Pembalasan Mawar yang Layu
Sandiwara
Adrian tersenyum tipis—senyum yang tidak mencapai matanya, namun penuh perhitungan. "Katakan padanya ini hadiah dariku sebagai permintaan maaf karena 'menculikmu'. Bram akan percaya itu gesture romantis yang bodoh dariku—pria yang putus asa mencoba mengikat hatimu dengan perhiasan mahal." Dia mengusap ibu jarinya di atas ukiran mawar di gelang itu. "Egonya terlalu besar untuk curiga bahwa aku lebih pintar dari itu. Baginya, aku hanya rival bisnis yang kalah di medan percintaan."
"Tapi kalau dia tetap memaksa?"
"Maka kamu bilang padanya: 'Aku perlu ini untuk merasa aman. Ini satu-satunya hal yang membuatku tidak panik setelah serangan semalam.'" Adrian menatapku dengan intensitas yang menyesakkan. "Bram tidak akan memaksamu melepasnya karena dia butuh kamu tampak lemah dan tergantung—itu sesuai rencananya untuk ritual bulan purnama lusa. Semakin kamu terlihat rapuh, semakin dia lengah."
Aku mengangguk pelan, meski jantungku berdetak kencang. "Baiklah. Aku akan kembali."
Adrian menarik napas dalam, lalu memelukku erat—bukan pelukan romantis yang penuh nafsu, melainkan pelukan seorang prajurit yang akan melepas rekannya ke medan perang. "Jangan pernah lupa, Aruna. Aku mengawasimu setiap detik. Jika ada yang salah, tekan tombol itu. Aku tidak peduli harus menghancurkan pintu atau tembok. Aku akan datang."
---
Satu jam kemudian, mobil Adrian berhenti dua blok dari rumah Wijaya. Aku turun dengan pakaian yang sudah kusut—kemeja putih Adrian yang kebesaran, celana training yang dilipat beberapa kali, dan rambut yang sengaja kubiarkan berantakan. Aku menghapus riasan tipis yang tersisa, membuat wajahku tampak pucat dan lelah.
Aku berjalan sempoyongan menuju gerbang rumah. Penjaga yang melihatku langsung terlonjak kaget.
"Nn. Aruna! Tuhan, Anda di mana saja?!" teriak salah satu penjaga sambil membuka gerbang dengan tergesa-gesa.
Aku tidak menjawab. Aku hanya menatap kosong ke depan, bibir ku bergetar seperti orang yang baru saja keluar dari mimpi buruk. Langkahku gontai, hampir tersandung di undakan tangga depan.
Pintu utama terbuka dengan keras. Ayah berlari keluar dengan wajah yang hancur—mata merah, rambut berantakan, kemeja kusut. Dia tidak tidur semalaman.
"Aruna! Aruna, anakku!" Ayah memelukku erat hingga aku hampir kehabisan napas. Tubuhnya gemetar hebat. "Syukurlah... syukurlah kamu selamat..."
Aku membiarkan tubuhku lemas di pelukannya, tidak membalas, seolah-olah aku hanya boneka tanpa jiwa. Ayah melepaskan pelukannya, menatap wajahku dengan panik.
"Aruna? Sayang, kamu baik-baik saja? Jawab Ayah!" suaranya pecah.
"Mata... mata hitam... pisau di tangan..." aku bergumam dengan tatapan kosong, suaraku pelan dan putus-putus seperti orang yang kehilangan kontak dengan realitas. "Darah... banyak darah di lantai... Ibu... Ibu memanggil namaku dari cermin..."
Ayah terhenyak. Dia menatap ke arah Bram yang baru saja muncul dari ruang tamu dengan bahu kanan diperban tebal. Wajah Bram dibuat-buat penuh kekhawatiran, namun aku menangkap kilatan kepuasan di matanya saat melihat kondisiku.
"Aruna mengalami trauma berat, Om," ucap Bram dengan nada prihatin yang sempurna. "Adrian pasti melakukan sesuatu yang mengerikan padanya semalam. Kita harus membawa dia ke psikiater sekarang juga."
"Tidak!" aku tiba-tiba berteriak, mundur dari Ayah dengan mata melebar penuh ketakutan palsu. "Jangan bawa aku ke mana-mana! Ada orang-orang di luar sana... mereka ingin mengambil wajahku... mereka ingin mencuri jiwaku..."
Ayah meraih tanganku dengan lembut, namun aku menariknya kembali dengan kasar. Pandanganku jatuh pada gelang perak di pergelangan tanganku, dan aku mencengkeramnya erat-erat seperti seorang anak yang berpegang pada boneka kesayangannya.
"Ini... ini yang melindungiku," bisikku, membelai ukiran mawar di gelang itu dengan jari gemetar. "Dia bilang... dia bilang ini akan membuatku aman..."
