Pengorbanan Cinta David
Bertemu Ustad Syakir
"Dan, gue dengar suara seseorang membaca tulisan arab yang seperti itu kitab suci alquran yang pernah lo katakan, dan lo tahu hati gue bergetar begitu pun jantung gue yang berdebar sangat kencang, suara ini sangat indah terdengar di telinga gue, apa gue boleh belajar membacanya?" ungkap David dalam keadaan sadar.
Hamdan jelas terkejut mendengarnya dia tidak percaya apa yang dikatakan oleh temannya itu.
"Kamu seriusan Dav, ingin belajar mengaji?" pekik Hamdan seraya bangkit dari rebahannya.
Selama ini David selalu memperhatikan lingkungannya ada daya tarik dalam dirinya untuk mengetahui seperti apa islam itu?
"Iya gue serius, tapi apakah boleh Dan?" tanya David ragu apakah dia diperbolehkan untuk belajar mengaji.
"Gue bingung juga tuh Dav coba besok tanyakan sama Ustad Syakir." Hamdan masih belum tahu apakah dibolehkan atau tidak dia takut untuk menjawab sesuatu yang masih diragukannya.
David mengembuskan napasnya pelan, "Ya sudah lanjut besok saja thank Dan."
Sambungan pun terputus secara sepihak David masih mengintai rumah Dinda dan suara itu pun sudah tidak terdengar akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke kamar karena hari sudah larut malam.
Hamdan memang belum tidur setelah salat witir yang dilanjut dengan menonton tausiyah ustad Hanan Attaqi yang menjadi tontonan favoritnya, penjelasan yang disampaikan oleh ustad Hanan sangat mudah dipahaminya.
Hingga layar ponselnya berubah menjadi panggilan dari David yang pertanyaan cowok itu kembali membuatnya terkejut. Dia yakin suatu saat nanti Allah membukaan jalan untuk David.
****
"Sayang kamu puasa kan hari ini?" tanya Anggelia yang sudab rapi hendak pergi ke mall bersama Wilda.
Ya David menjawabnya dengan anggukan kepalanya lalu mencium pipi Mamahnya seraya berpamitan akan langsung pergi ke kampus.
"Mah," ujar David sembari membalikan tubuhnya sehingga matanya langsung bertemu dengan sosok Mamahnya.
"Ada apa lagi? apa ada yang ketinggalan?" sahut Anggelia mencoba menebak apa yang ingin anaknya itu sampaikan sehingga haru berbalik lagi.
David pun tersenyum, "Nothing," katanya dan kembali berjalan pergi.
Mendengar ucapan anaknya membuat Anggelia heran dan tak bisa membuatnya untuk tidak tertawa begitu pun Bi Yuli sang pembantunya yang melihat tingkah laku David.
"Kata Tuan, Den David pergi ke kampus menggunakan mobil agar tidak terkena terik matahari," seru Pak Bayu sembari mengulurkan kunci mobil kepada David.
David melongo mendengarnya, "What wrong Pah? David kan sudah besar bisa nahan diri kok saat berpuasa lagian David juga kuat, huh gak bisa, saya mau pergi makai motor!" protes David sembari berdecak pinggang, "Ambilkan kembali kunci motor saya!" titahnya.
"Bagaimana jika Tuan mengetahui jika Den David melanggar perintahnya?" Saat ini Pak Bayu sedang dalam keadaan serba salah dia takut jika Nathan akan memarahi David dan tentunya dia juga.
"Tidak apa-apa Pak biar David yang akan bicara dengan Papah, kemarikan kuncinya!"
Akhirnya David pergi dengan motornya dia tidak percaya jika Papahnya meragukan kemampuannya meski dia baru kemarin berpuasa dan sekarang pun harus puasa itu masih bisa disanggupinya.
Sesampainya di kampus dia belum menemukan ke dua temannya itu yang mungkin belum datang David pun memutuskan untuk ke perpustakaan mencari buku bacaan yang bisa menambah pengetahuannya.
"Woy mau ke mana Dav?" tanya Mino teman seanggatannya namun beda jurusan.
Lalu David pun melakukan tos five high dengan Mino, "Perpustakaan bro! lo mau ikut gue ke sana?"
"Hemm," gumam Mino seraya berpikir. "Baiklah gue ikut deh," katanya yang memang tidak ada kesibukan lainnya.
Mereka berdua pun langsung berjalan menuju ruangan perpustakaan yang berada di lantai dua selama perjalanan David mengajak Mino berbicara akan banyak hal baik mengenai pelajaran maupun urusan pribadi mereka masing-masing.
"Lo kenal Dinda juga Dav?" ujar Mino sedikit terkejut mengetahui jika teman barunya ini sudah tahu sosok Dinda.
David tersenyum, "Ya gue tahu Dinda dari Hamdan dia anak rohis kan?" ujarnya masih menyembunyikan fakta bahwa Dinda adalah anak tetangganya sendiri baik Hamdan maupun Alex mereka tidak tahu akan hal itu.
