Perilaku Aneh Suami dan Ibu Mertuaku
Ya Allah
Saat aku masih berdiri di depan kaca ruang ICU, mataku tak lepas dari sosok Mas Raka di atas ranjang itu. Napasku berat, dada sesak dan air mata belum juga berhenti sejak tadi. Dunia serasa berhenti berputar, yang terdengar hanya detak jantungku yang berdegup tak karuan.
Tiba-tiba, mamah menyentuh pundakku pelan.
“Ayna … sini, Nak … mamah mau ngomong,” bisiknya lirih.
Aku menoleh pelan ke arahnya. Wajah mamah tampak lelah, matanya sembab, rautnya kusut penuh kecemasan. Ia lalu menggenggam tanganku erat, seakan tak mau aku lepas. Tanpa menunggu jawaban, mamah menarikku ke sudut lorong rumah sakit yang sepi, di dekat deretan kursi tunggu kosong.
Aku menurut. Kakiku lemas, tubuhku lunglai, tapi aku biarkan mamah membawaku.
Begitu sampai di pojok itu, mamah menatapku dalam-dalam. Matanya merah, suaranya parau, seperti ada sesuatu yang sudah lama ingin ia katakan tapi ditahan-tahan.
“Ayna … mamah pikir … ini yang kita alami sekarang, bukan lagi urusan kriminal biasa. Bukan sekadar masalah keluarga … atau kekerasan. Ini …,” bisik mamah perkataannya terhenti, suaranya nyaris hanya berupa hembusan napas.
Aku menatap mamah, masih diam, hanya mendengarkan.
“Mamah curiga … ini ada hubungannya sama aliran sesat, Nak.”
Deg.
Aku menelan ludah. Kata-kata itu terdengar seperti petir di telingaku. Tapi di sisi lain, apa yang mamah ucapkan … masuk akal. Tidak ada logika yang bisa menjelaskan apa yang selama ini terjadi. Tidak bisa dinalar bagaimana seorang manusia bisa bergerak merangkak seperti itu, mengelak secepat kilat dari peluru, bahkan sampai tubuh Mas Raka hangus dari dalam tanpa sebab pasti.
Mamah melanjutkan, “Kamu tahu, Nak … dulu mamah pernah dengar soal kelompok-kelompok semacam itu. Mereka sembunyi, mengasingkan diri, hidup dengan ritual-ritual yang nggak masuk akal. Dan … biasanya, ilmu mereka ilmu hitam, turun-temurun ….”
Aku masih diam, menatap lantai, berusaha mencerna semua ini.
“Mamah ada kenalan, Nak … seorang dukun tua, laki-laki … orangnya nggak banyak omong, tinggal di pulau seberang. Dulu pernah bantu salah satu saudara mamah waktu ngalamin hal-hal kayak gini. Kalau kamu mau, besok kita bisa ke sana. Kita minta bantu dia,” ujar mamah, nadanya penuh harap.
Aku terdiam sejenak. Berusaha menimbang-nimbang. Tapi kemudian aku menggeleng pelan.
“Aku … nggak bisa, Mah … aku nggak akan kemana-mana. Mas Raka butuh aku di sini. Aku nggak tega ninggalin dia.”
Suara itu nyaris patah di ujung kalimatku.
Mamah memandangku lekat-lekat, lalu mengangguk pelan. Ada gurat kecewa di sana, tapi dia paham. Aku tahu, dia pun sebenarnya ingin tetap di sini, tapi kekhawatiran seorang ibu membuatnya ingin mencari pertolongan di mana pun ia bisa.
Aku bangkit dari kursi tunggu tanpa permisi, pelan-pelan, tanpa berkata apa pun. Kakiku rasanya berat, tapi tubuh ini seolah tertarik sendiri menuju kaca ruang ICU. Entah sudah berapa kali aku berdiri di sini malam ini, menatap tubuh lemah Mas Raka yang terbaring dengan puluhan selang dan alat medis di sekitarnya.
Aku tatap wajahnya yang pucat pasi itu dari balik kaca.
Masih lelaki yang sama, lelaki yang dulu pernah mengajakku tertawa di tengah hujan, yang pernah mengusap kepalaku saat aku menangis, yang pernah berjanji di depan penghulu akan selalu menjagaku.
Aku tarik napas dalam-dalam. Hatiku sesak.
