Pengorbanan Cinta David

David Diusir Dari Rumah!

Dengan rasa lelah dan rasa kantuk yang menyerangnya David masih tertidur di pagi harinya, untuk hari ini dia melupakan kuliahnya apalagi melihat kondisinya yang masih lemas.

 

"Nak David mari makan!" ajak Sri seraya menggoyangkan tubuh David, sengaja dia membiarkan David tertidur hingga jam 10 siang jika bukan untuk makan dia tidak akan tega membangunkannya.

 

David mengeliat matanya sudah terbuka, "Gue ada di mana nih?" dia terbangun dengan melupakan apa yang telah terjadi semalam.

 

Sri terkejut dia mengira bahwa David telah lupa ingatan membuatnya bingung apa yang harus dilakukannya, "Nak David minum dulu ya!" katanya menyodorkan air putih kepada David. "Sekarang Nak David ada di rumah Pak Bayu supir pribadinya keluarga Nak David semalan telah terjadi sesuatu kepada Nak David sehingga Pak Bayu suami saya membawanya ke sini," terangnya.

 

Kepala David terasa pening saat ingatan akan semalam mulai muncul di pikirannya, "Oh ya saya sudah ingat semuanya Bi," katanya sembari memegangi kepalanya.

 

"Syukurlah kalau sudah ingat, ini nasinya Nak dimakan dulu ya!" ujar Sri seraya mengulurkan sepiring nasi uduk buatannya untuk David makan. Setiap hari nasi uduk menjadi sarapan keluarganya.

 

"Terima kasih Bi tapi saya harus pergi saya tidak bisa lama-lama tinggal di rumah kalian," ujar David dia harus mencari apartemen untuknya tinggal dia tidak suka membuat orang repot karena dirinya.

 

"Iya tidak apa-apa Nak, makanlah dulu agar stamina Nak David kembali dan bisa terus sehat." Sri tidak bisa melarang David untuk terus tinggal melihat tidak ada kamar kosong juga di rumah serta tentu saja David harus melanjutkan perjalanannya.

 

Setelah satu hari tidak masuk kuliah sebab David tertidur pulas di rumah Pak Bayu. Dia memutuskan untuk pamit pada malam harinya untuk pergi mencari tempat tinggal namun sebelumnya dia akan menemui teman-temannya yang mungkin berada di masjid saat ini.

 

"David!!" pekik Hamdan saat melihat temannya itu dengan pakaian yang kusut serta bengkak di bagian wajahnya.

 

"Ya Allah Dav apa yang telah terjadi sama lo hah?" Alex iku menghampiri David dan mengajak temannya itu untuk duduk di teras masjid untung saja dia ke masjid jika tidak pemandangan di depannya kini tidak mungkin terlihat.

 

Hamdan dan Alex mengajak David untuk berbicara dan menjelaskan apa yang sebenarnya telah terjadi tanpa ragu David menceritakan semuanya kepada ke dua temannya itu, mulai dari awal hingga pada akhirnya dia diusir dari rumah sampai kemarin dia tidak masuk kuliah dan menginap di rumah Pak Bayu.

 

"Terus apa yang Papah lo lakukan Dav terhadap lo?" ujar Alex dengan menatap temannya nanar.

 

Saat ini David beserta ke dua temannya Hamdan dan Alex sedang duduk di teras masjid, melihat wajah David yang berdarah membuat Hamdan dan Alex kaget dan panik apa yang sebenarnya telah terjadi pada David.

 

Entah kepada siapa lagi David harus dia temui sekarang ini, selain menemui ke dua temannya yang masih melaksanakan ibadah salat di masjid At-taufiq, perlakuan Bokapnya yang sungguh keteraluan membuatnya benci mengapa dia harus mempunyai sosok Ayah seperti Papahnya, pertanyaan-pertanyaannya selama ini telah terjawab dia bersyukur bisa menemukan jati dirinya yang sebenarnya meski harus melewati banyak rintangan dan halangan yang menghadapinya.

 

"Dav," seru Hamdan ketika David tetap diam tidak ada suara yang keluar dari mulutnya kini.

 

Merasa kembali sadar lantas David langsung menoleh menatap ke dua temannya dengan nelangsa wajahnya yang sudah hancur akibat perlakuan Papahnya sungguh menyakitkan, "Gue gak apa-apa kok kalian tidak perlu khawatir gue baik-baik saja," katanya berusaha tegar.

