Perilaku Aneh Suami dan Ibu Mertuaku
Adik
“Adik … adik … sama kakak … kakak sama adik … adik kakak sama-sama .…”
Perempuan itu terus meracau dengan suara lirih dan sengau, berputar tanpa henti di kepalanya. Bola matanya kosong, tatapannya menerawang ke arah dinding gelap gudang itu, seperti jiwanya sudah lama tercabut dari tubuhnya.
Tangannya yang penuh bekas luka dan borok itu gemetar, rantai berkarat yang mengikat pergelangan kakinya akhirnya berhasil dilepas oleh salah seorang petugas polisi.
Saat rantai itu jatuh ke lantai dengan bunyi klontang!, perempuan itu tersentak. Kepalanya mendongak pelan, bibirnya bergetar, lalu ia tersenyum lebar, senyum yang tidak bisa diartikan antara bahagia, ketakutan, atau kesurupan.
Mamah yang berdiri di sebelahku tak kuasa menahan tangis. Air matanya mengalir begitu saja, melihat kondisi manusia yang disiksa begitu keji selama bertahun-tahun di dalam kegelapan gudang terkutuk itu.
“Ya Allah …,” lirih mamah, tangan menutup mulutnya, matanya berkaca-kaca menahan isak. “Manusia apa yang tega melakukan ini … manusia macam apa mereka …,” suaranya gemetar.
Aku pun menahan sesak di dada. Sumpah demi Allah, baru kali ini aku melihat makhluk sekarat yang masih hidup seperti ini. Tubuh perempuan itu tinggal kulit pembungkus tulang, rambutnya kusut tak jelas warna aslinya, kulitnya legam penuh luka lama, lebam, dan bercak darah kering.
“Adik … adik … sini … sama kakak … kakak sama adik … sama-sama … rumah kita di sini … di sini … jangan tinggalin kakak lagi … adik … adik .…”
Dia terus meracau, tangan kerempengnya meraih udara, seolah mencoba menggapai bayangan semu di hadapannya.
Petugas polisi tampak saling pandang. Salah satu di antara mereka menelan ludah, tampak ngeri namun tetap profesional. “Kita angkut ke mobil. Segera.”
Dua polisi laki-laki mendekat, pelan-pelan mengangkat tubuh rapuh perempuan itu. Saat tubuhnya disentuh, perempuan itu meringis kesakitan, suara kecil melengking keluar dari kerongkongannya.
“Sakit … sakit … jangan … jangan tinggalin … adik … adik … jangan tinggalin .…”
“Tenang, Mbak … kami bawa ke rumah sakit ya … kamu selamat sekarang …,” ucap polisi itu pelan, mencoba menenangkan.
Mamah sampai tak sanggup menahan air mata. Aku melihat wajah mamah benar-benar hancur, perih dan marah bercampur jadi satu. “Astaghfirullah … manusia macam apa si ibuk itu … sekejam ini … Ya Allah .…”
Aku pegang tangan mamah, menahan tubuhnya yang lemas.
Perempuan itu akhirnya berhasil dimasukkan ke dalam mobil polisi. Mobil itu melaju pelan meninggalkan halaman gudang.
Di depannya, garis polisi kuning sudah dipasang mengelilingi gudang dan pekarangan.
“POLICE LINE — DO NOT CROSS.”
Para petugas mulai menyisir area sekitar. Beberapa mengambil gambar, mencatat laporan, sementara tim medis masuk membawa brankar yang basah oleh darah dari dalam gudang.
Sementara itu, Mas Raka sudah lebih dulu dibawa ke rumah sakit menggunakan ambulans. Luka-lukanya cukup parah, beberapa bagian tubuhnya lebam, kepala sobek akibat benturan, dan kondisinya masih belum sadarkan diri.
“Kita harus pastikan dia diobservasi intensif. Tapi prosedur hukum tetap berjalan.” ujar seorang petugas pada papah.
Papah mengangguk berat.
Aku menatap rumah itu sekali lagi. Rumah tua yang di siang hari tampak biasa saja, tapi menyimpan rahasia kelam paling gila yang pernah kubayangkan.
Angin malam menyapu rambutku pelan. Entah mengapa, di antara ketakutan dan trauma yang masih menusuk dada, ada kelegaan di hati. Setidaknya malam ini, neraka itu sudah terbongkar. Setidaknya tidak ada korban lagi setelah ini.
