Perilaku Aneh Suami dan Ibu Mertuaku
Cukup Sampai Disini
POV mamah Ayna
Setibanya kami di depan halaman rumah itu, aku langsung tercekat.
Kosong.
Tak ada suara.
Tak ada lampu yang menyala satu pun.
Gerbang besi rumah putih bercat gading itu terbuka lebar, berdecit pelan tertiup angin malam. Halamannya kosong, gelap, bahkan lampu jalan pun tak menyala.
“Astaghfirullah .…”
Aku refleks meremas lengan suamiku. Napasku memburu.
“Pah … kok begini, Pah?!”
Suara panikku nyaris bergetar.
Suamiku menatap ke halaman rumah itu, keningnya berkerut. Suasana di depan kami begitu sepi. Tak ada suara orang bicara, tak ada aktivitas. Padahal seingatku, biasanya rumah ini selalu terang, apalagi kalau Ibuknya Raka di rumah. Minimal ada lampu teras atau pagar pasti terkunci dari dalam
Tapi subuh ini .…
Benar-benar sunyi.
Hanya suara angin pelan yang berhembus, menyentuh dedaunan pohon mangga di sudut halaman. Samar aku bahkan mendengar suara anjing menggonggong dari kejauhan.
“Pah … jangan-jangan .…”
“Sstt .…”
Dia mengangkat tangannya, memberi isyarat agar aku diam.
Matanya masih awas menatap ke halaman. Lalu dia menoleh ke arahku.
“Biar Papah cek ke dalam,” ucapnya pelan.
“Jangan sendirian, Pah! Bahaya .…”
“Mah tunggu di mobil. Kalau ada apa-apa, Papah teriak.”
Aku memegang tangannya erat, masih tak rela. Tapi tatapan itu meyakinkan.
Akhirnya dia turun, membawa senter kecil di tangan kanan dan pis4u pendek di tangan kiri. Pelan-pelan dia melangkah menuju pagar yang terbuka. Setiap langkahnya menginjak dedaunan kering, menimbulkan suara ‘krek krek’ yang terdengar jelas di kesunyian itu.
Aku menahan napas.
Papah menyenter ke arah teras.
Kosong.
Sepatu sandal berserakan. Tirai jendela tertutup rapat. Tak ada cahaya sedikit pun dari dalam rumah.
Papah berdehem pelan, lalu mendorong pintu kayu rumah itu perlahan.
Berderit.
Aku hampir menjerit, buru-buru menutup mulutku sendiri dari dalam mobil. Jantungku berdebar gila.
“Ya Allah, lindungi suamiku, Ya Allah … Ayna … Ayna selamatkan anakku …,” bisikku lirih.
Papah masuk, lampu senter menyorot ke kanan dan kiri.
Ruang tamu kosong.
Kursi berantakan. Ada taplak meja tergulung, dan pecahan gelas di pojok lantai. Tirai sobek di ujung jendela. Semua berantakan, seperti habis ada keributan.
“Astagfirullah…”
Papah bergumam, nyaris tak terdengar.
Dia berjalan lagi, menyusuri lorong menuju ruang belakang. Lampu kamar Ayna dan kamar Ibuk juga gelap. Pintu setengah terbuka, menyisakan kekosongan.
Di dapur … sepi. Kompor masih dengan kuali di atasnya. Ada sisa nasi di dalam magic jar. Satu piring berisi lauk kering setengah basi. Seakan semua ditinggalkan begitu saja.
Papah memanggil.
“Ayna …? Raka …? Buk Nur…?”
Tak ada jawaban.
Aku menunggu di dalam mobil, tak tahan lagi. Kutekan tombol klakson sekali sebagai isyarat.
Papah muncul di teras, wajahnya tegang.
Aku buru-buru turun dari mobil.
“Pah! Gimana? Gimana?!”
Papah menggeleng pelan.
“Rumah kosong, Mah. Seperti habis ditinggalkan. Tapi kayaknya buru-buru banget. Barang-barang masih ada. Tapi ruang tamu berantakan. Kamar Ayna kosong. Kamar Ibuk juga kosong. Nggak ada orang.”
Aku merasakan sesuatu yang makin buruk. Perutku mual. Lututku lemas.
“Pah … jangan-jangan … mereka bawa Ayna kemana-mana? Atau … atau .…”
Papah menenangkan.
“Jangan ngomong, aneh-aneh Tenang Mah … Papah cari ke belakang dulu. Cek kandang sama gudang. Kamu tunggu di sini, ya. Kalau ada suara, langsung teriak.”
Aku menggenggam ujung baju Papah, menahan ketakutan.
