELUAR!"

 

Cahaya putih muncul dari tangan Rizwan. Cahaya yang sangat terang. Memenuhi seluruh ruangan.

 

Jin itu meraung semakin keras.

 

"RRRAAAAAGHH!"

 

Tubuh Khadijah berputar-putar di udara. Rambutnya berkibar liar. Matanya terbuka—tapi bukan mata manusia. Mata itu merah menyala.

 

"Kau…" desis suara jin itu dengan penuh kebencian, "kau memiliki darah suci… kau keturunan wali… tapi aku tidak akan kalah! TIDAK AKAN!"

 

Tiba-tiba, dari tubuh Khadijah keluar asap hitam. Asap yang mengepul, membentuk sosok mengerikan.

 

Sosok laki-laki tinggi besar. Berkulit biru gelap. Mata merah menyala. Tanduk kecil di keningnya. Wajahnya mengerikan.

 

Malik Azhraq.

 

Jin itu melayang di udara, menatap Rizwan dengan tatapan penuh kebencian.

 

"Kamu membuatku keluar," desisnya. "Dan sekarang… aku akan membunuhmu."

 

Rizwan tidak takut. Dia berdiri tegak, menatap jin itu dengan tatapan penuh keteguhan.

 

"Kau tidak bisa membunuhku," ucap Rizwan tenang. "Allah melindungiku."

 

"Kita akan lihat!" teriak Malik Azhraq.

 

Jin itu melesat cepat ke arah Rizwan. Tangannya yang besar terangkat, mencakar, tapi Rizwan lebih cepat. Tangannya maju, menyentuh dada jin itu.

 

SSSSSSSHHHH!

 

Asap mengepul. Daging jin itu terbakar.

 

"AAAAARGH!" Malik Azhraq meraung kesakitan. Dia mundur cepat.

 

"Bismillahilladzi laa yadurru ma'asmihi syai'un fil ardhi wa laa fis-samaa'i wa huwas-samii'ul 'aliim!" Rizwan membaca dengan suara menggelegar.

 

Cahaya putih semakin terang. Semakin menyilaukan.

 

Malik Azhraq meraung. Tubuhnya mulai terbakar. Asap hitam mengepul dari sekujur tubuhnya.

 

"Rizwan… kau akan membayar ini…" desis jin itu dengan suara penuh dendam. "Aku bersumpah… aku akan membalasmu… suatu hari… aku akan menghancurkanmu…"

 

"PERGI!" teriak Rizwan. "Dengan nama Allah, PERGI!"

 

BOOOOM!

 

Ledakan cahaya memenuhi ruangan.

 

Malik Azhraq meraung untuk terakhir kalinya—lalu menghilang.

 

Hening.

 

Cahaya putih perlahan memudar.

 

Tubuh Khadijah jatuh ke lantai.

 

Rizwan langsung berlari menghampiri. Dia menangkap tubuh istrinya sebelum jatuh keras.

 

"Khadijah! Khadijah!" panggilnya.

 

Khadijah membuka matanya perlahan. Matanya sudah normal. Sudah jernih.

 

"Mas Rizwan?" bisiknya lemah.

 

Rizwan tersenyum lega. Air matanya jatuh.

 

"Alhamdulillah… alhamdulillah…" bisiknya sambil memeluk istrinya. "Kamu selamat. Kamu sudah bersih."

 

Khadijah menangis di pelukan suaminya.

 

Tapi yang mereka tidak tahu, pertarungan yang sebenarnya baru saja dimulai.

 

Dua Bulan Kemudian…

 

Khadijah sudah sehat sepenuhnya. Wajahnya cerah. Tubuhnya berisi. Dia dan Rizwan hidup bahagia sebagai suami istri sungguhan.

 

Dan saat itu, Khadijah merasakan mual-mual.

 

Setelah diperiksa, dia hamil.

 

Rizwan sangat bahagia. Dia memeluk istrinya dengan penuh cinta.

 

"Alhamdulillah… kita akan punya anak…"

 

Khadijah menangis bahagia. Tapi kebahagiaan itu tidak berlangsung lama.

 

Tiga bulan kemudian saat usia kandungan Khadijah 5 bulan, Rizwan mendapatkan telepon dari orang tuanya di kampung halaman.

 

Desanya diserang wabah aneh. Banyak orang sakit. Banyak yang meninggal. Ada gangguan makhluk halus.

 

"Rizwan… kamu harus pulang. Secepat mungkin," suara ibunya bergetar. Di belakang, terdengar batuk-batuk hebat dan suara orang merintih.

 

"Ibu, ada apa? Kenapa ribut sekali di sana?" Rizwan berdiri, wajahnya mulai tegang.

 

Khadijah menoleh, menatap suaminya dengan khawatir.

 

"Desa kita kena wabah aneh," suara ibunya nyaris menangis. "Sejak dua minggu lalu, banyak orang sakit. Panas tinggi, muntah-muntah, kejang-kejang. Sudah lima belas orang meninggal. Dokter dari puskesmas sudah datang, tapi mereka bilang ini bukan penyakit biasa. Obat tidak mempan sama sekali."

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!