 

Alex kesal dengan jawaban David dia menatap temannya itu tajam, "Dav lo itu sedang terluka sekarang tapi bisa-bisanya lo berkata kalau lo sedang baik-baik saja please deh don't feel strong!" omelnya sambil membuka songkonya dan diletakannya di lantai.

 

"Iya Dav benar kata Alex, lo itu sakit lihatlah bibir lo sampai berdarah gitu apa harus gue bawa lo berobat?" sahut Hamdan tangannya memegangi bahu David dan menepuknya pelan, "Bagaimana? lo mau ke rumah sakit dulu setelah berobat lo bisa ceritain semuanya ke kita," lanjutnya.

 

David memegangi sudut bibirnya lalu dilihatnya memang ada bercak darah yang sudah kering di sana, kembali lagi teringat dalam pikiran David saat Papahnya menampar dirinya berkali-kali serta mendorongnya hingga tersunggur di lantai baru kali ini dia berhadapan dengan sosok Papahnya dan dia baru menyadari bagaimana sosok Papah itu.

 

"Gak usahlah, ini luka kecil saja gak usah sampai ke Dokter nanti juga gue obatin sembuh kalian tidak perlu bersikap berlebihan kaya gini gue jadi merasa sudah merepotkan kalian," ungkap David lirih.

 

"Yang lebih repot gue Dav, kenapa lo tidak menghubungi gue sebelumnya apa lo gak anggap gue sama Alex teman lo hah?"

 

David mengalihkan pandangannya ke arah lain, dia benar-benar tidak habis pikir dengan David yang bisa-bisa punya masalah besar tidak menghubunginya terlebih dahulu.

 

"Sorry gue akui ini salah gue tapi kalian juga harus tahu posisi gue saat itu," terang David bagaimana dia sampai tidak kepikiran untuk menghubungi ke dua temannya itu.

 

Alex memberikan David botol minuman yang baru dia beli, "Nih minum dulu Dav!" ujarnya seraya memberikan teh pucuk kepada David.

 

"Thanks Lex!" David langsung mengambil minuman tersebut lalu meminumnya. "Dan, Lex kapan kalian mau ngajak gue ke guru Lo itu?" tanyanya antusias dia sudah tidak sabar untuk bisa mengaji.

 

"Besok gue ajak lo bertemu dengan Guru besar gue untuk sekarang ini mari obati dulu luka kamu Dav." Hamdan geregetan ketika David tidak mau diajak untuk mengobati lukanya, "Lo sudah makan Dav?" tanyanya.

 

Mendengar makan dia baru ingat terakhir kali dia makan nasi itu pas pagi di rumahnya Bu Sri itu pun sedikit tidak banyak, "Belum." David menggelengkan kepalanya pelan.

 

Alex tertawa melihat ekspresi David yang memelas, "Ya Allah kasihan banget lo Dav pasti gara-gara masalah ini lo jadi gak makan atau jangan-jangan lo gak punya uang buat beli makan?" celetuknya.

 

Merasa tidak terima diejek seperti itu David langsung menoyor kepala Alex, "Enak saja gue memang gak nafsu makan tapi kantong gue penuh nih, ya sudah yuk makan gue mau traktir kalian berdua anggap saja ini sebagai rasa syukur gue karena berteman dengan kalian gue akhirnya bisa menemukan jati diri gue yang sebenarnya." Melihat kantongnya yang masih menyimpan uang jajan yang diam-diam dia kumpulkan sangat membantu untuknya saat ini mengingat Papahnya akan mengambil fasilitas mobil, ATM dan mungkin motornya membuatnya akan kesusahan dalam menjalani hidup.

 

Akhirnya mereka pergi ke restoran untuk makan malam tidak hanya itu Hamdan mengajak David untuk tidur dengannya karena besok libur Alex dan Hamdan berniat akan membantu David mencari apartemen di sekitar sini agar lebih dekat dengan jarak rumah serta kampusnya.

