Pengorbanan Cinta David
Tugas Paling Berat
Mendapat telpon dari Bangtan, kakaknya David yang mengatakan jika Ayahnya jatuh sakit dsn telah dibawa ke rumah sakit terdekat.
"Hah seriusan kak?" teriak David kaget mendengar bahwa Papahnya jatuh sakit dan kini sedang dirawat di rumah sakit.
Saking paniknya tanpa disadari dia telah melepaskan gelas yang dipegangnya sehingga gelas itu pun jatuh.
Dumprang!!!
Bunyi dari gelas jatuh itu berhasil menyadarannya, pikirannya kacau dia shok mendengar bahwa sang Papah jatuh sakit.
David pun berjongkok merapihkan gelas yang jatuh disebabkan olehnya sendiri, karena pikirannya masih kacau tanpa disengaja tangannya pun terkena pecahan gelas tersebut sehingga seorang pembantu datang menolongnya.
"Aduh ... Aden tidak apa-apa? sini biar saya saja yang merapihkannya dan tangan Den David berdarah seperti harus diobatkan terlebih dahulu mari saya antar ke ruang depan ada kotak P3K di sana." Mariam pun kelabakan dia bingung mana yang harus dia kerjakan terlebih dahulu, membawa bosnya ke ruang depan ada merapihkan pecahan gelas ini.
"Terima kasih bi tapi biar saya saja yang akan mengurusnya." David mengambil alih kotak P3K dari tangan pembantunya itu.
Tidak ada penolakan dari Mariam akhirnya dia pun memberikannya kepada David, "Baiklah Den saya akan membersihkan pecahannya dulu," katanya dan berlalu pergi.
Namun saat David melihat tangannya dia hanya melangalami luka kecil saja bahkan dia tidak merasa sakit, dengan segera pun dia langsung mengambil kunci pada pak saptam dan pergi ke rumah sakit yang telah dikirimkan oleh kakaknya itu.
"Pak tolong berikan saya kunci mobilnya ssya mau pergi ke rumah sakit!" ujar David terburu-buru.
Karena bingung tidak tahu apa yang terjadi Pak saptam pun langsung memberikannya kepada David.
"Tapi Den saya akan jawab apa kalau Tuan bertanya?" kata Pak saptam bingung dia harus bertanya ke mana perginya David sehingga saat Tuan datang dia bisa menjawabnya.
Mendengar pertanyaan Pak saptam itu David langsung membalikan tubuhnya, "Baik katakan saja pada Ommah dan Oppah kalau Papah jatuh sakit dan sedang dirawat di rumah sakit sekarang," sahutnya dan langsung berlari menuju bagasi mobil.
Dengan cepat David menyalakan mesin mobil lalu menancapkan gas sehingga bisa melaju dengan cepat meninggalkan kediaman Oppahnya.
David penuh dengan rasa khawatir dia tidak tahu apa yang dialami Papahnya sehingga bisa masuk rumah sakit, mengingat pertemuan kemarin dia tidak akan bisa melupakannya begitu saja.
Tiba-tiba ponselnya berdering menampilkan panggilan dari Hamdan dia pun menyempatkan diri untuk mengangkatnya.
"Assalamuaalaikum Dav," seru Hamdan saat sambungan telah terhubung.
"Waalaikumsalam ada apa Dan?" David berusaha untuk menganggat telepon dari Hamdan meski dia sedang terburu-buru. Dia yakin Hamdan telah mengisi pulsa untuk menelpon dirinya.
"Dan lo kapan pulang sebentar lagi masuk kuliah nih? lo jangan lupa sama kuliah nanti kelamaan di sana jadi lupa kalau harus pulang ke Jakarta lagi," celetuk Hamdan sambil terkekeh.
"Iya tenang saja gue akan secepatnya pulang tapi saat ini Bokap gue masuk rumah sakit," sahut David pandangannya masih pokus melihat ke arah jalanan.
"Ya Allah Dav yang sabar ya gue turut mendoakan kesembuan Bokap lo ya sudah gue tutup ya teleponnya," ujar Hamdan dia kaget waktu mendengar kalau Papahnya David masuk rumah sakit karena dia tahu temannya itu sedang terburu-buru dan kondisinya sedang tidak baik jadi dia memutuskan untuk mengakhiri sambungan teleponnya.
Tuttt ... tutt ... tutt
Kini hanya terdengar bunyi dari ponselnya David membuatnya melihat bahwa Hamdan telah mengakhiri panggilannya.