Tanpa sadar, doa-doa yang sama kembali terucap di bibirku, berulang-ulang, nyaris seperti mantra yang tak pernah selesai.
“Ya Allah … Ya Allah, tolong … berilah pernikahan kami sekali lagi kesempatan. Sekali lagi kebahagiaan, sekali lagi kesempatan untuk Mas Raka menebus segalanya … aku mohon, ya Rabb …,” bisikku parau.
Air mata kembali tumpah.
Entah sudah berapa banyak air mata yang keluar sejak malam itu. Rasanya mataku bengkak, perih, tapi tetap tak bisa berhenti. Rasa kantuk mulai merayap, kelopak mataku berat, tubuhku letih. Tapi aku bertahan. Kupaksakan tetap menatap ke arah ranjang itu.
Tapi pelupukku mulai berat.
Tanpa sadar, tubuhku bersandar di dinding sebelah kaca, mataku perlahan menutup, masuk ke dalam gelap Antara tidur dan tidak, antara sadar dan tak sadar.
Dan di sanalah aku melihatnya Mas Raka, dia tersenyum lekat, benar-benar sehat.
“Dek … liat Mas.”
Suaranya terdengar pelan, lembut, sangat familiar. Aku menoleh, dan Mas Raka berdiri di hadapanku, bukan di ranjang ICU, tapi di depanku. Wajahnya bersih, senyumnya hangat seperti dulu. Tanpa luka, tanpa selang, tanpa lebam.
Air mataku seketika mengalir deras. Aku hampiri dia, tapi jarak itu seolah tak bisa ku jangkau sama sekali, jauh … jauh, jauh dan sangat jauh. Entah kenapa Mas Raka itu terlihat dekat tapi juga terasa jauh.
“Kenapa sedih?” tanyanya lembut. “Jangan sedih, ya. Terus bahagia … meski tanpa Mas.” Ia berbicara sambil tersenyum menatapku, matanya terus memandang ke arahku tidak sedetik pun berpaling.
“Mas … jangan ngomong gitu … jangan tinggalin aku, Mas … aku gak bisa sendirian, Mas … tolong …,” suaraku bergetar, nyaris histeris.
Tapi Mas Raka masih tersenyum tipis, matanya berkaca-kaca. Tatapan mata yang dulu seperti Mas Raka menyatakan cinta padaku, tatapan penuh cinta, penuh kehangatan penuh dengan rasa syukur telah memiliki gadis sepertiku.
“Mas pamit, Dek. Mas sebenarnya pengen nemenin kamu terus … Mas mau di sini … Mas mau jadi pelindung kamu … tapi Mas gak sanggup ngelawan Ibuk lagi, Dek. Mas khawatir sama kamu. Kalo Mas maksa bertahan … kamu gak akan pernah lepas dari bahaya. Biar Mas aja yang pergi sama Ibuk. Biar Mas bawa semua dosa ini. Kamu bahagia ya, sayang … kamu harus kuat … tolong …”
“Astaghfirullah … jangan Mas … Mas jangan .…”
Aku ingin meraih tubuhnya, tapi tanganku menembus kosong. Hampa. Dia perlahan menjauh.
“Mas … Mas … jangan tinggalin aku … Mas .…”
Suasana itu mulai memudar, cahaya di sekeliling kami meredup. Suara Mas Raka makin jauh.
“Bahagia ya, Dek … maafin Mas, sekali lagi maapin mas .…”
Tepat saat aku ingin berteriak, ingin menjerit histeris, tiba-tiba ….
Tittttttttttttttttttttttttttt ….
Suara panjang dari monitor jantung memecah keheningan. Tubuhku tersentak. Aku terlonjak bangun dari kursi ruang tunggu, napas terengah-engah, keringat dingin membasahi pelipis.
“Ayna!” mamah mengguncang bahuku.
Aku buru-buru bangkit, berlari ke arah kaca ICU.
Di dalam sana, para dokter dan perawat sibuk. Beberapa alat medis bergerak panik. Monitor jantung Mas Raka menunjuk garis lurus panjang. Lampu indikatornya menyala merah.
“Kode biru! Kode biru!” teriak salah satu perawat.
Tubuhku lemas. Kaki terasa tak mampu menopang tubuhku sendiri. Mamah memelukku erat, menahan tubuhku yang hampir ambruk.
“Ya Allah … Mas Raka … jangan Mas … jangan … tolong …,” aku terisak, air mataku pecah tak terbendung.