Perilaku Aneh Suami dan Ibu Mertuaku
Rela Melakukan Apapun Asal Suamiku KEMBALI
“Saling berpegangan tangan!” perintah Mbah Karso lantang. Suaranya berat, seakan menggema di seluruh penjuru ruangan yang hanya diterangi nyala lilin itu.
Tanpa berpikir dua kali, aku langsung menggenggam tangan mamah di sebelah kiriku dan tangan seorang pria yang bahkan aku tidak tahu siapa di sebelah kananku. Begitu pula yang lain, membentuk lingkaran rapat mengelilingi tubuh Mas Raka yang terbaring diam di tengah, dikelilingi 27 lilin yang apinya bergoyang-goyang tak beraturan.
“Sekali lagi kuperingatkan!” seru Mbah Karso, matanya menyapu wajah kami satu per satu dengan tatapan mengancam. “Jangan ada yang melepaskan pegangan tangan … apa pun yang terjadi! Dengarkan baik-baik, apa pun yang kalian dengar, lihat, atau rasakan nanti … jangan ada yang menoleh ke arah mana pun. Jangan tergoda suara apa pun. Jika ada yang melepaskan tangan, maka bukan cuma Mas Raka tapi nyawa kalian semua juga akan terambil malam ini!”
Seketika suasana hening. Nafasku tercekat. Keringat dingin mulai mengalir di pelipis meski udara di ruangan itu terasa menusuk tulang. Bau dupa makin pekat, asap putihnya mengambang pelan di antara kami.
“Paham?!” bentak Mbah Karso.
“Paham, Mbah!” kami serempak menjawab meski suara sebagian dari kami bergetar.
“Bagus … sekarang mulai!”
Tanpa menunggu lama, Mbah Karso duduk bersila di ujung kepala Mas Raka. Ia mengambil seikat kemenyan, lalu menyalakannya. Asap hitam pekat membubung. Tangannya mulai merapal mantra dalam bahasa Jawa kuno yang terdengar asing di telingaku.
“Ingsun anggowo sukmo, marang alam kawuryan … kawelasan Hyang Agung, kawelasan Gusti Pangeran, kawelasan leluhur sakancik … kawelasan Gusti Allah .…”
Suara Mbah Karso berat.
Aku merasakan tangan mamah menggenggamku makin erat. Tubuhku gemetar, keringat dingin bercucuran. Angin tiba-tiba berputar di dalam ruangan. Api lilin meliuk makin liar. Suara desir angin disertai desis halus mulai terdengar … dan di sela mantra Mbah Karso, samar-samar mulai terdengar suara lirih … suara perempuan menangis. Pelan, tapi nyata.
“Jangan menoleh!” pekik Mbah Karso tanpa menghentikan mantranya.
Aku memejamkan mata erat-erat. Suara tangisan itu makin jelas. Kadang diselingi suara bisikan samar. Seperti ada yang berbisik tepat di telingaku.
“Ayna … Ayna … panggil aku … panggil aku .…”
Tubuhku bergetar hebat. Ingin rasanya menoleh, tapi aku ingat peringatan Mbah Karso. Aku menggigit bibir bawahku, menahan takut, menahan air mata yang mulai mengalir tanpa sadar.
“Astaghfirullahaladzim …,” lirih mamah, suaranya parau.
Tiba-tiba ada suara ketukan pelan di pintu depan. Sekali … dua kali … lalu ketukan keras bertubi-tubi.
“Tok! Tok! Tok! Toktoktoktoktok!!”
“Jangan hiraukan! Jangan jawab! Jangan buka! Dan jangan menoleh!” Mbah Karso berseru keras, suaranya terdengar lebih berat dari sebelumnya.
Suasana ruangan makin mencekam. Lilin-lilin tiba-tiba seperti membesar apinya. Asap makin tebal. Udara makin dingin menusuk tulang.
Tiba-tiba terdengar suara tawa cekikikan di pojok ruangan. Suara tawa perempuan yang begitu aku kenal. Suara itu suara ibuk.
“Hehehehe … kalian kira bisa ambil anakku semudah itu, hah? Kalian kira bisa putuskan ikatan batin ini dengan lilin dan mantra dukun tua? Kalian semua bodoh! Anak-anakku milikku sampai mati, sampai mati … sampai kalian semua ikut bersamaku!”
Suaranya berat, parau, seperti berasal dari lorong yang sangat dalam. Tapi tak seorang pun berani menoleh.
Tanganku bergetar hebat. Tubuhku dingin, namun keringat bercucuran. Hanya suara mantra Mbah Karso yang terdengar, bercampur deru angin dan suara-suara aneh yang entah dari mana asalnya.
“Ayna … buka matamu … lihat aku … ayo … buka matamu .…”
Suara ibuk bergema di kepalaku. Aku meringis, menahan ketakutan.
“Jangan dengarkan! Jangan buka matamu! Jangan lepas tangan!” bentak Mbah Karso, mantranya makin cepat, makin berat, seolah sedang melawan sesuatu yang luar biasa kuat.
Aku mulai menangis dalam diam. Air mata mengalir tak tertahan. Aku hanya bisa merapal doa dalam hati, memanggil nama Allah, memohon perlindungan.
“Ayna … buka matamu .…”
Suara itu makin dekat … makin dekat … seolah tepat di belakangku.
“Ingsun pantesake sukmo Raka bali marang awak kasadanane … bali marang awak kasadanane … bali marang awak kasadanane .…”
Mbah Karso terus melafalkan mantra yang kali ini nadanya lebih tinggi.
