Pengorbanan Cinta David

David Akhirnya Pulang ke Rumah

Ketika Dinda dan ke dua temannya sudah pulang David memilih untuk tiduran kembali kepalanya masih terasa sangat pusing, tubuhnya pun masih terasa lemas baru bukan baru kali ini saja dia merasakan sakit deman atau tipis dulu pun dia sering jatuh sakit menurut Mamahnya bahkan hampir tidak tertolong.

 

Pandangan David kini tertuju pada kertas ucapan yang berada di atas buah-buahan, diambilnya kertas tersebut lalu dibaca dengan cermat bibirnya langsung mengulun senyuman manis di wajahnya.

 

'Semoga lekas sembuh' Tertera bacaan tersebut pada kertas lalu di bawahnya pun tercantum nama Dinda Cahaya Ramadhan, perkenalan singkat waktu kunjungan ke rumah tetangga membuatnya bertemu dengan Dinda, sampai akhirnya sering bertemu di kampus karena mata kuliahnya sama, mereka pun pernah menjadi satu kelas, perasaan itu muncul tiba-tiba tanpa disadarinya, seiring berjalannya waktu timbulah rasa suka dan sayang pada cewek itu sehingga dia memutuskan untuk memperbaiki diri.

 

Pernah sesekali David bertanya kepada Dinda waktu itu bahwa keputusannya untuk memeluk agama islam itu atas kemauan sendiri dan atas dasar cintanya kepada hamba Allah yaitu Dinda lantas cewek itu langsung memberikan sebuah pertanyaan kepada David.

 

"Jika suatu saat kamu pindah agama dan Allah tidak menakdirkan kita untuk bersama bagaimana?" ujar Dinda dengan pandangan yang masih menunduk sesekali cewek itu melemparkan pandangannya ke arah lain.

 

Dengan santai David menjawab, "Ketika gue mencintai lo, maka gue harus mencintai terlebih dahulu siapa yang telah menciptakan lo, ketika memang Allah tidak menakdirkan kita untuk bersama, ya sudah gue pasrah karena gue yakin akan ada pengganti yang lebih baik buat lo dan gue nantinya, selagi lo masih hidup gue sudah senang Din."

 

Akhirnya David memutuskan untuk meletakan kembali surat itu, dia membaringkan tubuhnya perlahan berharap setelah bangun tidur dia akan merasa segar kembali.

 

Kabar bahwa David sakit sudah terdengar oleh pihak keluarga membuat Anggelia kaget dan langsung pingsan, dengan segera pun Nathan membawa istrinya ke kamar untuk diperiksa oleh Dokter yang sedang dipanggil oleh Bi Yuli untuk datang ke rumahnya.

 

"Permisi Tuan, Dokternya sudah datang," seru Bi Yuli memberikan laporan kepada Nathan yang sedang berada di kamarnya.

 

Nathan menoleh, "Baik suruh dia masuk ke sini!" katanya dengan tegas.

 

"Baik Tuan, Dokter silahkan masuk!" Bi Yuli pun langsung mempersilahkan Dokter Hamid untuk masuk dan memeriksan majikannya.

 

Pikiran Nathan kini dipenuhi oleh dua orang yang dia sayangi, entah apa yang harus dia lakukan setelah mendengar David sakit dan tinggal di sebuah hotel di daerah Jakarta selatan membuat dirinya mengutus asisten kantornya untuk pergi membawa David ke rumah sakit.

 

Setelah melihat Dokter Hamid telah selesai memeriksa Nathan kembali menghampirinya, "Bagaimana Dok keadaan istri saya?" tanyanya penuh dengan rasa khawatir.

 

"Istri Bapak alhamdulillah baik-baik saja dia hanya syok dan butuh istirahat nanti akan saya berikan obatnya," kata Dokter tersebut sembari tersenyum kepada Nathan meyakinkan bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan oleh suaminya itu.

 

Kemudian Nathan langsung melirik ke arah Bi Yuli, "Baik Dok terima kasih banyak," katanya seraya mengulurkan tangan kepada Dokter tersebut. "Bi tolong antarkan Dokter!" pintanya.

