Pembalasan Mawar yang Layu

Kegilaan Sheila

Aku menatap Sheila dengan ekspresi yang kucoba jaga tetap tenang, meski di dalam dadaku badai mengamuk. Dia memegang semua kartu—bukti foto, video, akses ke emailku, sistem fail-safe yang rapi. Tapi ada satu hal yang Sheila lupakan: aku sudah mati sekali. Aku sudah merasakan keputusasaan yang paling dalam. Dan pengalaman itu mengajariku bahwa orang yang paling desperate adalah orang yang paling berbahaya.

 

"Baiklah," ucapku akhirnya, suaraku dibuat lelah dan pasrah. "Aku terima tawaranmu. Aku akan minta Adrian melindungimu setelah ritual. Tapi kamu harus berjanji tidak akan mengirim file-file itu ke Bram sebelum ritual selesai."

 

Sheila menyipitkan mata yang menguning, mencari tanda-tanda kebohongan di wajahku. "Bagaimana aku tahu kamu tidak akan mengkhianatiku?"

 

"Karena kita sama-sama terjebak, Sheila," jawabku dengan nada pahit yang tidak sepenuhnya berpura-pura. "Kamu butuh wajahku untuk bertahan hidup, dan aku butuh diammu untuk bertahan hidup. Kita saling membutuhkan sampai ritual itu selesai. Setelah itu, kita bisa saling membunuh kalau kamu mau."

 

Sheila terdiam panjang, lalu tersenyum—senyuman mengerikan dengan bibir yang robek. "Deal. Tapi aku akan terus memantaumu, Kak. Jika aku lihat kamu melakukan sesuatu yang mencurigakan—apapun itu—aku langsung kirim semuanya ke Bram. Mengerti?"

 

"Mengerti."

 

Sheila berbalik, kembali duduk di depan meja rias dengan cermin yang tertutup kain hitam. Dia mengangkat tangannya yang kulitnya mengelupas, menyentuh kain itu dengan jemari gemetar.

 

"Aku tidak berani melihat wajahku sendiri lagi," bisiknya, suaranya tiba-tiba berubah rapuh—seperti anak kecil yang ketakutan. "Setiap kali aku melihat cermin, aku melihat... sesuatu yang bukan aku. Sesuatu yang busuk dan mati."

 

Aku melangkah lebih dekat, duduk di tepi ranjangnya yang berantakan. Ini saatnya untuk menanam benih manipulasi yang lebih dalam—membuat Sheila percaya sepenuhnya pada janji palsu ritual itu.

 

"Dua hari lagi, Sheila," bisikku lembut, menyentuh bahunya dengan hati-hati agar tidak menyentuh kulit yang terluka. "Dua hari lagi saat bulan purnama mencapai puncaknya, kamu akan cantik lagi. Lebih cantik dari sebelumnya. Wajahku—wajah yang semua orang puji sebagai 'Mawar Ibu Kota'—akan jadi milikmu sepenuhnya."

 

Sheila menoleh, matanya yang cekung menatapku dengan campuran harapan dan keputusasaan. "Apa kamu yakin ritual itu akan berhasil? Bagaimana jika... bagaimana jika aku mati?"

 

"Kamu tidak akan mati," jawabku dengan keyakinan yang kubuat sedemikian meyakinkan. "Bram sudah mempersiapkan semuanya dengan sempurna. Dukun yang dia bayar adalah yang terbaik. Dan yang terpenting..." aku mendekatkan wajahku ke telinganya, berbisik dengan nada yang sangat intim, "aku akan menyerahkan diriku dengan ikhlas. Tidak akan ada perlawanan. Tidak akan ada energi negatif yang mengganggu transfer. Itu akan membuatnya sempurna."

 

Air mata mulai mengalir di pipi Sheila yang hancur. "Kenapa kamu melakukan ini untukku, Kak? Setelah semua yang kulakukan padamu... kenapa kamu masih mau memberiku kesempatan ini?"

 

Aku tersenyum—senyum yang paling tulus yang bisa kuberikan untuk kebohongan sebesar ini. "Karena aku lelah, Sheila. Lelah dengan semua permainan ini. Lelah dengan hidup yang terasa seperti penjara. Jika wajahku bisa membebaskanku dan memberikanmu kebahagiaan yang selama ini kamu cari... bukankah itu indah?"

 

Sheila memelukku—pelukan yang kaku dan dingin, namun penuh dengan keputusasaan yang murni. Aku membalas pelukannya, menepuk punggungnya yang tulang belakangnya sudah teraba jelas di bawah kulit yang menipis.

 

"Terima kasih, Kak," isaknya. "Terima kasih... aku janji setelah ritual, aku akan menjaga Bram dengan baik. Aku akan membuat keluarga Wijaya bangga."

 

"Aku percaya padamu," bisikku, sembari dalam hati tersenyum dingin. Sheila sudah sepenuhnya terperangkap dalam ilusi yang kubangun.

 

---

 

Setelah meninggalkan kamar Sheila, aku segera kembali ke kamarku dan mengunci pintu. Jari-jariku gemetar saat mengetik pesan terenkripsi ke Adrian.

