PESANTREN ANGKER

Bab 09. Perjalanan

Perjalanan menuju terminal kota terasa panjang. Zahra naik angkot, duduk dekat jendela, memeluk tasnya erat-erat. Setiap kali hatinya terasa dicekik cemas, jari-jarinya meraba tasbih di dalam tas dan menggerakkan butirnya satu per satu.

 

"Allahu… Allahu… Allahu…"

 

Dzikir itu mengalir pelan, menenangkan sedikit demi sedikit.

 

Namun sesekali, bulu kuduknya berdiri tanpa alasan. Seperti ada mata yang mengawasinya dari kejauhan. Seperti ada sesuatu yang mengikuti.

 

Di kaca jendela angkot, pantulan dirinya terlihat samar—wajah letih dengan kerudung abu-abu. Tapi di sudut kaca, Zahra sempat melihat sesuatu lain: sekilas bayangan hitam tinggi, berdiri di trotoar, menatap angkot yang melintas.

 

Begitu dia menoleh cepat ke arah luar—tidak ada apa-apa.

 

Hanya deretan warung, pepohonan, dan orang-orang yang sibuk dengan urusan masing-masing.

 

"Astaghfirullah…" Zahra memejamkan mata sebentar. "Jangan takut pada selain Allah. Jangan takut pada selain Allah…"

 

Terminal kota mulai tampak. Angkot berhenti. Zahra turun, membayar ongkos, lalu berjalan menuju loket bus antar kota.

 

"Lamongan, Mbak?" tanya seorang calo bus.

 

"Iya, Pak. Satu."

 

"Jam satu siang berangkat. Bus ekonomi AC. Masih ada kursi belakang."

 

Zahra mengangguk, mengeluarkan uang dari dompet pemberian ibunya. Setelah mendapatkan tiket, dia duduk di bangku tunggu. Terminal ramai. Suara klakson, teriakan pedagang, dan pengumuman keberangkatan bercampur menjadi satu.

 

Zahra menatap tiket di tangannya.

 

Lamongan.

 

Di sana, Kyai Taufiq tinggal. Di sana, mungkin jawaban tentang Rizwan berada. Di sana mungkin juga bahaya yang lebih besar menanti.

 

Zahra menghela napas lagi, lalu menunduk.

 

"Ya Allah," doanya dalam hati, "kalau ayahku masih hidup pertemukan kami dalam keadaan yang Engkau ridhai. Kalau dia sudah tiada berikan aku kejelasan agar aku bisa merelakannya. Lindungi aku dari makhluk jahat yang Engkau ciptakan sebagai ujian. Jangan biarkan aku tersesat. Jangan biarkan imanku goyah."

 

Saat bibirnya komat-kamit berdoa, angin lembut berhembus. Di kejauhan, suara adzan Dzuhur berkumandang dari masjid terminal. Suaranya merambat di antara hiruk pikuk kendaraan, mengiris bising dunia.

 

Zahra menoleh ke arah kiblat, menjawab adzan dengan pelan.

 

Setelah itu, dia berdiri, mencari mushola kecil di sudut terminal. Sebelum melanjutkan perjalanan, dia ingin satu hal pasti: langkahnya dimulai dengan sujud.

 

Di sudut lain terminal, jauh dari kerumunan, di atas atap salah satu bus yang terparkir, seberkas bayangan hitam berdiri, memanjang, lalu mengecil.

 

Dua titik merah samar muncul di dalam kegelapan itu—berpendar sebentar, kemudian padam.

 

Suara berat, hanya terdengar di alam yang tidak bisa dijangkau telinga manusia, bergema pelan.

 

"Pergilah, anak Rizwan… Pergilah mengejar cahaya… Aku akan menunggumu di ujung kegelapan…"

 

Angin siang berhembus.

 

Di dalam mushola terminal, Zahra baru saja mengangkat tangan, melafalkan takbiratul ihram.

 

Perjalanannya baru saja dimulai.

