Perilaku Aneh Suami dan Ibu Mertuaku
Tak Peduli Apa Kata Orang
Sekarang giliranku. Aku duduk di ruangan sempit itu, dindingnya dipenuhi bercak cat kusam dan lampu neon di langit-langit berkedip lemah. Di depanku ada tiga orang polisi, masing-masing dengan wajah tegang dan serius. Seorang di antaranya sibuk menyalakan tape recorder, sementara yang lain mempersiapkan buku catatan dan pena.
Aku menarik napas dalam-dalam. Dadaku sesak, seolah beban dunia menumpuk di atas bahuku. Tanganku masih gemetar, sisa trauma kejadian semalam belum sepenuhnya hilang. Tapi aku tahu, aku harus kuat. Harus menyelesaikan ini.
“Baik, Ibu Ayna,” ujar salah satu polisi yang duduk tepat di depanku. Suaranya pelan tapi tegas. “Kami mohon, ceritakan semuanya dari awal. Mulai dari saat pertama kali kejadian itu terjadi, hingga detik terakhir sebelum kami datang.”
Aku menatap mata mereka satu per satu. Lalu kutarik napas panjang dan perlahan aku mulai bercerita. Kata demi kata keluar dari mulutku, awalnya terbata, tapi kemudian mengalir seperti luapan air bak.
Aku ceritakan tentang saat pertama kali melihat tingkah laku Ibuk yang janggal. Tentang suara-suara aneh di rumah, tentang Mas Raka yang berubah dingin dan kasar. Lalu tentang malam di mana aku memergoki sesuatu yang paling keji hubungan terlarang antara suamiku dan ibunya sendiri.
Polisi di depanku mencatat tanpa henti, pena mereka bergerak cepat mengikuti ritme ceritaku. Kadang-kadang aku berhenti sejenak, menahan sesak di dada, tapi mereka mempersilakan dengan anggukan sabar.
Aku lanjutkan tentang bagaimana aku dipasung di gubuk tua itu, tentang perempuan asing yang terikat rantai di pojok ruangan, tentang malam-malam yang kujalani tanpa tahu apakah esok masih bisa bernapas atau tidak.
Suara pena yang menggores kertas, suara tape recorder yang merekam dan detak jantungku sendiri seakan jadi satu-satunya suara di ruangan itu.
Hingga tiba di bagian paling mencekam saat Ibuk membakar ujung golok, tentang Mas Raka yang nyaris meninggalkan luka di wajahku dan tentang bagaimana akhirnya aku melawan.
Aku bercerita tentang kejar-kejaran di hutan, tentang sosok Ibuk yang bergerak seperti bukan manusia dan bagaimana akhirnya kami ditemukan mamah, papah, serta pihak kepolisian.
Mataku panas. Aku tak bisa menahan air mata yang kembali jatuh saat menceritakan bagaimana kami menyeret tubuh Mas Raka yang tak berdaya keluar dari gudang neraka itu.
Suasana ruangan jadi sunyi. Polisi yang tadinya sibuk mencatat kini terdiam, mata mereka berkaca-kaca.
Dan tepat saat aku hendak menceritakan bagian akhir kejadian, dering telepon mendadak memecah keheningan.
Kringgg … kringgg .…
Semua orang di ruangan itu tersentak. Polisi di depanku cepat-cepat meraih telepon kabel di meja. Suaranya berat saat menyapa di ujung sana.
“Halo … ya, Kapten di sini.”
Aku menatapnya cemas. Dia mendengarkan dengan wajah berubah tegang, ekspresinya seketika serius. Dahi berkerut, bibirnya mengatup rapat.
Lalu, tanpa aba-aba, ia meraup wajahnya dengan kedua tangan. Seperti orang yang baru saja mendengar kabar paling buruk.
Aku makin gelisah.
“Ada apa, Pak?” tanyaku pelan, napasku tercekat.
Polisi itu mengembuskan napas berat, menatapku lurus-lurus. “Bu Ayna … Anda harus segera ke rumah sakit sekarang juga.”
Darahku serasa berhenti mengalir.
“A-ada apa? Ada apa, Pak? Mas Raka? Mamah? Papah? Ada apa?!” suaraku nyaris histeris.
“Ini urgent,” ucapnya berat. “Kami belum bisa sampaikan detailnya di sini. Tapi dokter meminta Anda datang secepatnya. Keadaannya … kritis.”
Dunia rasanya berputar. Aku limbung, tubuhku goyah di kursi. Tanganku gemetar hebat, tenggorokanku tercekat.
Polisi itu buru-buru berdiri. “Saya antar. Tidak ada waktu lagi.”
Aku mengangguk cepat, menyeka air mata yang mulai jatuh tanpa kendali. Tanpa pikir panjang aku berlari keluar ruangan, diiringi langkah kaki para polisi.
Di lorong kantor polisi yang sepi, suara langkah kami menggema. Aku tak henti-hentinya berdoa dalam hati, berharap apa pun itu bukan kabar paling buruk yang selama ini kutakutkan.
*
Mau bagaimana pun .…
Apapun yang terjadi .…
Mas Raka tetap lelaki terbaikku.