 

"Sheila punya leverage besar. Keylogger, video, foto, fail-safe system. Dia minta perlindunganmu atau kirim semua bukti ke Bram. Aku sudah accept dealnya sementara. Apa rencanamu?"

 

Balasan Adrian datang cepat, namun pesannya membuatku terkejut.

 

"Perfect. Sheila's greed adalah kelemahannya. Aku sudah predict ini. Sekarang listen carefully: malam ini kamu harus meninggalkan 'bukti palsu' yang akan ditemukan Sheila—buat dia percaya kamu mengkhianatinya. Aku akan kirim template dokumen dalam lima menit. Print dan tinggalkan di laptop terbuka seolah kamu ceroboh. Sheila akan mengambil foto dan merasa punya leverage lebih besar. Tapi dokumen itu adalah jebakan."

 

Aku mengerutkan kening, mengetik cepat. "Jebakan apa?"

 

"Dokumen berisi 'rencana darurat' untuk membunuh Sheila setelah ritual dengan cara yang akan membuat Bram tersangka utama. Isi dokumen itu akan membuat Sheila paranoid pada Bram—bukan padamu. Dia akan percaya bahwa Bram berencana membunuhnya setelah dia mendapat wajahmu, dan satu-satunya cara dia survive adalah dengan betul-betul bekerja sama denganmu. Ini akan membalikkan loyalitasnya."

 

Aku terdiam, mengagumi kecerdasan Adrian. Dia tidak hanya bermain catur—dia bermain catur tiga dimensi.

 

"Tapi bagaimana jika Sheila tetap kirim semua bukti asli ke Bram?"

 

"Dia tidak akan. Karena begitu dia percaya Bram mau membunuhnya, dia butuh kamu dan aku sebagai satu-satunya pelindungnya. Dia akan menjaga bukti-bukti itu sebagai asuransi—tapi tidak akan menggunakannya kecuali betul-betul desperate. Dan kita akan pastikan dia tidak sampai ke titik itu."

 

Lima menit kemudian, email dari Adrian masuk dengan lampiran dokumen Word. Aku membukanya dan membaca isinya dengan seksama.

 

Dokumen itu berjudul "Contingency Plan—Post-Ritual Cleanup." Isinya mengerikan bahkan untuk sandiwara: rencana detail bagaimana "menghilangkan Sheila Santoso" setelah pertukaran jiwa selesai, dengan metode yang akan membuat kematiannya tampak seperti akibat komplikasi ritual yang salah—dan semua bukti forensik akan mengarah pada Bram sebagai pelaku.

 

Jenius. Dan mengerikan.

 

Aku men-download dokumen itu, membukanya di Microsoft Word di laptopku, lalu sengaja meninggalkan laptop terbuka di meja belajar dengan layar menghadap pintu. Aku berpura-pura pergi ke kamar mandi, meninggalkan pintu kamar sedikit terbuka—tidak terkunci.

 

Aku berdiri di dalam kamar mandi dengan pintu sedikit terbuka, mengintip melalui celah kecil. Aku menunggu. Lima menit. Sepuluh menit.

 

Lalu, aku mendengar suara—gesekan kaki telanjang yang pelan di koridor. Sheila.

 

Bayangan tubuhnya yang kurus melewati celah pintu kamarku yang terbuka. Dia berhenti, menoleh ke dalam, melihat laptop yang terbuka tanpa penjagaan. Ini terlalu sempurna untuk dilewatkan.

 

Sheila meluncur masuk seperti hantu, bergerak menuju meja dengan kecepatan yang mengejutkan untuk seseorang yang kondisi fisiknya seburuk itu. Dia berdiri di depan laptop, mata yang menguning itu membaca layar dengan rakus.

 

Aku bisa melihat ekspresinya berubah dari penasaran menjadi shock, lalu menjadi ketakutan yang murni. Tangannya yang gemetar meraih ponsel dari saku gaunnya, memotret layar laptop dengan cepat—satu, dua, tiga foto dari sudut berbeda.

 

Lalu dia berlari keluar, meninggalkan pintu kamarku terbuka lebar.

 

Aku keluar dari kamar mandi dengan wajah yang dibuat panik, seolah baru menyadari pintu kamar terbuka. "Siapa di sana?!" teriakku, berlari ke pintu dan melihat ke koridor.

 

Tidak ada siapa-siapa. Hanya bayangan panjang dari lampu koridor yang bergoyang pelan.

 

Aku menutup pintu dan menguncinya, lalu duduk di tepi ranjang sambil menarik napas panjang. Jebakan sudah dipasang. Sekarang tinggal menunggu Sheila bereaksi.

 

---

 

Tengah malam, aku terbangun oleh bunyi ketukan pelan di pintu kamarku. Bukan ketukan normal—melainkan ketukan berirama: tiga cepat, dua lambat, tiga cepat. Kode.

 

Aku membuka pintu dengan hati-hati. Sheila berdiri di sana, wajahnya lebih pucat dari biasanya—jika itu masih mungkin. Matanya liar, penuh dengan paranoia yang tidak terkontrol.

