Perilaku Aneh Suami dan Ibu Mertuaku

Ini Mimpi kan?

Twit … twit .…

 

Bunyi remot mobil terdengar di keheningan. Lampu hazard di mobil sedan tua itu berkedip dua kali, menandakan pintu sudah terbuka.

 

Aku dan Mas Raka sama-sama terengah, masih berlari kecil dari balik semak-semak, napas kami memburu.

 

“Cepetan Mas, cepet!!” aku panik, tanganku gemetar ingin segera masuk ke mobil, ingin kabur dari tempat sialan ini.

 

Mas Raka buru-buru memencet remot sekali lagi.

 

Twit … twit .…

 

Mobil terbuka. Aku sudah pegang gagang pintunya.

 

Tiba-tiba .…

 

Dari arah semak-semak belakang mobil, suara itu datang.

 

“RAKAAAAA … ANAKKUUUU!!!”

 

Demi Allah. Suaranya. Astagfirullah .…

Suara itu melengking panjang, berat, tapi basah, kayak suara orang ngorok bercampur cekikikan, suara yang bahkan setan pun pasti bakal lari denger beginian.

 

Aku dan Mas Raka sama-sama reflek menoleh bersamaan.

 

Astaghfirullah .…

 

Di bawah remang-remang lampu mobil, Ibuk muncul dari balik gelapnya pepohonan.

Merangkak pesat.

Ya, merangkak dengan kecepatan gak manusiawi, tubuhnya compang-camping, rambut gosong masih basah bercampur tanah dan darah. Kedua tangannya mencakar-cakar tanah, matanya membelalak merah, wajahnya sebagian hangus, tapi mulutnya menyeringai lebar.

 

“Kalian?… mau kemana … hah?! Dendamku belum selesai, Nak … sedikit lagi … tinggal sedikit lagi … HAHAHAHA ….”

 

Aku menjerit kecil. Mas Raka memegang pundakku, matanya melebar.

 

“Mas … mobil! Cepet masuk!”

 

Tapi Ibuk sudah lebih dulu berputar-putar mengitari kami dengan posisi merangkak, cepat, seperti binatang buas yang lapar.

 

“Lihat aku, Ayna … Lihat mertuamu ini!”

Dia berhenti persis di depanku, menengadahkan kepala dengan leher yang berderak, menatapku dengan mata merah menyala. “Bukankah kamu bangga menikahi anakku? Bukankah kamu senang jadi bagian dari keluargaku? HAH?!”

 

Aku mundur, tubuhku lemas, tak kuat menahan napas. Bau busuk dari tubuhnya menampar wajahku keras.

 

“Mas, ayo!!”

Aku panik.

 

Mas Raka langsung menarikku ke arah pintu mobil. Tapi Ibuk lebih cepat, menyergap bagian depan mobil, memukul-mukul kap mobil keras.

 

BRUK BRUK BRUK!!!

 

“KALIAN TIDAK AKAN PERGI!!!”

 

Aku ingin pingsan saking takutnya.

 

“Mas, buka pintunya! Cepetan!”

Aku teriak.

 

Twit … twit .…

Mas Raka buru-buru memencet remot, membuka kunci pintu.

 

Tapi Ibuk sudah di situ, di depan kaca depan, menempelkan wajahnya ke kaca, menyeringai, lidahnya menjulur menjilat-jilat kaca depan.

 

Aku histeris.

“Astaghfirullah … ASTAGHFIRULLAH!!!”

 

Mas Raka langsung buka pintu, menarikku masuk, dia masuk dari sisi supir.

 

Belum sempat mobil dinyalakan .…

 

Ibuk memanjat ke atas kap mobil, menggeram keras.

 

“Kalian milikku … SELAMANYA!!!”

 

Suara ketuk-ketuk keras di kap mobil bikin jantungku mau copot.

 

Aku dan Mas Raka saling pandang. Keringat dingin mengucur deras.

 

“Mas, tancap gas sekarang!!!”

 

Aku menjerit di kursi penumpang sambil gemetar hebat. Tanganku memeluk dada, napas memburu tak karuan. Seluruh tubuhku basah kuyup oleh keringat dingin.

 

Mas Raka buru-buru memutar kunci kontak.

 

“Klik!”

 

Mobil menyala. Lampu depan menyorot lemah, menembus kabut tipis di sela pepohonan tinggi yang bergoyang pelan diterpa angin.

 

Tiba-tiba .…

 

BRAAAKK!!!

 

Ibuk melompat di  atas kap mobil, berdiri dengan kedua tangan dan kakinya seperti laba-laba. Rambutnya terurai berantakan, wajahnya setengah hangus gosong tapi matanya menyala merah menyala seperti bara api.

 

“Kalian … nggak … AKAN … PERGI!!!”

 

“CEPET MAS!!!”

Aku berteriak sekuat tenaga.

 

Mas Raka tancap gas.

 

VROOOOMMM!!!

 

Mobil bergerak maju menabrak semak-semak. Tubuh Ibuk terjungkal, jatuh ke sisi jalan, tapi tertawa terbahak-bahak.

 

“HAHAHA HAHAHA!! BELUM SELESAI, NAK!!!!!!”

 

Aku membekap mulut sendiri. Suaranya seperti suara orang yang ditenggelamkan lumpur tapi tetap bisa tertawa.

 

Mobil melaju makin cepat, menembus jalan setapak hutan kecil. Suara-suara ranting patah, desis angin dan suara ketukan samar-samar di atap mobil masih terdengar.

 

Aku beranikan diri menoleh ke belakang.