 

Bersyukur David memiliki teman atau sahabat yang baik di zaman sekarang bukanlah perkara mudah mencari teman atau sahabat mengingat kemajuan teknologi yang membuat manusia sibuk dengan dunianya sendiri. Kebanyakan orang tidak lagi memperhatikan dengan siapa ia berteman. Padahal, teman yang baik dapat memberikan syafaat (pertolongan) pada hari Kiamat.

 

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam SAW pernah bersabda, "Seseorang bergantung pada agama teman karibnya. Karena itu, hendaknya kalian memperhatikan siapa yang harus dijadikan teman karib". Hadis ini memberi pesan bahwa sahabat yang baik dan saleh akan membawa kita ke jalan Allah Ta'ala.

 

"Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian. Akan tetapi, Allah hanyalah melihat pada hati dan amalan kalian". (HR. Muslim).

 

Beruntunglah orang-orang yang memiliki sahabat berhati mulia dan taat kepada Allah. Ia laksana bintang yang senantiasa menerangi. Ketika kita salah, dia hadir untuk mengingatkan. Ketika kita ditimpa musibah ia datang untuk menghibur. Ketika kita kesulitan, dia datang mengulurkan tangan.

 

Seperti yang sudah dijanjikan oleh Hamdan sebelumnya, setelah selesai mandi David ditawarkan untuk makan terlebih dahulu oleh Dahlia serta Hamdan.

 

"Saya memang tidak pandai menolak Tante apalagi keadaan perut saya mendukung," sahut David berhasil membuat Dahlia dan Hamdan tertawa mendengarnya begitu pun dengannya sendiri.

 

Hamdan menepuk bahu David pelan, "Hahaha perut gak bisa bohong ya Dav!"

 

"Ya sudah Mamah buatkan nasi goreng dulu ya?" Dahlia bangkit dari duduknya untuk pergi memasak, dia senang melihat kehadiran David di rumahnya tetapi mengingat cerita David mengapa dia bisa diusir dari rumahnya yang besar membuatnya terharu.

 

Setelah Dahlia pergi David mengobrol dengan Hamdan membicarakan soal anak rohis, David sudah mendaftar menjadi anak rohis nanti akan masuk setelah ujian menurut Hamdan yang mana akan ada pelantikan ketua rohis juga nantinya.

 

"Dav, lo pasti kaget dengarnya tapi gue harus bilang ini sama lo." Hamdan masih ingat kejadian di base camp kemarin.

 

David mengerutkan keningnya bingung, "Apaan sih Dan, dosa loh bikin orang penasaran!" katanya sedikit mengancam seraya mengangkat jari telunjuknya.

 

"Hahaha bisa aja lo Dav, kemarin waktu lo gak masuk kuliah Dinda nyariin lo kan soalnya kan kelas kita mendadak digabung waktu itu terus juga semalam dia chat gue nyariin lo dia sudah mendengar kalau lo pergi dari rumah jadi dia nanya ke gue," jelas Hamdan dengan tersenyum simpul, dia berkata dengan terus terang tanpa ada kata yang ditambah-tambahkan.

 

Seketika David menjadi sumringan mendengar bahwa Dinda mencarinya, "Dan apa jangan-jangan Dinda khawatir sama gue? tapi lo gak bohong kan Dan?" Dia ragu untuk membenarkan apa yang dirasakannya takut bahwa Hamdan hanya mengarang agar membuat dirinya semangat.

 

"Demi Allah gue gak bohong Dav, kalau lo gak percaya bisa tanya sama Najma tuh sahabatnya Dinda," seru Hamdan saat itu memang ada Najma yang mereka berdua selalu bersama ditambah lagi mereka sama-sama anak rohis.

 

"Lo bilang dia tahu gue pergi dari rumah berarti sekarang dia sedang nyariin gue dong ya?" David masih berbicara dengan antusias jika membahas tentang Dinda. Yang dijawab oleh Hamdan dengan menganggukan kepalanya seraya tersenyum.

 

David pun langsung memegangi tangan Hamdan, "Gue boleh minta bantuan lo sekali lagi Dan," lirihnya dengan raut wajah yang serius.

 

"Katakan saja Dav, lo itu jangan merasa merepotin gue dengan lo minta tolong kaya gini!" Bagaimana pun Hamdan sudah menganggap saudaranya sendiri.

