Perilaku Aneh Suami dan Ibu Mertuaku
Hah!
“Ini … ini gila, Pak … Buk … sebaiknya kalian pulang saja. Ini … ini bukan urusan orang biasa lagi,” ujar Komandan Kepolisian dengan suara berat, nadanya penuh ketegangan. Wajahnya pucat, matanya tak berani menatap langsung ke arah ibuk yang berdiri tak jauh dari kami.
“Percayalah, seumur hidup saya jadi polisi … saya belum pernah lihat yang kayak begini …,” lanjutnya pelan, sambil memberi isyarat kepada anak buahnya untuk mundur perlahan.
Kami menoleh ke arah ibuk perempuan renta itu masih berdiri di tempat yang sama. Tubuhnya berlumuran darah, rambutnya acak-acakan menutupi sebagian wajah. Tangannya bertolak pinggang, matanya menatap tajam ke arah kami.
Mulutnya bergerak, komat-kamit seperti merapal sesuatu. Entah doa, entah kutukan. Tapi yang paling menyeramkan adalah senyumnya … senyum lebar yang tak wajar, menyeringai, seolah-olah menikmati ketakutan kami.
“Ayna … kamu lihat kan? Lihat tuh … dia bukan lagi manusia,” bisik mamah gemetar, air matanya tak henti mengalir.
Aku menggenggam tangan mamah makin erat. Napasku memburu, jantungku berdegup tak karuan.
“Pulanglah … segera! Sebelum malam berganti. Sebelum sesuatu yang lebih buruk keluar dari mana saja,” desis komandan lagi, tanpa menoleh ke arah kami. Matanya tetap waspada mengawasi ibuk, yang masih berdiri seperti patung hidup di antara kabut tipis malam itu.
Aku, mamah, dan papah pun langsung bergegas menuju mobil. Tapi sebelum pintu mobil tertutup, suara berat itu terdengar lagi.
“Kalian kira bisa selamat? Hahahaha … belum, anak-anakku … belum … kita akan bertemu lagi .…”
Suara tawa cekikikan itu terus menggema, menusuk-nusuk telinga, hingga mobil kami melaju.
Di spion, aku masih bisa melihat sosok ibuk. Berdiri, menyeringai, mengangkat satu tangan seperti melambai ….
*
Setibanya kami di rumah sakit, suasana makin mencekam. Lampu-lampu ruang IGD menyilaukan, aroma obat-obatan menusuk hidung, dan suara langkah kaki tenaga medis berlalu-lalang membuat suasana semakin tegang.
Mas Raka langsung ditangani. Beberapa dokter dan perawat segera membawa tubuhnya ke ruang tindakan. Aku, mamah, dan papah hanya bisa berdiri di luar, menunggu sambil terus mengucap doa dalam hati.
Beberapa menit kemudian, seorang dokter keluar, wajahnya tegang, keningnya berkerut dalam, masih mengenakan masker operasi yang sedikit basah oleh peluh.
“Keluarga pasien atas nama Raka?”
Aku langsung maju, “Saya istrinya, Dok .…”
Dokter itu menarik napas berat, menatap kami satu-satu sebelum akhirnya berbicara.
“Kami … kami belum pernah menemukan kasus seperti ini sebelumnya.”
Aku, mamah, dan papah saling pandang.
“Bagian dalam tubuh suami Anda … seolah terbakar. Mulai dari rongga tenggorokan, paru-paru, jantung, hati … hingga lambungnya … hangus, Gosong, Bu.”
Nada suara dokter itu berat, seolah ia sendiri tak percaya dengan hasil pemeriksaan barusan.
“Tapi anehnya, kulit luar tubuhnya masih utuh. Tak ada luka bakar sedikit pun di permukaan … tapi organ dalamnya, hancur. Seperti … terbakar dari dalam.”
Mamah langsung memegangi dadanya, wajahnya pucat pasi.
“Ya Allah … Astaghfirullah … ini … ini apa maksudnya, Dok?”
Dokter itu menggeleng perlahan, “Kami … bahkan belum bisa memastikan penyebabnya. Ini di luar nalar medis. Seumur hidup saya di dunia kedokteran … saya belum pernah menyaksikan kondisi seperti ini.”
Aku merasa tubuhku lemas, lututku hampir tak kuat menopang. Papah cepat-cepat menopang bahuku.
