Pembalasan Mawar yang Layu
Runtuhnya Reputasi Sheila
Jantungku berdegup kencang, menghantam dinding dadaku seperti burung yang terperangkap dalam sangkar besi.
Aku bisa merasakan otot dada Adrian yang mengeras di bawah pipiku, pelukannya yang semula protektif kini terasa seperti jebakan yang panas.
Sinar senter dari ponsel Bram menyambar-nyambar kegelapan taman, menyilaukan mataku saat dia melangkah mendekat dengan langkah-langkah besar yang penuh amarah.
"Aruna! Lepaskan dia!" teriak Bram dengan suara pecah oleh kecemburuan. "Apa yang kamu lakukan dengan bajingan itu di tempat gelap seperti ini?"
Aku tidak melepaskan Adrian. Justru sebaliknya, aku mencengkeram jasnya lebih erat, menggunakan tubuh jangkung Adrian sebagai perisai sekaligus panggung sandiwaraku. Aku memutar tubuh sedikit, membiarkan cahaya senter Bram menangkap wajahku yang basah oleh air mata palsu dan ekspresi ketakutan yang luar biasa.
"Bram! Tolong aku!" pekikku dengan suara bergetar hebat. "Tuan Adrian... dia menemukanku pingsan di dekat kolam! Tanganku... lihat tanganku, Bram!"
Aku menyodorkan pergelangan tanganku yang masih menyisakan garis hitam memudar, namun kini terlihat seperti bekas lebam keunguan yang mengerikan akibat cairan biru dari Adrian tadi.
Bram tertegun, langkahnya terhenti tepat satu meter di depan kami. Matanya beralih dari wajahku ke tanganku, lalu ke wajah Adrian yang sedingin es.
"Pingsan?" Bram mendesis, namun keraguan mulai menyusup ke dalam suaranya. "Lalu kenapa dia memelukmu seketat itu?"
Adrian melepaskan pelukannya dengan gerakan yang sangat perlahan, seolah-olah dia sengaja ingin memprovokasi Bram. Dia merapikan jasnya yang sedikit berasap di bagian yang kusentuh tadi—untungnya, kegelapan malam menyamarkan noda hangus itu seperti bayangan basah dari air kolam.
"Tunanganmu hampir jatuh ke dalam kolam air mancur karena serangan panik akibat mati lampu, Tuan Dirgantara," ucap Adrian dengan nada datar yang sangat menghina. "Jika aku tidak menangkapnya, mungkin besok berita utamanya bukan tentang pertunangan, tapi tentang pemakaman pewaris tunggal Wijaya Group. Alih-alih berterima kasih, kau malah berteriak seperti orang kesurupan."
Bram terdiam, wajahnya menegang antara rasa malu dan kemarahan yang tertahan. Dia menatapku kembali, mencari celah kebohongan. "Serangan panik? Kamu tidak pernah punya riwayat itu, Aruna."
"Ini karena Sheila, Bram!" aku terisak, menutup wajahku dengan tangan. "Melihat kondisinya tadi di kamar... aku sangat terpukul. Aku merasa oksigen di aula menipis saat lampu mati, jadi aku lari ke sini untuk mencari udara segar, tapi kepalaku tiba-tiba berputar. Jika Tuan Adrian tidak lewat untuk menuju tempat parkir, aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku."
Aku merosot ke tanah, berpura-pura lemas. Bram segera berlutut dan meraih bahuku, mencoba merebut kembali otoritasnya atas diriku. "Maafkan aku, Sayang. Aku hanya... aku sangat cemas mencarimu. Aula masih kacau, dan semua orang panik."
"Bawa dia masuk," perintah Adrian tanpa emosi. "Dan sebaiknya kau periksa sirkuit listrik rumah calon istrimu. Sangat aneh jika rumah semewah ini mengalami mati lampu total di saat yang sangat krusial."
Adrian berbalik dan berjalan pergi tanpa menoleh lagi. Aku menatap punggungnya, menyadari bahwa dia baru saja memberiku alibi yang sempurna sekaligus melemparkan kecurigaan pada sistem keamanan rumah—yang mana adalah tanggung jawab Bram selama setahun terakhir.
Bram membantuku berdiri, namun aku bisa merasakan genggamannya tidak lagi sehangat dulu. Ada kecurigaan yang tertanam di kepalanya, bukan hanya padaku, tapi juga pada kegagalan teknis yang baru saja terjadi. Kami berjalan kembali ke dalam rumah yang lampunya baru saja menyala kembali setelah teknisi memperbaiki sirkuit yang—entah bagaimana—terputus.
"Sheila sudah dibawa ke rumah sakit," bisik Bram saat kami melewati aula yang mulai kondusif. Para tamu sudah mulai berpamitan dengan wajah-wajah penasaran. "Dokter bilang itu reaksi alergi yang sangat ekstrem atau... paparan zat kimia berbahaya. Aruna, apa kamu melihat dia memakai atau menyentuh sesuatu yang tidak biasa?"
"Tidak tahu... dia hanya minum teh herbal yang dia buat sendiri tadi pagi," jawabku pelan, mataku berkilat di balik bulu mataku yang basah. "Aku bahkan tidak sempat meminumnya karena kamu sudah datang menjemput."
"Hmm," gumam Bram, namun aku tahu pikirannya sedang berputar mencari kambing hitam untuk insiden yang merusak reputasi pesta pertunangannya.
