Perilaku Aneh Suami dan Ibu Mertuaku

Hasil Pemeriksaan

“Ini hasil pemeriksaan medis dan interogasi awal dari korban perempuan yang berhasil kita evakuasi tadi malam,” jelas seorang petugas kepolisian yang duduk di hadapan kami. Suaranya berat, raut wajahnya pucat, seolah dia pun masih belum sepenuhnya bisa menerima kenyataan tentang apa yang baru saja mereka temukan.

 

Aku duduk bersebelahan dengan mamah dan papah di ruang pertemuan kantor polisi itu. Suasana ruangan hening mencekam. 

 

“Dari hasil pemeriksaan medis sementara,” lanjut polisi itu sambil membolak-balik beberapa lembar berkas di tangannya, “Korban diperkirakan telah mengalami kekerasan fisik dan mental selama bertahun-tahun. Bahkan … hampir seumur hidupnya.”

 

Aku menelan ludah, tenggorokanku tercekat. Mamah spontan menggenggam tanganku erat, jari-jarinya dingin dan bergetar. Bibirnya komat-kamit membaca istighfar pelan, wajahnya makin pucat.

 

“La ilaha illallah … Astaghfirullah …,” bisik mamah di telingaku. Aku bisa merasakan tubuhnya bergetar menahan ngeri.

 

Polisi itu kembali melanjutkan, kali ini suaranya terdengar lebih pelan, tapi setiap kata yang diucapkannya bagai pisau yang mengiris dada.

 

“Dari hasil interogasi awal meski kondisinya masih sangat lemah dan mentalnya terganggu berat korban sempat mengaku, bahwa selama hidupnya di dalam ruang penyiksaan itu, ia telah dipaksa … melahirkan bayi sebanyak 28 kali.”

 

Ruangan sontak senyap. Aku dan mamah saling pandang. Nafasku tercekat, bulu kudukku berdiri, tubuhku membeku di kursi. Mamah menutup mulutnya, matanya langsung basah.

 

“Astaghfirullah … Ya Allah …,” isaknya, air matanya pecah seketika.

 

Aku mengatupkan kedua tanganku di dada, menahan sesak yang tiba-tiba menghimpit begitu berat.

 

“Kata korban …,” lanjut petugas itu, suaranya kini mulai bergetar, “Setiap bayi yang dilahirkannya … selalu dalam kondisi hidup. Namun setelah itu bayi-bayi tersebut langsung diKu8ur hidup-hidup oleh pelaku … yang kita kenal sebagai Ibuknya Raka … di bawah lantai tanah tempat korban dipasung.”

 

Aku merasa perutku mual seketika. Bayangan tentang puluhan jasad bayi mungil yang diKu8ur hidup-hidup di ruang sempit, gelap, lembap, dan busuk itu menghantui kepalaku. Betapa ngeri dan keji perbuatan itu.

 

Ini … ini bukan lagi perbuatan manusia.

 

“Astaghfirullah, Allahu Akbar … manusia macam apa itu …,” suara papah parau, matanya merah menahan amarah dan pilu.

 

Polisi itu menunduk sejenak, lalu melanjutkan, “Kami sudah menurunkan tim forensik ke lokasi untuk melakukan penggalian di area yang ditunjukkan korban. Dan benar … kami menemukan sejumlah kerangka bayi yang sudah menyatu dengan tanah. Jumlahnya belum bisa dipastikan … tapi sementara sudah ada enam kerangka yang berhasil diidentifikasi dalam semalam.”

 

Tiba-tiba salah seorang petugas medis masuk ke ruangan, wajahnya pucat pasi. Dia membisikkan sesuatu ke telinga penyidik.

 

Penyidik itu terdiam sejenak, lalu menatap kami. “Korban yang perempuan itu baru saja meninggal di ruang ICU.”

 

"Innalillahi wainna ilahi rojiun."

 

Hening.

 

Aku rasakan tubuh mamah limbung, untung papah sigap memegang bahunya.

 

“Dia sempat berkata sebelum napas terakhirnya ‘Jangan biarkan dia hidup … dia akan ambil kalian semua … dia akan datang untuk anak-anak kalian … dia dendam.’”

 

Suasana di ruang interogasi itu mendadak terasa berat. Udara seakan membeku, menahan napas kami semua. Aku duduk di samping mamah yang sejak tadi tak berhenti menggenggam erat tanganku. Papah duduk di seberang, wajahnya terlihat kusut, sorot matanya kosong, seakan belum sepenuhnya percaya dengan semua yang telah terjadi.