Ya, lelaki terbaik yang pernah aku cintai, yang pernah aku sebut imam, yang pernah kuberi seluruh isi hatiku tanpa sisa.
Aku tahu … aku yakin … dia hanya korban.
Korban dari kebusukan perempuan yang selama ini ia panggil ibu. Korban dari belitan dosa masa lalu yang entah dosa siapa, tapi tumpah ke pundaknya.
Dia lelaki baik.
Aku kenal Mas Raka. Aku tahu bagaimana dia dulu. Bagaimana dia bersikap. Bagaimana caranya mencintaiku, bahkan dari hal-hal kecil yang tak pernah orang lain tahu.
Dia hanya korban .…
Dia lelaki baik .…
Dia hanya korban .…
Aku terus merapal kalimat itu dalam hati, seperti doa, seperti mantra yang bisa menguatkanku. Supaya aku tidak tumbang, supaya aku tidak goyah oleh fakta-fakta mengerikan yang belakangan ini menyerbu hidupku.
Air mata membasahi pipiku, tapi aku tak peduli.
Aku terus berdoa dalam hati. Mulutku komat-kamit tanpa suara.
Ya Allah … selamatkan dia.
Selamatkan lelaki itu.
Kalau memang dia salah, hukum dia dengan adil. Tapi jangan ambil nyawanya. Jangan, Tuhan … aku mohon.
Mobil polisi melaju kencang membelah malam. Sirinenya meraung, membelah jalanan kosong. Aku duduk di kursi belakang, tubuhku lemas, tangan terus gemetar. Di sampingku mamah memelukku erat, berusaha menenangkan walau aku tahu hati beliau juga remuk.
“Tenang, Nak … tenang …,” bisik mamah sambil terus mengelus lenganku.
Aku hanya mengangguk. Tidak ada tenaga untuk membalas kalimat itu. Napasku berat. Kepalaku pening. Tubuhku rasanya seperti melayang.
Mobil itu akhirnya berhenti mendadak di halaman rumah sakit. Aku nyaris jatuh saat pintu terbuka. Tanpa pikir panjang, aku berlari keluar.
Aku lari sekuat tenaga, menyusuri koridor rumah sakit. Derap langkahku menggema.
Lorong itu terasa panjang sekali, seolah tak berujung. Dinding-dinding putihnya memantulkan suara derap kakiku yang terburu-buru.
Aku terus berlari.
Menghindari tatapan para perawat yang heran melihatku. Tak peduli siapa yang memanggil dari belakang. Tak peduli mamah dan papah yang berusaha menyusul di belakangku.
Yang kupikirkan hanya satu, Mas Raka.
Aku ingin lihat dia.
Aku harus lihat dia.
Meskipun kata polisi tadi dia kritis. Meskipun kata dokter kemungkinan hidupnya tak lebih dari satu persen.
Aku harus lihat dia.
Sampai di depan ruang ICU, aku berhenti. Napasku tersengal. Kaki gemetar.
Di balik kaca, kulihat tubuh Mas Raka terbaring di atas ranjang.
Tubuh itu … bukan lagi seperti tubuh manusia hidup.
Pucat.
Penuh alat medis.
Selang menempel di hidung dan mulut. Kabel-kabel memantau denyut jantung yang lambat.
Aku pegang dadaku yang sesak.
Air mataku meleleh tanpa bisa kutahan.
Aku ingin masuk. Ingin memeluknya. Ingin bilang bahwa dia tak sendiri. Bahwa aku di sini. Bahwa aku tak akan pergi. Tapi dokter menahanku.
“Maaf, Bu. Tidak boleh masuk dulu. Kondisinya sangat kritis. Kami sedang berusaha.”
Aku menoleh ke arah dokter itu.
Matanya menunjukkan rasa iba.
Suaranya pelan, hati-hati.
“Mungkin … Bu Ayna sebaiknya berdoa saja. Karena … kalau dari hasil pemeriksaan kami … semua organ dalamnya hangus seperti terbakar. Mulai dari tenggorokan, paru-paru, jantung, hati, sampai lambung. Dan secara medis … itu mustahil terjadi.”
Aku tercekat.
Mustahil?
Tapi ini nyata. Aku melihat Mas Raka di balik kaca itu. Aku melihat tubuh itu masih bernafas meski lemah.
Aku pejamkan mata.
Aku pegang dada yang makin sesak.
Dan sekali lagi … aku rapalkan dalam hati.
Dia lelaki baik. Dia hanya korban. Dia lelaki baik. Dia hanya korban.
“Ya Allah … ya Allah … jangan ambil dia dariku …,” bisikku pelan, air mata tak henti mengalir.
Lorong rumah sakit itu kini terasa hening.
Hanya suara mesin monitor jantung Mas Raka yang terdengar pelan dari balik kaca. Suara ‘beep … beep …’ itu jadi satu-satunya pengingat bahwa dia masih hidup.
Meski begitu kecil …
Meski tinggal satu persen dari seribu…
Aku masih berharap.
Karena dia adalah lelaki terbaikku…
Dan sampai kapan pun … dia tetap Mas Raka-ku.
Aku tak peduli apa kata orang.