Perilaku Aneh Suami dan Ibu Mertuaku
Sumpah Tak Tahan
Malam ini.
Angin dari celah-celah jendela dapur terdengar mendesir pelan.
Dari sejak sore, Ibuk sibuk di dapur.
Memasak. Menyiapkan makan malam yang menurutku cukup mewah dibanding biasanya.
Aku berdiri di ambang pintu dapur, memandang punggung Ibuk yang tak henti bergerak dari kompor ke meja, dari meja ke wastafel. Tangannya lincah, seolah memasak untuk pesta besar.
Dia tak menoleh sedikit pun ke arahku.
Tidak menyapa. Tidak menyuruh. Bahkan tidak sekadar melempar pandang.
Dingin.
Beku.
Setiap kali aku mencoba mendekat, menawarkan bantuan, ia akan mendadak menarik perlahan alat yang kupakai.
Tadi aku ingin memotong wortel tangan keriputnya langsung mengambil pisau dari tanganku.
Ketika aku hendak mengaduk sup di panci, sendok kayu itu ditariknya pelan dan tanpa menoleh dia mengaduk sendiri.
Sunyi. Tanpa kata. Tanpa penjelasan. Hanya dingin yang mendominasi.
Aku mencoba tersenyum sopan, walau hatiku sebenarnya sudah tidak nyaman.
Lalu tanpa sengaja aku melihat sesuatu yang membuat napasku tercekat.
Sayur-sayuran yang kubeli pagi tadi, yang kubersihkan sendiri dengan air hangat, kupilah satu-satu supaya segar, bahkan aku sempat pisahkan bumbu basah dan kering untuk dimasukkan ke kulkas.
Sekarang, aku lihat sayuran itu sudah tertumpuk menjadi satu di dekat tempat sampah.
Kembali terbungkus plastik besarnya.
Aku mendekat pelan, memastikan bahwa aku tidak salah lihat.
Tapi benar.
Itu plastik dari pasar pagi tadi. Masih ada label harganya. Dan sayurnya masih basah tanda baru dikeluarkan dari kulkas atau wadah air.
Tapi sengaja ditaruh dekat sampah, seolah sengaja untuk membuatku paham bahwa usahaku tidak dihargai.
Deg.
Aku berdiri diam.
Padahal dulu ….
Ibuk adalah sosok yang kubanggakan.
Sungguh.
Sebelum menikah, aku sering bercerita pada teman-temanku tentang beliau.
Bahwa calon mertuaku sangat sopan.
Lembut.
Penuh kasih.
Sosok yang hangat dan dewasa.
Yang katanya, “Kalau kamu jadi istrinya Raka, kamu nggak cuma punya suami yang penyayang, kamu juga punya ibu kedua.”
Tapi sekarang .…
Yang kulihat hanyalah perempuan yang menatapku seperti musuh dalam rumahnya sendiri.
Yang mencuri setiap kesempatan untuk membuatku merasa kecil.
Yang menyingkirkan usahaku satu persatu untuk menjadi istri idaman anaknya.
Aku menarik napas panjang.
Dada ini rasanya berat, seperti dihimpit bebatuan besar.
Sakit, sakit sekali!
Jemariku meremas kantong plastik kresek berisi sayuran yang pagi tadi kubeli sendiri di pasar.
Aku mendongak, menatap punggung Ibuk yang sibuk di dapur. Tangannya cekatan mengaduk sayur di atas kompor, seolah tak terjadi apa-apa, seolah aku ini tak lebih dari udara kosong di belakangnya.
“Buk .…”
Suara lirihku hampir tak terdengar.
Ibuk tetap diam. Tidak menoleh, tidak bertanya. Hanya suara spatula kayu beradu dengan wajan yang mengisi ruang dapur kecil itu.
Aku menggigit bibir bawahku, menahan degup jantung yang makin cepat.
“Buk .…”
Aku panggil lagi, kali ini sedikit lebih tegas.
Tapi tetap saja tidak ada reaksi. Dia tetap sibuk. Seolah tak ada aku di situ.
Dadaku berdegup makin keras. Napas naik turun. Aku sudah tak sanggup lagi menahannya. Ingin rasanya ku acak-acak seluruh isi bumi sekarang juga!
Kugenggam kantong kresek itu erat-erat, lalu melangkah cepat ke arah Ibuk. Kuhentakkan plastik itu di atas meja dapur, hingga sayur-sayuran di dalamnya beradu, menimbulkan suara berisik.