“Kemungkinan dia selamat … sangat kecil, Bu. Sangat kecil. Dari seribu kasus, kemungkinan hidupnya … hanya satu. Bahkan … bisa saya bilang, mustahil.”
Air mataku jatuh seketika.
Aku memegangi bibirku, menahan isak. Satu sisi ingin marah, ingin berteriak, tapi suara di tenggorokan ini seakan tercekat.
“Bagaimana bisa, Tuhan … kenapa begini …,” batinku meraung.
“Kami akan tetap lakukan yang terbaik. Tapi … bersiaplah untuk kemungkinan terburuk.”
Dokter itu pamit kembali masuk ke ruang tindakan.
Aku terduduk di kursi tunggu. Mamah menempelkan kepala ke bahuku, pelukannya gemetar. Papah duduk di sebelah kami, tak banyak bicara, tapi aku bisa lihat jemari papah mengepal kencang.
Kemudian Papah menatapku dengan mata penuh kebingungan. Tangannya gemetar, keringat di pelipisnya bercucuran meski ruang tunggu rumah sakit begitu dingin.
“Papah bingung, Mah … papah bener-bener bingung. Ini semua apa sih sebenernya? Dan kalian itu kok bisa sampai ke desa itu … kenapa bisa kayak gini? Cerita ke papah, Nak … papah mohon.”
Aku menunduk. Dadaku sesak. Tenggorokanku tercekat.
Sejujurnya aku gak pernah berniat menceritakan semua ini. Karena aku sendiri pun masih gak percaya semua yang terjadi. Tapi situasi udah gak mungkin aku pendam. Mas Raka sekarang kritis. Ibuk masih berkeliaran. Dan wajah mamah-papah penuh tanda tanya.
Aku menarik napas dalam, mencoba menahan suara gemetar.
“Pah … sebenernya ini baru kejadian kemarin sore … bukan seminggu lalu … bukan berhari-hari … bener-bener kemarin.”
Papah dan mamah langsung saling pandang.
“Kemarin?” bisik papah pelan.
Aku angguk pelan, air mataku mulai menetes.
Aku awalnya cuma … curiga. Mas Raka aneh. Dia tidur sama Ibuk. Aku kira karena Ibuk baru keluar dari rumah sakit. Tapi … ternyata ….”
Aku berhenti, tenggorokanku tercekat.
Mamah langsung menggenggam tanganku erat.
“Lanjutkan, Nak … mamah di sini .…”
Aku mengatup bibir, lalu perlahan membuka suara lagi.
“Aku gak sengaja denger suara di kamar itu … suara yang gak wajar. Aku samperin … aku intip dan aku lihat hal yang bener-bener .…”
Aku menahan sesak.
“Aku lihat mereka, Pah … Ibuk dan Mas Raka … kayak suami istri. Di kamar itu. Aku mau kabur, tapi malah ketahuan.”
Papah langsung berdiri. Mukanya merah padam, napasnya memburu.
“Astaghfirullah … Ya Allah .…”
Mamah menutup mulutnya, air matanya tumpah.
Aku mengusap pipiku pelan.
“Dari situ semua mulai kacau, Pah … Ibuk gak kayak manusia lagi … bahkan polisi pun gak bisa nembak dia kan. Peluru meleset semua. Papah liat kan waktu tadi lari ke hutan … kayak makhluk … aku gak ngerti harus cerita dari mana. Aku takut kalian gak percaya .…”
Papah langsung menghampiriku, memelukku erat.
“Papah percaya, Nak … papah percaya … kamu udah kuat … udah cukup … yang penting sekarang kamu selamat .…”
Aku terisak di pelukannya. Mamah ikut memeluk dari samping.
“Yang penting sekarang kamu di sini, sayang. … dan Mas Raka akan kita usahakan. Soal ibuknya … kita serahkan ke polisi … atau siapa pun yang lebih berwenang.”
Tak lama, beberapa anggota kepolisian datang menghampiri kami. Wajah mereka tegang, sorot mata mereka jelas menunjukkan ketegangan yang belum mereda. Seorang perwira berpangkat menepuk bahuku pelan, nadanya lembut tapi tegas.
“Dek, maaf ya … kamu harus ikut ke kantor sebentar, kami butuh keterangan lengkap soal kejadian ini. Kronologi sebenarnya dari awal sampai akhir. Supaya semuanya jelas dan bisa diproses hukum dengan benar.”