 

Sang Dokter pun memberikan penghormatan kepada Nathan sebelum berlalu pergi mengikuti pembantu rumah tangga itu, sedangkan Nathan memilih mendudukan bokongnya di sofa dekat dengan tempat tidurnya, harus dia akui bahwa pikirannya masih belum tenang sebelum dia mendengar kabar baik dari anak bangsunya itu, bagaimana tidak naluri seorang Papah terhadap anaknya begitu kuat meski pun dia sudah mengusir David dari rumahnya itu tidak akan merubah statusnya sebagai seorang Papah, apalagi David sudah ditakdirkan menjadi penerus dirinya kelak.

 

Mata Anggelia pun terbuka lebar melihat sang istri sudah sadar Nathan langsung bangkit menghampirinya, "Sayang, kamu mau duduk dulu?" ujarnya dengan lembut seraya membantu Anggelia bersandar pada dinding ranjang.

 

"David mana Pah? dia sakit apa Pah, tolong antarkan Mamah ke apartemennya," rengek Anggelia minta untuk bertemu dengan David.

 

Nathan mengerti akan kekhawatiran yang Anggelia rasakan, kini jadi dia memutuskan untuk membawanya bertemu dengan David.

 

Di apartemen, David masih berbaring suhu tubuhnya masih panas saking tidak kuat manahan rasa panasnya mulutnya terbuka untuk mengeluarkan hawa panas pada tubuhnya.

 

Pintu apartemen di ketuk oleh seseorang yang entah siapa yang datang ke kamarnya kini.

 

"Sebentar!" ujar David dengan pelan dia melangkah menghampiri gagang pintu untuk membukakannya. "Pak Zaki," teriaknya sedikit terkejut.

 

Zaki pun memberikan penghormatan kepada David, "Sore Pak maaf saya diutus oleh Tuan Nathan untuk membawa Den David ke rumah sakit," katanya.

 

Mendengar ucapan Pak Zaki yang merupakan asisten setianya Papahnya di Eropa hingga kini masih selalu ikut dengan Papahnya kening David mengkerut heran entah dari mana ke dua orangtuanya tahu jika dirinya sedang sakit.

 

"Saya tidak mau di bawa ke rumah sakit, katakan sama Papah dan Mamah kalau keadaan saya sudah membaik," seru David dia menahan semuanya di depan asisten Papahnya agar tidak terlihat mencurigakan.

 

"Tapi Den..."

 

"Pergilah sampaikan apa yang sudah saya katakan tolong Pak saya tidak ingin merepotkan ke dua orangtua saya, jika mereka peduli dengan saya temui saya di apartemen saja." David pun menutup pintu kamarnya dengan pelan setelah mengatakan hal tersebut.

 

Dengan langkah pelan-pelan dia kembali menjatuhkan bokongnya di atas kasur, "Siapa yang telah memberitahu mereka ya?" gumamnya dengan rasa keingintahuan.

 

"Maaf Pak, Den David menolak untuk dibawa ke rumah sakit, Den David memberi salam untuk Tuan dan Nyonya jika ingin bertemu silahkan di apartemennya." Seperti apa yanf dikatakan oleh David Pak Zaki pun sudah menyampaikannya.

 

Nathan seketika marah dia tidak habis pikir dengan anaknya itu, "Ya sudah bawa istri saya untuk bertemu dengannya, lihatlah Anggel anakmu itu sudah benar-benar keras kepala," katanya dengan kesal.

 

Mendengar perkataan suaminya yang masih marah, Anggelia pun mengabaikannya yang terpenting sekarang dia bisa diizinkan untuk bertemu dengan David, sebagai seorang Ibu dia sangat khawatir dan panik mendengar sang anak jatuh sakit.

 

"Ya sudah Pak, buruan antarkan saya ke apartemennya David," seru Anggelia dengan terburu-buru dia sudah tidak sabar melihat anaknya itu.

 

Di dalam perjalanan dia menerima telepon dari Rachel yang merupakan cewek yang akan dijodohkan dengan David atas kesepakatan para orangtua, yang benar saja cewek itu menanyakan tentang kapan kepulangan mereka, Rachel mengaku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan David.

 

Anggelia pun mengatakan bahwa David kini sedang jatuh sakit sehingga Rachel langsung panik dan khawatir.

 

"Hah, Mamah seriusan terus bagaimana kabar David Mah?" seru Rachel dengan panik terdengar dari nada suaranya.