Bram melangkah mendekat, matanya menyipit menatap gelang itu. "Apa itu, Aruna? Dari mana kamu dapat gelang itu?"
"Dari... dari dia," jawabku dengan suara serak, masih menatap kosong. "Dia bilang ini permintaan maaf... karena menakutiku... dia bilang aku harus memakainya agar tidak takut lagi..."
Aku melihat rahang Bram mengeras. Dia pasti berpikir Adrian memberiku perhiasan mahal sebagai upaya memenangkan hatiku—gesture bodoh yang justru membuat Bram merasa superior. Seperti yang Adrian prediksi, ego Bram terlalu besar untuk curiga.
"Biarkan dia memakainya, Om," ucap Bram akhirnya, suaranya dibuat lembut. "Jika itu membuat Aruna merasa aman, biarkan saja. Yang penting sekarang dia pulang dan bisa beristirahat."
Ayah mengangguk ragu-ragu, masih menatapku dengan kekhawatiran yang mendalam. "Baiklah. Aruna, Sayang, naik ke kamarmu dan istirahat. Ayah akan memanggilkan dokter pribadi kita untuk memeriksamu."
"Tidak perlu dokter, Om," Bram menginterupsi cepat. "Aruna butuh ketenangan dan waktu untuk pulih sendiri. Terlalu banyak orang asing justru akan membuatnya semakin stress. Biarkan saya yang menjaganya."
Ayah tampak ragu, namun kelelahan dan kepanikan membuatnya tidak bisa berpikir jernih. Dia mengangguk pasrah.
Bram menuntunku naik ke lantai dua menuju kamarku. Aku terus bergumam tidak jelas, sesekali berhenti dan menatap bayangan di dinding seolah melihat sesuatu yang menakutkan. Akting yang sempurna.
Begitu pintu kamar tertutup, Bram melepaskan cengkeramannya di lenganku. Dia berjalan menuju jendela, menutup tirai rapat-rapat, lalu mengunci pintu dari dalam. Ruangan menjadi remang-remang.
Aku duduk di tepi ranjang, masih dengan tatapan kosong, namun seluruh indraku waspada. Gelang di tanganku terasa bergetar sangat halus—tanda bahwa sistem perekaman telah aktif.
Bram berjalan ke arah meja rias, membuka laci bawah, dan mengeluarkan sebuah botol kaca kecil berisi cairan bening yang sedikit berpendar biru pucat di kegelapan. Dia menuangkannya ke dalam segelas air putih, mengaduknya perlahan.
"Aruna, Sayang," suaranya tiba-tiba berubah menjadi sangat lembut—lembut yang menjijikkan. "Minumlah ini. Ini obat penenang yang akan membantumu tidur nyenyak. Kamu pasti sangat lelah."
Dia menyodorkan gelas itu padaku. Cairan di dalamnya tampak seperti air mineral biasa, namun ada bau samar yang aneh—manis namun menyengat, seperti bunga yang membusuk.
Aku menatap gelas itu dengan tatapan kosong, lalu perlahan mengulurkan tangan gemetar untuk menerimanya. Jari-jariku hampir menyentuh kaca dingin itu.
"Bagus, Sayang. Minum sampai habis," Bram tersenyum—senyuman yang tidak pernah mencapai matanya yang hitam legam.
Aku mengangkat gelas itu ke bibir, membiarkan cairan itu menyentuh ujung bibirku. Rasanya pahit, membakar lidah. Aku berpura-pura menelan, namun diam-diam membiarkan cairan itu tertahan di mulutku tanpa masuk ke tenggorokan.
Bram mengamati dengan seksama, menunggu hingga gelas itu kosong. Begitu aku menurunkan gelas, dia mengambilnya dengan cepat dan meletakkannya di meja.
"Tidurlah, Aruna. Dua hari lagi, semuanya akan berakhir," bisiknya sambil membelai rambutku dengan jemari yang terasa seperti cacing di kulitku. "Wajahmu yang cantik akan menjadi milik Sheila, dan jiwamu... jiwamu akan melayang ke tempat yang seharusnya kamu tempati sejak awal."
Dia berdiri, berjalan menuju pintu, membukanya, lalu keluar sambil menutupnya pelan. Aku mendengar bunyi kunci diputar dari luar.
Begitu suara langkah kakinya menjauh, aku berlari ke kamar mandi dan memuntahkan seluruh cairan yang kutahan di mulut ke dalam wastafel. Cairan itu berwarna biru gelap saat keluar—bukan bening seperti yang terlihat di gelas. Aku berkumur berkali-kali hingga rasa pahit itu hilang.
Tanganku gemetar saat aku menatap pantulan wajahku di cermin. Aku hampir saja menelan katalis pertukaran jiwa itu. Dua hari lagi. Aku hanya punya dua hari untuk menghancurkan Bram sebelum dia menghancurkanku untuk kedua kalinya.