PESANTREN ANGKER

Bab 10. Halangan

Sekitar tiga puluh menit perjalanan, bus memasuki jalan yang lebih sepi. Sawah di kanan kiri semakin luas. Rumah-rumah penduduk mulai jarang. Hanya sesekali tampak gubuk kecil di tengah sawah atau warung pinggir jalan yang sepi pengunjung.

 

Langit mulai berubah warna. Jingga kemerahan bercampur dengan biru gelap. Matahari hampir tenggelam sepenuhnya.

 

Tiba-tiba, bus mengerem mendadak.

 

CKIIIIT!

 

Zahra terhentak ke depan. Ranselnya hampir jatuh dari pangkuan.

 

"Wah, ada apa tuh?" teriak salah seorang pemuda di tengah.

 

Kondektur berdiri, menghampiri sopir. Mereka berbicara dengan nada serius tapi tidak terdengar jelas dari belakang.

 

Zahra mengerutkan dahi. Dia melihat keluar jendela.

 

Di tengah jalan, sekitar sepuluh meter di depan bus, ada seseorang berdiri.

 

Sosok laki-laki.

 

Tinggi. Berpakaian serba hitam. Berdiri membelakangi bus.

 

Zahra memicingkan mata. Siapa orang itu? Kenapa berdiri di tengah jalan seperti itu?

 

Sopir bus membunyikan klakson panjang.

 

TIIIIIIN!

 

Tapi sosok itu tidak bergerak. Tetap berdiri. Tegak. Tidak bergerak sama sekali.

 

"Pak, orang itu kenapa nggak minggir?" tanya ibu muda di depan dengan nada khawatir.

 

Sopir membuka pintu bus, turun. Kondektur ikut turun. Mereka berjalan mendekati sosok itu.

 

"Mas! Mas, minggir dong! Ini bus mau lewat!" teriak sopir.

 

Tapi sosok itu tetap tidak bergerak.

 

Zahra merasakan dadanya mulai sesak. Napasnya tercekat. Ada yang tidak beres. Sangat tidak beres.

 

Sopir dan kondektur semakin dekat. Jarak mereka dengan sosok itu tinggal beberapa meter.

 

Lalu—

 

Sosok itu perlahan berbalik.

 

Zahra tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas dari dalam bus. Tapi dia melihat sesuatu yang membuat darahnya seolah membeku.

 

Dua titik merah menyala di tempat seharusnya ada mata.

 

Sopir dan kondektur langsung berhenti melangkah. Tubuh mereka kaku.

 

Lalu, sosok itu menghilang.

 

Tidak memudar perlahan. Tidak berjalan pergi, lalu menghilang seperti asap yang tertiup angin.

 

Hening.

 

Zahra menahan napas. Jantungnya berdetak sangat cepat. Tangannya mencengkeram tasbih begitu erat sampai buku-buku jarinya memutih.

 

Sopir dan kondektur berdiri di tengah jalan, saling berpandangan bingung. Lalu mereka berlari kembali ke bus.

 

"Allahuakbar! Allahuakbar! Ayo Naik! Naik semua!" teriak sopir dan kondektur begitu masuk. Wajahnya pucat.

 

"Pak, tadi itu apa?" tanya salah satu pemuda.

 

"Nggak tahu! Yang penting kita jalan sekarang!" Sopir langsung menyalakan mesin, menginjak gas dalam-dalam.

 

Bus melaju kencang meninggalkan tempat itu.

 

Zahra menoleh ke belakang melalui jendela belakang. Jalan sudah kosong. Tidak ada siapa-siapa.

 

Tapi di kejauhan, di pinggir sawah, Zahra melihat sesuatu.

 

Bayangan hitam tinggi besar. Berdiri. Menatap bus yang menjauh.

 

Dan bahkan dari jarak sejauh itu, Zahra bisa merasakan tatapannya.

 

Tatapan yang dingin. Lapar. Penuh dengan sesuatu yang mengerikan.

 

Zahra langsung memejamkan mata. Tangannya gemetar.