“Pah … hati-hati, ya… kalau ketemu Raka dan Ibuknya, jangan langsung mendekat … mereka nggak waras, Pah … Mamah ngerasa ada sesuatu … sesuatu yang lebih dari sekadar Ibu dan anak biasa.”
Papah mengangguk.
Aku berdiri di depan mobil, tak berani jauh-jauh.
Mataku menyapu halaman rumah gelap itu, degup jantung tak pernah normal sejak tadi. Bulir peluh terus menetes di pelipis meski udara dingin.
“Ayna … Nak, di mana kamu? Bertahankah … Mamah datang … Mamah nggak akan biarin kamu sendirian.”
Aku akan temukan Ayna! Hidup … atau pun mati!
*
POV Mas Raka
Tanganku gemetar saat menarik tali tambang kasar itu, mengikat kedua tangan ibuk erat-erat di belakang tubuhnya. Nafasnya memburu, matanya masih menatapku bukan dengan ketakutan, tapi dengan benci. Benci yang tak pernah pudar sejak dulu. Aku tahu, aku paham benar, seberapa besar kebencian yang dia tanamkan di dalam hatinya untuk siapa saja yang berani melawannya.
Tapi kali ini, cukup.
Cukup sampai di sini.
Pelipisku basah oleh keringat. Dadaku bergemuruh. Seluruh tubuhku seperti bergetar, antara amarah, rasa sakit dan sisa-sisa sesal yang tak bisa lagi kutahan.
“Ambil korek itu ….”
Ucapanku pelan, tapi berat. Suara sendiri yang nyaris tak kukenali.
Ayna, yang tubuhnya masih lemah, dengan sisa-sisa tenaga, menyeret dirinya ke arah meja kayu reyot di sudut ruangan. Tangannya meraih korek api kecil, dengan tangan gemetar ia serahkan benda itu padaku.
Aku menerimanya tanpa kata.
Korek api gas itu kecil, ringan, tapi terasa begitu berat di genggaman tanganku. Aku menyalakannya. Api kecil berkedip di ujungnya. Nyala kuning oranye yang menari-nari di kegelapan ruangan pengap itu, seakan-akan menyaksikan pembalasan yang akan kutuntaskan hari ini.
Aku berjalan pelan ke arah ibuk lebih dekat.
Dia menatapku, masih dengan wajah pongah.
Masih bisa tertawa pendek, walau tubuhnya terikat.
“Heh … durhaka! Kau pikir setelah semua ini, kau masih bisa tenang, Raka? Kau anak h4r4m! Anak j4l4ng! Darah hin4! Berani-beraninya kau melawan aku, hah?!”
Aku berhenti tepat di depannya.
Kupandangi wajah tua itu, yang dulu pernah kutakuti seumur hidupku. Wajah yang dulu kupuja, sebelum aku tahu betapa busuk hati yang bersembunyi di balik keriputnya.
“Aku ingin kau m4t1 saja.”
Kalimat itu keluar dari mulutku perlahan.
Seperti racun yang selama ini membeku di tenggorokanku, kini akhirnya tumpah juga.
Tanganku menggenggam gagang golok yang tadi dia sodorkan ke aku.
Aku tahu dia pikir aku pengecut. Dia kira aku akan terus jadi boneka bisu yang selalu nurut.
Tapi tidak malam ini.
“Kau pikir aku bangga jadi anakmu? Hah? Kau pikir aku bahagia menjalani hidup seperti 4njing peliharaanmu?! Menjalankan misi-misi dendam gilamu! Membenci orang-orang yang tak salah apa-apa karena hasutanmu! Menjadi budak nafsu dan kebencianmu! Cukup, Buk … cukup!!!”
Suara nafasku memburu.
Aku menyalakan korek api sekali lagi.
“Aku ingin kau pergi. Biar aku yang bertanggung jawab atas semua ini! Semua luka, semua dosa, semua keparat yang pernah kita lakukan. Kau cukup lenyap dari hidupku, Buk. Dari hidup Ayna, dari hidup siapa pun!”
Ibuk masih tertawa.
“Dasar anak durhaka! Jangan kira kau bisa hidup tenang tanpa aku, Raka. Darahmu … darah sial itu … mengalir karena aku!”
“Kau bukan ibuku .…”
Aku berjongkok, menatapnya lurus di mata.
Kali ini aku tak gentar.
“Dengar baik-baik. Sejak kau mencabut matanya perempuan malang itu, sejak kau menyiksa Ayna, sejak kau menodai hidupku … kau sudah bukan manusia di mataku. Dan hari ini, aku akan menghabisi semuanya!”
Aku angkat korek api itu, mendekat ke ujung kerudung yang masih menempel di rambut ibuk.
“Raka … berani kau! Berani kau!!!”
“Sudah terlambat, Buk.”
Api kecil itu menyentuh rambutnya.
Wussshh ….