 

Zahra keluar dari mushola terminal dengan wajah yang sedikit lebih tenang. Shalat Dzuhur yang baru saja dia lakukan terasa begitu khusyuk—seolah setiap sujud menjadi tempat dia menuangkan seluruh kegelisahan, seluruh ketakutan, dan seluruh harapan yang tersisa.

 

Di tangannya, tasbih kayu coklat milik ayahnya terus dia putar pelan. Butir demi butir dia gerakkan sambil mengucap shalawat dalam hati.

 

"Allahumma shalli 'ala Muhammad… Allahumma shalli 'ala Muhammad…"

 

Bus ekonomi AC tujuan Lamongan sudah terparkir di platform nomor tiga. Warna hijau pupus dengan garis putih di sisi bodi. Kondektur berdiri di pintu bus, meneriakkan tujuan dengan suara lantang.

 

"Lamongan! Lamongan via Babat! Masih ada tempat! Ayo naik!"

 

Zahra berjalan menuju bus itu. Tangannya menggenggam tiket erat-erat. Ransel kecil di punggungnya terasa berat, meski isinya hanya beberapa helai pakaian dan perlengkapan seadanya.

 

"Tiketnya, Mbak," ucap kondektur—seorang laki-laki paruh baya berkumis tebal. Wajahnya ramah.

 

Zahra menyerahkan tiket. Kondektur merobek ujungnya, lalu mengangguk. "Silakan naik. Kursi belakang masih kosong."

 

"Terima kasih, Pak."

 

Zahra menaiki anak tangga bus. Di dalam, sudah ada beberapa penumpang. Seorang ibu dengan dua anak kecil duduk di depan. Seorang bapak tua dengan peci putih duduk di tengah, membaca Al-Quran dengan suara pelan. Beberapa pemuda dengan tas ransel besar—mungkin mahasiswa—duduk bergerombol sambil tertawa kecil.

 

Zahra berjalan ke belakang. Memilih kursi paling pojok, dekat jendela. Dia duduk, meletakkan ransel di pangkuan, lalu menatap keluar jendela.

 

Terminal masih ramai. Orang-orang berlalu lalang. Pedagang asongan menawarkan makanan dan minuman. Tapi Zahra tidak fokus pada semua itu.

 

Matanya menatap kosong ke arah langit. Awan tipis bergerak lambat. Matahari mulai condong ke barat—tanda sore akan segera datang.

 

"Ayah…" bisiknya lirih. "Zahra sedang dalam perjalanan untuk mencarimu. Doakan Zahra, ya."

 

Kondektur naik, menutup pintu bus dengan bunyi gemeretak keras. Mesin bus dinyalakan. Gemuruh mesin diesel memenuhi ruang. Bus perlahan mundur, lalu berbelok keluar dari terminal.

 

Bus melaju meninggalkan Kota Jombang. Pemandangan berubah dari hiruk pikuk perkotaan menjadi sawah-sawah hijau yang membentang luas. Angin sore masuk melalui ventilasi kecil di atas jendela, membawa aroma tanah basah dan rerumputan.

 

Zahra terus memutar tasbih di tangannya. Dzikir mengalir tanpa henti di bibirnya yang bergerak pelan.

 

"Subhanallah… Alhamdulillah… Allahu Akbar…"

 

Tapi ada sesuatu yang mengganjal. Perasaan aneh yang terus menghantuinya sejak meninggalkan rumah. Seperti ada yang mengikuti. Seperti ada mata yang terus mengawasi dari tempat yang tidak bisa dia lihat.

 

Zahra menoleh ke belakang.

 

Tidak ada yang aneh. Hanya barisan kursi kosong. Jendela belakang menampilkan jalan raya yang perlahan menjauh.

 

Tapi tetap saja, perasaan itu tidak hilang.

 

Zahra mengalihkan pandangan ke depan lagi. Menarik napas panjang.

 

"Jangan paranoid. Jangan takut. Allah bersamaku," batinnya.

 

Tapi bulu kuduknya tetap berdiri.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!