Perilaku Aneh Suami dan Ibu Mertuaku
Jantungku Diremas
28 Juni 2025
Jadwal operasi tulang belakang.
Ranjang kami bergerak pelan, didorong dua perawat berseragam biru muda. Aku dan Ibuk akhirnya berdampingan.
Entah sudah berapa lama aku menunggu momen ini bukan untuk saling memandang seperti ini, bukan pula untuk berakhir di ruangan seputih ini. Tapi begitulah nasib kadang menyelipkan skenario yang tak terduga.
Aku menoleh ke arah Ibuk.
Wajahnya dingin. Seperti biasa. Tatapannya tajam, bibirnya kaku, tak ada senyum, tak ada sapaan hangat seorang ibu kepada menantunya.
Namun kali ini, aku tidak memandangnya dengan kebencian. Tidak juga dengan dendam yang selama ini kupelihara dalam diam. Justru ada rasa hangat di dada.
Rasa syukur. Rasa terima kasih.
Ibuk, perempuan yang berkali-kali menyudutkanku, yang tak pernah bosan menyebutku perempuan pembawa sial, sekarang justru menjadi malaikat penolongku di detik genting seperti ini.
Meskipun entah dengan alasan apa.
Mungkin karena malu. Mungkin karena ingin terlihat baik di hadapan orang-orang.
Atau … mungkin karena memang di relung hatinya yang paling dalam, masih tersisa sejumput nurani.
Saat perawat-perawat itu mendorong ranjang kami menuju lorong steril berlampu putih terang, suara Ibuk memecah kesunyian.
“Jangan lihat saya kayak gitu, biasa aja!” ketusnya tanpa menoleh ke arahku.
Aku hanya tersenyum kecil. Dulu, mungkin aku akan menanggapi ketus atau membalikkan ucapan lebih tajam. Tapi sekarang … aku terlalu lelah.
“Nggak, Buk. Ayna cuma mau bilang … terima kasih.”
Aku ucapkan kalimat itu pelan. Mungkin nyaris tak terdengar olehnya, tapi perawat di sisi ranjangku menoleh, mungkin heran. Atau kagum. Entahlah.
Ibuk hanya mendengus. Tapi aku bisa lihat dari ekor mataku, kerut halus di keningnya bergerak. Entah itu kaget atau dia memang nggak nyaman mendengar ucapan terima kasih dari orang yang pernah ia hina habis-habisan.
Di belakang kami, mamah dan papah menunggu di ambang pintu lorong steril. Wajah mamah tampak basah, air matanya masih meleleh. Tapi ia paksa tersenyum sambil mengacungkan dua jari ke arahku, tanda semangat. Papah berdiri menenangkan mamah. Tangannya menepuk-nepuk bahu perempuan tangguh itu.
Sementara di sisi lain, Mas Raka berdiri di dekat ranjang Ibuk. Tangan mereka saling genggam erat.
Ah, harusnya memang begitu, bukan? Dia anaknya. Wajar kalau khawatir, wajar kalau ingin memastikan Ibuk baik-baik saja. Apalagi ini operasi besar, donor tulang belakang, bukan operasi kecil seperti cabut gigi.
Aku memaklumi. Aku mencoba maklum. Tapi entah kenapa, hatiku bergetar saat melihat Mas Raka mengecup kening Ibuk dengan penuh haru.
“Buk … terima kasih ya … demi Allah, Mas nggak akan pernah lupa kebaikan Ibu.”
Lalu bibirnya menyentuh pelipis Ibuk, lama. Seolah hendak menitipkan separuh hidupnya di sana.
Dan ya … benar saja, persis seperti apa yang pernah ibu-ibu di kampung bilang. Mas Raka menc1um ibuk tepat di b1b1r nya.
Aku memalingkan wajah. Menahan sesuatu yang perih di dada. Sungguh aku bukan istri yang baik kalau merasa cemburu saat suami perhatian ke ibunya. Tapi ini bukan cemburu biasa. Ada luka di sana. Luka yang belum sebulan menjadi istri tapi rasanya sudah membusuk .
Tapi sudahlah.
Aku harus bisa bersikap dewasa.
Aku mencoba menghapus semua prasangka. Toh sekarang, di detik ini, nyawaku bisa selamat karena orang yang selama ini menganggapku sampah.
Saat kami berdua melewati pintu masuk ruang operasi, udara dinginnya langsung terasa menampar kulit wajahku. Aroma antiseptik yang menyengat membuat perutku mual. Cahaya putih di dalam sana begitu menyilaukan.
Perawat di depan memberi aba-aba pada dua perawat lain di dalam ruang operasi untuk menyiapkan ranjang.
“Pasien donor, Nurhayati. Pasien penerima, Ayna R. Langsung posisikan.”
Aku mendengar Ibuk menarik napas panjang.
Di luar, kulihat mamah masih setia berdiri di balik kaca ruang operasi. Wajahnya tak henti-hentinya berdoa.
Papah berdiri di sebelahnya.
Dan Mas Raka?
Tak kulihat sosoknya.
Aku tahu ke mana dia. Pasti bersama Ibuk di ruangan steril sebelah, memastikan ibunya baik-baik saja sebelum tindakan.
