Pembalasan Mawar yang Layu

Jebakan di Pesta Pertunangan

Suara dentuman dari dalam kamar terdengar seperti hantaman tubuh manusia yang menghujam kayu jati solid. Aku mematung di lorong yang kini terasa dingin, sementara gema teriakan Sheila menyisakan dengung di telingaku. 

 

Adrian sudah menghilang di kegelapan ujung selasar, meninggalkanku dengan peringatan yang masih terasa panas di kulitku.

 

"Aruna? Apa itu tadi?"

 

Suara berat Bram muncul dari arah tangga. Dia berjalan cepat dengan wajah cemas yang dibuat-buat, disusul oleh beberapa pelayan dan ayahku yang tampak panik. Mereka pasti mendengar kegaduhan dari aula.

 

"Aku tidak tahu, Bram. Sheila tadi bilang pusing dan ingin istirahat di kamarku. Tapi tiba-tiba..." Aku menutup mulutku dengan tangan, memerankan peran kakak yang ketakutan dengan sempurna. Aku sengaja membiarkan tubuhku sedikit gemetar.

 

Bram mencoba memutar gagang pintu, tapi terkunci. "Sheila! Buka pintunya!"

 

Tidak ada jawaban, hanya suara cakaran kuku yang merintih di balik daun pintu—seperti binatang terluka yang mencoba meloloskan diri dari perangkap. Ayah segera memerintahkan pelayan untuk mengambil kunci cadangan. Detik-detik menunggu terasa seperti keabadian. Aku bisa mendengar detak jantungku sendiri yang menghentak di dada, bukan karena takut, melainkan antisipasi.

 

Saat pintu terbuka, bau busuk yang samar menguar keluar. Bau yang sangat ku kenal dari kematianku di masa depan. Aroma manis yang membusuk, seperti bunga yang mati di air genangan. Namun, bagi mereka, itu mungkin hanya tercium seperti bau obat-obatan atau keringat yang asam.

 

Lampu kamar dinyalakan. Pemandangan di depan kami membuat ayah hampir terjatuh.

 

Sheila tergeletak di lantai, gaun merah mahalnya tersingkap berantakan. Wajahnya yang cantik kini memerah padam, namun bukan karena malu, melainkan karena ruam-ruam besar yang melepuh seperti luka bakar tingkat tiga. Dia terus mencakar leher dan lengannya hingga berdarah, meninggalkan goresan-goresan merah yang menganga. Yang paling mengerikan, beberapa gumpalan rambut panjangnya berserakan di karpet, seolah-olah akar rambutnya mendadak mati dan terlepas dari kulit kepalanya.

 

"Gatal... panas... ada sesuatu di bawah kulitku... tolong aku..." racau Sheila dengan mata yang melotot tidak fokus, pupilnya melebar tidak wajar. Halusinasi dari teh itu mulai bekerja maksimal bersamaan dengan energi jimat yang menghisap vitalitasnya seperti parasit lapar.

 

"Astaga, Sheila! Apa yang terjadi padamu?" Bram hendak mendekat, tapi dia ragu-ragu saat melihat kondisi kulit Sheila yang tampak menjijikkan. Rasa jijik itu—aku mengenalinya. Itu adalah tatapan yang sama yang dia berikan padaku saat aku sekarat di gudang, seperti sedang menatap sampah yang harus dibuang.

 

"Cepat panggil dokter pribadi keluarga! Jangan biarkan tamu-tamu di bawah tahu!" perintah ayah dengan tegas, mencoba menjaga reputasi keluarga di tengah pesta pertunanganku. 

 

Suara Ayah gemetar, namun otoritas di dalamnya tetap kuat.

 

Aku mendekat, berlutut di samping Sheila dengan air mata yang mulai menggenang di pelupuk mataku—air mata palsu yang kulatih dengan sempurna. "Sheila, bertahanlah. Kenapa bisa jadi begini? Apa kamu salah makan? Atau... apa jepit rambut yang kamu pakai tadi terlalu tajam?"

 

Aku menyentuh tangannya yang luka, dan saat itulah aku merasakan aliran energi dingin yang melonjak masuk ke tubuhku. Seperti minum air es di tengah gurun yang membakar. Kulitku terasa semakin segar, mataku semakin jernih, bahkan bekas lelah di wajahku seolah terhapus dalam sekejap, sementara Sheila tampak semakin layu di bawah sentuhanku. Kantung mata mulai terbentuk di wajahnya yang dulu mulus. Inilah keajaiban pembalikan kutukan; dia adalah inangnya, dan aku adalah pemanennya.