 

"Aku tahu," bisiknya dengan suara bergetar. "Aku tahu Bram berencana membunuhku setelah ritual. Aku melihat dokumen itu di laptopmu."

 

Aku membeku, berpura-pura shock dan takut. "Kamu... kamu masuk ke kamarku? Kamu membaca file pribadiaku?"

 

"Ya! Dan syukurlah aku melakukannya!" Sheila mencengkeram lenganku dengan kuku-kuku yang pecah. "Kamu dan Adrian berencana membingkai Bram untuk pembunuhanku! Kamu akan membunuhku dan membuat seolah Bram yang melakukannya!"

 

"Sheila, dengarkan aku—" aku mencoba menarik lenganku, tapi cengkeramannya kuat.

 

"Tidak! Aku yang akan bicara!" Sheila menarikku masuk ke kamar, menutup pintu, dan mendorongku ke dinding. Kekuatannya mengejutkan untuk tubuh yang sudah separuh mati. "Aku tidak peduli dengan deal kita sebelumnya. Sekarang aku tahu kebenarannya: SEMUA ORANG mau aku mati! Bram mau aku mati setelah dapat wajahmu. Kamu dan Adrian mau aku mati agar tidak ada saksi. Semua orang menganggapku sampah yang bisa dibuang!"

 

Air mata dan nanah mengalir bercampur di wajahnya yang hancur. Dia benar-benar di ujung kegilaan.

 

"Tapi aku tidak akan mati," lanjutnya dengan suara yang bergetar antara tangisan dan tawa. "Aku akan survive. Dan caranya adalah..." dia mengeluarkan ponselnya, menunjukkan layar yang menampilkan draft email dengan semua bukti terlampir—foto kafe, video wastafel, screenshot dokumen "Contingency Plan", semuanya, "...dengan mengirim ini ke Bram SEKARANG. Biar kalian semua saling membunuh, dan aku akan kabur dengan wajah baruku."

 

Jari telunjuknya melayang di atas tombol "Send."

 

"Sheila, tunggu!" aku mengangkat kedua tanganku, suaraku dibuat panik sempurna. "Jangan lakukan itu! Jika kamu kirim itu sekarang, Bram akan membunuh kita berdua sebelum ritual! Kamu tidak akan pernah dapat wajahku!"

 

"Mungkin aku tidak butuh wajahmu!" teriak Sheila. "Mungkin aku lebih baik mati dengan wajah busuk ini daripada menjadi boneka dalam permainan kalian semua!"

 

Jarinya mulai menekan layar.

 

Tapi sebelum dia bisa menyelesaikan sentuhan itu, ponselnya tiba-tiba mati total—layar gelap seketika.

 

Sheila terhenyak, menekan-nekan tombol power dengan panik. "Apa... apa yang terjadi?! Kenapa mati?!"

 

Aku menatapnya dengan ekspresi bingung yang dibuat-buat, namun dalam hati aku tersenyum. Adrian. Dia pasti mengaktifkan jammer sinyal atau remote kill-switch untuk ponsel Sheila. Dia memantau semuanya lewat mikrofon di gelangku.

 

"Baterainya mungkin habis," ucapku dengan nada khawatir palsu. "Sheila, dengarkan aku. Kita bisa bicarakan ini. Kita bisa cari solusi yang tidak membuat kita semua mati."

 

Sheila menatapku dengan mata liar, napasnya terengah-engah. Lalu tiba-tiba, tubuhnya lemas. Dia jatuh ke lantai, menangis—tangisan yang menyayat hati, tangisan orang yang sudah kehilangan segalanya termasuk kewarasannya.

 

"Aku hanya ingin cantik lagi," isaknya seperti anak kecil. "Aku hanya ingin orang-orang melihatku dengan kagum seperti dulu... aku tidak ingin mati... aku tidak ingin mati dengan wajah monster seperti ini..."

 

Aku berlutut di sampingnya, menyentuh bahunya dengan lembut. "Kamu tidak akan mati, Sheila. Dan kamu akan cantik lagi. Tapi kamu harus percaya padaku. Dokumen yang kamu lihat itu... itu hanya rencana cadangan jika Bram mengkhianati kita. Itu bukan rencana utama. Rencana utama adalah kita semua survive—kamu mendapat wajahku, aku mendapat kebebasan, dan Bram mendapat apa yang dia inginkan."

 

Sheila mendongak, menatapku dengan mata yang penuh air mata dan nanah. "Benarkah?"

 

"Benarkah," aku berbohong dengan sempurna. "Tapi kamu harus berhenti paranoid. Kamu harus berhenti mengintaiku. Kita harus bekerja sama sampai ritual selesai. Setelah itu, kita bisa bicara tentang siapa yang selamat dan siapa yang tidak."

 

Sheila terdiam panjang, lalu mengangguk lemah. "Oke... oke, Kak. Aku percaya padamu. Tapi jangan khianati aku. Kumohon jangan khianati aku."

 

"Aku tidak akan," bisikku, sembari dalam hati menambahkan: 'Karena kamu sudah berkhianat pada dirimu sendiri.'

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!