 

"A'udzu billahi minasy syaithonir rojiim… A'udzu billahi minasy syaithonir rojiim…"

 

Dia terus membaca ta'awudz berulang-ulang. Tasbih di tangannya dia putar cepat. Shalawat mengalir deras dari bibirnya yang bergetar.

 

"Allahumma shalli 'ala sayyidina Muhammad… Allahumma shalli 'ala sayyidina Muhammad…"

 

Perlahan, sesak di dadanya mulai berkurang. Napasnya kembali teratur.

 

Tapi dia tahu—makhluk itu tadi bukan manusia.

 

Dan makhluk itu tetap mengikuti, mengawasi, tanpa Zahra sadari.

 

***

 

Bus akhirnya memasuki wilayah Kabupaten Lamongan saat Maghrib hampir tiba. Langit sudah gelap. Lampu-lampu jalan mulai menyala. Suara adzan Maghrib terdengar samar dari beberapa masjid yang dilewati bus.

 

Zahra duduk dengan tubuh tegang. Sepanjang sisa perjalanan, dia tidak berani melihat keluar jendela lagi. Matanya hanya menatap tasbih di tangannya. Dzikir terus mengalir tanpa henti.

 

"Allah… Allah… Allah…"

 

Akhirnya, bus berhenti di Terminal Lamongan. Kondektur membuka pintu.

 

"Lamongan! Terminal Lamongan! Silahkan turun!"

 

Penumpang mulai turun satu per satu. Zahra menunggu sampai semua turun, baru dia bangkit. Kakinya terasa lemas. Punggungnya pegal.

 

Dia turun dari bus dengan langkah gontai. Begitu kakinya menapak tanah terminal, dia menghela napas lega.

 

Selamat. Dia selamat sampai di Lamongan.

 

Terminal Lamongan tidak sebesar Terminal Arjosari. Lebih kecil, lebih sepi. Hanya ada beberapa bus dan angkot yang terparkir. Pedagang asongan sudah mulai berkemas—tanda hari sudah malam.

 

Zahra berjalan keluar dari area terminal. Dia berhenti di pinggir jalan, menatap sekeliling.

 

Sekarang kemana?

 

Dia harus mencari Pesantren Kyai Taufiq. Tapi dia tidak tahu alamat pastinya. Ibunya hanya bilang pesantren itu ada di Lamongan, tapi tidak menyebut nama atau lokasi tepatnya.

 

Zahra melihat seorang tukang ojek tua duduk di dekat pangkalan.

 

"Pak," Zahra menghampiri. "Mohon maaf, Bapak tahu Pesantren Kyai Taufiq?"

 

Tukang ojek mengangkat kepala. Wajahnya keriput, berjenggot putih tipis. Matanya tajam tapi ramah.

 

"Kyai Taufiq? Kyai Taufiq yang di daerah Paciran itu, Mbak?"

 

"Iya, Pak. Beliau pimpinan pesantren daerah sini."

 

Tukang ojek mengangguk pelan. "Oalah, itu. Pesantren Darul Istiqomah. Jauh, Mbak. Hampir tiga puluh kilometer dari sini. Belok-belok lagi."

 

Zahra menggigit bibir. Tiga puluh kilometer. Sudah malam. Dia kelelahan. Tapi tidak ada pilihan lain.

 

"Bapak bisa antarkan saya ke sana?"

 

Tukang ojek menatap Zahra dengan tatapan ragu. "Sekarang? Sudah malam, Mbak. Bahaya. Jalannya sepi. Apalagi Mbak sendirian."

 

"Saya harus ke sana, Pak. Ini penting. Saya mohon."

 

Tukang ojek terdiam sejenak. Lalu menghela napas. "Ya sudah. Tapi ongkosnya lima puluh ribu, ya. Jauh dan bensin mahal."

 

"Baik, Pak. Tidak masalah."

 

"Naik, Mbak."

 

Zahra naik ke motor ojek—sebuah Honda Supra tua yang cat merahnya sudah kusam. Tukang ojek menyalakan mesin, lalu motor melaju pelan keluar dari terminal.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!