 

Bram berdiri di belakangku, tangannya mendarat di bahuku dengan cengkeraman yang terlalu kuat. "Aruna, menjauhlah. Mungkin ini penyakit menular. Kita tidak bisa mengambil risiko di hari pertunangan."

 

Aku mendongak menatap Bram sambil membiarkan air mataku jatuh. "Tapi dia sepupuku, Bram. Bagaimana aku bisa meninggalkannya?"

 

"Menjauhlah, Aruna. Pelayan akan membawanya lewat pintu belakang agar terhindar dari para tamu," pinta ayah dengan nada yang tidak bisa ditolak.

 

"Ayahmu benar. Kita harus menjaga nama baik keluarga," Bram menarikku berdiri, mencengkeram lenganku dengan posesif. Aku bisa melihat kilat kekecewaan di matanya—bukan karena Sheila sakit, tapi karena kekacauan ini merusak momentumnya untuk memamerkan "kemenangan" bisnisnya malam ini. Bagi Bram, pesta pertunangan ini adalah panggung untuk menunjukkan dominasinya atas keluarga Wijaya.

 

Saat petugas medis rahasia keluarga membawa Sheila keluar dengan tandu yang ditutup kain putih—seperti mayat—aku melihat jepit rambutnya jatuh ke lantai dengan bunyi nyaring. Aku memungutnya dengan sapu tangan sutra, memastikan tidak ada yang melihat. Di dalam jepit itu, masih ada sisa helai rambutnya yang akan kugunakan untuk ritual berikutnya. Aku melipat sapu tangan itu rapat-rapat dan menyimpannya di dalam saku gaunku.

 

Pesta dilanjutkan dengan narasi bahwa Sheila mengalami "alergi makanan berat". Beberapa tamu mengangguk dengan pengertian palsu, kembali ke gelas champagne dan obrolan politik mereka. Aku kembali ke aula, berdiri di samping Bram di atas panggung kecil. Aku tampil luar biasa cantik malam itu; kulitku bercahaya bagai mutiara yang dipoles, membuat setiap mata pria di ruangan itu tidak bisa berpaling, termasuk para investor besar yang berbisik-bisik sambil menatapku dengan kagum.

 

Bram memasangkan cincin pertunangan di jariku dengan gerakan yang penuh perhitungan, memastikan setiap wartawan mendapat angle foto yang sempurna.

 

"Mari kita bersulang untuk masa depan Wijaya Group dan persatuan dua keluarga besar ini!" seru ayah sambil mengangkat gelasnya, suaranya dipenuhi kebanggaan yang tak tahu apa-apa.

 

Bram tersenyum lebar, merasa di puncak dunia. Dia menggenggam tanganku erat, memberi kode agar aku ikut mengangkat gelas. Namun, saat aku mengangkat gelas kristal ku, mataku tanpa sengaja menangkap sosok Adrian di balkon lantai dua. 

 

Dia tidak pergi. Dia berdiri di sana, memegang segelas minuman hitam, menatapku dengan tatapan yang seolah berkata, ‘Selamat datang di neraka yang kau ciptakan sendiri.’

 

Tatapan kami bertemu. Ada peringatan dalam matanya yang tajam, namun juga ada sesuatu yang lain—sesuatu yang hangat namun berbahaya.

 

Aku meminum champagne-ku dengan anggun, menikmati rasa kemenangan kecil yang ku dapatkan. Cairan dingin itu mengalir memberikan rasa segar di tenggorokanku. Namun, sensasi menyenangkan itu terhenti ketika aku merasakan sesuatu yang aneh di jari manisku. Cincin pertunangan berlian yang baru saja dipasangkan Bram terasa sangat panas, seolah membakar kulitku dari dalam.

 

Aku menunduk melihat jariku, dan jantungku seakan berhenti berdetak.

 

Berlian murni di cincin itu perlahan-lahan berubah warna menjadi hitam pekat—seperti tinta yang merembes dalam air jernih. 

 

Dan di bawah kulit jari manisku, pembuluh darahku mulai menghitam, menjalar naik menuju pergelangan tangan tepat di depan mata para wartawan yang sedang membidikkan kamera ke arah tangan kami yang bertautan. 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!