Aku menarik napas panjang. Menahan gelombang perasaan yang entah kenapa masih saja menyisa iri.
Aku tahu, aku tidak seharusnya. Tapi aku tetap manusia.
“Bismillah, Ayna … kuat. Demi dirimu,”
Aku mengelus perutku pelan. Entah ada isinya atau tidak. Tapi aku percaya, hidupku tak boleh berhenti di sini.
Perawat memasang selang infus di tanganku.
“Tenang ya, Bu Ayna. Kami mulai biusnya sebentar lagi.”
Aku mengangguk, meski mataku terasa panas.
Dan di detik saat bius mulai mengalir, aku pelan-pelan memejamkan mata.
Membiarkan tubuh ini tertidur … dalam dingin, dalam harap … semoga semua baik-baik saja.
Ada sensasi aneh di tubuhku. Antara ringan dan berat. Antara sadar dan tidak. Rasanya seperti tenggelam di dasar laut gelap, lalu pelan-pelan tubuhku mulai mengapung ke permukaan. Suara orang-orang sayup-sayup mulai terdengar. Bau antiseptik yang menusuk hidung langsung membuatku sadar aku masih di rumah sakit.
Pelan-pelan kelopak mataku terbuka.
Langit-langit ruangan putih pucat. Lampu-lampu bulat kecil menggantung rapi di atas kepala. Ada suara mesin detak jantung berbunyi perlahan, tit … tit … tit ….
Aku mencoba menggerakkan tangan, tapi berat. Mungkin karena infus dan selang-selang di sekujur tubuhku.
Seketika, suara langkah cepat terdengar mendekat.
“Ayna … sayang … Alhamdulillah … Alhamdulillah kamu bangun, Nak .…”
Itu suara mamah.
Pelupuk mataku langsung basah saat melihat wajah mamah di sisi ranjang. Matanya sembab, tapi senyumnya begitu lebar. Jemari kurusnya menggenggam tanganku erat, seolah takut aku menghilang.
“Mamah …?” suaraku serak.
Mamah langsung mengangguk, matanya berkaca-kaca.
“Iya, sayang … kamu udah selesai operasi. Semua udah beres … Alhamdulillah kamu kuat, Nak.”
Aku ingin tersenyum, tapi bibirku kaku.
Pelan-pelan aku melirik ke sekeliling.
Mas Raka berdiri di sudut ruangan. Wajahnya kusut, matanya merah. Tapi dia tetap diam. Tak berani mendekat. Pandangannya kosong.
Aku menahan desah pelan. Entah kenapa, melihatnya berdiri seperti itu rasanya makin membuat dadaku berat.
“Ibuk … gimana Ibuk?” tanyaku lirih, memaksakan suara.
Mamah mengangguk kecil.
“Sudah selesai juga, Nak. Ibukmu … eh, maksud mamah … Ibu mertuamu … operasinya berhasil. Dia sekarang masih di ruang pemulihan sebelah. Alhamdulillah, kondisinya stabil.”
Ada kelegaan aneh di dada. Meski hubungan kami begitu buruk, entah kenapa aku tak ingin perempuan itu terluka karenaku. Biar bagaimana pun, dia ibunya Mas Raka. Dan dia … baru saja menyelamatkanku.
Aku kembali memejamkan mata, menahan air yang mulai menggenang di pelupuk.
Beberapa menit kemudian, suara langkah sepatu perawat masuk ke ruangan.
“Alhamdulillah, pasien mulai sadar, ya, Bu.” ucap perawat ramah itu.
Mamah mengangguk.
“Boleh kami panggilkan dokter Sigit untuk cek dulu, Bu?”
“Iya … iya, panggil aja, Mbak.” jawab mamah buru-buru.
Aku menoleh pelan ke arah Mas Raka yang sejak tadi hanya diam di sudut ruangan.
“Mas …,” panggilku pelan, suara serak karena efek bius dan rasa lemah yang masih menyelimuti tubuhku.
Dia terkejut. Lalu buru-buru mendekat. Matanya sembab, wajahnya kusut tak karuan.
Aku menatapnya.
“Mas … dari sebelum operasi Mas nggak sekali pun nengok aku, nggak nanya aku gimana. Mas bahkan nggak genggam tanganku.”
Nadaku lirih.
Mas Raka menarik napas dalam. Rahangnya mengeras.
“Aku mikirin Ibuk!” akhirnya dia buka suara, nada suaranya sedikit meninggi.
“Ibuk itu udah tua, Ay! Seharusnya nggak perlu repot-repot donor begini! Aku cemas … aku takut kenapa-kenapa sama Ibuk!”
Aku menahan napas, bibirku bergetar.
“Jadi aku nggak penting, Mas?”
Dia diam.
Aku memaksa senyum tipis.
“Mas lebih takut kehilangan Ibuk … dari pada istrimu sendiri.”
Mas Raka mengalihkan pandangan. Tapi kalimat berikutnya membuat dadaku benar-benar sesak.
“Kau berhutang nyawa pada Ibuk, Ay.” bisiknya dingin.
“Kau ingat itu baik-baik. Kalau bukan karena Ibuk … kau mungkin nggak akan hidup sekarang.”
Aku membeku.
Jantungku seperti diremas.