PESANTREN ANGKER

Prolog: Pesantren Terbengkalai

Motor Yamaha Mio berwarna hitam melaju pelan di jalan setapak yang sudah jarang dilalui orang. Lampu depannya menerangi rerumputan liar yang tumbuh di sela-sela aspal retak. Di kanan kiri jalan, pepohonan rindang membentuk kanopi gelap yang menghalangi cahaya bulan.

"Di, ini udah jauh banget. Pulang aja yuk," Siska memeluk pinggang Andi dari belakang, suaranya bergetar.

"Sebentar lagi, sayang. Aku udah pernah ke sini. Tenang aja," Andi menjawab sambil terus menambah gas.

Siska menggigit bibir. Hatinya bergejolak antara rasa takut dan tidak enak menolak pacar yang sudah dua tahun bersamanya. 

Sejak bertemu Andi terus memaksa, bilang mereka butuh tempat privat. Kamar kos Andi sedang direnovasi, hotel terlalu mahal dan ribet, sedangkan rumah mereka masing-masing tidak mungkin.

"Tuh, sampai!" Andi menunjuk ke depan.

Siska mengangkat kepala. Jantungnya langsung berdegup kencang.

Di ujung jalan setapak itu, berdiri gerbang besi berkarat setinggi hampir tiga meter. Cat hijaunya sudah mengelupas, menyisakan besi cokelat karatan yang tampak rapuh. Di atas gerbang, terpasang tulisan kayu usang: PESANTREN AL-FALAH.

Beberapa huruf sudah hilang. Huruf 'R' di kata Pesantren miring hampir copot. Huruf 'L' di Al-Falah patah setengah.

Yang membuat bulu kuduk Siska berdiri—gerbang itu setengah terbuka. Tergantung miring karena engselnya sudah aus. Di balik gerbang, tampak bangunan-bangunan gelap yang sebagian atapnya sudah runtuh.

"Andi, ini... ini pesantren?" Siska berbisik.

"Iya. Udah ditutup lama, kok. Nggak ada yang pernah datang ke sini lagi." Andi mematikan mesin motor. Keheningan langsung menyelimuti mereka. Bahkan suara jangkrik pun tidak terdengar.

"Aku takut. Tempat ini seram banget."

Andi turun dari motor, lalu membantu Siska turun. Tangannya langsung merengkuh pinggang kekasihnya sambil mengecup pipinya santai.

"Makanya bagus, Sis. Privat. Nggak ada yang ganggu kita."

"Tapi, Di..." Siska mendongak menatap wajah Andi. "Ini tempat ibadah. Dosa—"

"Udah nggak dipake lagi, kan? Udah kayak tanah kosong aja." Andi mencium puncak kepala Siska. "Ayolah, sayang. Aku udah nggak tahan dari tadi. Kamu juga mau, kan? Buktinya kamu ikut."

Siska terdiam. Memang benar. Dia yang setuju diajak. Dia yang naik motor ini. Sebenarnya, Siska juga mau. Tapi… tetap saja, ada sesuatu yang mengganjal di dadanya. Perasaan tidak enak yang tidak bisa dijelaskan.

"Sebentar aja, ya? Abis itu kita langsung pulang," ujar Siska akhirnya.

Wajah Andi berbinar. "Janji!"

Mereka berjalan memasuki gerbang. Siska menggenggam tangan Andi erat-erat. Kakinya terasa berat melangkah. Sementara Andi menyalakan senter dari ponselnya, menerangi jalan setapak menuju bangunan utama.

Halaman pesantren luas, tapi sudah ditumbuhi ilalang setinggi lutut. Ada beberapa bangunan yang masih berdiri kokoh meski sebagian tembok sudah retak dan berlumut. Papan nama kelas masih terpasang di beberapa pintu: Kelas 1 Ibtidaiyah, Kelas 2 Tsanawiyah, Ruang Guru.

Di pojok halaman, ada sumur tua dengan bibir sumur dari batu yang sudah kehitaman. Siska merinding melihatnya. Entah kenapa, sumur itu terasa paling menyeramkan.

