Perilaku Aneh Suami dan Ibu Mertuaku
Kau atau Aku yang Mati?
“Mas! Cukup, Mas! Kau mau jadi pembunuh?!”
Aku berteriak sekuat tenaga, meski suara serakku hampir tak terdengar. Tubuhku gemetar hebat, tapi entah dari mana kekuatan itu datang. Aku merangkak, menyeret tubuhku yang masih lemah ditambah pasungan si4lan yang berat ini, lalu cepat-cepat melepas baju yang menempel di tubuhku.
Tak peduli.
Tak sempat.
Saat itu yang kupikirkan hanya satu menghentikan kegilaan ini.
Asap tipis mengepul dari rambut ibuk yang mulai terbakar di bagian atas. Bau hangus rambut bercampur kain terbakar memenuhi ruangan pengap itu. Suaranya merengek, merintih kesakitan.
“Aaaaarrghhh … Rakaaa … anak durhakaaaa …!!!”
Aku tak peduli.
Kulemparkan bajuku ke kepalanya, lalu kutangkupkan erat-erat, kugosok kuat-kuat memadamkan api di kepalanya. Jemariku merasakan panas yang menyengat, tapi aku tak mundur. Tubuhku sudah terlalu lelah untuk merasakan sakit.
“Mas, tolong tahan dia! Aku … aku harus matikan apinya!”
Mas Raka masih tertegun, wajahnya memucat, bola matanya merah menyala penuh amarah dan air mata. Golok di tangannya jatuh beradu dengan lantai semen, menimbulkan dentingan yang memilukan.
Aku terus menekan kain itu di kepala ibuk. Suara desis api yang padam pelan-pelan mulai mereda, menyisakan kepulan asap dan bau hangus yang menusuk hidung.
Ibuk menggeliat, mengerang.
“Aaaarrghhh … dasar anak h4r4m …!! Kubunuh kalian semua …! Aku … aku .…”
“Diam kau, Buk!!”
Teriak Mas Raka akhirnya, nadanya parau, gemetar.
Aku mendongak, menatap wajahnya. Ada sesuatu yang baru di sana. Entah penyesalan, atau kesadaran yang terlambat.
“Mas,… cukup,… jangan tambah dosa. Kita cukup sampai sini. Kita manusia, Mas. Kita bukan 1blis. Kalau kamu membunuh … apa bedanya kamu sama dia?”
Aku bicara sambil gemetar, napasku masih tersengal, bajuku kini penuh abu dan sisa rambut gosong. Tubuhku hanya tertutupi dalaman, tapi aku tak peduli lagi soal itu.
Mas Raka menunduk. Tangannya terkepal. Tubuhnya gemetar hebat.
“Aku … aku cuma … aku nggak tahan lihat dia … dia … dia rusak semua hidup kita, Dek … Dia bikin aku kayak bin4t4n9… Dia bikin kamu hampir mati … Dia ….”
Aku raih tangannya.
“Sudah, Mas … cukup. Kau sudah cukup berani malam ini. Kau sudah cukup … sekarang ayo kita pergi.”
Ibuk masih meringkuk di lantai, tubuhnya mengejang, rambutnya hangus sebagian, kulit kepalanya melepuh. Tapi aku tak sudi menatapnya lebih lama. Dia pantas mendapatkan balasan dari Tuhan, bukan dari tangan kami.
“Mas … dengar aku … ayo pergi .…”
Aku tarik pelan tangannya. Napas kami memburu. Langkah pelan-pelan menuju pintu gudang tua itu.
Samar-samar aku mendengar suara ibuk menggerutu,
“Kalian nggak akan selamat … d4r4h kalian … d4r4h hin4 … Raka … kau anak h4r4m … anak j4l4ng …!!!”
Tapi aku tak peduli.
Aku genggam tangan Mas Raka erat-erat.
Langkah nya berat, tapi penuh harap.
Dari balik pintu, cahaya remang-remang malam menyambut kami. Udara luar lebih segar, meski masih terasa mencekam.
“Aku janji … aku nggak akan pernah tinggalin kamu lagi, Dek…”
Bisik Mas Raka lirih.
Aku mengangguk, air mata mengalir deras.
“Aku juga … asal kita keluar dari neraka ini, Mas … asal kita hidup .…”
Aku masih yakin.
“Mas … pasungan ini … tolong bukain ya … Mas … sakit … berat banget kaki aku, Mas … aku nggak kuat .…”
Aku berbisik pelan, nyaris tak terdengar. Tubuhku sudah terlalu lemah, keringat dingin membasahi sekujur tubuh dan sekuat apa pun aku berusaha bergerak, pasungan kayu yang membelenggu pergelangan kakiku itu terlalu kuat.