 

"Sabar, Mamah juga baru dapat kabar tapi sekarang Mamah sedang dalam perjalanan menuju tempat David," sahut Anggelia dia tersenyum menyadari bahwa Rachel begitu panik mendengarnya bertanda bahwa cewek itu sayang kepada David.

 

"Nanti jika sudah sampai telepon aku kembali ya Mah, aku ingin bicara dengannya," kata Rachel seraya memutuskan sambungan secara sepihak.

 

Entah bagaimana Rachel tidak bertanya kepada Anggelia mengenai David yang tidak tinggal bersama mungkin cewek tiu sedang panik dan kaget jadi tidak menyadari semuanya.

 

Saat mobil yang ditumpangi Anggelia telah sampai di parkiran hotel di mana David tinggal dengan cepat dia pun berjalan menuju kamar David.

 

"Mamah!" pekik David ketika mengetahui siapa yang telah menganggu dirinya.

 

David langsung mengajak masuk sang Mamah dia tidak kuat untuk sekadar berdiri lama-lama dan tubuhnya pun terasa lemas ingin selalu berbaring.

 

"Sayang Mamah khawatir sama kamu kenapa tidak mau sih dibawa ke rumah sakit, nanti kalau sakitnya parah bagaimana? kamu ingin Mamah repot ngurusin kamu yang sakit?" tukas Anggelia dengan meleparkan tatapan tajam kepada David.

 

Bagaimana pun Anggelia tahu jika David tidak ingin siapa pun merasa repot karena dirinya.

 

Belum sempat Anggelia menghubungi Rachel cewek itu sudah menelepon kembali dia pun langsung memberikannya kepada David.

 

"Hallo sayang bagaimana kabarmu? aku dengar kamu sedang sakit ya sekarang?" ujar Rachel terdengar manja di telinga David.

 

"Jangan panggil gue sayang-sayang gue bukan siapa-siapa lo!" ketus David dengan kesal, ucapan Rachel begitu menganggu di telinganya.

 

Rachel mendesah ternyata cowok itu masih ingat akan hari di mana dia memutuskan hubungannya dengan David karena dia sudah berselingkuh dengan cowok lain.

 

Mendengar ucapan David membuat Anggelia langsung memegangi tangan cowok itu mencoba untuk bersikap lembut kepada Rachel.

 

"Maafin aku Dav tapi bagaimana pun kan kita masih menjadi pasangan, aku kangen sama kamu kapan balik ke sini?" ujar Rachel tidak mau kalah dia ingin mencari pelindung diri agar hubungannya masih berlanjut.

 

Entah bagaimana David langsung memutuskan sambungannya hingga terdengar bunyi pada ponsel milik Mamahnya itu.

 

David menceritakan hubungan dirinya dengan Rachel kepada Mamahnya, yang hendak menjadikan cewek itu tunangannya padahal sudah jelas dia berselingkuh dengan laki-laki lain di depan matanya sendiri.

 

Akhirnya Angel mengerti dan akan membicarakan semuanya kepada suaminya, yang hari ini tidak ikut karena ada meeting di kantornya.

 

"Sayang, badan kamu panas banget, sudah minum obat?" Angelia memeriksa suhu di kening David.

 

"Sudah Mah, ini David mau istirahat tapi sejak tadi banyak tamu yang datang," ungkapnya Angelia pun memeluk putranya itu.

 

Di belakang dia juga sudah memanggil dokter pribadinya untuk memeriksa David karena anaknya itu tidak mau dibawa ke rumah sakit jadi dia membuat dokter itu sendiri yang datang ke apartemennya.

 

Setelah diperiksa David mengalami tipes, cowok itu butuh istirahat selama satu Minggu, dengan keadaan David yang seperti ini Angelia meminta izin agar David bisa pulang bersama dirinya dan tinggal di rumah. Yang akhirnya Nathan izinkan David untuk kembali ke rumahnya.

 

Selama kembali di rumah David mendapatkan cerita dari Mamahnya, yang mengatakan jika Omahnya menunggu David di Eropa apalagi saat tahu cucunya itu memeluk agama Islam. Nathan mulai menerima David kembali, karena anaknya itu udah mulai berubah dan mau menjadi CEO di perusahaannya.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!