"Sini, yang ini kayaknya masih bagus," Andi menarik tangan Siska menuju salah satu bangunan di sisi kanan.

Bangunan itu bertuliskan: Asrama Putra. Pintunya masih ada, meski sudah miring dan penuh goresan.

Andi mendorong pintu itu. Berderit keras. Suara kayunya yang lapuk membuat Siska ingin berteriak.

"Lihat, ada ranjangnya juga. Lumayan, kan?" Andi menyinari ruangan dengan senter ponsel.

Ruangan itu ukuran sedang, mungkin dulunya untuk empat sampai enam santri. Ada tiga dipan kayu yang sudah lapuk, kasur sudah tidak ada. Dinding penuh coretan—sepertinya jadwal shalat, ayat-ayat Al-Quran, dan nama-nama.

Siska membaca salah satu coretan di dinding: "Afwan ya Allah, kami meninggalkan-Mu. 2004."

Jadi pesantren ini ditutup tahun 2004? Sudah dua puluh tahun yang lalu.

"Kenapa pesantren ini ditutup, ya?" gumam Siska.

"Mana aku tau. Mungkin nggak ada muridnya lagi. Udah, sini." 

Andi menarik Siska mendekat. Lalu, mulai mengecupi wajahnya. Tapi Siska melangkah mundur. 

"Andi, aku nggak enak hati. Serius. Rasanya... rasanya ada yang ngeliatin kita."

"Ah, kamu parno aja. Mana ada—"

BRAK!

Pintu di belakang mereka terbanting keras. Siska menjerit, langsung memeluk Andi.

"Angin, Sis! Cuma angin!" Andi berusaha tenang meski jantungnya juga berdebar.

"Angin dari mana?! Di luar nggak ada angin sama sekali!" Siska berteriak histeris.

Andi menggenggam tangan Siska. "Udah, udah. Oke. Kita pindah ke ruangan lain aja—"

Dia berhenti bicara.

Senter ponselnya menerangi sudut ruangan. Di sana, ada bayangan. Bayangan hitam pekat yang berdiri. Bukan bayangan yang tercipta dari cahaya, tapi seperti sosok gelap yang memang ada di sana.

Dan bayangan itu bergerak.

Melangkah keluar dari sudut.

Perlahan.

Bentuknya mulai… mengeras. Semakin jelas. Bukan lagi bayangan abstrak, tapi sosok. Sosok laki-laki berpostur tinggi besar. Memakai jubah hitam compang-camping. Rambutnya panjang kusut menutupi sebagian wajah.

Tapi yang paling mengerikan—wajahnya. Kulitnya pucat kehijauan seperti mayat. Matanya... dua bola mata merah menyala dengan intensitas yang membakar jiwa.

Dan senyumnya.

Senyum lebar yang memperlihatkan deretan gigi kuning runcing seperti taring binatang buas.

Siska melihatnya. Tubuhnya membeku. Mulutnya terbuka tapi tidak ada suara yang keluar.

Sosok itu tertawa. Suara tawanya dalam, bergema, membuat dinding bergetar.

"Berani sekali berani sekali kalian datang ke tempat ini..." suara itu seperti gesekan batu di atas batu. Kasar. Menusuk telinga.

"LARI!" Andi berteriak.

Mereka berlari ke pintu. Andi menarik gagangnya. Terkunci. Pintu tidak mau terbuka.

"BUKA! BUKA PINTUNYA!" Siska menggedor-gedor pintu sambil menangis.

Sosok itu melangkah mendekat. Langkahnya lambat tapi setiap langkah membuat lantai kayu berderit keras. Udara di ruangan itu berubah dingin. Napas mereka keluar menjadi uap putih.

"Kalian yang akan pertama..." sosok itu mengangkat tangannya. Jari-jarinya panjang dengan kuku hitam tajam seperti cakar.

Andi menendang pintu berkali-kali. Tidak bergerak

"JENDELA!" Siska menunjuk jendela kecil di samping.

Tanpa pikir panjang, Andi mengambil salah satu balok kayu bekas dipan, lalu memukulkan ke jendela.

PRANG!

Kaca pecah. Andi memukul berkali-kali sampai frame kayunya juga patah. "Siska, keluar! Cepat!"