 

Astaghfirullah .…

 

Di belakang mobil .…

bayangan hitam Ibuk berlari merangkak di sepanjang jalan setapak, kecepatannya gila-gilaan. Setiap dia bergerak, ranting-ranting pohon patah, kabut berputar.

 

“Mas … dia … dia ngikutin kita, Mas!!!”

 

Mas Raka menginjak pedal lebih dalam.

 

“Pegangan, Dek!!!”

 

Ban mobil menabrak batu besar, mobil sedikit oleng.

 

Aku berteriak kecil, tapi Mas Raka tetap fokus. Jalanan makin sempit dan hutan makin pekat. Daun-daun tinggi di atas seperti menutup langit, tak ada cahaya bulan sedikit pun.

 

“Mas … jalan ini jangan-jangan buntu .…”

 

Tiba-tiba .…

 

Di kejauhan, aku lihat lampu redup…

Sebuah gerbang bambu tua, reyot, dengan tulisan pudar ‘DESA RANGKAS PUNA’

 

“Itu jalan keluarnya, Mas! CEPAT!!”

 

Mobil semakin dekat.

 

Tapi .…

 

“RAKAAAAAAAAAA!!!”

 

Suara itu lagi. Kali ini jauh lebih dekat.

 

Aku menoleh.

 

Demi Allah .…

 

Ibuk berdiri di tengah jalan, persis di depan gerbang.

Matanya merah. Tubuhnya berlumuran darah. Tangannya membawa sesuatu seperti kepala kambing busuk yang meneteskan darah.

 

“KALIAN KEMBALI!!!”

 

Mataku membelalak, sebenarnya apa ini?!

 

Mas Raka menginjak pedal gas sampai habis.

 

VROOOOOOMMMMM!!!

 

Mobil melaju secepat mungkin, menabrak apa saja yang ada di depannya. Aku hanya bisa merem, menangis, dan membaca doa.

 

BRAKKK!!!

 

Tubuh Ibuk terpental ke samping. Kepalanya menghantam batu besar.

 

Mobil kami melaju membelah jalanan gelap yang hanya disinari lampu redup kendaraan. Kabut mulai menebal, menyelimuti sepanjang jalan hingga jarak pandang nyaris tak lebih dari dua meter. Suasana begitu sunyi, hanya suara deru mesin dan detak jantung kami berdua yang terasa menggema di dalam mobil.

 

Aku masih menggenggam lengan Mas Raka erat-erat. Napasku tersengal, dada sesak seolah paru-paru tak cukup menampung oksigen. Perasaan takut, panik dan trauma bercampur jadi satu.

 

“Mas … pelan, Mas … aku takut,” lirihku.

 

Mas Raka tak menjawab. Matanya menatap lurus ke depan, wajahnya pucat, bibirnya gemetar. Tangannya mencengkram setir kuat-kuat hingga kuku-kuku jarinya memutih. Ia hanya sempat menoleh sekilas ke arahku, mengerjap, lalu kembali fokus ke jalanan yang samar-samar.

 

Tiba-tiba.

 

Seekor bayangan hitam besar melintas di depan mobil.

Kami refleks berteriak.

 

“AAAKHHHH!!”

 

Mas Raka membanting stir ke kanan, ban depan tergelincir ke pinggiran jalan setapak yang licin. Ban belakang terpeleset.

 

Aku menjerit histeris.

 

“MAS!! AWASSS!!”

 

BRAK!!

 

Mobil menghantam batu besar di tepi jalan, terpental ke arah berlawanan. Setir lepas kendali.

 

“YA ALLAH!!”

 

Brakkkk!!!

Ban mobil masuk ke lubang tanah basah. Dalam hitungan detik, mobil miring.

 

Aku merasakan tubuhku terlempar ke kiri, kepalaku membentur kaca jendela. Mas Raka mencoba menarik rem tangan, tapi sudah terlambat.

 

“AYNAAAA!! PEGANG AKU!!”

 

Aku meraih tangannya. Jemari kami saling menggenggam, erat, seakan tak ingin terpisah barang sedetik pun.

 

Mobil terguling.

 

Sekali … dua kali … tiga kali .…

 

BRAAAAKKK!!

 

Kaca mobil pecah. Suara benda-benda di dalam mobil beterbangan. Tubuh kami terguncang ke sana kemari.

 

Pelipis Mas Raka membentur kemudi keras. Aku sempat melihat darah mengucur dari pelipisnya, bibirnya mengerang.

 

“Ayna … aku … maafkan aku .…”

Suara itu nyaris tak terdengar, lemah, begitu lemah.

 

Air mataku luruh.

 

Tubuhku sakit, terjepit di antara dashboard dan pintu. Pandanganku mulai buram. Kepalaku pening.

 

Aku masih sempat melihat Mas Raka mencoba meraih tanganku lagi, meski tubuhnya lemah, pelipisnya berdarah dan matanya nyaris tertutup.

 

“Ayna … jangan … tinggalin aku .…”

 

Gelap .…

 

Aku tak tahu lagi apa yang terjadi.

Suara detak jantungku pelan.

Udara pengap memenuhi rongga dadaku.

 

Sebelum kesadaranku benar-benar hilang, aku sempat melihat bayangan hitam samar di kejauhan, berdiri tegak di tengah kabut.

 

Ya Allah .…

 

Itu dia.

Ibuk.

Masih di sana. Masih menatap kami dengan senyum mengerikan di wajah hangusnya.

 

Senyum kemenangan.

 

Dan akhirnya aku benar-benar gelap.

Sunyi.

Sepi.

Dingin.

 

Ini apa? Mimpi? Jika iya ini terlalu buruk.

 

Sampai rasanya dunia menelanku secara utuh.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!