 

Merasa sudah mendapat izin David pun mengatakan apa yang ingin dia sampaikan kepada Dinda selama dirinya sedang menjalani proses perbaikan d Buiri dan menempuh kehidupannya yang baru memperlajari sesuatu yang belum pernah diketahuinya meski terselip dalam hatinya untuk mengatakannya sendiri tetapi tentu saja untuk sementara waktu dia tidak ingin menemui Dinda terlebih dahulu.

 

"Tolong sampaikan salam kepada Dinda Dan, jaga dirinya baik-baik selama gue jauh darinya dan gue nitip Choco kepadanya untuk dijaga dengan baik, jika seandainya islam mengajarkan kita untuk berpacaran gue akan menembaknya menjadi pacar gue namun karena islam melarang kita untuk berpacaran gue gak mau merusaknya tapi gue janji setelah gue masuk islam dan sudah mempelajari ilmu agama gue akan kembali untuk menemuinya dan ... " David berjanji untuk perkataannya itu dan dia harap semua proses perbaikan dirinya bisa berjalan dengan lancar.

 

Hamdan tersenyum mendengar semua curahan hati David, dia senang ketika David bisa mengerti arti cinta yang sebenarnya jika kemarin David gigih untuk berpacaran dengan Dinda akhirnya kini temannya itu sudah mengerti akan aturan dalam islam mengenai pacaran.

 

"Mari makan dulu anak-anak, Mamah sudah selesai makan nih!" seru Dahlia memanggil ke dua anak muda itu untuk bergabung di meja makan.

 

Dengan semangat mereka berdua bangkit dari duduk untuk menghampiri Dahlia, terlihat nasi goreng serta air putih yang sudah berada di meja makan yang begitu menggoda selera David selama ini dia tidak pernah dimasakan nasi goreng pernah juga Mamahnya memasakannya nasi kebuli khas Jakarta.

 

"Wahh sepertinya enak banget nih," seru Hamdan biasanya Mamahnya akan memasakannya nasi goreng dengan telur ceplok tetapi kali ini Mamahnya telah mencampur nasi serta telurnya menjadi satu.

 

David menarik bangkunya yang akan didudukinya nanti, "Tante pandai memasak juga ya? pantas saja punya restoran," celetuk David mengetahui info tersebut dari Alex.

 

Mendengar itu Hamdan langsung menoleh, "Lah lo tahu dari mana Dav perasaan gue gak pernah bilang deh kalau Mamah punya restoran," katanya.

 

"Alex, gue nanya sama dia waktu lo bilang mau buka bisnis yang ternyata lo bantu Nyokap lo berjualan." David tersenyum senang karena berhasil membuat Hamdan kaget saat dirinya mengetahui semua itu.

 

Pada akhirnya Hamdan hanya diam saja, "Sudah mari makan keburu nasinya dingin dulu!" ujar Dahlia dengan penuh candaan.

 

Saat mereka asik melahap makanannya tiba-tiba ponsel David bergetar layarnya menyala menampilkan pesan dari seseorang yang tidak ada namanya membuatnya penasaran soalnya dia memang sedang menunggu kabar dari seseorang.

 

'Ada kamar yang kosong di apartemen di daerah Jakarta tepatnya di arah selatan komplek kayumanis anda bisa langsung survie saja ke sini untuk bisa melihat tempatnya langsung, cocok enggaknya biar dibicarakan di sini nantinya.'

 

"Alhamdulillah, akhirnya gue sudah menemukan apartemen di dekat sini, Dan lo tahu kan komplek kayumanis?" ujar David menunjukan alamat yang diberikan oleh seseorang yang memang sudah dia tunggu-tunggu itu.

 

Semalam David memang sudah mencoba menghubungi beberapa apartemen dekat daerah sini tetapi ada yang penuh dan sudah disewa orang ada yang kosong tetapi jauh sampai akhirnya dia menemukan apartemen di dekat sini.

 

"Alhamdulillah selamat ya Nak David." Dahlia menyahut ikut merasa senang dengan kabar tersebut.

 

Setelah selesai makan David dan Hamdan langsung pergi untuk mengunjungi tempat tersebut, namun sebelumnya David menghubungi seseorang dulu yang katanya mau ikut membantunya mencari apartemen.

 

"Bagaimana dia mau ke sini?" ujar Hamdan takut jika Alex tidak bisa ikut menemani David kali ini.