Siska memanjat jendela. Tangannya tergores kaca, tapi dia tidak peduli. Dia melompat keluar, jatuh tersungkur di tanah berumput.

Andi menyusul. Saat kakinya hampir keluar—

Sesuatu mencengkram pergelangan kakinya.

Dingin. Seperti es. Tapi kuat seperti besi yang dipanaskan—membakar kulitnya.

"SISKA!"

Siska menoleh. Sosok itu sudah menarik Andi setengah badan masuk kembali ke dalam ruangan. Wajahnya yang menyeramkan semakin dekat ke wajah Andi.

"Darahmu... aku cium darahmu..." bisiknya dengan napas busuk seperti bangkai

"ANDI!" Siska langsung menarik tangan Andi. "LEPASKAN DIA!"

Tarik-menarik. Andi berteriak kesakitan. Kulitnya di pergelangan kaki seperti terbakar. Tubuhnya terseret masuk. Wajahnya pucat pasi. Matanya melotot penuh ketakutan.

Siska menangis. Dia tidak tahu harus bagaimana. Tangannya gemetar. Tapi dia tidak mau melepaskan Andi.

"YA ALLAH, TOLONG KAMI! ALLAHU AKBAR!" Siska berteriak dengan seluruh jiwa.

Sosok itu mendesis keras. Tangannya tersentak, seolah terbakar.

"ALLAHU AKBAR! ALLAHU AKBAR!" Siska terus berteriak.

Cengkeraman di kaki Andi lepas.

Mereka berdua jatuh ke belakang. Siska langsung menarik Andi berdiri. Lalu berlari sekuat tenaga melewati halaman pesantren, melewati gerbang berkarat, menuju motor.

Dari belakang, terdengar teriakan penuh amarah. Suara menggelegar yang membuat tanah bergetar.

"KALIAN TIDAK AKAN BISA MELARIKAN DIRI! KALIAN AKAN KEMBALI! KALIAN SEMUA AKAN KEMBALI!"

Andi menyalakan motor dengan tangan gemetar. Mesin hidup. Gas langsung ditarik penuh.

Motor melaju kencang meninggalkan pesantren terkutuk itu.

Siska memeluk Andi dari belakang, menangis terisak. Andi juga menangis. Tubuhnya bergetar hebat. Pergelangan kakinya masih terasa panas terbakar.

Mereka tidak tahu—jika menoleh ke belakang, mereka akan melihat sosok itu berdiri di gerbang pesantren. Jubahnya berkibar meski tidak ada angin. Matanya menyala lebih terang, menatap kepergian mereka dengan tatapan yang penuh kehausan.

Haus akan sesuatu yang sudah lama dia tunggu.

Sosok itu seolah mundur perlahan, menjauh dari gerbang pesantren. Lalu perlahan memudar, kembali menjadi bayangan, dan hilang sepenuhnya ke dalam kegelapan.

Yang tersisa hanya gerbang berkarat, bangunan bobrok, dan kesunyian malam.

Papan nama "Pesantren Al-Falah" bergoyang pelan ditiup angin. Cahaya bulan menerangi tulisan lain di bawahnya—tulisan yang sudah pudar dan retak.

Jika diperhatikan dengan seksama, tulisan itu berbunyi:

"DITUTUP 2004 - JANGAN DEKATI"

Dan di bawahnya lagi, dengan cat merah yang sudah mengering seperti darah terdapat tulisan:

"TEMPAT TERKUTUK - 7 SANTRI MENINGGAL"

Angin malam berhembus lebih kencang.

Pintu-pintu bangunan berderit.

Dan dari kejauhan, terdengar samar-samar...

Suara adzan Subuh.

Tapi adzan itu tidak seperti adzan biasa.

Suaranya... terdistorsi. Melengking. Memilukan.

Seperti jeritan.

Di dalam kegelapan pesantren, sepasang mata merah kembali menyala.

"Waktunya sudah dekat," gumamnya pelan. "Dia akan datang. Anak itu... akan datang ke sini."

Tawa rendah bergema menyeramkan di malam sunyi.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!