David pun kembali pokus mengendarai mobilnya bagaimana pun dia harus sampai ke rumah sakit dengan cepat Mamahnya sendiri di sana, perjalanan dari rumah kakaknya ke rumah sakit cukup jauh tidak sebanding dengannya.
Ketika mobil David sudah terparkir rapi dia pun langsung turun tidak lupa untuk mengunci mobilnya.
"Hallo Mah David sudah ada di hospital nih Mamah di mana?" David mencoba menghubungi Mamahnya dia tidak tahu pasti di mana Papahnya dirawat.
"Masuk saja dulu Nak, tanya sama susternya biar langsung di kasih tahu," sahut Anggelia terdengar lemah dan parau suaranya.
"Permisi Sus, saya mau nanya di mana kamar rawat pasien bernama Nathan?" David menghadap ke tempat terima tamu.
"Oh sebentar saya akan cari dulu ya ka," kata Suster tersebut sembari meraih buku besar dan melihat-lihatnya.
"Tuan Nathan berada di kamar VIP di lantai 2 kamar nomor 04."
Setelah mendapatkan info mengenai ruang rawat Papahnya David pun segera berlalu, "Thanks you."
David berlari menaiki tanga menuju lantai 2 selain Papahnya dia juga mencemaskan Mamahnya yang sendirian menunggu di luat sana.
"Mamah," teriak David saat melihat sosok Mamahnya yang sedang menundukan kepalanya di bangku tunggu.
David merengkuh tubuh Mamahnya, "Apa yang sebenarnya terjadi sama Papah Mah? Kenapa bisa sampai masuk rumah sakit?" tanyanya.
"Papah kamu mempunyai penyakit darah tinggi Nak, Mamah tidak tahu pasti bagaimana kejadiannya karena Mamah juga tahu dari sekretaris Papahmu," terang Anggelia.
"Ya sudah Mah tidak perlu cemas Papah akan baik-baik saja kok," kata David dia mengusap air mata Mamahnya lalu menghampiri Dokter yang baru saja keluar dari ruangan.
"Dok bagaimana keadaan Papah saya?" tanya David dengan cepat.
"Anda anak dari pasien saudara Nathan?" ujar Dokter memastikan dia menatap David yang langsung dijawab dengan anggukan kepala.
"Kalau begitu mari ikut saya ke ruangan!" kata sang Dokter sembari berlalu pergi.
"Mah, David ke sana dulu ya sebentar lagi kakak akan datang ke sini," pekik David dia berpamitan dengan Mamahnya.
Setelah Anggelia memberikan izin untuk David pergi dia pun langsung pergi mengikuti sang Dokter yang telah merawat Papahnya.
"Bagaimana Dokter, apa yang terjadi dengan Papah saya?" tanya David setelah duduk di ruangan Dokter bernama Alif.
"Tuan Nathan mengalami Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah kondisi ketika tekanan darah di 130/80 mmHg atau lebih. Jika tidak segera ditangani, hipertensi bisa menyebabkan munculnya penyakit-penyakit serius yang mengancam nyawa, seperti gagal jantung, penyakit ginjal, dan stroke. Tekanan darah dibagi menjadi tekanan sistolik dan tekanan diastolik. Tekanan sistolik adalah tekanan saat jantung memompa darah ke seluruh tubuh, sedangkan tekanan diastolik adalah tekanan saat jantung berelaksasi sebelum kembali memompa darah. Hipertensi terjadi ketika tekanan sistolik berada di atas 130 mmHg dan tekanan diastolik lebih dari 80 mmHg. Tekanan darah yang melebihi angka tersebut merupakan kondisi berbahaya dan harus segera ditangani," jelas Dokter Alif panjang lebar.
"Apakah Papah saya bisa disembuhkan Dok?" ujar David.
"Bisa nanti akan saya berikan penangan yang terbaik untuk kesembuhannya," sahut Dokter dengan tersenyum.
Mendengar hal itu David bernapas lega dia senang Papahnya akan bisa kembali sembuh. "Baik Dok terima kasih lakukan yang terbaik untuk Papah saya," kata David.
Dokter alif menganggukan kepalanya, "Insya Allah untuk saat ini Tuan Nathan harus dirawat di rumah sakit dia butuh istirahat agar bisa pulih total."
David menganggukan kepalanya mengerti.