Keesokan paginya, berita tentang "insiden" di pesta pertunangan kami meledak di media. Namun, berkat campur tangan rahasia yang kuyakin berasal dari Adrian—yang punya pengaruh besar di dunia media dan bisnis—fokus berita bukan pada aku yang menghilang atau lampu mati, melainkan pada foto-foto Sheila yang wajahnya melepuh saat dibawa ke ambulans lewat pintu belakang. Satu foto yang sangat close-up tersebar luas: wajahnya yang penuh ruam merah dan rambut rontok berserakan.
Reputasi Sheila sebagai "Ikon Kecantikan Muda" hancur dalam semalam.
Aku duduk di ruang makan siang itu, menyesap kopi sambil melihat Sheila yang baru saja pulang dari rumah sakit dengan wajah terbungkus perban putih tebal. Kulitnya yang tidak terbalut perban tampak kusam dan kering. Dia duduk di seberang ku dengan tubuhnya gemetar karena marah dan malu.
"Ini pasti gara-gara kamu, Aruna!" teriak Sheila dengan suara serak, matanya yang merah menatapku penuh kebencian. Tidak lagi pura-pura lembut seperti biasanya. "Kamu memberikan sesuatu di teh itu, kan? Atau jimat itu... kamu merusak jimat itu!"
Sheila berhenti bicara tepat saat menyadari Ayah dan Bram yang masuk ke ruang makan. Aku hanya menatapnya dengan wajah pura-pura simpati, mengambil peran sempurna sebagai kakak yang terluka oleh tuduhan.
"Sheila, apa yang kamu bicarakan? Aku bahkan tidak sempat meminum teh yang kamu buatkan kemarin, karena Bram lebih dulu datang," ujarku lembut. "Apa ada sesuatu dalam teh itu?”
Aku mengulurkan tanganku yang kini bersih sempurna—berkat sisa cairan biru dari Adrian yang diam-diam kuusapkan lagi sebelum tidur tadi malam, menghapus jejak kutukan yang sempat muncul. Sheila melotot, matanya nyaris keluar dari kelopak matanya yang bengkak. Dia tahu ada yang salah, tapi dia tidak bisa membuktikannya tanpa membongkar rahasia jimat itu sendiri.
"Dan apa yang kamu maksud dengan jimat? Jimat apa, Sheila?" tanyaku dengan nada bingung yang sempurna.
"Cukup, Sheila! Jangan melimpahkan kesalahanmu pada Aruna," bentak Ayah dengan wajah memerah. "Hasil laboratorium rumah sakit menunjukkan ada jejak zat kosmetik ilegal dan merkuri tinggi di pori-pori wajahmu. Kamu pasti menggunakan krim pemutih murah atau produk kecantikan abal-abal secara sembunyi-sembunyi!"
"Tidak, Om! Aku tidak pernah—"
"Diam! Karena ulahmu, saham perusahaan turun dua persen pagi ini!" Ayah memukul meja dengan telapak tangan, membuat gelas-gelas bergetar. "Para investor meneleponku terus-menerus menanyakan skandal ini. Mereka khawatir ada masalah kualitas produk di lini kosmetik kita!"
Ayah menatap Bram dengan tatapan tajam. "Bram, pastikan tidak ada lagi wartawan yang membahas tentang wajah Sheila. Fokuskan PR kita pada peluncuran lini produk baru minggu depan. Alihkan perhatian publik."
Bram mengangguk patuh, namun matanya terus mencuri pandang ke arahku—ada sesuatu yang mencurigakan dalam tatapannya. Aku tersenyum tipis pada Sheila, sebuah senyuman yang hanya bisa dilihat olehnya saat Ayah dan Bram berdiskusi tentang strategi damage control.
Saat Ayah dan Bram pergi ke ruang kerja untuk rapat darurat dengan tim PR, aku berdiri dan berjalan melewati kursi Sheila. Aku membungkuk sedikit ke arah telinganya yang terbalut perban.
"Ini baru permulaan, Adikku tersayang," bisikku sedingin es. "Kamu kehilangan wajahmu hari ini. Besok, aku akan memastikan kamu kehilangan pria yang sangat ingin kamu curi dariku."
Mata Sheila melotot kaget mendengar ucapanku—shock murni yang membuatnya terdiam.
Tanpa peduli reaksinya, aku berjalan keluar rumah menuju mobil, bermaksud pergi menemui Adrian di kantornya untuk menanyakan tentang cairan biru yang diberikannya semalam—dan mungkin juga untuk berterima kasih atas bantuan PR yang dia lakukan.
Namun saat aku membuka pintu mobil, sebuah pesan dari nomor tak dikenal masuk ke ponselku. Di dalamnya terdapat koordinat GPS sebuah gudang dan alamat yang sangat familiar: gudang farmasi lama milik keluarga Dirgantara yang seharusnya sudah disegel sepuluh tahun lalu setelah kasus korupsi ayah Bram.
Belum sempat aku memproses informasi itu, pesan kedua masuk.
Sebuah video berdurasi 47 detik.
Mataku terbelalak saat melihat rekaman CCTV berkualitas tinggi: Bram dan Sheila sedang berpelukan mesra di dalam gudang yang remang-remang. Timestamp video menunjukkan tanggal tiga hari yang lalu—dua hari sebelum pesta pertunangan kami.
Tangan Bram menelusuri punggung Sheila dengan gerakan yang sangat intim, sementara bibir Sheila mencium lehernya dengan nafsu yang jelas terlihat.
Pesan ketiga muncul dengan hanya berisi satu kalimat.
"Jika kamu ingin lebih banyak bukti, temui aku di Kafe Nocturne jam 3 sore. —A"