Dan ibuk … entah hal gila apa yang sebenarnya terjadi.
“Sudah, sayang … kita pulang ya … kamu aman sekarang, Nak …,” bisiknya pelan, sebelum memelukku sekali lagi.
Aku mengangguk pelan. Setetes air mata jatuh dari sudut mataku.
“Terima kasih, Mah … kalau mamah nggak datang tadi, aku udah mati.”
Mamah mengelus rambutku. “Anak mamah itu kuat … Ayna kuat. Tuhan masih jagain kamu, sayang.”
Mobil polisi yang mengangkut perempuan itu menghilang di tikungan, membawa pergi satu-satunya saksi hidup dari kekejaman keluarga ibuk.
Polisi mulai mengepung area itu. Teriakan komando menggema di udara malam. Lampu-lampu senter menyorot liar ke segala arah, membelah gelapnya pekarangan tua dan semak belukar di sekitar rumah itu.
“Cari dia! Jangan kasih lolos!”
Seorang komandan polisi berteriak.
Derap langkah kaki para polisi terdengar terburu-buru. Beberapa peluru sempat dilepaskan, suaranya memekakkan telinga di tengah keheningan malam.
Dor! Dor! Dor!
Tapi yang terjadi justru di luar akal sehat.
Sosok itu, ibuk bergerak dengan kecepatan tak masuk akal. Dia merangkak pesat di tanah, seperti seekor bayi, tubuh tuanya bergeser cepat, tangan dan kakinya mencakar tanah seperti hewan buas.
Peluru-peluru yang ditembakkan ke arahnya nyaris tak ada yang mengenai. Seolah tubuh renta itu bisa membaca arah peluru sebelum ditembakkan. Ia menghindar dengan lincah, melesat ke kiri dan ke kanan, merunduk dan meloncat seperti makhluk yang tak lagi berjiwa manusia.
“Astaga … GILA! Apa-apaan itu?!”
Salah seorang polisi panik.
Aku, mamah, dan papah berdiri membatu tak jauh dari sana. Bulu kuduk kami berdiri. Udara seolah membeku. Rasanya seperti menonton makhluk iblis yang lepas dari neraka.
“Kenapa jadi begini …? Kenapa jadi kayak gitu?”
Suara mamah gemetar. Tangannya menggenggam erat lengan papah, wajahnya pucat pasi.
Aku pun tak bisa berkata-kata. Napasku memburu, tenggorokanku kering.
“Sepertinya dia … dia pakai ilmu hitam, Mah!”
Papah berkata dengan nada bergetar, matanya tak lepas dari sosok ibuk yang kini menjauh ke dalam kegelapan hutan.
“Pah! Jangan ngawur! Mana ada jaman sekarang hal-hal kayak gitu!”
Mamah membentak, tapi nada suaranya terdengar lebih seperti menutupi rasa takutnya sendiri.
Karena kenyataannya aku, mamah, dan papah sama-sama melihat apa yang tadi terjadi. Sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan logika, tidak bisa diterima akal sehat.
Sosok perempuan renta yang semula manusia, kini bergerak bukan lagi sebagai manusia. Merangkak cepat ke dalam hutan, kepalanya sesekali berputar ke arah kami, menampakkan wajah senyum menyeramkan, bola matanya nyalang, rambutnya berantakan, bibirnya basah darah.
“Kalian kira … sudah selesai?!”
Teriakan seraknya menggema, diiringi tawa cekikikan yang membuat malam makin mencekam.
“Hahaha … dendam ini belum lunas, anak-anakku .…”
Tiba-tiba lampu senter salah satu polisi jatuh ke tanah, menyorot sebuah pohon tua besar di tepi hutan. Di sana samar-samar tampak sosok ibuk berdiri. Ya, berdiri masih lengkap menggunakan kebaya pengantin berwarna merah.
Padahal sebelumnya dia merangkak, kini entah bagaimana tubuh tuanya tegak. Wajahnya masih berdarah, senyuman mengerikan itu tak berubah. Bola matanya menatap lurus ke arahku.
“Kau kira bisa lari, Nak? Hahaha .…”
Tawanya lirih, tapi menggema di telingaku.