***
Setelah insiden Papahnya David yang jatuh sakit sehingga perlu waktu untuk bisa beristirahat sampai kondisinya membaik, Nathan mengutus anak laki-lakinya itu untuk mengurus kantor tugas berat yang harus David terima.
Pagi ini David di panggil oleh Anggelia untuk menemui Nathan di kamar rawat.
"Ada apa Mah?" tanya David entah mengapa dia deg-degan jantunnya David terus berdebar sejak tadi.
Anggelia yang memang sudah tahu alasan suaminya itu memanggil David dia hanya tersenyum, "Sudah temui dulu saja sana."
"Hemm baik deh Mah," sahut David sembari tersenyum simpul lalu berjalan menuju kamar rawat Papahnya.
"Pah ada David!" seru Anggelia seraya memberitahu bahwa David akan segera masuk.
Setelah mendapatkan izin dari sang Papah David langsung nyelonong masuk ke dalam kamar.
"Papah bagaimana keadaannya sekarang?" ujar David dia ingin tahu akan keadaan Papahnya ini sehingga Dokter berkata jika untuk sementara waktu harus dirawat di rumah sakit.
Nathan pun menoleh menatap ke arah David lalu tersenyum, "Papah baik-baik saja kok Nak namun Papah ingin meminta tolong sesuatu sama kamu."
"Katakan saja Pah David akan dengan senang hati David akan menuruti pertolongan Papah," ujar David sembari tersenyum dia ingin Papahnya akan segera pulih dan bisa kembali bekerja lagi.
Mendengar perkataan David yang penuh dengan rasa khawatir membuat Anggelia tersenyum senang sekaligus bangga.
"Selama Papah di rawat di rumah sakit akan banyak tugas di kantor yang terbengkalai sekretaris Papah pun tidak bisa mengerjakan semuanya jadi Papah ingin kamu masuk ke kantor menggantikan Papah untuk sementara, kamu sudah janji akan menolong Papah," pinta Nathan suaranya masih terdengar parau dan kecil.
Deg, David terkejut bukan main mendengar apa yang kali ini Papahnya minta tolong kepadanya dan perkataannya barusan menjadi bumerang baginya kini pasalnya dia sudah berjanji untuk menuruti apa yang Papahnya katakan.
"Ta-pi Pah, David kan tidak tahu apa-apa," sergah David lirih dia sungguh tidak tahu apa-apa mengenai urusan kantor selama ini dia hanya ditugaskan untuk belajar dan menjadi anak yang baik oleh ke dua orangtuanya namun kini? dia disuruh menggantikan Papahnya di kantor.
"Nanti ada Pak Hamid yang akan memberitahu apa saja yang akan kamu kerjakan, asal kamu berjanji sama Papah untuk bersedia menggantikan posisi Papah di kantor." Nathan sangat percaya bahwa David bisa memegang tanggung jawab itu dengan baik dia juga ingat akan perkataan Hamdan kepadanya waktu itu bahwa David sangat senang ketika dirinya memberikan kepercayaan kepada David.
Pandangan David kini beralih menatap Mamahnya dia butuh dukungan dari Mamahnya dalam menjalankan bisnis Papahnya ini serta mengurus kantor.
Anggelia mengedipkan ke dua matanya lalu tersenyum, "Mamah percaya kamu bisa Nak lagi pula sebentar lagi kamu akan masuk kuliah kan?" ujar Anggelia mengingatkan bahwa David pun masih menjalankan kuliahnya di Jakarta.
"Iya Mah tadi pun Hamdan memberitahu kalau bulan depan sudah masuk kuliah," jelas David untuk saat ini dia ingin libur dan tinggal di Eropa bagaimana pun dia sangat merindukan tempat lahirnya ini.
Selama David balik ke Eropa dia belum mengunjungi tempat wisata yang sering dia kunjungi sebelumnya selain kota Paris kemarin dan dia juga masih belum berani menampakan wajahnya di depan Dinda nanti selama ini dia dekat dengan Dinda lewat chat atau surat yang selalu dia jadikan Hamdan tukang pos surat untuk menyampaikan kepada Dinda namun di sisi lain tugasnya akan bertambah berat seiring waktu dia harus menggantikan posisi Papahnya di kantor mengatur keuangan dan pemasaran produk.
"Kapan kamu mau berangkat ke Jakarta?" tanya Nathan seraya menatap mata anaknya itu.
Entahlah kapan David akan pulang dia masih ingin tinggal di Eropa.
David akhirnya menggelengkan kepalanya ambigu, "Belum tahu kapan Pah."