 

Di hadapan kami, Pak Heru perwira kepolisian yang sejak awal menangani kasus ini datang lagi membawa dua map tebal berwarna merah. Wajahnya terlihat letih, seperti seseorang yang menyimpan banyak beban berat di pundaknya. Ia menarik kursi, lalu duduk perlahan.

 

Sesaat ruangan itu hanya dipenuhi suara detak jarum jam dan napas kami yang tak beraturan.

 

Pak Heru membuka map pertama, matanya menyisir lembaran di dalamnya, lalu menatap kami bergantian. “Ada satu hal lagi yang harus kalian ketahui,” ucapnya pelan, suaranya berat seakan menahan sesuatu yang tak mudah diucapkan.

 

Aku menelan ludah. Perasaanku makin tak enak.

 

“Selama ini kalian mengenalnya sebagai Nurhayati, ibuk dari menantu ibuk kan?” katanya, menunjuk foto yang ditempel di map tersebut.

 

Aku dan mamah mengangguk secara pelan bersamaan.

 

Pak Heru menutup sebentar matanya, lalu melanjutkan dengan tarikan napas panjang. “Tapi setelah kami telusuri data-data kependudukan, sidik jari dan catatan rumah sakit, ternyata nama aslinya bukan Nurhayati.”

 

Aku dan mamah saling pandang, tubuhku langsung merinding.

 

“Nama aslinya adalah Farida,” lanjut Pak Heru.

 

Aku mematung.

 

“Jadi … dia bukan Nurhayati?” tanya papah, suaranya gemetar.

 

Pak Heru mengangguk. “Benar, Pak. Selama ini dia memalsukan identitas. Semua dokumen dari KTP, KK, surat pindah domisili, hingga catatan kematian keluarganya dibuat ulang dengan nama Nurhayati. Termasuk akta kelahiran suami ibuk Ayna.”

 

Aku memejamkan mata. Satu demi satu rahasia busuk terbuka.

 

Tapi ternyata itu belum seberapa.

 

Pak Heru kemudian membuka map kedua lebih tebal, lebih kusam. Di pojoknya tertulis: DATA KASUS 2006. Tangannya bergetar pelan saat membuka halaman pertama.

 

“Dan … ini yang lebih berat,” ucapnya lirih. “Kami akhirnya menemukan catatan kejadian yang terjadi di masa lalu.”

 

Ia menelan ludah, matanya menatapku, mamah dan papah secara bergantian.

 

“Farida … adalah korban perampokan dan pemerkos44n di tahun 2006. Saat itu usianya baru 20 tahun.”

 

Mamah menutup mulutnya, tubuhnya kembali limbung. Papah mengepalkan tangan di atas meja. Aku memejamkan mata, menahan perasaan yang tak bisa kudefinisikan.

 

“Rumah keluarganya di kampung sebelah habis dibant41 perampok. Ayah, ibu, kakak kandung, suami … di8unuh dengan kejam. Dan yang paling tragis .…”

 

Pak Heru terdiam sejenak, suaranya tercekat. Ia menarik napas dalam dalam berat sekali, seperti tidak ingin melanjutkan kata-kata itu. 

 

“Apa pak?” tanyaku pelan.

 

Pak Heru menarik napas kembali.

 

“Bayinya … baru saja lahir. Masih merah. Ditarik dari pelukan buk Farida, lalu … di90r0k di depan matanya.”

 

Seketika itu tubuhku bergetar. Mamah memekik pelan, pipinya basah oleh air mata. Papah memalingkan wajah, tak sanggup mendengarkan.

 

“Allahu Akbar …,” lirih mamah.

 

Pak Heru menarik napas berat kembali, lalu melanjutkan.

 

“Farida selamat … tapi bukan tanpa luka. Sejak kejadian itu, dia mengalami trauma hebat, didiagnosa alami gangguan kejiwaan berat selama beberapa tahun. Dalam laporan medis tertulis … dia kerap berbicara sendiri, meracau tentang bayinya, tentang keluarganya yang dibunuh dan tentang dendam yang tak pernah selesai.”

 

Aku menutup mulut, tak percaya.

 

“Setelah kejadian itu, dia menghilang. Data kependudukan dicabut. Pihak desa waktu itu juga tidak melaporkan keberadaannya karena diduga dia sudah meninggal saat rumahnya dibakar perampok.”

 

Pak Heru memandangi kami.

 

“Tapi rupanya … Farida hidup. Dengan identitas baru. Ia membangun ulang kehidupannya. Dengan kebencian. Dengan dendam. Dan dengan kelainan jiwa yang makin parah.”

 

Mamah menangis sesegukan. Papah memeluk bahunya.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!