 

Ya Alex memang mempunyai pekerjaan di luar yaitu menjadi pelayan di caffe sehingga Alex jarang sekali bergabung dengan Hamdan dan David namun mereka berdua bisa memahami keadaan Alex, bagaimana pun pertemanan mereka memang sangat baik satu sama lain bisa menerima dan mengerti itulah salah satu keindahan bisa menemukan teman yang tulus tanpa ada imbalan atau perhitungan.

 

"Sedang di jalan sebentar lagi pun sampai," sahut David saat membaca balasan pesan dari Alex.

 

Tiba-tiba terdengar suara bunyi motor Alex yang sudah datang. "Hay gays maaf Dav sudah buat kalian berdua nunggu lama," kata Alex saat sudah berada di depan ke dua temannya itu.

 

"Santai saja mas bro, ya sudah yuk langsung saja pergi!" ujar David seraya memasang helmnya di kepalanya.

 

"Eh di mana tempatnya?" Alex mengomel pasalnya dia belum dikasih tahu ke mana dia harus pergi.

 

"Sudah ikuti saja kita jangan terpisah makanya ya!" sahut Hamdan yang sudah bersiap-siap untuk menjalankan motornya, David pun naik di bangku belakang motor Hamdan.

 

Motor mereka pun sudah melaju meninggalkan kediaman Hamdan untuk pergi mengantarkan David ke rumah yang barunya sebagai tempat kehidupan barunya dimulai atau tempat untuk mengasingkan dirinya untuk bisa belajar menjadi lebih baik.

 

David dan Alex menepati di posisi ke dua setelah Hamdan sebagai petunjuk arah, untung saja jalanan siang ini tidak terlalu macet sehingga mereka bisa berjalan lancar sampai selamat pada tujuannya.

 

"Ternyata apartemennya tidak jauh juga ya? gue kira lumayan jauh lo Dan," seru David ketika motornya sudah memasuki tempat parkiran motor dan mobil.

 

Alex dan Hamdan sudah melepaskan helmnya dan turun dari motornya masing-masing begitu pun dengan David yang sudah tidak sabar untuk melihat apartemennya.

 

Dengan segera mereka berjalan masuk dan menemui pelayan yang menghubunginya tadi, setelah bertemu David dan ke dua temannya diiring ke lantai 4 di mana letak kamar untuk David bisa tepati.

 

"012," seru David sambil melihat-lihat angka yang berada di pintu, 012 adalah kamar untuknya.

 

"Ini kartunya anda bisa mengunakan kartu ini untuk masuk sebagai passwordnya!" Sang pelayan itu pun memberikan kartu tanda kepemilikan kamar kepada David, sudah menjadi tugasnya mengantar para tamu menuju kamarnya.

 

Karena Hamdan berada di dekat sang pelayan itu dia pun mengambil kartu password dan memberikannya kepada David, "Nih Dav buruan buka!" katanya dengan tidak sabar.

 

Pintu kamar pun terbuka lebar setelah David menempelkan kartu, terlihat isi ruangan kamar itu yang berwarna putih mereka bertiga pun segera masuk untuk melihat-lihat isi kamar, saat David sudah merasa cocok akhirnya dia menyewa kamar ini untuk waktu sebulan.

 

"Baik terima kasih, jika ada perlu anda bisa hubungi kami kembali," ujar sang pelayan dan berlalu pergi meninggalkan David beserta teman-temannya.

 

Alex pun langsung berbaring di atas kasur yang empuk itu, Hamdan lebih memilih untuk mendudukkan bokongnya di sofa sedangkan David dia sedang membuka hordeng jendela yang menampilkan pemandangan kota Jakarta sama seperti kamarnya dulu.

 

"Wahh ini sih serasa kamar gue sendiri bedanya ya tidak ada ke dua orangtua gue di sini," ungkap David masih ada luka yang belum dia sembuhkan ketika dia berada jauh dari ke dua orangtuanya.

 

David akan memulai perjalanan baru di sini masih bersama ke dua temannya yang akan membimbingnya untuk lebih mengenal ciptaannya, hatinya selalu berdoa untuk keselamatan ke dua orangtuanya.

 

#Mohon maaf bila ada kesalahan dalam penjelasan, mohon bijak dalam berkomentar.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!