"Iya benar Dav, mungkin semua orang juga tahu ya akan sosok Dinda yang menjadi panutan banget di kampus ini tapi ...." Mino menjeda perkataannya membuat David mengernyit heran.
"Tapi apa Min?" seru David dengan tidak sabar.
Mino terkekeh, "Tapi Dinda itu cewek yang susah didekati Dav banyak senior dan teman-teman kita kaya si Alex tuh mereka semua kan cintanya ditolak sama si Dinda," jelasnya.
Perlu dikatakan bahwa Mino adalah salah satu cowok biang gosip di kampus ini semua berita pasti dia tahu Mino memiliki paras yang terbilang cukup manis dengan lesung pipi di sebelah kirinya ditambah lagi cowok itu aktif di eskul menambah mudah mencari informasi lebih dalam.
"Alex? Serius lo Min?" pekik David tidak percaya.
Obrolan mereka pun terhenti saat mereka sudah sampai di depan perpustakaan. Yang akhirnya terpisah sebab David akan mencari buku imiah untuk menambah wawasannya dalam berpikir.
'Pendidikan Adalah Ibadah' adalah buku yang akan David baca hari ini bersama dengan Mino yang malah membaca novel horor.
Sambil menunggu jam 9 David ingin menghabiskan waktunya di perpustakaan dengan membaca buku tentang pendidikan yang menjadi suatu hal penting karena seseorang akan berada di tempat yang layak ketika dia menjadi seorang yang berpendidikan.
"David!" panggil Hamdan ketika sudah menempukan orang yang dicarinya.
Panggilan Hamdan lantas membuat dua orang itu langsung menoleh lantaran terkejut dia pun langsung menghampiri David dan duduk di depannya.
"Dav lo sudah bertemu dengan Ustad Syakir?" ujar Hamdan yang masih mengingat obrolan kala malam itu.
"Belum, gue bingung bagaimana cara ngomongnya," sahut David lirih, dia memang kenal dengan ustad Syakir namun tidak tahu bagaimana sosoknya.
"Lo ada mata kuliah jam berapa?"
"Jam 9 gue masuk, lo mau bantuin gue ngomong sama ustad Syakir?" David memandang Hamdan tajam dia berharap temannya itu akan dengan senang hati membantunya.
Hamdan memandang jam tangannya yang masih menunjukan pukul 08:15 WIB yang mana sebentar lagi David akan masuk kelas.
"Ya sudah setelah kelas selesai lo temui gue di kantin soalnya hari ini gue masuk jam 10," terang Hamdan yang bersedia menunggu David. Hari ini dia tidak berpuasa beristirahat sebentar untuk menyambut bulan suci ramadhan.
Bel masuk pun berbunyi membuat David dan juga Mino langsung bergegas keluar karena jika dia telat sepuluh menit saja otomasi tidak bisa ikut mata pelajaran Bu Maya.
Sembari santai Hamdan duduk di kantin menunggu kedatangan David dan ustad Syakir yang sepertinya belum datang.
Hamdan berlari saat kebetulan melihay ustad Syakir lewat di depan kartin. "Assalamualaikum Ustad," ujarnya sembari mencium tangan gurunya itu.
"Waalaikumsalam Hamdan, ada apa Nak?" Ustad Syakir tersenyum hangat karena tidak biasanya Hamdan memberhentikan dirinya di jalan seperti ini jika biasanya Hamdan selalu menemui dirinya di ruangannya.
"Hehehe afwan ustad, ada yang mau ana tanyakan nanti bersama teman saya dia beragama katolik," terang Hamdan dia tidak berniat untuk langsung menanyakannya.
Ustad Syakir mengernyit bingung, "Ya sudah nanti bawa dia ke ruangan saya saja," katanya.
Setelah mendapat izin dari ustad Syakir akhirnya Hamdan memilih untuk menunggu David di depan kelasnya sembari membaca buku.
"Hamdan, lo ngapain di sini? gak ada kelas lo?" pekik Alex dengan membawa tas selempang lalu menghampiri Hamdan.
Awalnya Hamdan mengira itu suara David soalnya sudah jam setengah sepuluh cowok itu belum selesai juga.
"Gue nungguin David, sini gue bisikin semalam David berkata bahwasannya cowok itu ingin belajar membaca alquran," ungkap Hamdan dengan hati-hati bagaimana pun dia akan selalu menjaga toleransi kepada sesamanya.
Alex melotot sama kagetnya ketika David berbicara langsung dengan Hamdan, "Lo jangan bercanda Dan! kalau beneran apakah artinya David akan memeluk islam? ya Allah semoga kau membukan jalan untuk David agar segera masuk islam." Alex mengangkat ke dua tangannya seraya berdoa.
Siapa di antara kalian yang menginginkan hal yang sama? yaitu agar David segera masuk islam? jika benar mari geser untuk mengetahui kisah selanjutnya.