“Buk! Ini sayuran yang aku beli kan?! Kenapa ada di situ, di dekat tempat sampah?!”
Nada suaraku meninggi, meski aku masih berusaha menahan diri.
Ibuk akhirnya berhenti mengaduk. Pelan, ia menoleh. Tatapan matanya kosong, seperti tidak peduli.
“Ini rumahku,” ucapnya datar. “Semua yang ada di sini milikku. Dan kau menyimpannya di kulkasku tanpa izin.”
Hah?
Aku terdiam sejenak, antara tak percaya dan ingin tertawa miris. Bola mataku membulat.
Dadaku sesak mendengar jawabannya.
“Buk … aku ini menantu Ibuk,” suaraku mulai bergetar, meninggi.
Ibuk menyeringai kecil. Bibirnya terangkat sebelah.
“Menantu?” Dia terkekeh pelan, nada suaranya meremehkan. “Jangan tinggi-tinggi suaramu, Nak. Tak pantas seorang istri bicara seperti itu kepada mertua. Kecuali … memang kau tak pernah diajarkan sopan santun oleh ibumu.”
Deg.
Aku terdiam sejenak.
Kata-katanya menusuk ulu hati.
Tapi aku buru-buru menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri, meski darah di kepala ini sudah naik sampai ubun-ubun.
“Jangan bawa-bawa orang tuaku, Buk!” bentakku akhirnya, tak kuat lagi menahan.
Ibuk menyeringai makin lebar. Dia berbalik menghadapku, bola matanya tajam, nyaris keluar dari tempatnya.
“Kau marah? Hanya karena kubuang sayuran busukmu itu?”
Aku menunjuk kantong kresek di atas meja, suara suaraku gemetar menahan amarah. “Sayuran itu segar, bersih, Buk. Aku yang beli, aku yang cuci dan aku taruh baik-baik di kulkas. Tapi kenapa Ibuk lempar ke dekat sampah?”
Ibuk menatapku tegas dan tajam.
Kemudian dengan pelan dia mendekat, langkahnya teratur.
“Karena ini rumahku!” bisiknya, dekat sekali di telingaku. “Semua di sini hakku! Kau di sini hanya numpang tidur di kamar anakku.”
Aku mencengkeram ujung meja, menahan diri agar tak menampar wajahnya saat itu juga.
“Buk …,” suaraku berat. “Aku ini istri Mas Raka! Aku berhak jadi bagian dari rumah ini. Aku punya hak atas Suamiku!”
Ibuk tertawa. Tawa sinis yang menggema di ruangan itu, bagai cambuk yang menghantam harga diriku.
“Hak? Kau pikir hanya karena kau istri, kau bisa merebut anakku dariku? Dia … Raka … anakku satu-satunya. Dia darah dagingku. Sampai kapan pun dia milikku!”
Aku terkesiap. Nafasku tercekat. Mataku memanas.
“Buk … Mas Raka itu sudah menjadi seorang suami. Dia bukan anak kecil lagi! Mau sampai kapan Ibuk perlakukan dia kayak begitu?!”
Ibuk menatapku, sorot matanya bagai pisau, tajam dan dingin.
“Kau … kau baru dua hari jadi istrinya. Baru dua hari, Ayna! Dan kau sudah berani bicara seperti ini kepadaku?! Kau pikir siapa kau di rumah ini?!”
Aku tak tahan. Dadaku bergemuruh. Tanpa sadar, air mataku jatuh.
“Aku … aku memang baru jadi menantu Ibuk. Tapi aku tetap manusia, Buk. Aku tetap seorang istri yang pantas dihargai!”
Ibuk mendekat makin rapat. Wajah kami hanya berjarak sejengkal.
Dia menatapku lama, lalu pelan-pelan bibirnya berucap, “Berani sekali kau bicara soal harga diri, Ayna. Lihat saja … kau tak akan betah lama di sini.”
“Aku bersumpah sebentar lagi, kau sendiri yang mengemis minta cerai dengan anakku.”
Dia berbalik, meninggalkanku begitu saja. Suara langkahnya terdengar berat di lantai dapur yang dingin.
Aku berdiri mematung. Napas memburu. Air mata makin deras. Tanganku masih gemetar di atas meja.
Dan di dalam hati, aku berbisik,
‘Ya Allah … kuatkan aku. Kalau memang rumah ini bukan tempatku … tunjukkan jalanku.’