Pengorbanan Cinta David
Indahnya Monas
Suasana malam sangat damai dan sejuk namun tidak dengan perasaan David yang malah sedang buruk tidak sesuai dengan keadaan malam ini.
Setelah tadarusan di masjid David dan ke dua temannya pergi jalan-jalan malam Hamdan ingin menghibur David yang sedang sedih dengan mengajaknya ke Monas.
"Akhhh!" David berteriak dengan keras di jalanan yang nampak sepi.
Terkadang orang akan berteriak ketika sedang stress untuk bisa menghilangkan rasa itu mereka akan berteriak atau menjerit tanpa sebab dan secara mendadak.
"Dan, lo yakin David akan terhibur dengan diajak ke Monas?" ujar Alex dengan keras.
Suara Alex terbawa oleh angin jadi dia mengeraskan suaranya agar bisa terdengar dengan baik oleh Hamdan.
"Sudah percaya sajalah gue juga sebenarnya tidak yakin tapi apa salahnya mencoba kan selama ini David tidak pernah ke sana," ungkap Hamdan.
Dulu dia pernah berjanji kepada David untuk mengantarkan cowok itu ke Gereja katerdal yang berdekatan dengan masjid Istiqlal entah apakah David masih ingat akan janji Hamdan yang pernah dikatakannya dulu saat David masih beragama katolik.
Setelah sampai di sana mereka langsung memarkirkan motornya di tempat parkir, suasana malam di Monas cukup ramai tetapi tidak ramai banget ada beberapa kumpulan di sana serta anak-anak tongkrongan juga mengingatkan David akan dirinya dulu di Eropa.
"Gue jadi ingat dulu lihat anak-anak itu," ujar David sembari menunjukan dengan jari telunjuknya sekelompok anak muda yang sedang duduk di atas motor mereka masing-masing.
Hamdan mengamati orang yang David tunjukan itu dengan cermat, "Lo mau gabung sama mereka?"
Mendengar ucapan konyol Hamdan membuat David lantas melotot, "Hah mau ngapain gue ke sana? lagi pula kan kita gak kenal siapa mereka."
Alex menyetujui jawaban David, "Heem benar buat apa gabung sama mereka kan kita gak tahu siapa mereka dan sedang apa di sana nanti yang ada mereka sedang merencakan sesuatu yang kriminal lagi!"
"Jangan asal menunduh seseorang!" David menoleh kepada Alex dia memberikan peringatan untuk Alex lebih menjaga ucapannya.
"Jika ingin menaklukan musuh maka dekatilah mereka di sana kamu akan tahu kelemahan mereka!" Entah dari mana Hamdan mendapatkan kata-kata sebagus itu membuat David melongos mendengarnya.
"Gak apa kita tanya-tanya saja sedang apa mereka di sini malam-malam apakah mereka tidak salat terawih atau mengaji di masjid, selagi kita melihat seseorang yang telah tersesat maka kita sebagai umat muslim wajib mengingatnya, yuk kita ke sana sebentar!" Tanpa ada persetujuan dari David dan Alex Hamdan sudah berjalan lebih dulu meninggalkan mereka untuk menghampiri anak-anak muda yang sedang mengobrol di ujung saja.
Melihat Hamdan sudah berjalan duluan membuat David dan Alex langsung menyusulnya. "Ya sudah yuk ikut saja lagi pula apa yang dikatakan Hamdan ada benarnya juga," kata David sambil berjalan mengikuti Hamdan dari belakang.
Anak-anak muda itu terkejut saat melihat kedatangan seniornya atau kakak kelasnya mereka langsung bangun dari motornya masing-masing.
"Malam semuanya maaf kakak menganggu, kalian sedang apa di sini?" tanya Hamdan terlebih dahulu menyapa anak-anak muda tersebut.
Seorang anak muda yang memiliki kalung rantai itu berbicara, "Malam juga ka kami sedang melakukan pengamatan di sini, di kampung kami ada kasus maling setiap jam 01:15 WIB itu membuat orangtua kami cemas makanya kami melakukan tindakan untuk membuat rencana memergoki para maling hewan ternak orangtua kami," jelasnya.
"Sejak kapan kasus maling itu terjadi?" seru David tertarik untuk mengetahui lebih lanjut lagi dia pernah sekali memecahkan kasus pencopetan dan itu masih teringat di pikirannya.
Kini anak muda yang berambut ikal itu yang angkat bicara, "Sejak puasa ke 3 desas-desus maling itu terdengar dan itu memang sering terjadi di kampung kami menjelang bulan ramadhan tapi anehnya para maling itu tidak pernah tertangkap ka," keluhnya.