Aku mengerang pelan, mencoba menggeser tubuh, tapi rasa sakitnya menjalar ke sekujur kaki. Seperti ditarik, seperti dihimpit benda berat. Kulit di pergelangan kakiku bahkan sudah lecet, menghitam di beberapa sisi.
Mas Raka terpaku sejenak.
Dia menatap kaki itu melihat luka yang membiru, kulit yang robek, bercampur darah kering. Dadanya naik turun. Air matanya jatuh begitu saja.
“A-Ayna … Ayna … Allah … ampuni aku … ampuni aku, Dek … aku k3p4r4t … aku … aku b4jing4n .…”
Suaranya parau, isaknya berat.
Tangannya gemetar saat menyentuh pasungan itu. Jemarinya seperti tak mampu bekerja, beberapa kali ia coba menarik besi kayu itu, namun terlalu kencang.
“Sabar, sayang … sabar … bentar ya … bentar .…”
Isaknya makin keras.
Aku hanya bisa menahan perih.
Mataku basah. Aku tahu dia menyesal tapi hati ini, luka ini, trauma ini terlalu dalam untuk sekadar dihapus dengan air mata.
“Aku … aku minta maaf, Ayna … maaf … aku peng3cut … aku beg0 … aku s3t4n … aku .…”
Mas Raka terus mengutuk dirinya sendiri.
Aku pegang tangannya, lemah, nyaris tak berdaya.
“Udah Mas … buka aja dulu … nanti kita bicara .…”
Tangannya akhirnya bisa menarik kunci pasungan itu meski butuh waktu, meski harus dipaksa.
Kayu itu berderit keras saat terbuka. Pasungan terlepas.
Kakiku serasa mati rasa. Darah segar merembes di bekas luka, kulit terkelupas di beberapa bagian. Aku meringis, tapi juga menangis lega.
Mas Raka langsung memeluk kakiku, menciumi pergelangan kakiku yang luka, membanjiri dengan air mata.
“Astagfirullah … Ayna… aku tega … aku tega ya Allah … aku tega banget … maafin aku … maafin aku … aku keparat … aku anak setan … aku ….”
Aku menangis makin keras. Tak sanggup lihat pemandangan ini. Tak sanggup dengar kata-katanya.
“Mas,… cukup … ayo kita pergi… ayo keluar dari sini … aku nggak kuat lagi di tempat ini, Mas … aku takut … aaku ….”
Aku tersadar, tiba tiba aku melirik perempuan kurus itu, tubuhnya masih terpasung, matanya yang kosong menatapku dengan senyum samar. Bibirnya pecah-pecah, suara seraknya keluar pelan.
“Kamu hebat … bisa lawan dia … polisi aja gak ada yang berani … dor … dor … dor …”
Tangannya mencoba menggapai udara, seolah memegang pistol khayalan. Mulutnya komat-kamit, matanya menerawang. Entah sudah berapa lama dia dipenjara di tempat itu, tubuhnya penuh luka, lebam,m dan bekas sundutan api.
Mas Raka mendekat, berjongkok di hadapannya. Tangannya gemetar saat mencoba membuka pasungan di kaki perempuan itu.
“Aku bantu … aku lepasin … tahan ya … bentar lagi …,” suaranya berat, terbata, diselingi isakan tertahan.
Beberapa kali dia menarik rantai karat itu, tapi percuma. Besi tua itu terlalu rapat, malah menyayat kulit yang sudah melepuh. D4r4$ segar merembes lagi.
“Aduh … jangan … jangan pegang … sakit … sakit …,” lirihnya parau.
Mas Raka mundur sedikit, memukul lantai kayu dengan kepalan tangan. Frustrasi.
“Si4l! Aku butuh alat … aku gak bisa buka pakai tangan kosong begini …,” gumamnya.
Aku ikut mendekat, jongkok di sampingnya. Mataku berkaca-kaca.
“Mas … kita keluar dulu nanti kita bawa polisi, orang-orang, kita geledah semua, kita bebaskan dia … kita nggak bisa biarin dia di sini sendirian …,” bisikku, nyaris tercekat.
Perempuan itu mendongak. Ada air mata di sudut matanya yang kosong.
“Adik … beneran balik? Jangan kayak yang lain ya … semua dulu janji kayak gitu … tapi gak ada yang balik … dia bunuh mereka … semua … semua … aku dengar … aku lihat …,” suaranya pelan, nyaris seperti gumaman orang yang putus asa.
Mas Raka menarik napas berat, matanya berkaca-kaca.
“Aku janji … aku sumpah demi Allah … kami balik … kamu gak sendiri …,” katanya mantap.
Perempuan itu tersenyum kecil.
“Bawa senjata ya … dor … dor … dor … biar gak bisa hidup lagi …,” bisiknya parau, lalu tawanya meletup pelan, getir.