Tiba-tiba terdengar suara jerit panjang .…
“Arrrghhhh!!!”
Disusul suara benda berat jatuh ke tanah.
Semua lilin tiba-tiba padam bersamaan.
Gelap.
Hening.
Satu detik … dua detik … tiga detik …
Tiba-tiba, di antara suara mantra Mbah Karso yang tak henti dilantunkan, terdengar suara lirih yang begitu familiar di telingaku.
“Dek .…”
Suara itu, suara Mas Raka.
Aku sontak membuka mata. Begitu juga mamah, papah, dan beberapa orang lain di dalam lingkaran. Mata kami langsung tertuju ke tubuh Mas Raka yang sedari tadi terbujur kaku di tengah-tengah lingkaran lilin. Perlahan-lahan, kelopak matanya bergerak, membuka sedikit demi sedikit. Wajahnya masih pucat pasi, bibirnya pecah-pecah dan kering, namun dari celah itu terdengar jelas bisikannya.
“Dek … aku di mana …?”
Air mataku langsung tumpah. Napasku tercekat, tubuhku gemetar, seolah baru saja melihat sebuah keajaiban. Mamah menutup mulutnya, menahan tangis yang pecah. Papah beristighfar lirih. Semua mata tertuju pada tubuh Mas Raka yang mulai bergerak, mencoba bangun.
Namun, belum sempat aku mendekat suara itu berubah. Nada suaranya mendadak berat, parau dan menyeramkan. Bukan suara Mas Raka lagi. Itu suara ibuk.
“Kalian kira bisa mengambil anakku begitu saja …?!”
Pekikannya menggelegar di seluruh ruangan, membuat bulu kuduk kami berdiri. Wajah Mas Raka yang semula lemas mendadak berubah. Sorot matanya kosong, bibirnya tersenyum miring. Ia bangkit dengan setengah duduk, kepalanya menunduk, namun kedua matanya menatap kami penuh ancaman.
Mbah Karso yang sedari tadi membaca mantra, langsung menggertakkan gigi, lalu meninggikan nada bacaannya.
“Ingsun pantesake sukmo Raka bali marang jasad kasadanane … bali marang jasad kasadanane … bali marang asal …!”
Suasana menjadi begitu tegang. Angin tiba-tiba berputar di dalam ruangan. Api lilin bergetar liar. Keringat dingin membasahi tubuhku, tangan-tangan kami masih saling menggenggam erat, seperti menggenggam nyawa masing-masing.
Dan saat itu juga tubuh Mas Raka bergerak tak wajar.
Tangannya mencengkeram lantai, lalu tubuhnya terangkat, merayap di dinding seperti seekor laba-laba. Kepalanya menengok ke arah kami, senyum lebar terpatri di wajah pucatnya.
“Ini anakku … batinku … batinnya. Kami sudah satu. Tak ada siapa pun yang bisa memisahkan!”
Suara itu berat, parau, dan terdengar dari mulut Mas Raka, tapi jelas bukan suara miliknya.
Aku menahan isak, mataku basah. Melihat suami yang begitu aku cintai merangkak seperti makhluk mengerikan, tubuhnya menempel di dinding, berjalan dengan cepat memutari ruangan.
“Teruskan! Jangan lepas tangan! Jangan satu pun menoleh atau pecah lingkarannya!” bentak Mbah Karso, suaranya keras, menggema bersahut dengan mantra-mantranya yang kini makin cepat, makin berat nadanya, seolah bertarung langsung dengan makhluk halus yang menguasai tubuh Mas Raka.
Tiba-tiba, tubuh Mas Raka yang berada di dinding terlepas.
Brak!!!
Tubuhnya jatuh menghantam lantai keras. Semua orang terlonjak. Ia terbatuk keras, lalu dari mulutnya memancar d4r4h segar. Warna merah pekat bercampur busa mengucur deras, membasahi lantai. Tubuhnya kejang-kejang, napasnya memburu, lalu kembali terkulai lemas.
Semua lilin tiba-tiba redup bersamaan. Suasana kembali hening.
Mbah Karso mengusap wajahnya, peluh membanjir, suaranya parau saat berkata, “Kita … gagal.”
Nada suaranya berat, penuh penyesalan.
Aku menatapnya tak mengerti. Hatiku mencelos.
“Gagal …? Maksud Mbah …?”
Mbah Karso menarik napas dalam-dalam, menatapku dengan mata merah karena lelah. “Hanya istrinya … hanya kamu yang bisa menjemput sukma suamimu sendiri. Hanya batin istrilah yang bisa memutus belenggu batin ibuknya.”
Aku terperangah. “Aku …? Tapi Mbah … aku harus bagaimana…?”
“Besok malam. Saat purnama. Kita harus buka jalan sukma. Kau harus ikut aku ke panggungan leluhur. Di sana, kamu yang akan masuk ke alam batin. Kalau tidak … suamimu hanya akan menjadi boneka kosong, raganya hidup, jiwanya dipegang ibuknya ….”
Kata-kata itu membuat dunia serasa berhenti berputar.
Aku memandangi wajah Mas Raka yang terkulai lemas, darah masih mengalir dari mulutnya. Air mataku tak bisa dibendung. Tanganku menggenggam jemari pucatnya.
“Aku … aku akan lakukan apa pun. Asal suamiku kembali, Mbah ….”