Mendengar jawaban David membuat Anggelia kaget anak satunya ini selalu bikin dia bingung dengan kelakuannya, "Why? apa ada masalah, katakan sayang nanti biar Mamah yang urus kepulangan kamu ke Jakarta," katanya seraya memegang bahu David.
"Bukan seperti itu Mah, kan masih ada waktu dua minggu lagi David liburan jadi aku ingin tinggal di sini sementara waktu sampai Papah pulang ke rumah," ujar David mengatakan apa yang menjadi alasannya ingin tetap bertahan di sini.
"Kamu tidak usah mikirin Papah Nak, keadaan Papah sudah baik-baik saja hanya butuh isitirahat saja kok jadi kapan pun kamu mau kembali kasih tahu saja biar nanti Hartono yang akan mengantar kamu sampai Jakarta." Nathan memberikan penjelasan kepada David dia mengerti apa sedang anaknya ini rasakan.
"Baik Pah aku akan memberitahu nanti," kata David seraya menunduk hormat.
Tidak lama kemudian Dokter pun datang untuk memeriksa keadaan Nathan, para suster pun menyuruh Anggelia dan David untuk keluar ruangan sementara.
"Pah aku dan David keluar dulu ya!" ujar Anggelia berpamitan kepada Nathan yang dijawab dengan anggukan kepala.
David dan Anggelia pun keluar dari ruangan rawat Nathan dan akan menunggunya di luar.
Ketika sampai di depan pintu langkah Anggelia berhenti, "Sayang kamu pulang saja dulu ya istirahat besok kalau mau ke sini yaudah tidak apa-apa tapi untuk sekarang kamu pulang dulu takut Oppah sama Ommah nyariin kamu sampaikan salam kepada mereka bahwa Papah kamu sudah membaik," ujar Anggelia dia menyuruh David untuk pulang sebab dirinyalah yang akan berjaga untuk malam ini.
Lama berpikir akhirnya David pun memutuskan untuk pulang terlebih dahulu, "Baiklah aku akan pulang untuk memberitahu Oppah dan Ommah David pamit pulang dulu takut mereka khawatir jika David belum pulang apalagi mereka pasti sudah menunggu kabar dari David tentang keadaan Papah," kata David sembari tersenyum simpul.
"Ya sudah hati-hati ya, kamu ke sini bawa mobil apa motor?" tanya Anggelia.
"Mobil Mah kebetulan Oppah menyediakan mobil satu untuk David bisa pergi-pergi asal izin terlebih dahulu." David masih ingat perkataan Oppahnya waktu pertama kali dia datang ke rumahnya dan memberikan akses kamar dan kendaraan untuknya bisa keliling, motornya ninjanya dia tinggal di Jakarta akan susah jika dikirim ke Eropa karena itu motor pemberian Papahnya untuknya pergi kuliah.
David pun mencium tangan Anggelia, "Salam untuk Papah ya Mah Insya Allah besok David akan ke sini lagi yang kemungkinan bersama Oppah dan Ommah juga."
"Iya kamu datangnya siang aja ya Nak kemungkinan keluarga Papah kamu juga akan datang besok," terang Anggelia dia telah mendapat kabar dari saudari iparnya yang sudah mendengar kabar tentang Abangnya ini yang sedang di rawat di rumah sakit dan berkata bahwa besok dia akan ke rumah sakot bersama dengan keluarganya.
Mendegar hal itu membuat David senang, "Oh baguslah jika besok mereka akan datang ke sini David hanya takut Mamah akan berjaga sendirian di rumah sakit dan jangan lupa untuk makan dan istirahat ya Mah jangan sampai Mamah juga sakit," ujar David.
Anggelia pun tersenyum hangat kepada David lalu mengusap wajah anaknya itu, "Iya sayang Mamah akan selalu menjaga diri Mamah dengan baik sampai nanti bisa melihat kamu bahagia bersama istri dan anak kamu."
Tidak mau mengobrol lebih lama lagi akhirnya David langsung mengakhiri percakapannya. "David pamit pulang Mah."
"Hati-hati Nak! jangan lupa untuk menghubungi sekretaris Papahmu dan tanyakan apa yang ingin kamu tanyakan kepadanya."
Tugas kantor akan menjadi tugasnya yang paling berat sebab bagi David belum waktunya dia terjun ke dunia perkantoran apalagi untuk menggantikan sosok Papahnya yang entah bagaimana jika di kantor.