Harus Alex akui jika tadi dia telah berburuk sangka dengan sekelompok anak kuda ini yang ternyata mereka anak-anak yang baik yang ingin menyelamatkan kampungnya.
"Jika seperti itu kenapa tidak lapor polisi saja," celetuk David spontan.
"Sepertinya kakak bukan asli anak sini ya?" tukas anak muda yang memakai kalung rantai tersebut.
David menganggukan kepalanya, "Ya saya memang bukan asli anak sini kenalkan saya David Nathantion berasal dari Eropa." Dia memperkenalkan dirinya dengan senang hati untuk lebih kenal lagi dengan anak-anak tersebut.
"Saya Raka ketua geng Jack ini, pastas saja cara bicara kakak pun terdengar asing di telinga kami," terang Raka yang memakai kalung rantai itu.
"Lalu apakah kalian sudah salat terawih sebelumnya?" Kini Hamdan ingin tahu apakah anak-anak muda ini melaksanakan kewajibannya.
Dengan cepat mereka menganggukan kepalanya seraya tersenyum, "Sudah dong ka, kami anak nakal yang hanya takut dengan Allah SAW," katanya serempak.
Mendengar ucapan mereka membuat David terkagum-kagum dia tersadar akan jiwa liarnya dulu yang sama sekali tidaklah benar dia menepuk anak muda tersebut pelan.
"Kalian anak-anak yang hebat," kata David seraya memuji kebaikan yang akan dilakukan anak-anak itu. "Namun mengapa tidak melaporkan kasus maling ini kepada polisi?" tanyanya lagi karena belum sempat dijawab.
"Ka orang-orang kampung masih melakukan ronda malam untuk menjaga kampung dari maling ketika kita telah mencuringai seseorang apakah kita bisa melaporkannya kepada polisi tanpa ada bukti jadi kita akan menangkap basah maling itu dan membawanya ke kantor polisi itu baru lebih baik," jelas Raka kembali yang disetujui oleh anak-anak yang lainnya yang ikut berseru mendukung rencana Raka.
"Ya sudah doa kami akan menyertai kalian semua ingat kalian tidak boleh gegabah dalam bertindak karena orang jahat selalu memiliki jebakan!" David memerikan peringatan kepada mereka sesuai pengalaman dia dulu yang pernah terjebak dalam sebuah kasus yang merugikan dirinya sendiri.
Hamdan menepuk bahu David pelan, "Ya sudah yuk kita ke sana, anak-anak kami pergi ke sana dulu ya kalian jaga diri baik-baik dan apapun yang akan kalian lakukan libatkan orangtua di dalamnya."
"Siap komandan!" seru mereka seraya memberikan penghormatan kepada David dan ke dua temannya itu.
Mereka tersenyum sebelum pergi meninggalkan anak-anak muda tersebut, berjalan mendekati monas David melihat begitu indahnya tungu monas tersebut dari jaraknya berdiri kini.
"Gue pernah dengar sejarah api pada tungu monas tersebut," pekik David sembari mengingat pengetahuan yang telah dia dapatkan dari buku bacaannya.
"Tugu Monas memiliki emas lapisan seberat 32 kg, sejarah tugu Monas Jakarta juga melambangkan lidah api yang menyala dan tak kunjung padam. Arti dari Tugu Monas yang menjulang tinggi adalah falsafah Lingga Yoni yang berbentuk 'alu' sehingga lingga dan an 'lumpang' sebagai yoni. Alu dan lumpang merupakan lambang kesuburan.
Pada 12 Juli 1975, Monas akhirnya diresmikan oleh Presiden Soeharto dan dibuka untuk umum. Tugu monas didesain dengan memadukan konsep Lingga dan Yoni yang berasal dari Sansekerta. Lingga digambarkan dengan tugu obelisk yang menjulang tinggi dan adanya lidah api yang dilapisi emas. Itu diartikan perjuangan yang terus menerus. Tinggi obelisk 117,8 meter dengan landasan persegi setinggi 17 meter, sesuai dengan tanggak kemerdekaan Indonesia." Hamdan membacakan situs informasi dari internet ponselnya.
"Cerdas sekali gue punya seorang teman," ujar Alex bangga telah menjadi teman baik Hamdan berkat temannya itu juga selalu rajin belajar.
Akhirnya mereka berhenti duduk di taman David memilih menghempaskan tubuhnya di rumput dengan tangan yang berada di bawah kepalanya, dia memandang bulan yang besar yang ada di atas langit sana nampak begitu indah di matanya kini pikirannya melayang entah ke mana dia biarkan imajinasinya bebas di bawah serayu malam ini.